Kiran adalah wanita yang mempunyai wajah jelek, bahkan semua orang menyebutnya dengan sebutan wanita si buruk rupa. Kiran dijodohkan oleh orangtuanya dengan seorang pengusaha tampan bernama Viki.
Viki terpaksa menikahi Kiran untuk menyelamatkan perusahaan orangtuanya yang hampir bangkrut.
Kehidupan Kiran sangatlah menderita, hingga suatu saat Kiran memergoki Viki sedang selingkuh dengan wanita lain. Kiran memutuskan untuk bercerai dengan Viki, dan bertekad ingin membalaskan dendamnya kepada orang-orang yang sudah membuatnya menderita.
Akankah Kiran berhasil membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13 DESI
Kiran sangat bahagia karena sudah membuat Ishika sangat marah, bahkan sekarang dia sudah bisa merebut posisi Ishika.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" tanya Raj yang merasa aneh dengan kelakuan Kiran.
"Aku sangat bahagia Raj."
"Tadi Viki ngelihatin kamu seperti itu membuat aku emosi saja, ingin rasanya aku colok kedua matanya itu," kesal Raj.
"Kok kamu marah? kamu cemburu ya?" goda Kiran.
Seketika wajah Raj memerah, namun Raj berusaha bersikap santai supaya Kiran tidak mencurigainya.
"Apaan sih kamu Kiran," sahut Raj dengan menyesap kopinya.
Kiran terkekeh melihat Raj yang saat ini terlihat salah tingkah.
"Raj, mungkin tidak ya kalau sekarang Mas Viki jatuh cinta sama aku?"
"Apa? ya, pasti jatuh cintalah orang kamu sekarang jauh segala-galanya dibandingkan Ishika. Kenapa kamu tanya seperti itu? jangan bilang kamu mau balikan sama pria brengsek itu," geram Raj.
"Apaan sih, Raj."
Raj kesal, dia bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Kiran.
"Raj tunggu!"
Kiran pun segera bangkit dan berlari menyusul Raj yang saat ini sedang marah kepadanya.
Kiran menahan lengan Raj. "Kamu kenapa sih, Raj? kamu marah ya, sama aku? kalau aku sudah berbuat salah kepadamu, aku minta maaf."
"Aku kesal kamu selalu saja ngomongin pria brengsek itu, padahal jelas-jelas ada aku di hadapan kamu. Aku itu dari dulu menyukaimu Kiran, tapi kamu tidak pernah memandangku dan memperdulikanku," kesal Raj.
Kiran terdiam mendengar perkataan Raj, bahkan Raj pun kaget dengan ucapannya sendiri.
"Ah maaf, lupakan saja ucapanku barusan," seru Raj.
Raj kembali melanjutkan langkahnya. "Tunggu Raj!"
"Iya."
"Apa kamu serius suka sama aku?" tanya Kiran.
"Sejak kecil aku sudah menyukaimu Kiran, bahkan aku tidak pernah melihat wajahmu seperti apa, yang jelas hati aku sudah memilih kamu. Tapi kamu jangan khawatir, anggap saja kamu tidak pernah tahu isi hatiku karena aku tahu kalau kamu tidak mungkin menerima cintaku," seru Raj tersenyum miris.
"Siapa bilang?"
"Hah, maksud kamu?"
Kiran melangkahkan kakinya menghampiri Raj dan berdiri di depan Raj, Kiran menatap kedua bola Raj dan memang tidak ada kebohongan dalam mata itu.
"Kamu pria yang baik Raj, dan selama ini kamu sudah banyak membantu aku mana mungkin aku bisa menolakmu."
"Jadi?"
Kiran mengerutkan keningnya. "Ishh..ishh..ishh..nyebelin banget sih kamu, sudah ah malas aku," kesal Kiran.
Raj tersenyum dan dengan sigap menarik tangan Kiran lalu membawanya ke dalam pelukannya.
"Kamu benar-benar menyebalkan, Raj."
"Aku suka menggodamu, Kiran. Terima kasih ya, sudah mau menerima cinta aku."
"Ih, siapa bilang aku nerima cinta kamu."
Raj melepaskan pelukannya dan menatap tajam ke arah Kiran.
"Jadi, bagaimana?"
Kiran tersenyum sembari mencubit pipi Raj dengan gemasnya, lalu Kiran dengan cepat masuk ke dalam mobil Raj.
"Awas kamu, Kiran."
Raj pun menyusul Kiran masuk ke dalam mobilnya, setelah selesai shooting Raj pun memutuskan untuk mengantar Kiran pulang ke rumahnya karena Raj sudah terlihat sangat kelelahan.
Beberapa saat kemudian, mobil Raj pun sampai di depan rumah Kiran.
