NovelToon NovelToon
Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang

Status: tamat
Genre:Patahhati / Spiritual / Poligami / Konflik Rumah Tangga-Konflik Etika / Cintapertama / Tamat
Popularitas:425.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nyai Ambu

Daini Hanindiya Putri Sadikin : "Aku tiba-tiba menjadi orang ketiga. Sungguh, ini bukan keinginanku."

Zulfikar Saga Antasena : "Tak pernah terbesit di benakku keinginan untuk mendua. Wanita yang kucintai hanya satu, yaitu ... istriku. Semua ini terjadi di luar kehendakku."

Dewi Laksmi : "Aku akhirnya menerima dia sebagai maduku. Sebenarnya, aku tidak mau dimadu, tapi ... aku terpaksa."

Daini, Zulfikar, Dewi : "Kami ... TERPAKSA BERBAGI RANJANG."

Author : "Siksa derita dan seribu bahagia terpendam dalam sebuah misteri cinta. Banyak manusia yang terbuai oleh cinta, tapi tidak tahu hakikatnya cinta. Terkadang cinta laksana proklamasi, bisa dirasakan dengan mendalam dan seksama, namun dapat hancur dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Tidak ada yang memiliki porsi lebih besar dalam hal menjaga hati, karena setiap pasangan memiliki peran yang sama untuk saling menjaga dan saling percaya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Ambu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengorbankan Perasaan

Mungkin, pernikahanku akan menjadi pernikahan tersingkat di dunia. Bisa jadi setelah akad, aku langsung dicerai. Lagi dan lagi, air mata ini bederai.

Bagaimana mungkin aku bisa tenang kalau permasalahanku serunyam ini?

Aku becermin, menatap gambaran diri dari pantulan cermin. Mataku sembab, hidungku memerah, dan bibirku ... ada sedikit lecet di bagian dalamnya. Aku lupa ini kenapa. Baru sadar tadi pagi saat sikat gigi.

"Dai, lu gak apa-apakan?"

Dari luar kamar mandi, Kak Listi bertanya. Mungkin keheranan karena aku sedikit lama. Segera kulap airmataku agar Kak Listi tidak curiga.

"Gak apa-apa, Kak. Hehehe," aku keluar sambil menebar senyuman.

"Perasaan, lu banyak ngelamunnya tahu, Dai. Tadi saat di mobil, gua lihat kamu juga melamun. Ada apa sih, Dai? Cerita, dong." Kak Listi bahkan menguntit sampai ke meja kubikelku.

"Kak, aku tidak apa-apa, permisi, Kak."

"Eh, lu mau kemana lagi, Dai?" Kak Listi memegang bahuku.

"Aku mau ke bu Caca, Kak. Mau izin keluar pas jam istirahat."

"Dai, gua ikut. Gua antar lu ya. Lu mau ke mana sih?" Kak Listi panik, dia memegang tanganku.

"Kak, aku bisa sendiri. Ada hal yang boleh Kakak tahu dariku, ada juga yang gak perlu Kakak tahu. Aku juga punya privasi, Kak," lirihku, dan tanpa kusadari airmataku menetes. Aku segera berlari ke ruangan bu Caca.

"Dai, lu yakin gak apa-apa? Yakin?" teriak Kak Listi. Dia pasti mengkhawatirkanku.

"Kerja, kerja, kerja," sayup yang lain.

.

.

"Mau ke hotel yang kemarin? Ya sudah, Ibu beri izin, tapi jangan lama-lama ya, Dai. Pokoknya, sebelum jam istirahat selesai kamu harus sudah ada di kantor lagi. Semoga cincin kamu ketemu. Kalau masih rezekinya, pasti ketemu, kok."

Lagi, aku berbohong kalau cincinku ketinggalan di kamar mandi ballroom. Padahal, aku sama sekali tak punya cincin. Jangankan cincin emas. Cincin imitasipun aku tidak punya.

"Terima kasih, Bu," ucapku saat meninggalkan ruangan Bu Caca.

Saat jam istirahat tiba, akupun bergegas. Kak Listi hanya menatapku dengan tatapan sedih. Kak Listi rupanya tidak berani lagi bertanya.

"Hati-hati ya, maaf kalau tadi sudah bikin kamu gak nyaman. Kalau kamu sudah tenang, cerita ya, Dai. Kalau lu sedih, gua juga sedih, Dai."

Pesan dari kak Listi membuatku tersenyum dan sedikit tenang. Aku bersyukur memiliki teman seperti kak Listi.

Agar cepat, aku memesan ojek online. Saat menunggu di pintu keluar, entah kenapa aku merasa ada yang memperhatikan.

