Andika seorang bayi berumur satu bulan yang ditinggal oleh ibunya untuk selama-lamanya. Besar bersama ayahnya yang benama Adam membuatnya berubah menjadi nakal dan banyak tingkah.
Banyak wanita yang dijodohkan dengan ayahnya berakhir gagal karena ulahnya. Akankah Andika berhasil menemukan ibu sambung yang sesuai dengan pilihannya?
Simak kisah mereka di karya kedua aku ini!!!
sebelumnya, mampir juga dikarya pertamaku
ABANG TENTARA, TEMBAK AKU!!!
Happy Reading...😍😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zur Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihanku...
Mereka kembali ke rumah, akan tetapi ada yang berbeda dengan sikap Rara dan Dika. Disepanjang perjalanan mereka diam tampa sepatah katapun, sampai tiba di rumah mereka juga tetap diam tampa saling bicara. Yuni dan Adam juga ikut penasaran dengan perebuhan anak-anaknya.
"Mereka kenapa ya? Perasaan tadi baik-baik aja, kenapa tiba-tiba jadi diam-diaman." Yuni mengungkapkan perasaanya pada Adam.
Sementara Rara masih di kamarnya, kembali mengingat perkataan Dika yang meminta dirinya untuk mendekatkan mamanya dengan ayah Dika.
Rara tau mamanya tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap ayah Dika, Rara merasa bingung jika harus mendekatkan mamanya dengan ayah Dika, itu sama saja seperti dia sedang menjodohkan mereka.
Pengalaman masa lalu dengan papanya, membuat Rara enggan menyetujui permintaan Dika.
Tok...tok...
"Ra, ini aku, bisa bicara bentar?" Ucap Dika di depan pintu.
Rara mendengar suara Dika hanya bisa menghela nafasnya, dia belum siap membahas permintaan Dika kembali, karena dia belum punya jawaban atas permintaan Dika.
"Ra, buka pintu bentar, plisss!!!" Ucap Dika kembali.
Dengan langkah malas, Rara bangun dari rebahannya. "Tolong kak, aku belum punya jawabannya sekarang!" Ucap Rara.
"Pikirin lagi Ra, kamu pasti mau lihat mama kamu bahagia, dan aku juga pasti bahagia kalo ayah aku sama mama kamu." Dika berusaha meyakinkan Rara kembali.
Tampa mereka sadari, ada sepasang telinga yang mendengar perbincangan keduanya.
"Udah kak ya, aku gak mau bahas ini lagi, capek!" Keluh Rara yang beranjak keluar kamar.
Dika harus lebih bersabar untuk membujuk Rara agar mengikuti rencananya. Dika tau ayahnya dan mama Rara tidak memiliki perasaan apa-apa. Tapi Dika yakin jika mama Rara cocok untuk ayahnya.
"Dika, lihat Rara?" Suara Yuni memecahkan lamunan Dika yang tengah duduk di tangga belakang rumah.
"Gak tau tante." Jawab Dika.
Melihat Dika, Yuni jadi teringat kejadian tadi. "Dika, Tante mau tanya, kamu lagi berantem sama Rara? Kenapa setelah kita pulang jalan-jalan kalian jadi diam-diaman?"
Dika menatap wajah perempuan yang menurutnya cocok menjadi ibu pengganti buatnya. "Apa tante suka sama ayah aku?" Mendengar pertanyaan Dika, Yuni mengernyitkan keningnya. "Maksud kamu?" Yuni balik menanyakan Dika.
Dika menghela nafasnya sesaat, "Apa tante mau jika ayah melamar tante?" Seketika kedua mata Yuni membulat mendengar anak remaja 15 tahun bertanya padanya seperti itu.
Yuni menaruh telapak tangannya di kening Dika "Tidak panas, kamu kenapa? Kesambet ya?" Yuni tergelak sendiri mengingat Dika bertanya padanya seperti itu.
