Janji Jari kelingking...??
It's a True..
"In My World, You are be Mine."
Zen Mahendra, memendam Cinta pada adik kecilnya Zoya Vidette Wijaya. Perasaan cintanya pada gadis itu, membuatnya terpaksa pergi meninggalkan keluarga yang membesarkan dirinya.
Hingga akhirnya, 11 tahun kemudian saat ia merasa sudah cukup pantas bagi gadis kecilnya dulu, ia datang kembali membawa seluruh hati dan cintanya pada gadis itu. Bagaimana perjuangan Zen setelah 11 tahun berpisah dengan Zoya? bisakah Zoya membalas cintanya? atau sudah adakah orang lain yang mengisi tempat kosong di hatinya..?
Jangan lupa ikuti terus Love story ZenZoya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Christ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BUSY DAY
...ENJOY...
.......
.......
.......
Hari ini Zen resmi menjadi direktur utama di perusahaan Aldi. Seperti yang Aldi jelaskan sebelumnya pada Zen, memang perusahaan tersebut sedang mengalami penurunan saham.
Oleh sebab itulah di hari pertama Zen bekerja, ia langsung turun tangan untuk menggali informasi kenapa bisa terjadi hal seperti itu pada perusahaan Didiie nya.
Tepat setelah acara peresmian nya sebagai direktur, Zen langsung memanggil semua manager yang bertanggung jawab pada naik-turun nya saham di perusahaan itu.
Sebagai seorang pengusaha, meskipun terbilang baru, tapi Zen sudah menguasai semua kiat-kiat dalam mengelola perusahaan sebesar M.I.D Group.
"Pak, semua manager sudah berada diruang meeting." kata Calista sekretaris Zen, setelah mengetuk pintu. Calista adalah sekretaris yang juga baru di rekrut Aldi.
Melihat latar belakangnya, Calista juga bukanlah perempuan biasa. Melewati beberapa tahap seleksi dan juga pertimbangan, Aldi memilih langsung saat menyeleksi calon sekretaris yang akan bekerja di perusahaannya.
"Terima kasih. Saya akan siap lima menit lagi." Zen mempersiapkan dirinya untuk melakukan meeting pertama dengan para manager di kantor nya. Pertemuan yang cukup menguras tenaga dan juga pikiran. Pertemuan pertama yang Zen lakukan berlangsung kurang lebih selama tiga jam.
Saat Zen kembali dari ruang meeting, ia merasa cukup lelah. "Tolong katakan pada OB, buatkan untuk ku susu coklat hangat." pinta Zen pada Calista.
"Baik pak, akan saya kerjakan."
Zen kembali keruangan nya, dan Calista melakukan apa yang di minta Zen pada nya. Tak lama kemudian OB datang membawakan segelas susu coklat hangat pesanan Zen.
"Permisi Bu, ini coklat nya mau langsung di antar ke dalam..?" tanya OB, yang bernama Asep itu berhenti di depan meja Calista.
"Emm, biar saya saja Mang Asep."
Calista mengambil nampan tersebut dan mengantarnya sendiri untuk Zen. Ia mengetuk pintu, meminta persetujuan Zen terlebih dahulu.
"Boleh saya masuk, pak ?" ujar Calista dari balik pintu.
"Masuklah." Kata Zen masih terfokus pada kertas-kertas yang menumpuk di atas mejanya. Zen melihat nampan yang dibawa Calista, "Minuman ku?" ujarnya, dan Calista mengangguk pelan lalu meletakan gelas minuman Zen.
"O,ya hasil meeting tadi akan saya email kan pada anda sebentar lagi." tambah Calista. "Baiklah. Terima kasih atas kerja keras mu, Calista." ucap Zen layaknya seorang atasan.
"Terima kasih kembali pak." Calista tersenyum sedikit merona. Zen adalah atasan yang baik. Calista pikir sebelumnya Zen sama seperti atasan kebanyakan, yang sangat sulit untuk di pahami dan juga terlalu bossy.
Namun sepertinya, Zen tipe yang sedikit berbeda. Selain masih muda dan tampan, Zen sangat berkarisma, dan disegani. "Kalau begitu saya permisi pak..'' pamit Calista.
"Emm.. Calista. Tolong kosongkan jadwal saya pukul 1 nanti siang." ucap Zen mencegah langkah Calista. "Baik pak, akan segera saya kosongkan." turut nya, lalu pergi meninggalkan ruangan Zen.
Disela-sela pekerjaan nya yang menumpuk, Zen masih tetap memikirkan Zoya. Hari ini ia bertekad untuk melihat gadis kecilnya.
...❄️❄️...
...Sementara itu,...
Suara tepuk tangan meriah selalu saja riuh terdengar dari aula tempat Zoya mengajar.
Zoya seakan tidak pernah berhenti membuat kagum para siswa yang ia ajarkan.
Setiap kelasnya dimulai, maka aula tersebut akan berubah menjadi panggung pertunjukan. Zoya selalu menuntut agar para siswa nya aktif dalam kelas yang ia ajarkan, dan itulah yang selalu terjadi, suasana kelas layaknya panggung mini konser ala Zoya Vidette.
"Baiklah. Sampai disini materi kita. Jangan lupa untuk mengerjakan tugas kalian, kita akan bertemu lagi pada pertemuan selanjutnya." Zoya menutup kelasnya.
"Yes Miss.. " jawab serentak semua mahasiswa nya yang berjumlah kurang lebih empat puluh orang.
Setelah semua mahasiswa nya meninggalkan aula, Zoya kembali memposisikan biolanya di atas bahu, memejamkan mata, dan menghembuskan nafasnya perlahan.
Zoya memainkan satu melodi yang terdengar begitu indah namun sarat dengan nada kesedihan dan juga kerinduan.
