Selama tujuh tahun, Keira Halim mencintai Rafael Atmadja sambil membiarkan pekerjaannya dicuri, rasa sakitnya diremehkan, dan tubuhnya disebut rusak. Malam ketika Rafael mempermalukannya di depan para mitra bisnis demi membela Celine Hartono, sentuhan paksa seorang klien memicu serangan panik yang nyaris membuat Keira kehilangan kesadaran. Kali ini ia tidak memohon untuk dipercaya. Ia mengembalikan cincin pertunangannya, pergi, lalu mengetuk pintu yang salah.
Pria di balik pintu itu adalah Adrian Wijaya—dingin, penuh rahasia, tetapi tidak pernah menyentuh Keira tanpa izin. Di dekatnya, tubuh Keira yang selalu siaga akhirnya bisa bernapas. Dalam waktu empat puluh delapan jam, mereka menyepakati batas, menandatangani perjanjian harta dan berita acara di hadapan saksi, lalu mencatatkan pernikahan mereka secara resmi. Bagi Keira, itu adalah jalan keluar. Bagi Adrian, pernikahan tersebut jauh lebih pribadi daripada yang berani ia akui.
Ketika Keira membangun Lentera Brand Lab dan merebut kembali namanya, Rafael mulai menyadari perempuan yang telah ia sia-siakan tidak akan pernah pulang. Namun penyesalan sang mantan berubah menjadi kepanikan saat identitas Adrian terbuka: suami “biasa” Keira ternyata pengendali Asterion Capital sekaligus pewaris keluarga Wijaya.
Di tengah perang reputasi, sebuah jam saku lama mengungkap bahwa Keira bukan yatim piatu tanpa asal-usul. Ia adalah satu-satunya penyintas keluarga Halim, pewaris aset lintas negara, dan saksi hidup pembunuhan sembilan belas orang yang selama ini ditutupi keluarga Atmadja. Untuk merebut kembali warisan dan nama keluarganya, Keira harus menghadapi pria berjari pendek dari ingatannya, membongkar perusahaan pencemar, dan memastikan para pelaku diadili—tanpa membiarkan cinta Adrian berubah menjadi sangkar baru.
Karena kali ini, Keira tidak sedang menunggu seorang pria menyelamatkannya. Ia sedang memilih siapa yang boleh berjalan di sisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1
Tubuh yang Menolak
"Jangan terlalu dekat dengan Keira. Sentuhan kecil saja bisa membuatnya merusak satu pesta."
Ucapan Celine terdengar ringan melalui mikrofon, tetapi tawa yang menyusul menjalar ke seluruh aula Rumah Aster.
Keira berdiri di samping panggung dengan flashdisk berisi konsep kampanye Aruna Vista di dalam genggaman. Belum sempat ia meminta Celine meluruskan siapa yang menyusun presentasi itu, Rafael sudah mengambil mikrofon.
"Sekalian saya sampaikan," katanya. "Demi kebaikan Keira, rencana pernikahan kami akan ditunda sampai kondisinya lebih stabil."
Puluhan kepala menoleh kepada Keira.
Pak Bagus, klien yang sejak tadi terlalu banyak minum, tertawa sambil mendekat. "Masa separah itu? Saya buktikan, ya."
Tangannya mencengkeram pergelangan Keira.
Panas meledak di bawah kulitnya. Aula berlapis kaca itu mendadak menyempit. Napasnya tersangkut, suara musik pecah menjadi dengung, dan wajah-wajah di hadapannya kehilangan bentuk.
"Lepaskan," desis Keira.
Bagus justru mengencangkan jari. "Santai saja."
Keira menyentakkan tangan. Gelas di meja tinggi tersapu sikunya dan pecah di lantai.
"Keira!" Rafael turun dari panggung. "Jangan kambuh di depan klien."
Bukan "Jangan sentuh dia." Bukan "Pak Bagus, lepaskan."
Keira memaksa matanya fokus pada pria yang telah bersamanya selama tujuh tahun. Lalu ia menarik cincin dari jari manisnya.
"Tidak perlu ditunda," katanya, meletakkan cincin itu di telapak Rafael. "Hubungan kita selesai malam ini."
Ruangan seketika sunyi.
Bahkan Celine lupa mempertahankan senyum manisnya.
Rafael menatap cincin di tangannya, lalu menatap Keira seolah perempuan itu baru saja mengucapkan sesuatu yang tidak masuk akal. "Kamu sedang tidak stabil. Kita bicara setelah kamu tenang."
"Aku cukup tenang untuk tahu siapa yang tadi kamu lindungi."