"Apa kamu mau mampir dulu, Raj?"
"Tidak, aku harus ke kantor dulu soalnya ada rapat penting sore ini."
"Ya sudah, kamu hati-hati ya."
"Oke, kamu juga istirahat saja kalau ada apa-apa segera hubungi aku."
"Siap, Bos."
Raj mencium kening Kiran membuat Kiran menyunggingkan senyumannya.
"Aku pergi dulu."
Raj pun segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah Kiran, begitu pun dengan Kiran yang langsung masuk ke dalam kamarnya karena memang Kiran sudah sangat kelelahan.
***
Sore pun tiba...
"Aku harus ke rumah Kiran lagi, aku masih penasaran dengan surat-surat penting yang mereka simpan. Pasti mereka simpan di suatu tempat dan aku harus bisa menemukannya," batin Viki.
Viki segera memakai jasnya dan segera pergi dari kantor menuju rumah Kiran. Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Viki pun sampai di rumah Kiran.
Semua pekerja rumah Kiran sudah tahu apa maksud dari kedatangan Viki, tapi mereka hanya diam saja karena Raj sudah menyuruh semua pekerja di rumah Kiran untuk membiarkan Viki melakukan yang dia mau.
"Mimi!"
"Iya Tuan, ada apa?"
"Mana kunci kamar Kiran?" seru Viki.
"Maaf Tuan, saat ini kamar Non Kiran ada yang menempati."
Viki mengerutkan keningnya. "Siapa yang menempati kamar Kiran? berani sekali kamu memasukan orang asing ke rumah ini!" bentak Viki.
"Maaf Tuan, bukan orang asing tapi itu namanya Non Tina sepupunya Non Kiran."
"Tina, kenapa aku baru tahu?" gumam Viki.
Di saat Viki sedang bergelut dengan pikirannya, tiba-tiba suara langkah kaki terdengar menuruni anak tangga. Viki langsung menoleh, terlihat Kiran yang masih memakai baju tidur berbahan saten itu terlihat masih menguap.
Viki membelalakkan matanya melihat wanita yang tadi dia pikirkan, bahkan Viki tidak mengedipkan matanya saking terpesona melihat wanita itu.
"Ada apa sih, berisik banget," seru Kiran.
"Maaf Nona, ini ada Tuan Viki datang," sahut Mimi.
Kiran sedikit kaget melihat kedatangan Viki, tapi sekarang Kiran bersikap seolah-olah santai dan tidak terjadi ke mana-mana.
"Bukannya kamu pria yang tadi bersama artis receh itu?" tanya Kiran dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kamu siapa? kenapa Kiran tidak pernah menceritakan punya sepupu kamu?" tanya Viki.
Kiran tersenyum sinis. "Setahu aku, Kiran menikah denganmu itu karena dijodohkan dan sekarang aku juga tidak tahu kabar Kiran ada di mana. Apa yang sudah kamu lakukan kepada sepupuku?"
Viki tersentak kala ditanyakan masalah Kiran, karena pada kenyataannya Viki juga tidak tahu di mana Kiran berada.
"Aku dengar di berita, kalau Kiran dan Paman Rahul sudah meninggal tapi tidak tahu jasad mereka ada di mana. Apa kamu tidak berusaha mencari tahu keberadaan mereka?" tanya Kiran.
Viki tampak panik, Kiran duduk di sofa dengan santainya dan Viki mengikuti langkah Kiran.
"Aku sudah berusaha mencari keberadaan mereka bahkan aku sudah membayar banyak orang untuk mencari Papa Rahul dan Kiran tapi mereka sama sekali tidak ditemukan. Aku juga merasa sangat sedih tapi mau bagaimana lagi, aku sudah berusaha semaksimal mungkin," dusta Viki dengan berpura-pura sedih.
Kiran kembali tersenyum sinis. "Pintar sekali kamu Mas, bersandiwara," batin Kiran.
"Terus, mau apa kamu ke sini?" tanya Kiran.
"Aku hanya ingin mengecek rumah ini, karena sebelum Papa Rahul meninggal, beliau mengamanatkan kepadaku untuk menjaga rumah ini," sahut Viki dengan percaya dirinya.
Kiran benar-benar muak melihat mantan suaminya itu, Kiran pun bangkit dari duduknya tapi dengan sigap Viki menahan lengan Kiran membuat Kiran terkejut.
"Maaf, apa kamu sudah punya pacar?" tanya Viki dengan senyumannya.
Kiran melepaskan tangan Viki. "Jangan lancang, aku tidak suka disentuh oleh orang yang tidak dikenal," sinis Kiran.
Kiran pun akhirnya pergi meninggalkan Viki, sedangkan Viki tampak tersenyum seperti orang gila.
*
*
*
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU