Berawal dari sebuah pertemuan secara kebetulan dalam sebuah insiden, ternyata mereka telah dijodohkan oleh kakeknya sejak mereka masih belia. Dan sebuah insiden semalamlah yang menjadi awal pertemuan mereka.
Saling mengenal tetapi tidak sadar jika mereka yang telah dijodohkan. Dari sebuah keterpaksaan perjodohan hingga muncul benih cinta yang tak mereka sadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna LA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Pagi ini kakek Wijaya telah membuat rencana agar Ara dan Devan bisa bertemu dan terlihat alami. Kakek akan meminta Ara berkunjung ke rumah Devan untuk mengantarkan kue jahe untuk kawannya itu. Kakek sudah meminta bi Inah untuk membuatnya kemarin.
Dan hari ini adalah weekend, setelah sarapan bersama, Ara menyusul kakeknya menuju taman depan.
“Kakeeeekk!”
“Iya sayang, tumben niih Ara ke taman menyusul kakek.”
“Ara bingung kek mau melakukan kegiatan apa hari ini.”
“Jadi hari ini Ara tidak ada kegiatan apapun?”
“Betul kek, apa ada sesuatu kek?”
“Tidak, tetapi kebetulan kakek membutuhkan bantuan Ara untuk mengantar makanan kecil untuk teman kakek, kakek Sanders.” Tutur kakek.
“Naahh kebetulan, semoga Ara bisa bertemu dengan Devan.” batin kakek.
“Boleh kek, tetapi Ara tidak tahu dimana rumah kakek Sanders, bagaimana kek?”
“Sayang kan ada pak Amin yang antar, jadi Ara tenang saja.”
“Naah itu pak Amin sudah tahu dimana rumahnya, mengapa bukan pak Amin saja yang antar makanannya kek?”
“Jadi Ara tidak mau menolong kakek?”
“Eeeehhh mau kek mau, iya Ara akan antar, Ara akan berganti pakaian terlebih dahulu kek.” ucap Ara yang langsung berlari masuk rumah untuk berganti.
“Araa Araa, mana bisa kamu menolak permintaan kakekmu ini.” Ucap kakek selepas Ara masuk rumah.
Kemudian kakek menyusul Ara masuk rumah, kakek langsung menuju dapur dan meminta bi Inah untuk menyiapkan kue yang kemarin dibuat untuk di bungkus rapi.
“Apa ini pa?” tanya Mayra yang tak tahu menahu tentang ide papa mertuanya itu.
“Ini loh may, kue kering untuk diantar ke rumah Sanders.
“Siapa yang akan mengantarkan itu pa? Pak Amin kah?”
“Iyaa tentu saja pak Amin, tetapi pak Amin yang mengantar Ara. Hahaha!” tawa kakek merasa puas.
“Memang Ara mau pa disuruh antar itu?”
“Kamu meragukan kemampuan papa untuk meminta Ara mengantar ini May.”
“Jadi Ara mau pa?”
“Jelas mau, mana bisa Ara menolak permintaan kakeknya.”
“Papa bisa saja.”
“Hahahaha!” mereka tertawa bersama.
Saat mereka tertawa, Ara melangkah turun dari tangga.
“Kalian curang, tertawa bersama dan tidak mengajak Ara.”
“Eeehh sayang, mau kemana nih tumben sudah rapi.” tanya mamanya.
“Mama pura-pura tidak tahu atau benar-benar tidak tahu siih?” tanya Ara heran.
“Laahh serius mama belom tahu.”
“Kakek meminta Ara untuk mengantar makanan untuk temannya ma.”
“Oohh begitu, baiklah segera Ara antarkan saja, mungkin ini yang harus Ara antar, iya kan pa?” tanya mama sambil memegang papperbag coklat.
“Iya betul itu.” Kakek membenarkan.
“Baiklah, Ara pamit dulu ma, kek.”
“Iya hati-hati sayang, langsung pulang atau mampir dulu nanti Ra?” tanya mama.
“Mungkin jalan dulu sebentar ma cari angin dulu.”
“Baiklah, yang penting beri kabar ke rumah jika ingin pergi kemana lagi.” Kakek mengingatkan.
“Siaaaap komandan!!” Ara langsung berjalan keluar dan sudah ada pak Amin yang menunggu di depan.
