NovelToon NovelToon
Ibu Pengganti

Ibu Pengganti

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:734.2k
Nilai: 4.7
Nama Author: Memei Melita

"PERJODOHAN" adalah kata yang tidak jamannya lagi tapi itulah yang karina alamai sekarang.

orang tua karin mendojodohkannya dengan duda anak satu, banyak hal yang terjadi dalam hidup karin setelah menerima perjodohan itu.

"alisya sayang Bunda".

kata yang selalu membuat karin merasa bahagia dan bertahan dengan pernikahan perjodohan itu.

masalah silih berganti dalam rumah tangganya, kesabaran, keikhlasan dan setiaan karin di uji.

seiring berjalannya waktu, karin bisa mencintai suami dan anaknya dengan tulus. kasih sayang yang karin berikan pada alisya melebihi dari apapun.

suatu ketika saat karin melahirkan anak, hal yang tidak terduga terjadi yaitu anaknya meninggal karena dalam keadaan prematur.

kehidupan karin seketika runtuh dan hatinya sakit melihat anaknya pergi untuk selamanya. separuh dari nyawa karin hilang begitu saja.

karin bisa bangkit dari kesedihannya karena dukungan suami, anak dan keluarganya. mereka semua yang membuat karin bisa lebih baik dan semangat lagi dalam menjalankan kehidupannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Memei Melita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

3 bulan kemudian....

"sayang, besok aku harus ke Singapura untuk perjalanan bisnis ke perusahaan papa".

"berapa lama mas?". tanyaku karna aku tidak ingin di tinggal mas bram lama.

"mungkin seminggu sayang,  kamu gak apa kan kalau aku tinggal".

aku sempat terdiam, bagaimana bisa mas bram meninggalkan aku selama itu. seminggu itu lama banget buat ku.

"ahh iya mas gak apa". jawabku dengan nada pelan.

"kenapa mendadak banget mas".

"ada sesuatu yang mendesak sayang, dan papa butuh aku di sana".

"apa kamu sudah bilang denga alisya?".

"sudah sayang, tadi aku bicara dengan alisya. dan syukurnya alisya mengerti".

aku mendekati mas bram dan tidur di lengannya.

"apa gak bisa 3 hari aja mas, seminggu itu lama loh".

"aku akan usahakan sayang,cepat urusan disana selesai, aku akan segera pulang". mas bram memelukku.

"aku jadi tidak bisa tidur mas karna kamu besok harus pergi".

"sayang, aku pergi karna kerjaan, jangan cemberut gitu dong". mas bram mengusap pipiku.

walaupun karna kerjaan tapi tetap aja aku merasa sedih harus di tinggal.

****

keesokkan paginya....

aku telah menyiapkan segala keperluan mas bram dan menata rapi segala keperluannya.

"mas, ada lagi yang mau....... huekk... huekk... ". aku segera berlari ke kamar mandi.

perutku terasa sangat mual dan ingin memuntahkan semua yang ada di dalam perutku.

"huek... huekk... huek... ".

"apa aku masuk angin karena lupa makan tadi malam". perut ku sangat sakit.

"sayang, kamu kenapa?". mas bram mendatangiku di kamar mandi.

aku tidak bisa menjawab ucapan mas bram, yang ku bisa lakukan hanya melambaikan tanganku dan memastikan kalau aku baik-baik saja.

"apa perlu kita kerumah sakit".

"gak usah mas, aku baik-baik aja. mungkin hanya masuk angin".

"huekk... huekk... ". aku merasa lemas.

mas bram memapahku untuk duduk di kasur dan memeberikanku segelas air putih.

"kamu yakin baik-baik aja". mas bram sedikit khawatir dengan keadaanku.

"iya mas, buruan kamu beres-beres. sebentar lagi kamu harus ke bandara mas". aku membenahi koper mas bram.

mas bram memeluk ku dari belakang.

"aku jadi gak nyaman untuk pergi".

"jangan khawatirkan aku mas, papa lagi butuh kamu sekarang".aku gak ingin membuat mas bram semakin khawatir.

"ya sudah aku berangkat dulu ya sayang, kabari aku kalau terjadi sesuatu". mas bram mencium keningku.

