Justin menarik tangan Jihan, mereka lalu menaiki balon udara itu. Para genk abatasa membantu pelepasan balon udara. Perlahan lahan balon udara itu bergerak keatas, tinggi dan semakin meninggi. Semua yang menyaksikan dibawah sangat terpesona melihat Justin dan Jihan diatas.
"Hore.. Justin.. Jihan"
"Justin.. Jihan.. bahagia selalu kalian"
Orang orang dibawah kompak menyuarakan teriakkan kebahagiaan untuk Justin dan Jihan.
"Aku yang menyiapkan kejutan ini untuk kamu jihan"
"Justin kamu romantis banget" ucap Jihan, kedua matanya berkaca kaca
Justin tersenyum berdiri mendekati Jihan.
"Boleh kah aku memelukmu, Jihan?"
"Silakan Justin, peluk aku semau mu, karena sekarang aku sudah sah jadi istri kamu"
Justin memeluk Jihan dengan waktu yang lama, tangan Jihan pun merangkul erat tubuh Justin. Kedua nya sama sama terpejam, Justin lalu melepaskan pelukan nya dan mengecup kening Jihan di udara. Kemudian mereka duduk berdampingan menatapi awan awan. Jihan menyadarkan kepalanya dipundak Justin.
Jangan lupa Like, Comen, Vote, Tip Dan Rate 5 nya ya guys, semoga suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Za N_STAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Hari yang cukup cerah itu sangat mendukung bagi keluarga Justin mendatangi keluarga abi Akbar. Selain menjalin silaturahmi antar dua keluarga, maksud yang kedua mereka adalah mengkhitbah Jihan untuk Justin. Abi Akbar beserta keluarga menyambut hangat keluarga Darmawan. Justin berpenampilan rapih, seolah tak sabar menemui bidadari surganya. Abi Akbar mempersikahkan masuk, Jihan sudah duduk menunggu diruang tamu dengan pakaian syar'i nya yang berhias bunga-bunga. Darmawan sebagai kepala keluarga atau wali dari Justin mulai mewakili maksud niat putra bungsunya itu untuk mengkhitbah Jihan. Abi Akbar sudah menceritakan apa adanya tentang Jihan kepada Darmawan. Jihan seorang yatim-piatu yang di besarkan oleh paman dan bibinya.
"Kalau saya setuju saja, tinggal bagaimana Jihan, mau atau engga nya." Ucap Abi Akbar yang didampingi Linda kodijah istrinya.
Justin menunduk, menahan grogi.
"Jihan. Bagaimana, apa kamu mau di khitbah sama Justin?" Tanya Abi.
Dengan mengucap basmallah dalam hatinya, ia mulai membuka suara.
"Iya, saya mau. Tapi, ada satu syarat, sebelum saya membuka cadar ini untuk Justin, saya ingin Justin membaca satu surat yang ia hafal untuk saya!"
Abi Akbar kembali menyambung perkataan yang di khususkan untuk Justin
"Justin, kamu sudah dengar, kan? Silahkan kamu baca salah satu surat yang kamu hafal selama kamu mengaji!"
Justin mulai fokus, ia menyertai Allah dalam batinnya.
"Baik. Saya akan baca surat yang saya hafal untuk Jihan. Saya akan baca surat At-Tin. Karena di dalam surat ini terselip nama kamu, yaitu Zaitun. Jihan Zaitunnisa."
Jihan tersenyum di balik cadar, Justin mulai membaca.
"WATTINI WAZAITUN WATURISININA WA HAJAL BALADIL AMIN ....."
Justin melantunkan surat itu dengan khusyuk dan merdu, hingga semua tercengang. Setelah selesai membaca, pelan-pelan Jihan membuka cadarnya.
"Masya Allah ... kamu memang benar-benar cantik, Jihan. Hati aku selama ini memang tidak berbohong. Kamu cantik ... cantik kamu beda dari yang lain" ucap Justin yang terkesima.
"Iya. Ini wajah aku, Justin, wajah yang selama ini yang bikin kamu penasaran" sahut Jihan.
Justin masih tak berkedip, menatap bibir tipis belah cermai Jihan, hidung mancung, pipi yang kemerah-merahan. Jihan kembali menutup cadarnya. Kecantikan Jihan mengheningkan suasana.
"Justin, bagaimana, apa kamu masih mau sama Jihan?" tanya abi Akbar.
"Iya mau ... mau ... mau!"
Febian beserta istrinya tertawa, di ikuti dengan semua mertetawakan Justin yang tercengang.
"Alhamdulillah, acara pengkhitbahan selesai. Tinggal bagaimana nanti kita merencanakan pernikahan Justin dengan Jihan. Mari kita tutup dengan doa!" Ucap sang paman Jihan.
Abi Akbar membacakan doa penutup, layaknya acara yang sakral. Selesai itu, Abi Akbar mengajak makan siang bersama. Justin masih tak henti memandangi Jihan. Mereka meminta waktu luang sejenak untuk berjalan-jalan berkeliling taman komplek sambil ngobrol, Justin menjadi gugup saat berjalan berdua dengan Jihan.