“Semoga rencana papa berhasil kali ini pa.”
“Semoga saja May.”
Hanya 20 menit perjalanan saja Ara sudah sampai. Ara meminta pak Amin untuk menunggu di depan gerbang saja karena Ara berpikir hanya sebentar saja antar lalu pulang.
“Permisi pak, benar ini rumah kakek Sanders? Saya cucu kakek Wijaya.” tanya Ara pada satpam
“Oh tuan besar ada di rumah non, mari saya antar masuk.” ajak pak Satpam.
“Ini rumah atau istana siihh besar banget, melebihi rumah kakek.” batin Ara takjub melihat rumah kakek Sanders.
“Tunggu sebentar non, tuan akan segera kemari, silakan duduk, saya permisi keluar dulu.”
“Terima kasih pak.”
“Sama-sama non.”
Ara merasa tak asing dengan rumah ini, seperti dia berkali-kali pernah berkunjung kemari. Tapi Ara juga tidak begitu yakin dengan ingatannya. Tak lama kemudian, muncullah kakek Sanders.
“Aurora!!”
“Iya kek.” Ara menjawab tapi dengan ekspresi wajah bingung yang dapat ditebak kakek Sanders.
“Ini kakek Sanders nak, apa kamu sudah melupakan sahabat dari kakekmu itu?”
“Ahh maaf kek Ara benar-benar lupa. Aahh iya ini kek titipan untuk kakek Sanders dari kakek.”
“Waah terima kasih ya nak, maaf merepotkanmu, apakah mau makan siang dulu disini nak?”
“Terima kasih kek, tetapi maaf Ara masih ada janji bertemu dengan teman Ara jadi tidak bisa berlama-lama kek.” jelas Ara.
“Sayang sekali nak, kamu baru bisa main kesini lagi sejak sekian lama tetapi tidak bisa singgah untuk makan bersama kakek.”
“Lain waktu Ara main kesini lagi kek, ohh ya kek, apa disini kakek hanya tinggal sendirian saja?”
“Tidak nak, kakek tinggal bersama satu cucu kesayangan kakek, sepertinya dia masih tidur nak, jika sudah bangun pasti akan kakek kenalkan kalian.”
“Cowok atau cewek kek?”
“Cowok nak, mau berkenalan dengannya? akan kakek bangunkan dia.” ucap kakek Sanders semangat.
“ Jangan kek, nanti istirahatnya terganggu, ini juga Ara mau berpamitan kek, waktunya sudah mepet.” cegah Ara
“Ya sudah nak, lain waktu akan kakek kenalkan kalian.”
“Iya kek, kakek, Ara mohon pamit dulu ya kek. Lain kesempatan Ara pasti main kesini lagi.”
“Iya nak, kapanpun ingin kesini maka kesini lah.”
“ Ara pamit ya kek, selamat siang.”
“Hati-hati di jalan nak!”
“Baik kakek, daaaaahh!!" Teriak Ara dari luar rumah kemudian dia berlari menuju gerbang.
Dari dalam rumah Devan baru turun dari kamarnya dan berencana akan pergi ke apartemen Rudi.
“Kek, habis ada siapa? Mengapa dia berteriak-teriak seperti di dalam hutan sih kek?” tanya Devan.
“Laah kenapa nggak turun dari tadi nak, tau begitu kan kalian akan kakek kenalkan.”
“Apa itu sugar babynya kakek?”
Pletaakk!!! Sentil kakek mengenai dahi Devan.
“Kalau ngomong jangan asal ya Mahendra Devan Sanders!!!”
“Aauuw sakit kakek!”
“Makanya kalau ngomong jangan asal begitu. Tadi itu yang datang adalah cucu dari teman kakek, yang ingin kakek jodohkan buatmu nanti, cantik bukan??”
“Mana Devan tahu kek, kan tadi Devan belum sempat bertemu.”
“Kok bisa, bukankah kemarin kakek tinggal kan amplop besar di meja tempat tidurmu, jadi belum kamu buka.”
“Belum kek, Hehehe!” jawab Devan santai.
jangan sampai emosi mu menghancurkan hati Ara ingat baru bertunsngsn loh bisa bubar apa kg yg udah nikah aja aja yg cerai
jangan sampai ego merusak segala2 y Devan🤭
Semoga berhasil dan lancar acaranya