"iya mas".

setelah mengantarkan kepergian mas bram, aku kembali ke kamarku dan merebahkan tubuhku di atas kasur.

"ada apa denganku?  apa aku hamil". aku memegang perutku.

"ahh tidak mungkin, bahkan bulan lalu aku masih halangan ". aku mengingat-ingat sebulan yang lalu.

"bulan lalu.. bulan lalu... bulan lalu..... ahh iya aku kan belum dapat halangan 2 bulan ini".

"jadi.. apa beneran aku hamil". aku bahagia jika memang itu benar.

tapi lagi-lagi perutku terasa sangat mual dan selalu ingin muntah. tubuh ku menjadi lemas setelah muntah.

"kenapa harus sekarang, di saat mas bram tidak ada". keluh ku.

aku membaringkan tubuhku dan memejamkan mata agar rasa mual nya berkurang.

karena aku penasaran apa aku benar hamil atau tidak, akhirnya aku meminta bibi nina untuk membelikanku alat tes kehamilan di apotik.

tookk... took... ttookk...

"non, ini alat tes kehamilannya". ucap bi nina.

"iya bi, masuk aja". jawabku dengan nada lemas.

"non, apa kita kerumah sakit aja.  non terlihat lemas sekali".

"tidak apa-apa bi".

"baik non, kalau ada apa-apa panggil bibi aja".

"iya bi.  alisya lagi ngapain bi?".

"non alisya lagi main non di bawah".

"tolong jagain alisya ya bi, maaf udah banyak ngerepoti bibi".

"iyaa non tidak apa-apa. saya kembali ke dapur dulu ya non".

"tunggu bi".

mendengar ucapanku, bi nina berhenti melangkah dan berpaling menghadap ku.

"iya non". jawab bi nina.

"bi, nanti kalau mas bram tanya tentang aku, jangan kasih tau ya. bilang aja kalau aku baik-baik aja ".

"tapi non... ".

"aku gak mau ganggu kerjaannya bi".

"baiklah non".

aku merasakan mual yang hebat semenjak pagi dan membuatku tidak bisa beraktivitas seperti biasa.

"aku harus segera melakukan tesnya". aku beranjak ke kamar mandi.

setelah aku mencoba alat tes kehamilannya, aku merasa deg-degan untuk melihat hasilnya.

"ya Tuhan, aku sangat gugup".aku mengepalkan kedua tanganku.

setelah menunggu beberapa saat, aku telah melihat hasil daro tes kehamilannya.

"apa? aku hamil?  apa ini beneran?  apa ini nyata?". aku terus bertanya-tanya.

aku tidak bisa mengucap kan kata apa-apa lagi, semua terlihat begitu tiba-tiba dan membuatku terkejut sekaligus bahagia.

"aku harus cepat-cepat kasih tau mas bram". segera aku mengambil ponselku.

ttutt... ttutt...

"nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.... ",

"kok gak aktif sih no mas bram. seharusnya kan dia udah sampai di Singapura". aku melihat jam di ponselku menunjukkan pukul 14:42 siang.

"aku telpon ibu aja deh".

ttuttt. ..ttutt.... ttutt....

"hallo sayang, ada apa?".

"ibu... aku... aku... ".

"ada apa karin?  kenapa kamu menangis?  ada masalah apa?". terdengar suara ibu yang panik.

"ibu... aku hamil bu. aku hamil... ". ucap ku dengan teriakkan bahagia.

"apa?  kamu beneran hamil karin.  syukurlah... ibu senang dengarnya. ibu harus segera kasih tau ayah kamu.kapan kamu melakukan tesnya? ".

"baru aja bu, pagi ini aku merasa mual dan muntah. jadi aku cepat-cepat melakukan tes karena penasaran".

"apa kamu sudah kasih tau bram?".

"belum bu.  mas bram lagi di Singapura melakukan perjalanan bisnis,  tapi aku akan segera menghubunginya bu".

"kamu harus jaga diri kamu baik-baik ya, jangan terlalu capek dan banyak istirahat".

