Keisha, meski memiliki paras yang cantik dan bentuk tubuh yang mendekati sempurna, tapi sama sekali tidak pernah tertarik untuk masuk ke dunia hiburan mengikuti jejak ibu ataupun sahabatnya. Namun, hidup Keisha dikelilingi dengan orang-orang dari dunia hiburan. Bertemu mantan pacar saat SMU yang sekarang menjadi sutradara, Keisha sempat menjalin kembali hubungan dengannya, tapi harus kandas karena suatu hal. Lalu menjalin hubungan yang intim dengan seorang model ternama, dia pun kembali harus mengalami kekecewaan yang bahkan jauh lebih dalam daripada sebelumnya. Akhirnya Keisha memutuskan untuk bersama dengan seorang laki-laki yang sudah menyayanginya sejak kecil. Namun apakah akhirnya Keisha bahagia dengannya? Apalagi setelah laki-laki yang selama ini mengisi hatinya datang kembali dan memintanya untuk menikah dengannya.
.
image cover from Canva
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scarlettema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Confession
"Kamu mau berenang juga?"
"Aku tidak bisa berenang."
"Sayang sekali, padahal berenang bisa membuatmu lebih tenang." Kemudian Zio keluar dari kolam renang, mengambil handuk dan melilitkannya di pinggulnya, kemudian mendekati Keisha.
"Bagaimana keadaanmu hari ini?" Zio bertanya dengan lembut, matanya memandang ke arah pipi Keisha yang memerah.
"Eh, aku sudah merasa lebih baik." Keisha merasa badannya panas dingin dan jantungnya berdebar kencang, Zio berdiri sedekat ini di depannya, dengan hanya memakai handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya.
Keisha memutar tubuhnya membelakangi Zio, mengalihkan pandangannya dari perut sixpack Zio yang menggoda matanya. "Tempat persembunyian kamu bagus sekali, pemandangannya indah, udaranya sejuk. Aku merasa nyaman berada di sini."
"Kamu bisa datang ke sini kapanpun kamu mau." Zio berpindah tempat di sebelah Keisha.
"Tapi ini kan tempat persembunyianmu."
"Mulai sekarang jadi tempat persembunyianmu juga."
Keisha menoleh dan mendapati Zio sedang menatapnya sambil tersenyum. Dan entah kenapa dia merasa pipinya memerah campuran antara senang dan malu melihat Zio yang menatapnya seperti itu.
KRUUUUKKKK.......
Keisha merasa semakin malu, tangan kirinya otomatis langsung memegang perutnya, sedangkan tangan kanannya memukul pelan lengan Zio yang dengan sengaja tertawa setelah mendengar perutnya yang berbunyi cukup keras.
"Kamu tuh ya, aku kelaparan malah ditertawakan. Aku belum makan nih sejak semalam."
"Iya, maaf, habis ini kita sarapan ya." Zio menghentikan tawanya saat melihat wajah Keisha yang menegang. "Ada apa?"
"Aku seharusnya sarapan di rumah pagi ini, duh mati aku, pasti bakalan kena marah nanti waktu pulang." Keisha menggaruk-garuk kepalanya yang menyebabkan rambutnya menjadi berantakan.
Zio memegang tangan Keisha dan menghentikan perempuan itu merusak rambutnya.
"Adzkia sudah menghubungi keluarga kamu. Jadi kamu tenang aja." Zio menurunkan tangan Keisha dan merapikan rambutnya.
"Terima kasih, kalian semua sudah mau membantuku."
"Sekarang kamu masuk dulu, aku akan mandi sebentar lalu kita sarapan."
"Oke." Keisha langsung berlari kecil menuju dapur, sebelum Zio bisa mendengar suara debaran jantungnya yang cukup keras saat laki-laki itu memegang tangannya dan merapikan rambutnya.
Keisha baru saja meletakkan omelet di piring saat Zio datang, yang untungnya sudah memakai kaos dan celana pendek, bukan lagi hanya selembar handuk.
"Aku cuma menemukan bahan untuk bikin omelet di kulkas."
