‘’Hei, Mbak! Ini lelaki yang kamu inginkan, bukan? Eh, suamiku maksudnya! Secara kan dia masih suamiku. Ambillah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Ardila Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Kecelakaan?
‘’A—aku di mana?’’ aku memegangi kepala yang begitu terasa sakit. Samarku kulihat ada seorang lelaki muda lagi tampan, siapa dia?
‘’Alhamdulillah, kamu udah siuman,’’ ucapnya tersenyum.
‘’Aku di mana?’’ ulangku kembali. Kuedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
Ya Allah, di rumah sakit? Kucoba mengingat kembali, pikiranku berputar mengingat semua kejadian beberapa jam nan lalu. Aku kecelakaan? Teringat kejadian itu saja membuat kepalaku pusing.
‘’Kamu di rumah sakit. Kamu tadi kecelakaan,’’ sahutnya.
‘’Oh iya, kenalkan namaku Reno!’’ dia mengulurkan tangannya dan mendekat ke arahku yang tengah terbaring lemas ditambah terpasang indah selang infus dan perban. Aku memandanginya, sekian detik kemudian.
‘’Aku Nelda.’’ aku hanya menelungkupkan tangan di dada. Membuat dia menggaruk kepalanya, lantas mengangguk tersenyum. Ya, biar bagaimana pun aku dan lelaki itu bukan mahram. Aku mencoba untuk duduk, namun begitu terasa sulit sekali. Tubuhku sangat sakit.
‘’Kamu istirahat dulu. Jangan dipaksakan, ya?’’ tangannya bergerak seperti mau membantuku untuk berbaring kembali, namun aku menahan.
‘’Aku bisa sendiri, makasih.’’ aku kembali membaringkan tubuh.
‘’Kamu yang membantuku? Makasih banyak ya,’’ kataku yang menatapnya masih berdiri bergeming.
‘’Hem, iya. Kebetulan aku lewat pas kamu kecelakaan,’’
‘’Gimana keadaan kamu sekarang?’’
‘’Ya, seperti yang kamu lihat. Lukaku yang berbalut perban dan tubuhku masih terasa sakit,’’ jawabku sembari memperlihatkan tangan dan kepalaku yang dibalut perban.
Seketika teringat olehku, Naisya. Bagaimana dengan keadaan anakku sekarang? Apa dia baik-baik saja? Apa dia tak rewel? Kupandangi benda yang melingkar di dinding sudah menunjukkan pukul 19.25. Padahal aku pulang dari café sekitaran siang, mungkin lama aku tak sadarkan diri. Untung aku masih diberi kesempatan hidup oleh Allah.
‘’Alhamdulillah, Ya Allah!’’
Tak hentinya aku mengucap rasa syukur dalam hati. Ya, jika aku meninggal dunia, bagaimana dengan putri semata wayangku yang masih kecil. Dan aku tak ingin dia tinggal bersama papanya, apalagi jika lelaki itu menikah dengan selingkuhannya. Kutakut anakku akan diperlakukan tak baik dan tak akan diurusnya.
‘’Oh ya, ini hanphone kamu kan?’’ dia yang sedari tadi memandangiku sembari terdiam, seketika mengulurkan benda pipih yang tak asing lagi bagiku.
‘’Eh, iya. Alhamdulillah, makasih banyak,’’ ucapku sambil meraih benda pipih yang diulurkan oleh lelaki itu. Karena tanganku tak sampai menjangkau, membuat dia menggeser sedikit tubuhnya. Perlahan bergegas kumencek ponsel.
‘’Hanphonemu baik saja kok. Udah aku periksa tadi,’’ tuturnya kemudian yang memerhatikanku yang tengah memeriksa keadaan ponsel kesayanganku.
‘’Tapi, tadi ada yang nelpon. Bibi Sum namanya kalo nggak salah,’’ tambahnya kemudian yang membuatku cemas.
‘’Ya Allah. Bibi Sum bilang apa?’’
‘’Kurang jelas. Soalnya signal lagi enggak bersahabat tadi, coba deh kamu hubungi lagi, Nel,’’
‘’Ah iya,’’ tanpa berpikir lagi bergegas aku memencet nama kontak bibi Sum.
Berdering
‘’Assalamua’alaikum, Bu!’’
‘’Wa’alaikumussalam, Naisya baik-baik aja kan, Bi?’’ tanyaku spontan karena terlalu mencemaskan putriku yang begitu lama kutinggal. Ya, baru kali ini aku meninggalkan Naisya begitu lama.
‘’Naisya baik-baik aja kok, Bu. Cuman tadi agak rewel dikit,’’
‘’Dan sekarang dia tertidur,’’ membuatku sedikit merasa lega.
‘’Bu?’’ panggilnya kemudian, karena aku yang terdiam sejak tadi.
‘’Ya, Bi?’’
‘’Ibu di mana sih? Pulanglah lagi, lama banget jalan sama Bapak. Kayak ABG aja deh,’’ celetuk bibi terdengar tertawa kecil di sana, aku menghela napas berat dan kupandangi lelaki yang membantuku itu masih bergeming sedari tadi. Tak mungkin aku bercerita masalah rumah tanggaku di depan lelaki asing itu.
‘’Nelda, kalo gitu aku pamit dulu ya,’’ ucapnya yang mungkin paham melihat aku yang enggan untuk bicara dan bercerita.
‘’Iya, sekali lagi makasih banyak karena kamu sudah membantuku. Semoga Allah membalas semua kebaikanmu,’’ ujarku lirih yang masih meletakkan ponsel di telingaku.
Dia hanya mengangguk lantas tersenyum, kemudian bergegas melangkah ke luar dari ruangan penginapanku.
‘’Bu? Ibu baik-baik aja kan?’’ tanya bibi kembali.
‘’Ah, iya. Ma’af ya, Bi. Sudah merepotkan Bibi,’’
‘’Ya Allah! Enggak merepotkan sama sekali kok, Bu. Kan Naisya sudah biasa bermain sama Bibi. Tapi hanya saja Bibi takut jika Naisya nanti malah rewel,’’
‘’Ibu kapan baliknya?’’
‘’Bi, se—sebenarnya aku di rumah sakit sekarang,’’
‘’Hah? Siapa yang sakit, Bu?’’
‘’Aku ke—kecelakaan.’’
‘’Astaghfirullah, kok bisa, Bu?’’
‘’Ceritanya panjang, Bi. Aku belum bisa cerita sekarang,’’
‘’Tapi bagaimana keadaan Ibu?’’
‘’Alhamdulillah lumayan membaik, Bi. Walau masih diperban dan diinfus juga,’’
‘’Ya Allah, cepat sembuh ya, Bu. Bapak gimana keadaannya? Apa kecelakaan juga?’’
‘’Aamiin, iya. Makasih, Bi.’’
Aku menghela napas berat, bingung mau jawab apa ke bibi. Di satu sisi aku ingin sekali curhat ke bibi, karena hanya beliau yang kupunya sekarang dan paling mengerti dengan keadaanku. Agar hatiku lega dan tak punya banyak beban pikiran lagi.
‘’Bapak gimana, Bu? Baik-baik aja kan?’’ ulang kembali.
‘’Aku kecelakaan sendiri, Bi.’’ sahutku pelan.
‘’Lah, bukannya Ibu tadi berangkat sama Bapak? Kok bisa Ibu sendiri aja yang kecelakaan?’’
‘’Ceritanya panjang banget, Bi. Aku ingin cerita semuanya ke Bibi. Tapi bagusnya di rumah setelah aku ke luar dari rumah sakit ya, Bi? Kepalaku juga masih pusing banget.’’
Aku memegangi kepala yang masih terbalut perban, kali ini rasa pusing itu kembali tiba mendadak. Samar terdengar olehku suara tangisan Naisya.
‘’Bi, itu Naisya yang nangis?’’ tanyaku khawatir.
‘’Iya, Bu. Yaudah, Ibu istirahatlah dulu. Semoga cepat sembuh ya.’’
‘’Bibi mau bikin susu dulu untuk Naisya.’’
‘’Jaga Naisya ya, Bi. Ma’afkan aku sudah merepotkan Bibi,’’ ujarku lirih.
‘’Nggak sama sekali kok, Bu. Ini kan tugas Bibi.’’
‘’Oh iya, Bibi malam ini nggak bisa kayaknya ke rumah sakit deh, Bu. Kasihan Naisya juga. Besok aja Bibi ke sana, ya?’’
‘’Iya, Bi. Nggak apa-apa.’’
‘’Tapi, siapa yang akan mengantarkan makan malam untuk Ibu?’’ membuat aku tersenyum.
‘’Kan ada perawat, Bi. Makan pasiennya pasti dianter lah. Kan begitu biasanya, Bi. Nggak mungkin dia membiarkan pasien kelaparan, yang ada bertambah penyakit lain,’’ kataku sembari terkekeh.
‘’Eh, iya. Ma’af lupa Bibi,’’ sahutnya tertawa kecil.
‘’Umm, Bibi matikan dulu ya, Bu. Assalamua’alaikum!’’
‘’Wa’alaikumussalam, Bi!’’
Aku menghela napas berat dan meletakkan benda pipih itu di sampingku. Kasihan sekali putriku, baru kali ini aku meninggalkannya dalam waktu yang cukup lama. Biasanya aku jalan-jalan ke luar hanya beberapa jam saja sudah kembali ke rumah. Ya Allah, kenapa aku malah frustasi dalam keadaan menyetir, untung saja aku masih diberikan kesempatan hidup oleh Allah. Rasanya aku bersyukur sekali, walaupun saat ini aku masih dalam keadaan sakit. Tapi setidaknya Allah sudah memberikan kesempatan untuk hidup bersama putri tercintaku.
‘’Alhamdulillah Ya Allah!’’ berulang kali terucap di bibirku kata syukur.
Seketika kejadian tadi siang berputar kembali di pikiranku. Apa yang kulakukan itu salah? Tapi, lelaki itu sudah keterlaluan, sudaj 4 tahun dia mengkhianatiku. Apalagi si pelakor itu tengah mengandung anak darinya. Ya Allah, begitu teriris hati ini. Aku meringis kesakitan, mungkin karena banyak pikiran. Kepalaku sangat terasa sakit.
‘’Ya Allah!’’
‘’Bu, Ibu harus banyak istirahat,’’ kata wanita yang berseragam itu menghampiriku sembari membawa nampan, yang kuperkirakan itu adalah makan malam untukku.
‘’Ah, ya, Sus. Kenapa ya kepala saya sakit banget?’’
‘’Itu akibat benturan yang kuat ketika Ibu kecelakaan. Saran saya, banyak istirahat dan jangan memikirkan sesuatu yang membuat Ibu pusing,’’ sarannya seketika. Aku hanya menyahut dengan anggukan.
‘’Ya udah, ini makan malam untuk Ibu. Harus dipaksain makannya.’’ dia bergegas meletakkan nampan yang berisi makanan itu di nakas yang bersebelahan dengan tempat tidur.
‘’Iya, Sus. Makasih banyak.’’
Dia mengangguk dan tersenyum ramah.
‘’Oh iya, apa keluarga Ibu tahu kalo Ibu di rumah sakit?’’ aku hanya terdiam dan menunduk. Seketika ponselku bergetar.
‘’Hidupmu nggak akan selamat, Mba! Kamu udah berani mempermalukan aku dan pacarku. Tunggu pembalasan dariku!’’
Bersambung.
Bagaimanakah kisah selanjutnya? Penasaran? Yuk, ikutin dan baca terus ya. Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.
Oh iya, ma'af jika typo dan ada kekurangan part ini karena aku menulis dalam keadaan mengantuk berat nih, tapi karena ada yang koment, makanya aku lebih semangat untuk update.
See you next time! ❤
Instagram: n_nikhe
sebaik ap mertu klo sdh pisah ia anak nya urusan x..