"baik bu, aku akan dengar nasehat ibu"

aku masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat di alat tes kehamilan. apa ini nyata?  garis dua merah yang aku dapatkan.

tanganku masih gemetaran dan air mata ku terus mengalir karena bahagia. apa yang di inginkan mas bram akhirnya terwujud. 

"besok aku harus ke rumah sakit untuk memastikannya". ucapku.

dan aku masih berusaha untuk menghubungi mas bram tapi nomornya tidak aktif.

"ahh iya, kenapa aku tidak menghubungi sekretarisnya mas bram saja".

"tapi bagaimana aku menghubunginya?  bahkan aku tidak mengenal satupun karyawan kantornya".

"hheeehh kenapa mas bram seperti ini sih di saat aku butuh". aku melemparkan handphoneku dan merebahkan tubuhku di kasur.

baru hitungan beberapa jam mas bram pergi, aku sudah merasa sepi dan kehilangan. seperti ini rasanya kalau sudah merasakan jatuh Cinta yang sebenarnya pada suami sendiri.

***

seminggu kemudian....

" bunda.... ".

"ahh iya sayang". alisya mendatangiku

"bunda sakit?"

aku bangun dan memegang tangan alisya.

"gak sayang, bunda gak sakit.  alisya udah makan?".

alisya menganggukkan kepalanya

"sudah bunda".

"bunda, alisya mau jalan-jalan ke taman".

"hmm apa sayang?  mau ke taman?  oke, tapi bunda ganti baju dulu ya. alisya mau nunggu bunda kan?".

"iyaa bunda".

"sebentar ya sayang". aku langsung bergegas mengganti baju ku.

bagaimana pun aku tidak bisa berkata tidak pada alisya, jika bukan aku siapa lagi yang akan menemani dia bermain.

"ayo sayang, kita jalan-jalan". aku menggandeng tangan alisya.

"hore.... ". teriak alisya bahagia.

"kenapa alisya ngajak bunda ke taman?  alisya mau jumpa siapa ?".

"alisya mau main sama temen-temen bunda".

"anak bunda bosan ya di rumah terus. oke hari ini kita akan bermain sepuasnya di taman".

saat ingin keluar rumah, bibi nina memanggilku.

"non.. non mau kemana?". bi nina menghampiri ku dan alisya.

"mau ke taman bi.  kenapa bi?".

"non kan belum sehat, biar bibi aja yang nemani non alisya".

"gak apa-apa bi,  aku sudah baikkan kok".

"hmm anu non,  gimana hasilnya". bi nina bertanya mengenai tes kehamilan.

aku tersenyum mendengar pertanyaan bi nina, wajah bi nina terlihat penasaran mendengar jawaban ku.

"aku berhasil bi". aku tertawa girang.

"beneran non?  tuan pasti bahagia dengar berita ini". bi nina menjabat tangan ku memberikan selamat.

"tapi bi, jangan beritahu mas bram dulu ya.  aku ingin membuat kejutan".

"baiklah non".

"kami pergi dulu ya bi".

"iyaa non, hati-hati non".

sudah lama aku tidak mengajak alisya jalan-jalan di sekitar rumah. rasanya seperti mengenang masa kecilku saat pergi jalan-jalan bersama ayah.

angin sore yang menerpa dedaunan dan udara yang segar membuat ku sedikit lebih baik dan aku tidak merasakan rasa mual.

"hmmmmm". aku menarik nafas dalam-dalam.

"sejukkan sayang di sini". kami berjalan menelusuri taman dengan bergandengan tangan.

"bunda, mau naik itu". alisya menunjuk sebuah ayunan di taman.

"oke, ayo kita kesana". ucapku.

di taman itu tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang saja termasuk anak-anak seusia alisya.

"bunda duduk di sini ya sayang, alisya main ayunan ".

alisya langsung berlari bermain ayunan,  alisya terlihat bahagia, dia terus mengayunkan ayunannya.

"pelan-pelan sayang, nanti jatuh". ucapku.

selagi menemani alisya main ayunan, tiba-tiba aku teringat ingin menghubungi mas bram.

"aku telpon lagi aja deh".

aku meraba-raba kantong celana ku tapi tidak menemukan handphone ku.