Ah, mungkin hanya perasaanku saja.

Syukurlah, ojek yang kupesan segera datang. Aku menggunakan aplikasi ojek khusus yang pengemudinya perempuan.

...***...

"Mohon maaf, Kak. Kami tidak bisa memberikan rekaman CCTV pada sembarangan orang, walaupun Kakak pada malam itu adalah tamu kami, tapi untuk melihat data CCTV, tetap harus ada prosedurnya."

Saat ini, aku sudah berhadapan dengan manajer hotel dan bagian Humas.

"Prosedurnya seperti apa, Pak?" tanyaku. Aku terus menunduk karena mayoritas yang berada di ruangan ini adalah laki-laki.

"Pertama, Kakak harus membuat kronologis ataupun alasan mengapa data CCTV harus kami buka. Misal alasannya kehilangan. Nah, harus jelas dulu proses hilangnya seperti apa. Kedua, harus melibatkan pihak kepolisian dan saksi-saksi. Ketiga, rekaman CCTV tidak bisa dibuka jika ada kasus lain yang sedang diselidiki. Artinya, Kakak harus menunggu dulu."

Aku menghela napas. Ternyata, tidak semudah mengedipkan kelopak mata.

"Pak Radit, di data terbaru, rekaman CCTV yang diminta oleh Kakak ini sepertinya sedang diselidiki. Kebetulan, kisaran tanggal dan jam yang diminta oleh klien lain atau kasus sebelumnya nyaris sama dengan Kakak ini. Jadi, kalaupun Kakak sudah memenuhi syarat ke satu dan ke dua, Kakak masih harus menunggu," jelas yang lainnya.

"Jadi, ada orang lain yang sedang menyelidiki juga?" tanyaku.

"Benar, Kak."

"Begitu ya, baiklah, aku rasa cukup. Permisi." Aku berpamitan, keluar dari ruangan Humas tanpa mendapatkan hasil apapun.

Aku melangkah gontai. Dunia ini seolah tak memihakku.

'BRUK.' Sudah jatuh tertimpa tangga. Di lorong hotel aku malah menabrak seseorang.

"Maaf," aku langsung saja meminta maaf dan berbelok tanpa melihatnya.

"Hei, tunggu." Yang kutabrak malah memegang tanganku.

"Lepas!" bentakku.

Sugguh tidak sopan! Aku tak sudi disentuh.

"Ha-Hanin?!"

Suara itu ....

Aku spontan menengadah.

"Kk-kamu," katanya. Aku terkejut. Kenapa harus bertemu dengannya? Kenapa? Batinku menjerit.

"Sedang apa kamu di sini? Harusnya kamu kerja, kan?"

"Lepaskan dulu tanganku! Ini bukan urusan Anda! Aku mau berada di manapun, itu hakku!" Aku berusaha melepaskan diri, tapi dia kuat sekali.

"Kebetulan kita bertemu di sini! Ayo ikut aku!" Pak Zulfikar menarik tanganku.

"Pak! A-Anda tidak sopan! Lepaskan! Tolooong," teriakku. Tapi tidak ada siapapun.

"Pak, huuu, lepas! Tanganku sakit!" keluhku.

"Jangan cengeng! Aku tidak akan mencelakai kamu! Faham?!"

Dia terus menarik tanganku. Memasuki lift khusus eksekutif. Di dalam lift, dia melepaskan tanganku. Aku berhambur untuk memaksa kabur, tapi tubuh Pak Zulfikar menghalangi pintu keluar.

"Tolong tenang, aku hanya ingin bicara, tidak ada maksud lain," tegasnya sambil memegang ujung jilbabku.

"Jangan sentuh apapun!" bentakku. Aku segera membelakanginya dan menangis tersedu.

"Hanin, Hanin, Hanin! Kamu bisa tenang tidak sih?!"

"Tidak! Aku tidak bisa tenang!" teriakku.

Aku sampai tak menyadari kalau lift sudah berhenti. Saat aku sadar, Pak Zulfikar kembali menarik tanganku.

"Pak, tolong jaga jarak! Lepaskan tanganku! Kita bukan muhrim! Anda juga kan sudah menikah! Kenapa Anda tidak bisa menjaga kehormatan Anda sebagai pria yang beristri!" teriakku.

"Ya, maaf. Tapi ini darurat! Silahkan protes setelah ini!" katanya. Dia benar-benar menarikku ke parkiran.

'Klik klik.' Terdengar suara kunci mobil dibuka.

"Masuk." Pak Zulfikar mendorongku ke mobilnya.

"Aku mau turun!"

Aku berusaha membuka pintu, tapi dikunci. Pak Zulfikar masuk, ia duduk di depan kemudi sambil mengatur napas. Aku melanjutkan tangisku. Kami duduk berdampingan.