Keira menunduk dan mengambil flashdisk yang terjatuh. Ujung jarinya kaku. Kulit di pergelangannya terasa seperti dilumuri cabai, padahal bekas yang tertinggal hanya lima garis kemerahan.
Bagus berdeham. "Saya cuma bercanda. Reaksinya saja yang berlebihan."
Naya muncul dari antara para tamu dan berdiri di samping Keira. Ia tidak menyentuh, hanya memosisikan tubuh sebagai penghalang.
"Pak Bagus memegang dia setelah diperingatkan," ucap Naya. "Itu bukan bercanda."
Beberapa tamu mengalihkan pandangan. Dua orang dari tim klien malah memeriksa ponsel, pura-pura tidak mendengar. Di dekat meja koktail, Rika membisikkan sesuatu kepada rekan di sebelahnya. Kata-kata yang tertangkap Keira hanya potongan kecil.
Drama. Penyakit. Cari perhatian.
Rafael menyerahkan mikrofon kepada staf acara, lalu merendahkan suaranya. "Naya, ini urusan keluarga."
"Tadi diumumkan di depan satu ruangan. Sekarang tiba-tiba jadi urusan keluarga?"
"Jangan ikut campur."
Keira menarik satu napas pendek. Udara masuk, tetapi tidak terasa sampai ke paru-parunya. Ia menekan kuku ibu jari ke sisi flashdisk, mencari ujung keras yang bisa mengembalikan pikirannya ke ruangan.
Meja marmer.
Pecahan kaca.
Gaun biru Celine.
Suara pendingin udara.
Lima garis merah di pergelangan.
Ia masih berada di Rumah Aster. Ini tahun 2026, bukan malam lain yang dipenuhi asap dan sirene. Ia bisa berjalan keluar.
Celine akhirnya turun dari panggung. "Keira, aku minta maaf kalau kata-kataku menyinggungmu. Aku hanya mencoba mencairkan suasana."
"Dengan menjadikan tubuhku bahan lelucon?"
"Bukan begitu maksudku."
"Lalu apa maksudmu saat menampilkan konsep kampanye yang ada di flashdisk ini seolah itu pekerjaanmu?"
Mata Celine bergerak cepat ke benda di tangan Keira.
Naya menoleh kepadanya. "Kamu masih punya file versinya?"
"Semua versi. Termasuk komentar klien dan waktu unggah."
Kali ini bisik-bisik di sekitar mereka berubah arah. Rika menurunkan ponselnya. Celine merapatkan kedua tangan di depan perut.
"Kita satu tim," katanya. "Pak Rafael meminta aku yang presentasi karena kamu beberapa kali tidak bisa hadir."
"Aku tidak bisa hadir satu kali karena kontrol dengan dokter. Presentasi malam ini tetap memakai strategi yang kukirim kemarin pukul sebelas lewat empat puluh."
Rafael mengusap rahang. "Cukup. Masalah kerja dibahas di kantor."
"Kamu benar." Keira memasukkan flashdisk ke tas. "Besok aku kirim keberatan tertulis."
Ada perubahan kecil di wajah Rafael. Bukan rasa bersalah. Kekhawatiran pertamanya adalah jejak tertulis.
Selama bertahun-tahun, Keira selalu memberinya kesempatan menyelesaikan masalah secara pribadi. Ia menghapus kalimat yang terdengar terlalu keras, menunda keberatan agar tidak mengganggu makan malam keluarga, dan menerima permintaan Rafael untuk memikirkan nama baik Atmadja.
Malam ini, ia akhirnya melihat harga dari semua pengertian itu.
Tidak ada.
Rafael meraih lengannya, tetapi Naya langsung mengangkat telapak tangan.
"Jangan sentuh."
Tangannya berhenti beberapa sentimeter dari siku Keira.
"Aku tunangannya," kata Rafael.
"Mantan tunangan," koreksi Keira.
Rafael mengembuskan napas tajam. "Tujuh tahun tidak bisa kamu hapus karena satu kejadian."
"Satu kejadian?"
Keira menatap mikrofon yang masih dipegang staf acara. Lampu kecilnya menyala hijau. Entah sudah dimatikan atau belum, ia tidak peduli.
"Kamu membiarkan keluargamu menyebutku anak jauh keluarga Halim yang harus tahu diri karena ditolong setelah kecelakaan gas di Dago. Kamu memakai cerita itu setiap kali aku keberatan. Kamu mengambil pekerjaanku, memberikannya kepada Celine, lalu mengumumkan hubungan kita seperti sedang menunda kontrak vendor."
"Keluargaku memang membantumu."