"Kenapa? Kok diam? Biasanya kamu suka bercanda!"
Justin nyengir sambil garuk-garuk kepala.
"Aku ga sabar ... pengen nikahin kamu!" kata Justin
"Tahan dong, semua kan emang akan di rencanakan!" sahut Jihan.
Tak lama seorang gadis kecil bercadar berjalan mendekati arah Justin dan Jihan. Gadis kecil itu lalu berhenti di depan mereka.
"Eh ... kakak! Masih ingat ga ya sama, aku?
Jihan dan Justin saling memandang heran
"Emang adek ini siapa?" Tanya Jihan.
"Masa kakak lupa? Cadar yang aku pake ini kan yang dikasih sama kakak waktu itu. Nama saya Rumi, saya pengen seperti kakak menutupi aurat."
Jihan dan Justin baru ingat gadis kecil itu yang dulu mereka temui saat di pinggir jalan sedang pacaran.
"Oh, iya kakak baru ingat, masya Allah adek cantik bener pake syar'i!" ucap Jihan terharu.
"Iya, Kak. Aku mau pergi ngaji dulu, yah. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam!" Jawab salam kompak Jihan dan Justin
Gadis kecil itu berlalu pergi ke madrasah pengajian.
"Alhamdulillah, ya rabb. Semoga generasi-generasi akhir zaman ini banyak yang menutupi auratnya, demi keselamatan mereka juga di akhirat nanti" Ucap Jihan.
"Aamiin ...," sahut Justin tersenyum.
Febian beserta istrinya tertawa, di ikuti dengan semua mertetawakan Justin yang tercengang.
"Alhamdulillah, acara pengkhitbahan selesai. Tinggal bagaimana nanti kita merencanakan pernikahan Justin dengan Jihan. Mari kita tutup dengan doa!" Ucap sang paman Jihan.
Abi Akbar membacakan doa penutup, layaknya acara yang sakral. Selesai itu, Abi Akbar mengajak makan siang bersama. Justin masih tak henti memandangi Jihan. Mereka meminta waktu luang sejenak untuk berjalan-jalan berkeliling taman komplek sambil ngobrol, Justin menjadi gugup saat berjalan berdua dengan Jihan.
"Kenapa? Kok diam? Biasanya kamu suka bercanda!"
Justin nyengir sambil garuk-garuk kepala.
"Aku ga sabar ... pengen nikahin kamu!" kata Justin
"Tahan dong, semua kan emang akan di rencanakan!" sahut Jihan.
Tak lama seorang gadis kecil bercadar berjalan mendekati arah Justin dan Jihan. Gadis kecil itu lalu berhenti di depan mereka.
"Eh ... kakak! Masih ingat ga ya sama, aku?"
Jihan dan Justin saling memandang heran.
"Emang adek ini siapa?" Tanya Jihan.
"Masa kakak lupa? Cadar yang aku pake ini kan yang dikasih sama kakak waktu itu. Nama saya Rumi, saya pengen seperti kakak menutupi aurat."
Jihan dan Justin baru ingat gadis kecil itu yang dulu mereka temui saat di pinggir jalan sedang pacaran.
"Oh, iya kakak baru ingat, masya Allah adek cantik bener pake syar'i!" ucap Jihan terharu.
"Iya, Kak. Aku mau pergi ngaji dulu, yah. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam!" Jawab salam kompak Jihan dan Justin
Gadis kecil itu berlalu pergi ke madrasah pengajian.
"Alhamdulillah, ya rabb. Semoga generasi-generasi akhir zaman ini banyak yang menutupi auratnya, demi keselamatan mereka juga di akhirat nanti" Ucap Jihan.
"Aamiin ...," sahut Justin tersenyum.
Rencana baik sudah di tetapkan oleh kedua keluarga. Masing-masing Justin dan Jihan mempersiapkan diri untuk menempuh hidup baru berdua. Sekarang mereka sering berkomunikasi setiap waktu. Bahkan Justin selalu memperhatikan Jihan dari bangun sampai tidurnya kembali. Jauh-jauh hari Justin telah mempersiapkan pernikahannya dengan Jihan, ia ingin membuat kejutan di hari pernikahannya nanti. Justin mengumpulkan kembali sahabat-sahabatnya yang menghilang selama ini, dan mereka pun dapat berkumpul lagi. Separuh anggota genk Cakram telah bersatu, sekarang mereka bukan lagi anak-anak yang anarkis, semua telah kompak bertobat. Mereka kini berkoko dan berpeci. Justin telah mengganti nama genk mereka. Kini Justin menamakan genknya "Genk Abatasa" singkatan dari "Anak Badung Telah Santri". Base camp mereka bukan lagi diruko kosong tapi sekarang base camp mereka di Masjid. Dengan kegiatan sholat dan mengaji.
Kejutan yang akan Justin buat diacara pernikahannya cukup mengeluarkan biaya yang banyak, tapi demi kebahagiaan Jihan apapun dilakukan.