"Kalau kamu sudah kenyang nangisnya, kita bicara." Sambil menyodorkan tissue padaku.

"Tak perlu!" tolakku. Menepis tissue itu.

"Kamu mengelap ingus dan air mata memakai jilbab? Ck ck, jorok," ledeknya.

"Huuu huuu," aku tak peduli. Aku terus menangis.

"Kamu lucu," sekilas aku melihat Pak Zul tersenyum. Dia benar-benar menyebalkan.

"Huks, huks," tangisanku mulai mereda.

"Sabtu Minggu kan kantor libur, rencananya ... hari Minggu aku akan ke Bandung untuk melamar kamu. Aku sudah tahu alamat rumah kamu. Terserah kamu mau ikut denganku atau tidak. Toh, tanpa kehadiran kamupun pernikahan akan tetap sah," tegasnya.

Aku tak merespon. Hanya menudunduk sambil mengusap air mata.

"Bagaimana?" tanyanya lagi.

"A-apa yang akan Anda jelaskan pada orang tuaku kalau salah satu di antara mereka menanyakan status Anda?" Aku memberanikan diri bertanya.

"Emm, kalau ditanya ya aku akan menjawab jujur jika aku sudah menikah. Aku akan beralasan kalau kita saling mencintai, gampang, kan?"

"Apa?! Anda akan mengatakan itu?!" Aku spontan menoleh dan memelototinya.

"Hanin, dengar ya. Kita melakukan ini demi kenyamanan kita berdua. Dari awal, apa yang kita lakukan adalah salah. Jadi, memang harus ada yang kita korbankan. Aku akan mengorbankan perasaanku dan ikhlas tertuduh sebagai suami tak setia jika dilihat dari sudut pandang orang tua kamu."

"Lalu kamupun harus siap mengorbankan perasaan kamu karena mau tidak mau, mungkin akan dituduh sebagai perempuan tak tahu diri sebab mencintai pria yang beristri. Akusih berharap keluarga kamu tidak ada yang menanyakan statusku. Jadi, aku tidak perlu berbohong," jelasnya.

Lagi, dia memberikan tissue, kali ini aku terima karena ingus encer mulai mengalir.

"Jadi bagaimana, setuju?" Aku mengangguk pelan.

"Mau pulang ke Bandung?" tanyanya.

"A-aku pulang, setiap akhir pekan kalau tidak lembur, aku memang selalu pulang," jawabku.

"Kalau begitu, kita pulang bersama saja."

"Tidak, Pak. Aku tidak mau. Oiya, apa Anda sudah izin pada istri Anda?"

"Tidak, dia tidak tahu. Aku sudah konsultasi, pernikahan siri tetap sah kalaupun istriku tidak tahu."

"Anda egois!" sentakku.

"Ini darurat, Hanin. Seperti halnya kamu, aku juga ingin segera mengakhiri kesalahan ini. Aku juga ingin bertanggung jawab dengan cara menikahi kamu. Jikapun pada akhirnya kita becerai, aku akan tetap bertanggung jawab. Aku akan memberimu pesangon."

"Biar bagaimanapun, aku sudah mengambil kesucian kamu, tolong jangan menolak jika ke depannya aku akan membantu kehidupanmu secara materi. Tolong jangan membuatku semakin merasa berdosa karena tidak bisa memberikan apapun. Aku tidak mau pernikahan setingan ini merugikan kamu secara sepihak," jelasnya panjang lebar.

"Aku tidak perlu uang, Pak. Aku hanya ingin semuanya baik-baik saja."

"Hanin, aku punya perasaan. Tolong jangan samakan aku dengan pria lain. Intinya, saat kita becerai, walaupun kita menikah secara siri, aku akan memastikan kalau hakmu sebagai mantan istri akan aku pertimbangkan."

"Tidak perlu Pak. Sudah cerai ya cerai saja, lagipula di antara kita tidak ada anak," tegasku.

Tiba-tiba aku teperanjat.

"Astaghfirullah! Aku kan harus kembali ke kantor sebelum jam istirahat!" seruku. Memaksa membuka pintu mobil.

"Hanin, aku juga mau ke kantor, kita sekalian saja, oke?" Pak Zulfikar melajukan kemudi.

"Pak, turunkan aku Pak! Aku tidak mau! Takut ada fitnah!" teriakku.

"Ssst," katanya. Tetap fokus pada kemudi, malah semakin cepat.

"Pak!"

"Setelah dekat kantor, kamu turun duluan. Gampang, kan?" timpalnya.

Tiba-tiba ....

"Pak awas!!"

