Warning! Mengandung banyak bawang. Harap bijak dalam memilih bacaan.
Silahkan promo di atas bab 100 ya. Hargai penulis ya. 🤗
Kehilangan cinta kedua orang tuanya bersamaan membuat gadis belia delapan belas tahun bernama Naya, merasa masa depannya bahkan hidupnya telah berakhir.
Kebaikan dan Cinta seorang duda seusia bapaknya, membuat hidup Naya penuh intrik. Orang di sekitarnya mulai memanfaatkannya untuk alat membalas dendam dan mencapai tujuan pribadi.
Kira-kira nih, Naya akan tumbuh menjadi wanita yang seperti apa? Dan bagaimana dengan kisah cintanya? Karena terkadang cinta bisa membahagiakan dan menyakitkan di waktu bersamaan.
Ini adalah novel ketiga DewiOmega, semoga bisa menghibur pembaca semua. Tetap dukung karya para penulis dengan memberikan Like, komen vote dan rate bintang 5 ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DewiOmega, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Rencana Dante
“Apa maksudmu dengan membuat kehebohan di sekolah gadis itu, Kak?!” Aletha menegur Dante ketika melihatnya akan masuk ke dalam kamarnya sore itu.
“Maksud apa? Aku hanya kebetulan melihatnya di pinggir jalan sedang membenahi sepeda bututnya dan mengantarnya ke sekolah karena sudah jam delapan lebih.” Papar Dante.
“Kebetulan katamu? Ayolah, itu bukan rute yang biasa kamu lewati. Apa maksudmu sebenarnya?” Desak adiknya.
“Aku hanya ingin mencegahmu melakukan hal-hal yang membahayakan orang lain, terutama dirimu sendiri. Aku akan mengalihkan perhatian gadis itu padaku, sehingga dia tidak akan menikahi dengan papa. Puas?” Dante masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintunya.
“Kamu kira aku tidak tahu siasatmu? Kamu ingin menyelamatkannya dari kejutan yang aku siapkan untuknya, bukan?”
Dua hari lalu, Dimas memberitahu Aletha bahwa Dante menghubunginya dan menanyakan tentang rencana Aletha. Bodohnya, Dimas menjawab semua pertanyaan Dante dengan jujur karena Dimas sangat mengagumi Dante yang sudah menjadi pembalap Internasional di usia yang baru genap delapan belas tahun.
“Kita lihat saja, siapa yang lebih lihai, aku atau kamu. Huhh!” Aletha mendengus dan menghentakkan kakinya dengan keras sebelum menuruni tangga menuju kolam renang di halaman belakang rumahnya.
Di dalam kamar, Dante merebahkan badannya sambil tersenyum senang. Ingatannya kembali pada kejadian siang tadi di depan sekolah Naya. Gadis itu sama sekali tidak terpesona dengan penampilan dan ketampanannya, bahkan kekayaannya. Di saat banyak gadis-gadis di sekitarnya berteriak histeris memuja dirinya, Naya malah bersikap kasar dan tidak ramah padanya.
“Gadis yang menarik.” Gumamnya, sebelum memejamkan mata.
Baru saja memasuki alam mimpi, Dante terkejut oleh getar ponsel di atas nakasnya. Dia meraih ponsel itu dengan sebal dan menekan tombol reject. Selang beberapa detik, ponsel itu kembali bergetar.
“Sial! Siapa sih. Ganggu aja.” Dante meraih kembali ponselnya dan menerima panggilan itu. “Halo. Hmm.” Sahutnya singkat dan memutus sambungan.
Dante segera duduk dan mengucek matanya yang masih lengket. “Ada apa lagi ini?”
Barusan Haris menghubunginya dan memintanya menemui ayahnya di ruang kerja. Pasti ada sesuatu kesalahan yang Dante lakukan menurut ayahnya hingga dia menyuruh Haris untuk mencarinya.
