Siapkan tissue karena cerita mengandung bawang.
Apa jadinya jika sebuah pernikahan tanpa cinta harus terjadi atas unsur perjodohan?
Kiandra Anastasia seorang gadis yatim piatu berusia 17 tahun yang hidup bersama dua pembantu setianya yang menganggapnya seperti anak sendiri semenjak kepergian kedua orang tuanya untuk selama-lamanya karena sebuah kecelakaan, ternyata sejak kecil sudah dijodohkan oleh Almarhum kedua orangtuanya itu dengan seorang CEO perusahaan besar yang merupakan putra dari sahabat Almarhum Papanya, Aldo Wiryawan Prayoga nama sang CEO yang terkenal dengan sikapnya yang dingin dan tempramen.
Bagaimana kehidupan pernikahan antara Kiandra bersama Aldo? Akankah ada benih-benih cinta diantara mereka nantinya? Yuk ikutin cerita ini dari awal sampai akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saputri90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Dua hari setelah Kia bangun dari tidur panjangnya, ia pun sudah diperbolehkan pulang oleh salah seorang Dokter yang menanganinya.
Pak Ujang nampak bingung saat ia diminta keruang administrasi oleh salah seorang perawat yang ikut visit bersama sang Dokter.
"Pak, nanti sebelum Nona Kiandra pulang, tolong keruang admistrasi dulu ya, ada beberapa hal yang harus di urus disana oleh bapak," ucap seorang perawat wanita yang berdiri dihadapan Pak Ujang dengan baju serba putihnya, perawat itu kemudian memberikan selembar kertas yang berisi izin kepulangan Pasien yang sudah di tanda tangani oleh sang Dokter.
"Baik Suster," jawab Pak Ujang singkat, ia menerima selembar kertas yang diberikan perawat itu padanya. Pak Ujang memberikan senyum ramah pada perawat wanita di hadapannya saat perawat itu izin undur diri.
Setelah Dokter dan perawat itu pergi, Pak Ujang terdiam untuk berpikir, untuk apa dia ke bagian Administrasi, hal apa yang harus dia urus di administrasi jika seluruh pembayaran sudah diselesaikan oleh Tuan Wiryawan dari awalnya.
Saat ia sedang bermain dengan pikirannya, tiba-tiba Arka datang mengejutkannya.
"Pak Ujang, kenapa melamun?" Sapa Arka dengan suara bassnya yang mengejutkan Pak Ujang dari lamunannya.
Kini Arka tengah berdiri di hadapan Pak Ujang, dengan tatapan matanya terarah ke gadis belia yang sangat ia cintai, gadis belia itu tengah duduk diatas ranjang tidur, gadis itu juga tengah menatap kearah dirinya dengan mengembang senyum di wajahnya. Hati gadis itu berbunga-bunga dengan kedatangannya kembali untuk dirinya.
Pak Ujang kaget sontak mengelus dadanya, dia benar-benar terkejut dengan sapaan Arka."Haduh, Nak Arka mengagetkan saja," ucap Pak Ujang yang belum berhenti mengelus dadanya, jujur saja jantungnya seperti mau copot saat dikejutkan Arka barusan.
"Makanya Pak Ujang jangan melamun dong, habis suster keluar ruangan, Pak Ujang malah asyik melamun Mas, aku panggil saja Pak Ujang tak menyahuti ku," ucap Kia yang mengadu pada Arka, sang kekasih pujaan hatinya.
Semenjak terbangun dari tidur panjangnya, Kia membiasakan diri untuk memanggil Arka dengan sebutan Mas, panggilan yang sesuai dengan permintaan Arka pada Kia.
"Oh ya? Apa benar seperti itu sayang?" Tanya Arka yang mengalihkan pandangannya dari Kia lalu ke Pak Ujang. Ia seakan menatap penuh tanya pada Pak Ujang, berharap Pak Ujang menceritakan apa yang sedang ia pikirkan, jika itu berhubungan dengan Kia, ia harus mengetahuinya.
"Iya Mas, makanya sampai kaget seperti itu tadi," jawab Kia yang dibalas senyuman oleh Arka.
"Ada apa Pak Ujang? Apa ada masalah? Atau ada yang sedang Pak Ujang pikirkan? Jika Pak Ujang bersedia, berbagilah masalah Pak Ujang dengan saya, jika saya bisa bantu, saya akan membantu Bapak," Tanya Arka yang begitu penasaran kenapa Pak Ujang sampai melamun seperti itu. Ia juga menawarkan diri untuk membantu jika Pak Ujang bersedia.
"Bapak sedang berpikir, tentang ucapan Suster tadi yang meminta bapak untuk pergi ke ruang administrasi Nak Arka, Suster juga memberikan surat ini pada Bapak," jawab Pak Ujang yang kemudian memberikan selembar kertas itu pada Arka.
Arka membacanya dan hanya merespon dengan mengulas senyum tipis di wajahnya.
