Judul novel [My wife the farming transmigrasi]
Fu lichen saat ini hanya merasa perutnya mual, seakan mau muntah, dia melihat sekeliling merasa bahwa tempat itu sangat asing.
Tiba-tiba kepalanya sangat sakit, ingatan yang tidak dia miliki muncul secara tiba-tiba.
Pergi ke zaman kuno?
Secara tiba tiba mendapat istri dan anak?
Bagaimana kelanjutan cerita tersebut? jangan lupa like, komen, and vote😘
teer.id/onedea_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen 1003, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13(sakit bahu)
Ketika Fu Lichen sampai dirumah, tepat jam 5 sore, Fu Lichen pun langsung memasuki rumah dan langsung meletakkan keranjang yang dibawanya itu.
Merasa bahunya sangat sakit seakan ia tidak merasakan bahunya lagi, sepertinya ia harus lebih bekerja keras untuk membuat dirinya lebih kuat, jika bahu ini digunakan terus-menerus takutnya bahunya akan hancur.
Su Lingyu yang melihat kepulangan suaminya pun merasa senang, tetapi melihat suaminya yang memijat-mijat bahunya sendiri dengan ekspresi menyakitkan pun ia merasa sangat sedih, karena dia tidak bisa membantu suaminya saat ini, ia merasa seperti seseorang yang tidak berguna dan hanya bisa menunggu makan dan minum .
Fu Lichen yang merasa ia sedang di tatap seseorang pun menolah dan melihat istrinya saat ini sedang menatapnya, seolah memahami pikirannya, Fu lichen pun melangkah menuju kasur tempat Su Lingyu berbaring.
"Bisakah kamu membantuku memijat bahuku, karena saat ini bahuku sangat sakit" Kata Fu Lichen sambil duduk disebelah Su Lingyu.
Su Lingyu yang mendengar permintaan itu pun berbinar karena akhirnya ia bisa melakukan sesuatu yang berguna.
Guna mempermudah Su Lingyu lingyu memijatnya Fu Lichen pun berbaring tengkurap dan Su Lingyu pun langsung memijatnya dengan keras, tetapi yang dirasakan Fu Lichen adalah seperti sedang digelitik, tidak berasa sama sekali.
Tapi ia menikmatinya karena itu merupakan niat baik istrinya untuk memijatnya. Setelah selesai Su Lingyu merasa kalau tangannya saat ini sangat kebas karena bahu suaminya sangat keras seperti batu, bahkan ia sudah mengerahkan semua kekuatannya, tetapi melihat ekspresi suaminya kalau itu masing belum cukup kuat.
Su Lingyu pun hanya bisa mendesah keheranan akan bahu kuat suaminya itu.
Fu Lichen yang sudah selesai dipijat istri manisnya itu pun langsung mengambil manisan dan memberikannya kepada Su Lingyu, Su Lingyu pun menerimanya dengan hati, karena ia sangat menyukai makanan manis.
Fu Lichen yang memberikan manisan kepada istrinya itu pun juga memperhatikan putri kecilnya Baozi yang tengah meringkuk di tempat tidur, meniupkan gelembung-gelembung saat tidur dan sepertinya Baozi sedang mengalami mimpi indah terlihat wajah Baozi yang tidur dengan wajah tersenyum.
Su Lingyu pun menggigit manisan buah (tanghulu) dengan perlahan-lahan, rasa manis pun menyebar dimulutnya, ia pun melihat kearah Fu Lichen dan menawarinya apakah ia mau, dan Fu Lichen pun memakannya langsung dari tangan Su Lingyu.
Sekali lagi Su Lingyu pun merasa wajahnya terbakar saat ini, ia curiga kalau suaminya saat ini sedang merayunya, karena melihat senyum suaminya yang mencurigakan.
Setelah memakan tanghulu, Fu Lichen pun langsung mengambil uang hasil penjualan dan langsung memberikannya ke Su Lingyu, dan Su Lingyu langsung menyimpannya.
Setelah menyerahkan uangnya Fu Lichen pun mengambil kertas bambu yang relatif kasar itu dan mulai mempraktekkan tulisan demi tulisan.
Fu lichen pun belajar dengan cepat, awalnya tulisannya agak bengkok tetapi setelah beberapa latihan ia pun sudah bisa menulis dengan stabil, pasalnya ia sudah akrab dengan huruf-huruf disini karena huruf-huruf disini pada dasarnya ada kesamaan dengan tulisan dizaman modern.