Di depan ada motor yang lampu sennya menyala di kanan, namun tiba-tiba berbelok ke arah kiri. Pengemudinya ibu-ibu.

"Astaghfirullah!" pekiknya. Dia spontan mengerem mendadak dan tangan kami spontan saling menggenggam.

Jedug, jantungku berdegup. Aku meliriknya tepat saat dia juga melirikku. Aku dan dia bersitatap. Sejenak, aku seolah terhipnotis. Aku malah memandangi wajahnya. Harusnya aku segera menunduk.

'Tiiit.'

Sebuah klakson mobil menyadarkan kami. Aku cepat-cepat menarik tanganku dan menundukkan pandangan. Airmataku jatuh membasahi punggung tangan. Adegan tadi sungguh tak layak. Aku menyesalinya.

"Maaf," lirih Pak Zulfikar.

"Tak sengaja," tambahnya.

"Jangan terlalu dipikirkan. Allah Maha Tahu. Kamu pasti lebih faham daripada aku. Allah tahu kalau kita tak sengaja," katanya lagi.

"Oiya, mulai Senin depan, kamu bisa makan di kantin tanpa risih lagi." Aku hanya menyimak.

"Emm, ada kantin khusus untuk akhwat. Pelayannya juga perempuan, kamu suka?" tanyanya.

Pertanyaan yang sebenarnya terdengar ganjil.

Kenapa Pak Zulfikar harus bertanya padaku? Bukankah seluruh kebijakan memang tanggung jawabnya?

"Hanin, kamu suka, tidak? Jawab dong," desaknya.

Aku diam saja karena merasa tidak ada hak untuk menjawabnya.

"Kalau kamu tidak suka, tolong cepat kasih saran," katanya. Lagi, aku diam.

"Hmm," dia menghela napas.

Aku tetap tak menjawab. Lebih memilih menatap jalanan, menempelkan pipiku di kaca, sambil menatap gedung pencakar langit yang seolah bersaing untuk menjadi yang tertinggi. Aku menikmati wajah ibu kota Indonesia tercinta, Jakarta.

"Hanin," sayup kudengar dia memanggilku.

Lalu aku lupa-lupa ingat. Kantuk datang menyerang.

Jangan, aku jangan sampai tertidur di mobilnya.

"Hanin ...."

...~Tbc~...

1
Dy Idtoudiah
ditunggu karya berikutnya
Khairul Azam
yg menang laki lakinya celap celup Sana sini
kimiatie
hanin pun sentiasa kalah...sekejap mahu sekejap teruskan lepas tu rasa sakit hati....rumit
nyai ambu: maksiiih
total 1 replies
Dy Idtoudiah
love you too 🤣
kimiatie
demi keselamatan Kandungannya...bagus hanin resign
Dy Idtoudiah
seruuu
Dy Idtoudiah
hamiiil
Dia Amalia
cerita nya mengandung bawang 😅😭😭😭😭
kimiatie
kenapa pak Zul egois...yang susah hanin
Pipin Nurma
menurut saya sangat bagus ..
nit_nut
ceritanya menyentuh hati..🥲
indah77
kuwangen
indah77
aaaaghhh bahagianya neng dai ..
apakah a' abil dan neng listrik sudah punya momongan???
kistatik
trimakasih Nyai vote nya sudah aku kasih ke Serena
kistatik
satu cangkir kopi buat Pakzul, senangnya punya banyak anak bahagia banget rasanya. 😍😍😍
zainiyah hamid
kopi panas buat pak Zul ...
zainiyah hamid
rindu berat SM pak Zul.....
rindu manja nya,rindu tegas & galak nya makasih nyai...udah mengobati kerinduan ini 🤭🤭🤭🤭
Annie Soe..
Rasanya ga rela dah tamat deh,,
Aku msh ter-hanin2 & ter-listi2.
Keknya seru Listi di bikin episode tersendiri.
Tengkyu tuk karya nyai yg wuapik ini.
Bukan skedar halu tp banyak pembelajaran yg ga menggurui dlm bersikap sesuai keimanan kita..
lav yu thor, Semangaattt..
nyai ambu: alhamdulillaah, terima kasih Kak🙏🙏. salam kenal🥰🥰🥰
total 1 replies
Fiani Arifin Arifin
aku baca semua. novel nyai semuanya bagus dan menarik plus seru di hati bangetttt
nyai ambu: terima kasih kak🥰🥰🥰
total 1 replies
Quinna Salsabilla
😭😭😭 sbnr na ga rela tbr hari ditamatkan,,,, tp sukses sll buat nyai baik itu di dunia nyata maupun di dunia perhaluan 😘😘🤗🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!