"Aku gak bisa cinta sama kamu, karena di hatiku masih ada orang lain. Aku minta, kamu gak berharap lebih sama pernikahan ini. Tunggu tiga bulan lagi, aku bakal bebasin kamu dari pernikahan ini."
Kalimat itulah yang terlontar dari bibir tipis Daffa pada malam pertamanya dengan Vania. Dia memang masih mencintai mantan istrinya, seorang wanita yang tak pernah ingin digantikan dengan siapa pun. Namun, ibunya justru menjodohkan Daffa dengan Vania, dan tak mampu untuk ditolak karena kondisi kesehatannya.
Akankah Vania bertahan dalam pernikahan tanpa cinta? Atau, dia justru rela diceraikan ketika pernikahan sudah berusia tiga bulan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menggarapnya Kembali
Hari-hari setelahnya, Arif tak absen menemani Vania. Mendatangi perempuan terus coba menguatkan diri setelah dihancurkan sekali lagi oleh kehidupan, Arif mencurahkan banyak perhatian. Tak hanya ke panti asuhan, lelaki itu bahkan menyempatkan diri untuk datang menemui Vania ketika tengah mengajar.
Yayasan yang merupakan milik Arif sendiri, selalu dikunjungi dengan membawakan makan siang untuk Vania juga tenaga pengajar lain. Terkadang, ia juga mengajak Vania bersama anak panti lain ke tempat usaha kuliner miliknya, sekedar membahagiakan mereka yang memang pantas untuk bahagia tanpa pernah mengucilkan diri atas nasib dimiliki.
Sedangkan Daffa, lelaki itu hidup seperti mati, tanpa senyuman juga gairah menjalani. Bekerja setiap hari, mengabaikan tentang tubuh yang juga membutuhkan waktu beristirahat. Daffa didiamkan oleh keluarganya, tak pernah ada tegur sapa diberikan padanya yang juga tidak berani menyapa terlebih dahulu.
Dia tidak pernah mendatangi Vania, untuk sekedar mencari tahu tentang keadaan atau meminta maaf. Hanya Bagas, Santi juga Alya yang kerap datang ke panti asuhan, tanpa ingin membiarkan masalah membangun jembatan antara mereka, dengan seseorang yang telah dianggap sebagai keluarga.
Pembahasan tentang Daffa tak pernah dilakukan, Vania sendiri tidak pernah sekalipun mempertanyakan. Walau, sangat jelas ia ingin mengetahui keadaan dari lelaki yang entah masih pantas dipanggilnya suami atau tidak, karena tak pernah ada kejelasan tentang pernikahan yang dijalani keduanya.
Lelaki itu hanya sibuk dengan pekerjaan, berangkat dari pagi dan kembali larut. Seolah, ia tengah membangun dunia yang dihuni seorang diri, tanpa membiarkan siapa pun masuk untuk menyumbangkan warna, dalam dunia kelam dibuatnya bersama waktu juga kesepian.
Setiap hari selalu seperti itu, tanpa kata pernah terucap juga ulasan senyum ditunjukkan pada keluarganya. Daffa hanya akan pulang dan berdiam diri di teras rumah, menjadikan sunyi malam sebagai kawan sejati, lalu memasuki kamar tanpa pernah keluar lagi, sebelum pagi menjelang dan tubuh telah bersiap dengan pakaian kerja.
Itu tak berbeda dari malam ini, di mana mobil sudah diparkirkan di depan teras rumah dan ia duduk di atas lantai teras, membiarkan udara dingin menyapu paras tampannya. Santi mendengar suara mobil terhenti, ia membuka pintu rumah dan mendapati putranya seorang diri.
Bukan hanya hari ini wanita itu menanti, hampir setiap hari mata tak pernah terpejam, menanti hingga putra pernah dilahirkan dua puluh delapan tahun lalu itu kembali. Daffa menoleh tatkala telinga mendengar suara pintu terbuka, mendapati mamanya berjalan mendekat.
"Ngapain duduk di sini, Nak?" tegur Santi lebih dulu, duduk di samping putranya.
"Mama kok belum tidur? Ini udah malem, gak baik buat kesehatan mama juga." Daffa memalingkan wajah lurus ke depan.
"Mama udah tidur, cuma tadi mau ambil minum ke dapur, denger suara mobil kamu makanya lihat kesini." Santi berkilah.
Daffa bergeming, kepala ditundukkan olehnya beserta pandangan. Seakan, ia tengah berusaha menyembunyikan apa yang hendak diceritakan oleh kedua mata, tanpa memahami arti kebohongan sama sekali. Santi memegang kepala belakang putranya, membelai lembut. "Mama kangen." Katanya.