"Hm... Baunya enak, padahal tadinya aku yang mau masak sarapan buat kita."
"Aku tidak enak kalau merepotkanmu terus."
Zio mengambil dua botol air mineral dari dalam kulkas, meletakkan sebotol di dekat piring Keisha dan sebotol di dekat piringnya sendiri. Kemudian mereka berdua makan dengan lahap di minibar dapur.
"Tidak usah dibereskan, Kei, nanti aku saja yang membereskannya," kata Zio saat melihat Keisha yang hendak membereskan meja.
"Tidak apa-apa, Zi, ijinkan aku melakukan hal-hal yang bisa membuatku membalas kebaikan kamu."
"Kalau kamu memang ingin melakukan sesuatu untukku, sebenarnya aku punya satu permintaan."
"Apa itu?"
Zio turun dari kursinya, kemudian mendekati Keisha dan memutar kursi perempuan itu sehingga menghadapnya.
"Tinggalkan Eros." Zio mengucapkannya dengan tenang namun tegas, sambil menatap mata Keisha.
"I did."
"Good." Sedetik kemudian Zio langsung mencium bibir Keisha.
Keisha hanya diam saja karena terlalu terkejut. Dia tak menolak namun juga tak membalas saat Zio mencium bibirnya.
"Aku benci, karena aku sering melihatmu dalam keadaan buruk tapi aku tidak bisa berbuat apapun karena aku bukan siapa-siapa kamu."
Zio membelai pipi Keisha yang masih memerah, lalu lengan Keisha yang juga sedikit memar karena cengkeraman kuat tangan Eros. "Aku benci kamu harus mengalami kejadian seperti ini karena laki-laki lain."
"Aku mau kamu menjadi milikku, sehingga aku bisa selalu menjagamu dan membuatmu bahagia. Aku tidak rela kalau kamu harus disakiti lagi oleh laki-laki lain."
Zio berhenti bicara dan menarik nafas panjang.
"I love you, Kei," akhirnya Zio menyatakan perasaannya kepada Keisha.
Keisha yang masih belum pulih dari keterkejutannya saat Zio menciumnya, menjadi semakin terkejut lagi saat mendengar Zio menyatakan perasaannya kepadanya. Sebelumnya dia tak pernah terlalu memperhatikan Zio. Tapi jika dipikir-pikir lagi, dia selalu bertemu Zio saat sedang ada masalah dan laki-laki itu selalu membantunya. Dan hari ini, entah sudah berapa kali jantungnya berdebar karena Zio.
"Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang. Aku tahu kamu perlu waktu untuk memikirkannya."
"Aku mau."
Zio terkejut karena Keisha langsung menjawabnya, dia langsung mencium bibir Keisha lagi, dan kali ini Keisha membalas ciumannya.
Jika dulu saat bersama Ratu, Zio ingin melakukannya dengan perlahan, namun saat ini berbeda. Zio ingin segera memiliki Keisha seutuhnya. Dengan bibir yang masih saling berpagutan, Zio mengangkat tubuh Keisha dan membawanya ke kamarnya.
Keisha membiarkan saja saat Zio mulai membuka dressnya. Dia menyukai apa yang Zio lakukan kepadanya. Laki-laki itu memperlakukannya dengan lembut, sehingga Keisha hanya bisa menikmatinya tanpa ada perasaan terpaksa sedikitpun. Hanya ada perasaan bahagia saat Zio menyentuhnya.
Setelah nafsu mereka berdua terpuaskan, Zio menutupi tubuh Keisha dengan selimut, tanpa melihatnya sama sekali, kemudian dia memakai boxernya dan keluar menuju balkon, sambil menutup pintu dengan keras.
Keisha merasa ada yang salah, tapi apa? Apakah dia melakukan kesalahan? Apakah dia tidak bisa memuaskan Zio? Keisha tak tahu, karena dia baru pertama kali ini melakukannya.
