(RATE18+)
📢 UPDATE : SENIN/RABU/JUMAT/MINGGU
Saat dua orang mengalami trauma dan rasa sakit dengan status hubungan, Friend With Benefit adalah salah satu opsi berbahaya yang bisa diambil agar tak terlalu merasa sepi. Tapi bagaimana jadinya jika hubungan tersebut justru menjerumuskan mu kedalam lubang hubungan paling berbahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maraa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
important people
Leon menghentikkan mobilnya didepan sebuah rumah minimalis. Senyum tipis Leon mengembang berpapasan dengan seorang wanita paruh baya yang membuka pintu rumah, memberi senyum hangat lalu merentangkan tangan saat Leon turun dari mobil dan menghampirinya.
"Leon, sudah lama ya."
Leon tertawa saat wanita itu mengacak rambutnya seperti anak kecil.
"pasti mau cari Di? "
Sekali lagi Leon membalas senyum hangat wanita didepannya yang tak pernah lepas. Wanita kedua yang sangat spesial dalam hidupnya, wanita yang sudah ia anggap ibu sendiri.
"Iya, ami."
Ami, panggilan kesayangan Leon untuk wanita didepannya. Tak ada satupun orang yang memanggilnya begitu kecuali Leon.
"Yaudah masuk, yu. Kebetulan sekali dia lagi santai di ruang kerja nya. "
Ami mengajak Leon menaiki lift, mengantarnya kesebuah ruang yang tertutup rapat dengan pintu kaca yang berwarna gelap.
Siluet seseorang yang sedang menerima telfon dan bariton berat membuat Leon tersenyum saat membuka pintu yang berdecit halus. Membuat orang itu mematikkan telfon lalu beralih pada Leon dan langsung menubruknya.
"Leon! Astaga kangen gue sama lo"
Sementara orang itu menepuk nepuk punggung Leon dan memeluknya erat, Leon berusaha melepas dan menghindar dari tangan yang siap mengacak rambut atau menggelitik badannya seperti dulu.
"Dion lo mau bunuh gue? Lepas,sialan!"
"Mii, bantuin Leon! " Leon berteriak pada Ami yang tertawa di ambang pintu, melihat Dion-putranya yang tertawa lepas sambil memeluk Leon.
"udah, udah. Yon, kamu mau makan apa? Biar Ami buatin dulu. " Ami melerai dengan ikut masuk kepelukan Dion dan Leon.
"terserah Ami aja" Leon tertawa lalu duduk dikursi Dion, melihat sekeliling mejanya yang kosong. Hanya satu laptop dan telfon rumah disapingnya.
"Dii lu kerja tiap hari gini? Laptop an doang? "
Dion mengangguk, menarik kursi lain kedepan mejanya lalu menyelidik Leon yang tampak berantakan.
"Jadi, hal urgent apa yang ngebuat orang sibuk ini dateng ke ujung kota sini. "
Leon menyandarkan tubuhnya, membuang nafas kasar. Lalu merogoh saku celananya. Melempar ponselnya keatas meja.
"Lo bisa kan tolong gue buat cari orang. "
Dion mengerutkan alis, mencondongkan badannya untuk mengambil ponsel Leon dan memasukkan sandi yang sama 4 tahun lalu.
"w*****. Lo gapernah ganti sandi, Yon? "
Leon menggeleng lalu mengambil kembali ponselnya dan menunjukkan capture chat email dan whatsapp orang yang selalu me-nerror Eris.
"Bentar, bentar. Ini tuh masalah awalnya apa? Eris siapa? "
"Ok. First, tell me Eris siapa?" Dion mengulang pertanyaanya dengan kerutan alis dan muka yang 2x terlihat lebih serius.
Leon beranjak, membuka pintu kaca luar dan melangkahkan kaki ke balkon. Pemandangan hijau membuat fikirannya sedikit tenang. Setelah sedikit bercerita tentang Eris, Leon lanjut membahas peliknya hubungan dia dengan Eris yang sangat mengambang.
"gue juga gatau sih hubungan gue sebenarnya apa. Maybe bisa dibilang FWB"
Bug
Dion melempar bantal kecil pada Leon yang membuat laki - laki itu mengaduh.
"Aduh! Why, Di? "
"lo jadi sok nge fakboy diajarin siapa,sih?"
"Gue gabisa mulai hubungan lagi- "
"karna Della? Yon, adik gue milih Rey karna apa? Karna lo yang gaada kejelasan. Lo terlalu egois sama kerjaan lo sampe ngebiarin dia lolos tanpa perjuangin balik. "
Dion menahan suara nya yang meledak. Ia menjatuhkan diri di sofa luar, menekan dahi nya untuk meredam rasa panas dan pusing yang tiba - tiba datang karna laki - laki didepannya.
"gue faham kalian masih saling sayang-"
"Di! Gue kesini bukan mau bahas Della, tapi Eris. "
Leon membalikkan badannya melihat kearah Dion, menekan setiap kata bahwa kedatangannya jauh jauh kesudut paling ujung kota bukan lagi karna Della. Tapi karna wanita lain yang berhasil membuatnya merasa bersalah.