" ahh aku pasti lupa membawanya, nanti aja lah nelponnya".

mata ku langsung fokus ke alisya yang masih bermain, kali ini alisya bermain bersama temanya.

tapi beberapa saat kemudian aku mendengar alisya menangis dan aku langsung mendatanginya.

"kenapa sayang".

alisya masih saja menangis tanpa henti saat aku mendatanginya.

"dia lari-lari dan jatuh". ucap temannya.

"gak apa-apa sayang, jangan nangis ya. anak yang bunda kan hebat, udah ya jangan nangis lagi"

alisya masih sesegukan nangisnya, mungkin dia merasa malu karna jatuh di hadapan teman barunya.

"mana yang sakit sayang, bilang sama bunda".

alisya menggelengkan kepalanya sambil tersedu-sedu.

"gak apa sayang, udah ada bunda di sini. jangan nangis lagi ya". aku langsung memeluk alisya.

"alisya nya baik-baik aja kok, dia gak apa-apa". ucapku pada teman alisya yang berdiri di dekatku.

"y udah, kita pulang aja ya". aku menggandeng tangan alisya dan mengajaknya pulang.

di perjalanan pulang pun, alisya masih terlihat sedih. aku berusaha menenangkannya agar ia berhenti menangis.

di pertengahan jalan, ada ibu-ibu yang berteriak dari jauh. aku tidak tahu siapa ibu-ibu itu dan dia meneriaki kearahku.

"hei.. kamu penculik ya. lepasin anak itu".

"beraninya kamu menculik cucuku, lepasin dia".

ibu itu terus mendekatiku dan dia mengayunkan tasnya tepat di kepalaku.

"aghhh" teriakku spontan.

"dasar wanita gak tau diri, beraninya kamu menculik cucuku. rasakan ini".

ibu itu terus menghujaniku dengan pukulannya, kepala ku terasa sakit sekali dan rambutku berantakan.

"aku bukan penculik, tolong berhenti lah bu" aku menghadang pukulan ibu itu dengan kedua tanganku.

"masih gak mau ngaku juga ya, biar kapok kamu telah menculik anak-anak". ibu berkata kasar pada ku dan terus-menerus meneriaki penculik.

aku melihat alisya menangis di belakang ibu itu, aku ingin meraih tangan alisya tapi tanganku di hempas oleh ibu-ibu itu.

teriakkan ibu-ibu itu telah mengundang perhatian warga setempat sehingga mereka semua berkerumun melihatku di pukuli.

"bunda... bunda" aku mendengar alisya menangis memanggilku.

"aku ibunya bukan penculik". ucapku.

"anak ini tidak mempunyai ibu, bagaimana kamu bisa mengaku-ngaku sebagai ibunya". ibu itu lanjut memukuli ku.

akhirnya ada beberapa warga yang menarik ibu itu menjauhi ku. aku merasa lemas tidak bertenaga sehingga aku terjatuh ke tanah.

"sudah-sudah jangan bertengar lagi, ini tempat umum". ucap seorang bapak-bapak.

"dia itu penculik, bagaimana bisa kalian diam saja". ibu itu masih bersikukuh kalau aku adalah penculik.

"bukan, saya ibunya bukan penculik". aku sudah berkata sejujurnya tapi tidak ada yang percaya.

"kalau kalian tidak percaya, ayo ikuti saya ke perumahan Cemara no 5".

dan mereka pun setuju untuk mengikutiku pulang kerumah. ibu-ibu itu masih terlihat kesal melihat ku dan dia terus menggandeng tangan alisya.

saat sampai di depan rumah, beberapa dari merek terkejut melihat rumah ku dan mas bram.

"bukannya ini rumahnya bram?". ucap ibu itu.

"saya istrinya bramantyo". jawab ku.

"tidak, tidak mungkin. bram tidak mungkin menikah lagi". ibu itu masih tidak yakin.

bi nina yang melihat ramai-ramai depan rumah terkejut dan langsung keluar rumah untuk melihat.

"hah.. non karin. ya ampun non kenapa?". bi nina berlari menghampiri ku.