Selesai membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, Dante keluar dari kamar menuju ruang kerja ayahnya. Di tengah jalan dia berpapasan dengan Alan yang baru saja keluar dari sana.
“Kak,” sapanya.
“Bersiaplah, papa sedang marah besar.” Ujar Alan memperingatkan adiknya tanpa menghentikan langkahnya.
“Serius?” tanya Dante seraya menengok ke belakang yang hanya dibalas lambaian tangan oleh abangnya.
Sejenak, Dante ragu-ragu mengetuk pintu di depannya. Nyalinya semakin ciut setelah mendengar peringatan dari abangnya. Namun ketika dia akan mengetuk pintu, bersamaan dengan terbukanya pintu ruangan itu, membuat Dante terlonjak kaget.
Haris yang berada di balik pintu juga terkejut, namun berhasil menutupinya dengan berdehem keras. “Ehemm, ada Dante rupanya. Silahkan masuk, bapak sudah menunggu.” Ucapnya.
Tanpa bicara, Dante masuk dan menghampiri meja kerja ayahnya. “Hai, Pa.” sapanya basa-basi.
Indra mendongak dari dokumen di tangannya dan melepas kacamatanya begitu melihat Dante sudah berdiri di hadapannya. Indra berdiri dari kursinya dan berjalan menghampiri putranya.
“Papa dengar, kamu akan ikut ajang World Superbike di Jepang. Benar?” Indra bersandra pada pinggiran meja.
Dante tidak serta merta menjawabnya, tapi malah melemparkan tatapan tajam pada Haris yang sudah menjadi informan ayahnya.
“Dante?” tegur Indra.
“Seperti yang papa dengar.” Sahutnya malas.
“Papa biarkan kamu selama ini, bukan berarti papa izinkan kamu berkarir di dunia balap motor. Sudah waktunya bagimu memikirkan kuliah dan meneruskan bisnis papa bersama Alan.”
“Pa, Dante belum siap.” Elaknya.
“Tidak akan pernah siap kalau kamu tidak pernah mempersiapkan diri, Dan. Lalu, apa yang kamu rencanakan terhadap Naya?”
Pertanyaan ini bahkan lebih mengejutkan ketimbang yang tadi, hingga berhasil membuat Dante melebarkan matanya. “Naya? Siapa?” tanyanya asal.
“Gadis yang tadi pagi kamu antar pergi dan pulang sekolah.” ucap Indra seraya melipat kacamatanya dan meletakkannya di atas meja.
“Oh, gadis itu. Dante berencana mendekatinya agar dia berhenti mendekati papa.” Akunya jujur. “Semua orang melakukan itu dan Dante memutuskan untuk ikut serta.”
“Jangan permainkan Naya. Dia bukan gadis yang bisa kamu permainkan seperti gadis lainnya. Jauhi dia.” Indra memperingatkan Dante dengan nada tegas.
“Dante akan menjauhinya, bila papa janji tidak akan mengusik Dante dan dunia balap.” Dante berbalik tanpa menunggu jawaban papanya.
“Dan, Dante.” Panggilan itu tidak digubris olehnya.
“Pak, sepertinya mereka sudah benar-benar salah paham dengan niatan kita ke Naya. Apa tidak sebaiknya kita jelaskan semuanya?” Haris mengkhawatirkan Naya.
“Kalau begitu, besok kamu urus berkas-berkas yang kita perlukan untuk adopsi Naya. Aku harus membuat posisinya kuat, agar mereka tidak bisa bertindak seenaknya padanya.” Indra kembali ke balik mejanya dan mulai melanjutkan pekerjaannya yang tadi tertunda.
“Baik, Pak.” Ucap Haris patuh. Bukan seperti ini yang saya maksud dengan memberikan penjelasan, Pak. Haris hanya bisa membantah dalam hati.
****
Sudah satu minggu sejak kejadian penjemputan kontroversi yang dilakukan Dante. Sudah satu minggu pula, Naya mengalami banyak kejadian tidak mengenakkan di sekolahnya. Baik oleh teman seangkatannya ataupun adik kelasnya.