"Ini hanya sebuah prosedur Pak Ujang, Bapak tak perlu kesana, karena saya sudah ada disini untuk menjemput Tuan Putri untuk pulang, sekarang pasti Bi Ratmi sedang memasak makanan enak untuk kita makan malam nanti," ucap Arka yang masih membuat Pak Ujang bingung.
"Kalau Bapak tidak perlu kesana lantas bagaimana dengan pembayaran rumah sakit ini, Nak Arka? Apa sudah dibayarkan oleh Tuan Wirya?" Tanya Pak Ujang pada Arka yang begitu penasaran.
"Beliau tak lagi membayar rumah sakit ini untuk perawatan Kia, Pak Ujang. Nanti kita bicarakan setelah kita sampai dirumah ya? Bagaimana jika sekarang kita bersiap-siap untuk pulang saja? Bukankah sudah ada yang merindukan suasana rumah disini?" Jawab Arka yang terus memandangi Kia dengan tatapan menggodanya.
Kia tersenyum mendengar ucapan terakhir Arka yang terkesan sedang menggoda dirinya.
Jika kalian bertanya kenapa Tuan Wiryawan tak lagi membayar perawatan Kia, itu karena rumah sakit Alexandria sudah di akusisi oleh perusahaan Arka. Arka mengambil jalur tersebut agar leluasa mendatangi rumah sakit siang dan malam tanpa diketahui oleh Tuan Wiryawan, karena seperti yang diketahui Pak Ujang melarang keluarga mereka mendekati Kia dengan alasan kondisi sikis Kia yang akan tertekan, jika masih berdekatan dengan orang-orang yang memaksakan kehendak pada dirinya. Hal ini membuat Tuan Wiryawan hanya bisa memantau dari jauh dengan cara bekerja sama dengan pihak rumah sakit, karena Pak Ujang benar-benar menutup komunikasi antara dirinya dan Tuan Wiryawan.
Pada awalnya Tuan Wiryawan membayar pihak rumah sakit agar melaporkan apapun yang terjadi pada Kia, siapapun yang datang hilir mudik menjenguk Kia tak luput dari pantauan Tuan Wiryawan. Namun saat Arka berbicara banyak dengan Pak Ujang, dan mengetahui apa yang diinginkan dan dirasakan Pak Ujang dan juga Kia. Membuat Arka akhirnya mengambil keputusan untuk mengakusisi rumah sakit Alexandria, setelah berhasil mengakusisi rumah sakit dalam hitungan jam, kemudian ia meminta pihak rumah sakit menolak pembayaran atas nama Tuan Wiryawan untuk pasien bernama Kiandra Putri, sang kekasih pujaan hatinya.
Tuan Wiryawan sempat melakukan protes, karena pembayaran deposit diawal yang di lakukan olehnya di kembalikan oleh pihak rumah sakit.
"Kenapa pembayaran deposit saya di tolak? Ada apa ini? Apa Kia baik-baik saja? Tidak ada hal buruk yang terjadi padanya kan? Apa jumlah uang yang saya depositkan untuk pasien bernama Kia kurang? Bagaimana dengan kelanjutan perawatan pasien atas nama Kia nanti, jika saya tidak melakukan deposit pembayaran?" Tuan Wiryawan memberondong pertanyaan pada pihak rumah sakit yang datang langsung ke perusahaan Tuan Wiryawan.
"Mohon maaf Tuan, ini atas permintaan wali pasien sendiri, yang bernama Ujang Rumana. Beliau bertindak sebagai wali pasien kami,bahkan wali pasien kami ini sudah membayar deposit lebih besar dari nominal yang Tuan Wirya berikan pada kami sebelumnya," jawab utusan itu berbohong. Utusan itu mengatakan sesuai dengan arahan Arka pada Tuan Wiryawan.
Tuan Wiryawan nampak terkejut mendengar nama Pak Ujang disebut oleh utusan dari rumah sakit Alexandria. Namun ia tak bisa melakukan apa-apa lagi, karena ia menyadari kesalahan keluarganya yang terlalu memaksakan pernikahan Kia dan Aldo dipercepat hingga terjadi peristiwa yang tak diinginkan seperti ini.
"Ujang, semarah itu kau pada Kami," gumam Tuan Wiryawan di dalam hatinya.
Arka membawa Kia pulang ke kediaman Kia dengan mobil sport yang di kendarai oleh dirinya, Pak Ujang dengan mobilnya mengikuti dari belakang.
"Senang sudah bisa pulang?" Tanya Arka yang melirik sekilas Kia yang duduk disampingnya.
"Seneng banget Mas, Kia besok sudah boleh sekolah kan?" Jawab Kia yang menyandarkan kepalanya di lengan Arka.
"Boleh, mau di jemput Mas atau mau dianter sama Pak Ujang hum?" Tanya Arka yang sekilas mencium pucuk kepala Kia.
"Di anter Pak Ujang aja Mas, nanti kita ketemu di sekolah, lagian aku gak mau seisi sekolah tahu kita punya hubungan Mas, biar sama kaya Dira dan yayang Tomonya," jawab Kia yang membuat Arka menarik senyuman di bibir seksinya itu.