"bi, tolong jelaskan ke mereka semua kalau aku ibunya alisya bukan penculik".

mata bi nina membelalak saat melihat ibu yang memukuli ku.

"bu lidya?".

"masih ingat kamu dengan saya". jawab sinis ibu itu.

"bibi kenal?". aku juga penasaran siapa dia.

"iya non, ibu lidya adalah ibunya non Grace. neneknya non alisya".

"nina, kenapa kamu bisa teledor banget sih, biarkan alisya bersama orang asing".

"bukan orang asing bu, non karin ini istrinya tuan bram". bi nina mencoba menjelaskannya.

"apa?  istrinya bram?  gak mungkin".

"iyaa bu, benar kalau non karin istrinya tuan bram, dan non karin bukan penculik".

"bunda, bunda... ". alisya terus memanggilku.

aku merentangkan tanganku untuk meraihnya.

"kemari sayang".

alisya langsung berlari mendekap di pelukanku.

setelah mendengar penjelasan dari bi nina sebagian warga sudah mulai membubarkan diri, sedangkan ibu lidya masih bediri menatap mataku dengan tajam.

"bagaimana bisa bram menikahi wanita seperti  ini tanpa minta izin denganku. bukannya dia dulu sangat mencintai anakku".

entah apa yang membuat ibu lidya tidak percaya bahwa aku istrinya mas bram dan itu membuat ibu lidya membenci ku.

1
Arkan_fadhila
masalah Rara kok gitu aja selesai
Arkan_fadhila
PLIN plan gak sadar banget dia selalu nyebut nama gracia
Sus Susyla
belanjaja hbs 1 juta...cm 3 kresek..tp pas sampe rumah ortu karin bawaan y y sangat banyak..harus nurunin bolak balik
Sus Susyla
tinggalin aj karin biar tau rasa dia
Sus Susyla
laki2 nyebelin s bram
Sus Susyla
kata y alsya tangan d gandeng sm bram...ko bsa tiba2 nubruk gitu
Sus Susyla
kesalahn fatal..seorang ibu smpe anak perempuan g bisa dan ga tau apa2 ttg dapur....karena sejati y seorang perempuan harus tau
Enies Amtan
aku mampir
Srinama Lumbanbatu
lanjut
Nurani Tunjung
tiba2 1tahun ga msk akal deh..1bln mungkin ya...authorrr ny cpk🤭
Mhila Amhilawhaty
bosan kh sedding baca novel yg rata2 wanita nya gampangan
S Wati
sebenernya bagus ceritanya,tp kenapa penyampaiannya kurang greget...terlalu lempeng
As Tumenggung Zees
kehilangan anak itu sangat menyakitkan 😭😭😭😭😭😭😭rasax separuh hidup kita ikut pergi sy kehilangan anak yg paling sabar,rajin dn tak bisa sy gambarkan anak paling is the best😞😞😞😞😞
Emmy S Umar
Alhamdulillah selesai juga bacanya sampai ending
Tutiks
lanjut lagi dong up nya
Nina Rochaeny
2 thn baru berkunjung ke ortu..terlaluuu..4 jam di jln cetek...bisa plg sebulan sekali
Nina Rochaeny
1 thn tanpa apa2....rugi km karin
choi yongah
👍👍👍👌
Ratna Dewi
teringat kembali pengalamanku saat anakku meninggal karna lahir prematurdengan berat 1,3 kg hamil 7 bulan, anakku hidup 5 hari di inkubator,setiap hari aku dan suamiku melihat anakku dirumah sakit , dihari ke 5 jam 11 malam aku menerima tellpon dari rumah rumah sakit bahwa anakku tidak sadarkan diri, tidak lama aku sampai dirumah sakit anakku meninggal, hatiku sedih,terasa nyawa ini ikut pergi bersamanya, Allah maha pengasih lagi maha penyayang sekarang aku diberkani Allah 3 anak perempuan yg cantik dan sempurna,terima kasih Allah di balik kesedihanku engkau berikan aku kebahagiaan yg tidak bisa dinilai dengan apapun
.
RN
selamat dan semangat kk
balik mampir dukungan kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!