Kalimat itu jatuh tanpa ragu.
Luka di pergelangan Keira masih menyala, tetapi sesuatu di dalam dadanya justru menjadi sangat dingin.
"Nah," bisiknya. "Akhirnya jujur."
Rafael tampak sadar telah salah bicara. Ia melangkah mendekat, kali ini tanpa mencoba memegang. "Bukan itu maksudku. Kamu tahu Mama dan Oma hanya ingin melindungi reputasi keluarga. Celine juga tidak berniat mengambil apa pun darimu. Malam ini penting untuk Aruna Vista."
"Karena itu aku harus diam?"
"Karena kamu bagian dari keluarga kami."
"Tidak. Aku selalu menjadi utang yang kalian tagih setiap kali aku punya suara."
Pak Bagus sudah mundur ke dekat bar. Celine berdiri beberapa langkah dari Rafael, cukup dekat untuk terlihat sebagai pihak yang dilindungi, cukup jauh agar tidak ikut memikul kesalahan. Para tamu menunggu bagaimana pewaris Aruna Vista akan menutup skandal kecil di pesta peluncurannya.
Biasanya, Keira akan membantu Rafael.
Ia akan tersenyum, mengatakan serangan paniknya hanya kelelahan, lalu pulang tanpa menuntut siapa pun. Besok pagi, ia akan menemukan bunga putih dan pesan singkat: Jangan marah lagi, ya. Aku sibuk.
Jari manisnya terasa ringan tanpa cincin.
"Aku bukan bagian dari keluargamu," kata Keira. "Dan mulai malam ini, aku tidak punya utang hubungan kepada siapa pun di sini."
Ia berbalik.
"Keira." Suara Rafael mengeras. "Kalau kamu keluar sekarang, jangan berharap semuanya bisa kembali seperti semula."
Langkah Keira sempat berhenti.
Rafael mungkin mengira ancaman itu masih memiliki kekuatan. Tujuh tahun lalu, satu nada kecewa darinya cukup membuat Keira meminta maaf meski tidak tahu kesalahannya. Tiga tahun lalu, Keira membatalkan rencana pindah kerja karena Rafael berkata keluarga membutuhkan orang yang bisa dipercaya. Enam bulan lalu, ia menyerahkan akses riset kepada Celine karena Rafael berjanji pembagian kredit akan adil.
Sekarang Keira hanya menoleh setengah badan.
"Itu tujuan utamanya."
Pintu aula menutup di belakangnya.
Koridor Rumah Aster jauh lebih dingin, tetapi telapak tangannya basah. Keira berjalan sampai melewati dua belokan sebelum lututnya melemah. Ia berpegangan pada sisi meja konsol tanpa menempelkan pergelangan yang sakit.
"Keira."
Naya menyusul, napasnya terburu. Ia berhenti satu meter jauhnya. "Aku tidak akan menyentuhmu. Lihat aku kalau bisa."
Keira mengangkat wajah.
"Kita ke IGD?"
"Tidak." Jawabannya keluar terlalu cepat. Ia menelan ludah. "Tidak ada nyeri dada yang berbeda, aku tidak pingsan, dan obat daruratku ada. Aku cuma perlu tempat sepi."
"Baik. Kita duduk dulu."
Naya menunjuk bangku di sudut koridor, menunggu Keira memilih sendiri. Setelah Keira duduk, Naya mengambil botol air dari tasnya dan meletakkannya di ruang kosong di antara mereka.
"Airnya masih tersegel."
Keira membukanya dengan tangan gemetar. Ia minum sedikit, lalu mengeluarkan kantong obat dari kompartemen dalam tas. Label dosis dari Dokter Sinta masih menempel. Ia membaca ulang petunjuknya sebelum mengambil satu tablet sesuai resep.
Naya tidak mendesak. Ia hanya mengatur napas dengan sengaja, pelan dan terlihat, sampai Keira bisa mengikuti ritmenya.
Ponsel Keira bergetar.
Rafael menelepon.
Ia mematikan panggilan itu.
Pesan masuk sesudahnya.
Jangan mempermalukan keluarga lebih jauh. Tunggu aku di lobi.
Keira menunjukkan layar kepada Naya.
"Dia bahkan belum bertanya pergelanganmu bagaimana," kata Naya.
Keira mematikan notifikasi. "Karena baginya yang terluka bukan aku."
"Ikut ke apartemenku."
Keira menatap pintu lift di ujung koridor. Rafael tahu alamat Naya. Sopir keluarga Atmadja juga tahu. Jika ia pergi bersama Naya, malam ini mungkin berakhir dengan Rafael berdiri di depan pintu dan meminta bicara baik-baik, sementara dua orang dari keluarga menelepon bergantian untuk mengingatkan semua yang pernah mereka berikan.