"Mama kangen senyum kamu, suara kamu, berantemnya kamu sama Alya, mama kangen semuanya." Santi menambahkan, Daffa menoleh padanya.
Tatapan sendu tertuju pada wajah teduh sang ibu, Daffa menjatuhkan diri dalam dekapan yang telah begitu lama dirindukan. "Maafin Daffa, karena udah nyakitin mama sama lainnya. Maafin Daffa, karena udah egois selama ini, minta kalian buat terus ngertiin, tapi Daffa sendiri gak pernah mau ngertiin kalian. Maafin Daffa, Ma." Sesalnya.
Wanita dengan setelan piyama salem itu membelai penuh kasih rambut putranya, bersama tangan lain mendekap. "Enggak ada yang harus dimaafin, Nak. Harusnya, kamu minta maaf sama diri kamu sendiri, karena diri kamu yang udah disakiti lebih banyak."
Daffa mengangkat kepalanya, menatap sang ibunda. "Maksudnya, Ma?"
"Sayang, dengan kamu gak pernah nerima kepergian Nessa dan gak biarin orang lain masuk dalam hidup kamu, itu sama aja dengan kamu nyakitin diri sendiri. Kamu udah egois sama diri kamu, padahal jelas kalau butuh orang lain buat nemenin setiap hari. Kamu juga udah nyiksa diri kamu sama kenangan, padahal hati sama pikiran kamu juga mau buat bebas." Santi menerangkan dengan lembut.
"Lanjutin hidup kamu, Nak. Mama yakin, Nessa sama calon anak kamu juga pengen lihat kamu bahagia, biar di sana mereka juga bisa bahagia. Kalau kamu terus kayak gini, mereka juga pasti bakalan sedih, Nak. Maafin diri kamu, karena semua yang terjadi bukan salah kamu, Nak. Tuhan ambil mereka juga pasti ada maksudnya, Tuhan sayang sama mereka."
Daffa hening mencerna setiap kalimat, dari wanita yang menyentuh wajahnya dengan tangan penuh kehangatan. "Kamu berhak buat bahagia, hidup sama orang lain dan bangun rumah tangga sekali lagi. Biarin semuanya jadi kenangan, yang gak harus kamu lihat setiap hari. Masa depan kamu tetap di depan, bukan di belakang, Sayang."
Lelaki berkemeja putih sudah digulung lengan sampai batas siku itu mencerna setiap kalimat, dia memahami apa dimaksud oleh ibunya. Wanita yang memiliki maaf juga kasih sayang melebihi luasnya samudera, tak lelah mengingatkan untuk semua kebaikan dalam hidupnya.
Daffa mengajak ibunya masuk ke dalam, udara malam tak dibiarkan lebih lama dinikmati, olehnya yang masih harus tetap memeriksakan kondisi jantungnya. Beruntung Santi tak sampai ambruk, ketika mengetahui fakta-fakta terbuka dengan begitu nyata.
Perlahan Daffa menyadari akan semua kelakuannya, terngiang kata-kata Bagas setiap waktu di telinga. Mengantarkan sang ibu sampai depan pintu kamar, Daffa menapaki setiap anak tangga dan memasuki kamar ditempati oleh Vania dulu.
Berdiri dengan tangan kanan memegang hendel pintu, kedua mata menelisik ke setiap sudut ruangan tak pernah diizinkan untuk berubah.
Daffa masuk ke dalam, menutup pintu rapat. Sebuah almari dengan pintu geser dijadikan tujuan, membuka dan menatap setiap pakaian tersusun rapi di dalam.
Semua pakaian yang ia susun sendiri, setelah bi Marni mengemasnya hari itu, selalu menjadi pelabuhan kedua manik mata pilu Daffa setiap kali rindu menyerah begitu hebatnya, bersama rasa bersalah juga ingatan tentang perlakuan dibuatnya.
Aku kangen kamu, Nia. Aku pengen ketemu kamu lagi. Aku mohon kembali, aku butuh kamu.
Itulah kata yang tak absen terucap dalam hati Daffa, walau sendirinya tak pernah tahu arti dari kerinduan dirasakan. Berpindah pada ranjang masih berbalut seprei sama, Daffa membaringkan tubuhnya.
Bantal itu masih lekat dengan aroma Vania, diraih dan didekap olehnya. Terlalu takut baginya untuk datang menemui langsung, bayang akan penolakan yang menyakitkan sudah menghantui lebih dulu.
Aku gak tau apa yang aku rasain ke kamu, tapi aku mau kamu buat balik lagi dan jadi istriku, Nia. Apa kamu masih mau buat nerima aku lagi?
kasian yang namanya Arif jadi sasaran hehehe