Ada yang mengirim surat menghina Naya sebagai gadis tidak tahu diri, ada yang mengatainya golden digger bahkan ada yang mengancamnya. Parahnya lagi, ada beberapa dari mereka memilih bertemu muka langsung dengan Naya dan menghinanya. Naya sempat dibuat heran dengan tingkah mereka. Bukankah mereka melihat langsung kejadiannya? Pemuda songong itu yang memaksaku untuk turun dari angkot dan mengantar pulang. Kenapa sekarang aku yang dikata-katai dan diusik ketenangannya? Terkadang Naya bingung dengan sikap orang di sekitarnya.
Pernah suatu kali, Naya kembali dari toilet dalam kondisi basah kuyup. Beberapa siswi sengaja menguncinya dari luar dan menyiramkan sebaskom air padanya. Ketika Naya berhasil keluar, mereka sudah menghilang. Bahkan siang ini, saat matahari bersinar sangat terik hingga terasa membakar kulit. Naya menemukan ban sepedanya yang terparkir di halaman belakang sekolah, depan dan belakang, dalam kondisi sobek akibat benda tajam.
“Nay, mereka sudah keterlaluan.” Ujar Tigor. “Ayo aku antar kamu pulang dulu. Biar Lusi dan pak Rudi yang mengurus sepedamu.”
“Mau diurus bagaimana?” tanya Naya sebal. “Sudahlah, kalian pulang saja. Bukankah kalian ada les sore ini?”
“Serius nih, gak papa kita duluan?” Lusi merasa tidak enak meninggalkan sahabatnya sendirian. “Aku takut kamu kenapa-napa, Nay.”
“Bisa kenapa lagi memangnya, Lus? Mereka semua sudah pulang. Sekolah sepi. Siapa yang mau ngerjain aku?” Naya berusaha meyakinkan dua sahabatnya. “Lagipula ada pak Rudi khan. Udah sana.” Naya mendorong Lusi agar meninggalkannya.
Dengan berat hati, Lusi naik ke boncengan motor Tigor dan melambaikan tangannya dengan wajah meminta maaf. Naya hanya mengangguk dan tersenyum padanya. Kemudian Naya menuntun sepedanya ke depan, ke tempat pak Rudi biasanya berjaga. Ternyata yang dicarinya sedang tidak berada di tempat. Terpaksa Naya menunggu pak Rudi untuk menitipkan sepedanya. Ketika Naya sedang bersandar di kursi satpam, tiga orang cewek yang dikenalnya menghampirinya.
“Di sini lo rupanya, cewek tidak tahu diri.” Seru Tere dengan tatapan menghina.
Naya mengabaikannya karena tenaganya sudah habis untuk menuntun sepeda tadi. melihat sikap Naya yang tidak menggubrisnya, Tere menjadi marah.
“Hehh! Lo tuli ya?! Kita lagi ngomong nih.”
“Ya ngomong aja. Aku gak merasa kalian sedang mengajakku bicara.” sahut Naya cuek.
Tere semakin emosi melihat sikap Naya yang cuek itu, lalu memerintahkan dayang-dayangnya melempar sesuatu dengan gerakan kepalanya.
PRAK. Bau busuk seketika menyebar memenuhi udara.
“Arghh!” Naya meringis kesakitan memegang dahinya yang sudah basah dan berbau.
****
teganya kamu Thor..harusnya Kanaya merasakannya kebahagian 😭😭
minta dua an aja...cemburu yaa sm Ji min😀
kenapa sih pak Indra ngga terus terang aja..kalo Dari awal udah jelas pasti anak2nya maklumin....
semangat nanyaaa 😘😘
aku padamuuuuu💖💖😀
untung ada Alan ..
apa tuh wasiatnya om Indra Hartawan 🤔
aku mah udah ngacirrr 😂
tambah penasaran bacanya
Lanjutttt..