Ketika Su Lingyu yang melihat suaminya menulis dengan kertas yang kasar itu ia pun berfikir bahwa ia harus menghasilkan banyak uang agar ia bisa membelikan suaminya kertas yang baik.
Walaupun ia hanya anak seorang selir, sedari kecil pun ia harus bisa membaca, menulis, belajar kaligrafi, puisi, hal itu karena untuk menyenangkan suaminya jikalau di masa depan ia akan menikah.
Tapi kenyataan selalu tidak sesuai ekspektasi, tetapi ia tidak menyesalinya ia cukup beruntung karena suaminyanya saat ini, tetapi bukan suaminya yang dulu.
Karena suaminya yang dulu sangat kasar, arogan, berbeda dengan yang sekarang ia begitu lembut, sopan, dan sangat baik kepadanya.
Setelah makan malam ia pun berkunjung di rumah seorang pak tua bernama Fu Heng guna untuk memesan sebuah meja untuk belajar, karena ia sudah memutuskan untuk melanjutkan study nya saat ini jadi ia membutuhkan sebuah meja.
Fu lichen pun mengetuk pintunya.
"Tok tok tok" bunyi pintu berbunyi saat ini.
"Kriekkk" setelah beberapa waktu suara pintu kayu terbuka perlahan-lahan.
"Ada apa dengan Fu Xiucai disini, sudah lama saya tidak melihat anda, silahkan duduk" sambil mempersilahkan Fu Lichen untuk duduk.
"Pak tua saya langsung saja, saya disini ingin memesan sebuah sekitar empat kaki panjangnya dan sekitar tiga kali tingginya, karena aku pernah mendengar bahwa anda sangat pandai dalam membuat hal semacam ini, apakah anda punya waktu untuk membuatnya?"
Fu Lichen sebenarnya tidak berniat untuk membuatnya begitu, tetapi karena disini pada dasarnya semua meja pasti sangat luas, jadi ia mengikutinya, karena pada dasarnya orang kuno menulis menggunakan kuas untuk menulis, sedangkan untuk ukuran kertasnya sendiri lumayan panjang sekitar satu meter.
Tidak seperti dizaman modern sudah sangat nyaman menulis menggunakan pensil dan bolpoin yang tidak terlalu merepotkan, Fu Lichen berfikir kalau lebih baik ia sekarang belajar kaligrafi dulu untuk memantapkan penulisannya saat ini.
Ia saat ini tidak berniat untuk ujian juren saat ini, karena ujian tahun ini sudah lumayan dekat sekitar satu bulan lagi, tetapi karena persiapan yang tidak cukup ditambah ia belum menemukan seorang guru untuk membantu proses belajar nya, jadi ia menundanya sampai tahun depan.
Sebenarnya Fu Lichen (dulu) sudah mempunyai guru, tetapi karena semenjak orang tuanya meninggal dunia, ia pun jarang masuk sekolah lagi dan bahkan tidak masuk sekolah lagi semenjak ia terobsesi dengan judi.
Fu Lichen pun berniat mengunjungi gurunya bila ada waktu, tetapi sebelum ke sana ia masih banyak pekerjaan yang menunggunya, mulai dari membuat selai, membuat arak.
"Oke, saya sudah punya kayu di sini, tetapi tinggal dipoles saja, anda bisa mengambilnya setelah dua hari dan saya akan mengirimkannya kepada anda"
Fu Lichen berterima kasih kepadanya dan bertanya berapa harganya.
"Tiga puluh lima tembaga sudah cukup, karena kayu ini kayu yang bagus apalagi itu sudah diukir jadi akan lebih mahal, apakah tidak apa apa?"
"Tidak apa-apa kalau begitu saya akan pamit dulu"
Ketika dia keluar dari rumah pak tua Heng ia mengeluh betapa mahalnya itu, memang belajar itu butuh biaya. Fu Lichen pun merasa kalau ia tidak cepat-cepat mencari uang maka ia akan sangat miskin.
Apalagi harga kertas yang lebih mahal dari makanannya yang saat ini dia makan, belum lagi membeli keperluannya saat ini, dan juga dia juga mau membelikan perhiasan dan pakaian lagi untuk anak dan istrinya itu, belum lagi dia mau membangun rumah yang bagus dan besar untuk keluarganya.