"Gue faham banget ini salah gue sampe dia dapet terror yang bener - bener annoying. So, please... Bantu gue cari peneror nya."
"ok, gue coba lacak email sama no pengirimnya."
Dion mengalah, menganggukkan kepala nya lalu kembali masuk mengetik cepat di laptop nya untuk mencari siapa orang yang kurang kerjaan meneror wanita yang Leon sebut Eris itu.
"Eris itu salah satu pegawai gue. Dan dia keluar karna api yang gue bakar. "
"wait. Sejak kapan selera lo turun ke pegawai? Huh? " Dion menghentikkan kegiatan membaca kode dilaptopnya, mengalihkan pandangan pada Leon yang kini merebahkan tubuhnya di sofa dan mulai bercerita.
"Eris beda dari cewe lain, Di. Kita emang ditemuin karna hasrat s*x kita yang sama sama tinggi. But, lebih dari itu."
Leon tersenyum. Ah, sudah lama ia tak bercerita panjang pada orang lain selain pada Dion. Apalagi pembahasannya kali ini adalah tentang having s*x dengan pegawai nya sendiri.
"sifat feminist nya yang bikin gue terpacu banget buat kejar dia."
Dion mengerutkan alisnya. Menatap layar yang sudah menunjukkan nama user dan live lokasinya, lalu mengalihkan pandangannya pada Leon.
"lo have s*x sama pegawai sendiri? Dan tanpa hubungan yang jelas? Wajar banget sih dia keluar kantor, justru kalo dia masih stay dikantor lo. Berarti ya urat malu dia udah putus,kan?"
Leon mengerutkan alisnya, menatap dingin pada Dion yang malah memberinya boomerang.
"Maksud lo apa? Lo salahin Eris? -"
"ya jelas salah! Kasih tau gue cewe bodoh mana lagi yang have s*x sama stranger dan setelah dia tau lo boss di kantor nya **** * dia seakan welcome aja. Kurang bodoh gimana tu cewe, hahaha"
Leon beranjak menarik Dion dari tempat duduk nya dan mendaratkan pukulannya ke pipi dan hidung Dion membuat laki laki itu meringis karna serangan tiba - tiba Leon.
Bug
"come on, man! Ada apa sama lo? Lepas kendali lagi karna cewe? Lo bener bener kudu dibawa ke psikiater,cuy. Rusak otak lo."
Sekali lagi, Leon mendaratkan pukulannya lebih keras membuat darah keluar dari hidung dan sudut bibir Dion yang tanpa perlawanan.
Leon akui, laki - laki didepannya sangat ahli dengan teknologi melebihi dia tapi tak pandai menggunakan tangannya untuk olahraga tinju atau beladiri lain.
"Leon!"
Ami segera menjatuhkan nampan berisi kue dan mendorong Leon yang terus menghajar anaknya dengan membabi buta. Dion yang pasrah hampir saja lolos jika ibunya tak segera datang.
"Ada apa ini? Anak saya salah apa sampai kamu serang seperti itu! "
Ami membentak Leon, dan ini adalah pertama kalinya Leon mendengar suara Ami semarah itu padanya.
Padahal sejak mamanya sering menitipkan Leon pada Ami, wanita itu tak pernah sekalipun membentak atau memaharinya bahkan saat ia tak sengaja melukai Dion dengan menabrak sepedanya atau Della dengan melukai hatinya.
"Ami, Leon-"
"keluar! "
"Leon minta maaf,Mi"
"keluar! dan jangan pernah berhubungan lagi dengan Della ataupun Dion. Saya kecewa sama kamu. "
Ami segera mendorong Leon keluar dari ruangan kerja Dion dan menutup pintu ruang dengan keras, membuat Leon menutup mata dan menarik nafas.
Kedatangannya kesini adalah ingin mencari ketenangan saat masalah dan hiruk pikuk kota menyesakkan hatinya. Juga untuk mencari tau perihal siapa yang menerror Eris selama ini.
"what the f*ck!"
Leon mengumpat didalam mobilnya saat ia malah terpancing tanpa bertanya dulu hasil pelaku yang meneror wanitanya. Padahal hanya Dion yang bisa ia mintai pertolongan saat seperti ini, tapi Leon malah terpancing dengan ucapan Dion yang merendahkan Eris.
dreet.. dreett
incoming call
Rey
one message unread
Rey
rooftop apart Eris. sekarang
o...o...o...
maksudnya udah tamat apa blom😊😊🙏🏻🙏🏻🙏🏻
sumpah gereget tau,,,,
"HEY,,,,,,, LO LO LO NGGA TAU MASALAHNYA JADI NGGA USAH BANYAK B*COD,,,,, URUS AJAA HIDUP LO B*NGSRUD,,, "!!!
ini teh mereka saling suka apa gimana? pernah pacaran,,,?
sungguh membuatku bertanya sendiri,,,,, 🥴🥴
Kutunggu kedatanganmu.
Terima kasih