"Aku butuh tempat yang tidak akan mereka cari."
"Hotel?"
"Kartu akses dan pembayaran bisa diketahui tim Rafael."
Naya menggigit bibir, lalu merogoh ponselnya. "Aku cari tempat atas namaku."
"Tidak. Kamu masih harus kembali ke aula. Ambil tas laptopku dari ruang persiapan dan simpan salinan semua file. Jangan biarkan Celine mengaksesnya."
"Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian begini."
"Naya." Keira menunggu sampai sahabatnya menatap lurus. "Aku perlu kamu menjaga bukti. Itu cara paling berguna untuk membantuku sekarang."
Keraguan di wajah Naya belum hilang, tetapi ia memahami kalimat itu. Keira tidak sedang menolak pertolongan. Ia sedang memilih bentuknya.
"Kirim lokasi setiap tiga puluh menit," kata Naya. "Kalau kamu berhenti menjawab, aku menelepon bantuan."
"Ya."
"Dan kalau gejalanya memburuk, kita ke IGD. Tidak ada debat."
"Ya."
Naya berdiri, masih menjaga jarak. "Aku bangga kamu mengembalikan cincin itu."
Tenggorokan Keira menegang. Untuk pertama kalinya sejak keluar dari aula, air matanya hampir jatuh.
"Aku juga," jawabnya.
Mereka berpisah di lobi. Naya kembali ke ruang persiapan, sementara Keira keluar melalui pintu samping agar tidak melewati tamu utama.
Hujan Jakarta turun rapat. Petugas valet menawarkan payung, tetapi Keira memilih menunggu di bawah kanopi sampai taksi daring berhenti. Di dalam mobil, ia membuka kompartemen kecil tasnya dan mencari kartu yang sudah lama terselip di balik kartu identitas.
Gavin Tjandra.
Ia mengenal Gavin sebagai teman Rafael yang paling tidak banyak bertanya. Setahun lalu, setelah sebuah makan malam keluarga berakhir dengan Keira terkunci hampir satu jam di kamar kecil untuk menenangkan napas, Gavin memberinya kartu nama lama.
Kalau suatu hari kamu butuh keluar sebelum bisa menjelaskan apa pun, alamat tempat tinggalku ada di belakang. Datang saja.
Keira tidak pernah berniat memakai tawaran itu. Malam ini, Gavin adalah satu-satunya orang yang punya hubungan dengan Rafael tetapi tidak tunduk pada keluarga Atmadja.
Tulisan tangan di belakang kartu menunjukkan sebuah kompleks townhouse di Kemang dan nomor B-17.
Baterai ponselnya tinggal tiga persen. Keira mengirim lokasi kepada Naya, memesan mobil, lalu mengaktifkan mode hemat daya. Ia mencoba menelepon nomor di kartu, tetapi sambungan tidak aktif.
"Tetap ke alamat ini, Bu?" tanya pengemudi.
Keira menatap kembali pintu Rumah Aster. Di balik kaca, Rafael muncul di lobi bersama seorang staf. Matanya menyapu kendaraan yang menunggu.
"Ya. Tolong jalan sekarang."
Mobil bergerak sebelum Rafael sempat keluar.
Selama perjalanan, hujan memukul jendela seperti butiran kerikil. Keira memegang botol air dengan kedua tangan. Panas di kulitnya turun perlahan, menyisakan nyeri tumpul dan kelelahan yang menempel sampai ke tulang.
Ia tidak menangis.
Belum.
Kompleks townhouse itu sunyi ketika ia tiba hampir tengah malam. Deretan bangunan berfasad gelap berdiri di balik taman kecil yang basah. Petugas keamanan memeriksa nama Gavin pada kartu dan mengizinkannya masuk setelah mencatat identitas serta nomor unit yang ia sebutkan.
Keira turun dari mobil tepat saat angin membalik ujung payungnya.
Setetes air jatuh ke kartu, lalu setetes lagi. Tinta angka terakhir melebar. Garis tegak pada angka tujuh larut ke kanan, menyatu dengan noda lama.
Keira menyipitkan mata.
B-18.
Ia mengikuti papan arah, melewati satu unit yang lampunya mati, lalu berhenti di depan pintu kayu bernomor delapan belas. Rumah itu tenang. Hanya ada cahaya tipis di balik tirai lantai dua.
Jarinya masih gemetar ketika menekan bel.
Dari dalam terdengar langkah kaki mendekat, tetapi pintunya belum terbuka.