Setelah gesekan terakhir di mainkan menutup melodi sempurna yang ia mainkan, hening kembali menyelimuti seluruh ruangan, sampai terdengar suara tepuk tangan dan langkah kaki yang mendekat kepada Zoya.
Zoya masih diam di tempatnya, saat Jordan berdiri di di depan panggung, melihat Zoya dengan tatapan yang sulit Zoya artikan.
"Kau memang selalu mengagumkan Miss Vidette.." puji Jordan tulus, ekspresi kagum yang tidak bisa di buat-buat. Zoya hanya menatap sekilas, lalu mengacuhkan keberadaan Jordan. Zoya memasukan biola kedalam tas nya, lalu turun menghampiri Jordan.
Jarak keduanya kini hanya sekitar 10 inci. "Terima kasih untuk pujian mu Mr... Aku sudah biasa mendengarnya." balas Zoya arogan. Wangi tubuh Zoya menyeruak memenuhi indra penciuman Jordan, namun
Zoya melewati nya begitu saja.
"Zoya, tunggu." Jordan menahan tangan Zoya, membuatnya melihat pada tangan nya yang tertahan.
"Maafkan aku. Apa kau begitu tidak menyukai ku..? Bukan kah kita sudah sepakat untuk berteman sebelumnya..?" Jordan masih menahan tangan Zoya, meskipun tidak begitu kuat.
"Aku..? Kapan..? Aku tidak pernah menyetujuinya." jawab zoya dengan gamblang. Ia memang tidak pernah mengiya kan permintaan pertemanan yang Jordan tawarkan padanya.
"Apakah hanya untuk berteman saja, aku bahkan tidak pantas untuk itu..?" tanya Jordan menilai diri sendiri.
Zoya paling tidak suka dengan saat-saat seperti ini. Saat-saat dimana dirinya menjadi pemeran si gadis jahat.
"Aku tidak mengatakan demikian. Aku hanya tidak suka jika hidupku di ganggu oleh orang asing. Dan aku tidak suka dengan cara mu selama ini mendekatiku, aku tidak berminat untuk menjalin hubungan kekasih dengan siapapun di tempat ku bekerja.'' Jelas Zoya dengan sebenarnya.
"Sekarang lepaskan tangan ku." pinta gadis itu tegas.
"Baiklah, aku minta maaf atas sikap ku sebelumnya. Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku janji." Jordan membuat tanda Promise dengan tangan sebelahnya.
"Tapi bisakah kita berteman..? Aku benar-benar ingin memulai pertemanan dengan mu Zoya." ucap Jordan dengan gigih.
"Baiklah. kita berteman jika kau melepaskan tangan ku sekarang." Zoya akan memberikan pengecualian kali ini, setidaknya Zoya harus menerima niat baik Jordan. Selain itu, Zoya juga tidak ingin Jordan terus-terusan mengekorinya.
Mungkin inilah saatnya Zoya berubah, Zoya tidak seharusnya terlalu menutup diri, sehingga membuatnya benar-benar tidak memiliki sahabat. Tidak seorang pun. Apa salahnya jika ia berteman? tidak ada ruginya.
Toh tidak semua orang akan membohonginya, dan meninggalkan nya begitu saja. Seperti seseorang yang Zoya kenal sebelumnya.
Mendengar itu, Jordan langsung melepaskan tangan Zoya, ia tersenyum cerah karena berhasil menaklukan Zoya.
"Kau benar-benar aneh." celetuk Zoya kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan aula.
"Aku, aneh..? Heii Zoya tunggu aku!" Jordan setengah berlari mengejar Zoya agar dapat berjalan beriringan dengan gadis itu.
"Heii bukan kah kita sudah berteman..? mau makan siang bersama..? aku janji aku tidak akan membuat mu kesal." kata Jordan dengan wajah serius.
"Aku sedang tidak ingin makan bersama seorang teman baru." tolak Zoya. "Baiklah, tapi lain kali kita harus makan siang bersama. Aku akan menjadi teman yang baik untuk mu Zoya, aku janji." Sekali lagi Jordan meyakinkan Zoya.
"Terserah kau saja. Aku pulang duluan.." kata Zoya menanggapi janji yang Jordan lontarkan.
"Baiklah, hati-hati di jalan." Jordan melambaikan tangan nya dengan senyum sumringah di wajahnya. Baru kali ini Zoya bersikap sedikit manis pada Jordan.
Zen menyaksikan semua itu dari tempat nya berdiri saat ini. Saat Zoya menghidupkan mobil dan melajukan mini cooper itu meninggalkan halaman kampus, Zen berada di sana.
Zen juga melajukan mobilnya, mengikuti kemana mobil Zoya pergi. Mereka harus bertemu. Harus.
...❄️...
...❄️...
...❄️...
tapi mendingan selesai kan dulu cerita Zen dan Zoya supaya jangan bingung Thor..
terus kalau cerita Ken biar aja dilapak baru supaya kita baca fokus Zen sama Zoya..
Dan setelah baca lagi....
Aku benar-benar masih ngerasa jahat..😭😭
Mampir kuy di cerita aku !
Belenggu Cinta Sang Penguasa ❤️
Ada yang lain lagi juga.
Hello Daddy, Im Sugar Baby !
Klik Profil aku dan liat yang mau kalian baca !
Follow juga ige aku @amelia_falisha1511 ❤️
Kuy lah yok, Mampir di cerita aku !
Hello Daddy, Im Sugar Baby !
Ada Om Damian dan Istri muda nya Baby.
ada juga bang Alex dan Risa di, Belenggu Cinta Sang Penguasa ❤️
Follow juga ige aku @amelia_falisha1511 ❤️
Lope Lope Sekebon Anggur 🍇🍇🍇