Keisha melihat ke arah balkon, dilihatnya Zio memegang kepala dengan kedua tangannya seperti sedang frustasi. Keisha berusaha untuk bangun, saat dirasakannya tubuh bagian bawahnya sedikit nyeri. Dia membuka selimut dan menemukan beberapa bercak darah yang terlihat sangat merah di sprei ranjang Zio yang berwarna putih. Apakah Zio marah karena dia mengotori spreinya?
Keisha memakai kaos Zio yang tadi dipakainya, yang kini menutupi tubuhnya hingga sebatas paha atasnya, kemudian mendatangi Zio di balkon. Zio tak menoleh saat mendengar Keisha datang.
"Kamu kenapa?" tanya Keisha dengan perasaan takut.
Zio hanya diam saja, tak menoleh dan tak menjawab pertanyaan Keisha.
"Aku punya salah apa?" Kali ini Keisha hampir menangis. Entah kenapa dia merasa begitu sedih saat Zio meninggalkannya tadi.
"Apakah ini pertama kali kamu melakukannya?" Zio akhirnya menoleh dan menatap Keisha.
Keisha hanya mengangguk lemah.
"Kenapa kamu tidak bilang? Kenapa kamu membiarkan aku melakukan ini padamu?"
"Jadi itu salahku yang sampai membuatmu semarah ini." Keisha tak sanggup lagi menahan air matanya.
Zio langsung meleleh mendengar suara Keisha yang bergetar dan menatap wajah Keisha, ditangkupnya wajah mungil itu menggunakan kedua tangannya dengan lembut seolah-olah yang dipegangnya itu adalah benda pecah belah yang takut dipecahkan oleh kedua tangannya.
"Kamu tidak salah apa-apa, aku yang salah," kali ini Zio berkata dengan lembut.
"Aku minta maaf, aku tidak bermaksud marah sama kamu." Zio membersihkan air mata Keisha yang mulai mengalir turun.
"Lalu kenapa kamu seperti ini?"
"Aku marah kepada diriku sendiri."
"Kenapa?"
"Kalau aku tahu kamu belum pernah melakukannya, seharusnya aku tidak melakukan apa yang baru saja kita lakukan. Aku terbawa perasaan dan kondisi kita yang ....." Zio menutup mulutnya dan mengumpat dalam hati. "Aku merasa seperti ******** brengsek yang mengambil kesempatan padahal kamu sedang dalam keadaan yang tidak baik."
"Dan aku juga sama brengseknya sepertimu. Baru semalam aku putus dengan Eros dan sekarang aku di sini melakukan itu denganmu." Sekarang gantian Keisha yang marah.
"Tapi aku yang memaksa..."
"Itu keputusanku dan aku sama sekali tidak merasa terpaksa."
Zio akan membuka mulutnya lagi saat Keisha berkata "udah deh, Zi, aku tadi bahagia banget sampai kamu merusak semuanya." Keisha mulai menangis lagi, namun kali ini tangisnya karena marah, bukan karena sedih.
Zio memeluk Keisha dan membiarkan dia menangis di dadanya. "Aku minta maaf. Baru satu jam yang lalu aku bilang kalau aku menyayangimu, aku ingin menjagamu, aku akan membahagiakanmu, tapi sekarang aku udah membuatmu menangis seperti ini."
"Benarkah kamu tadi bahagia?" tanya Zio sambil melepaskan Keisha dari pelukannya.
Keisha mengangguk.
"Apakah sakit?"
"Sedikit." Keisha langsung memeluk Zio, sebenarnya dia ingin menyembunyikan pipinya yang mungkin memerah tersipu malu karena membayangkan siapa yang nanti akan mencuci sprei yang terkena darahnya.
"Aku jauh lebih bahagia daripada kamu."
Zio mengeratkan pelukannya dan mencium puncak kepala Keisha. Dia merasa begitu bahagia bisa bersama dengan perempuan yang disayanginya, di tempat yang disukainya. Mendapatkan Keisha membuatnya merasa memiliki tanggung jawab yang lebih besar terhadap perempuan itu, namun dia juga merasa bahagia karena dia adalah laki-laki beruntung yang mendapatkannya.
lanjutttt
satu hari z tanpa kabar uhhhh
sakittttt