"Dika serius tante!" Ucapan yang seketika membuat tawa Yuni terhenti. "Kamu jangan aneh-aneh, sekolah aja yang benar, jangan mikirin urusan orang tua!" Ucap Yuni sambil menepuk-nepuk pelan bahu Dika.
"Apa tante gak sayang sama kakek? Ayah akan terus menolak perjodohan yang direncanakan kakek, dan aku akan selalu menggagalkan rencana tersebut dengan cara aku sendiri." Yuni terkesiap mendengar penuturan anak remaja yang menurutnya masih kecil.
"Tante minta maaf, tapi tante gak bisa nikah sama ayah kamu, karena kami hanya teman, tidak ada perasaan diantara kami, jadi percuma kalo kamu minta kami menikah." Yuni menatap Dika lekat, dia sadar saat ini anak remaja di depannya sedang memikirkan perasaan kakeknya.
Dika dan Yuni akhirnya duduk diam memandang langit senja bersama karena lusa mereka akan kembali ke Jakarta.
Disisi lain rumah, Rara duduk diam ditemani Adam yang baru keluar dari dalam rumah. Adam melihat Rara seperti sedang memikirkan sesuatu jadi tergerak untuk ikut duduk di sampingnya.
"Sepertinya ada yang mengganggu pikiran, kalo mau cerita, Om siap jadi pendengar yang budiman." Ucap Adam seraya tersenyum hangat kepada Rara.
Rara menoleh sebentar, berusaha menatap lelaki yang seumuran mamanya. "Om punya perasaan sama mamaku?" Tanya Rara tiba-tiba.
Adam mengernyit heran, "Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti ini?" Adam penasaran dengan pertanyaan anak perempuan di sampingnya saat ini.
"Gak ada, cuma pengen tau aja." Jawab Rara.
"Dari dulu, Om udah temenan sama mama dan papa kamu. Om meresa nyaman dengan mereka semua, makanya kami lumayan akrab, bahkan dulu ada yang mengira jika Om dan mama kamu pacaran jika kami sedang jalan berdua, padahal waktu itu Om sudah menikah dan mama kamu pacaran dengan papa kamu." Adam bernostalgia kemasa lalu.
"Terus kenapa Om selalu menolak perempuan yang dijodohkan sama Om oleh Kakek?" Tanya Rara kembali.
"Om tidak pernah menolak, Dika yang tidak mau, Om hanya mengikuti kemauan Dika aja, kalo dia setuju, Om akan terima dengan siapapun yang dia pilih." Ucapan Adam yang membuat Rara semakin bingung karena mengingat permintaan Dika padanya.
"Kalo kak Dika minta Om nikah sama mama Rara gimana?" Pertanyaan yang membuat Adam tergelak.
"Hahahaha...ada-ada aja kalian, udah ah, masuk yok, bentar lagi magrib!" Ucap Adam sambil berdiri dari duduknya.
Rara mengikuti Adam masuk kedalam. Setelah melaksanakan shalat magrib berjamaah, "Kalian duduklah dulu, ada yang ingin Abah bicarakan!" Pinta Abah.
Abah mengehela nafasnya sesaat, "Adam, Abah sudah tua, hanya satu permintaan Abah sekarang, menikahlah! Abah ingin melihat kamu memiliki pendamping, Dika juga ada yang mengurus, Abah tidak akan menjodohkan kamu lagi, mulai sekarang kamu pilihlah sendiri calon istri yang sesuai denganmu dan bisa diterima Dika!" Abah menatap putranya lekat penuh harap.
"Kakek, Dika sudah punya calon ibu yang Dika mau dan Dika rasa cocok dengan Ayah." Ucap Dika tiba-tiba.
Seketika semua mata menatapnya terkecuali Rara.
"Siapa Dika?" Tanya Abah, sementara Adam masih menatap putranya tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Tante Yuni." Jawab Dika.
"Hahhh?" Tante Yuni mana Dika?" Tanya Abah kembali.
"Tante Yuni yang sekarang bersama kita." Jawab Dika.
"Tante Yuni sudah punya suami, tidak mungkin menikah dengan ayah kamu?" Jawab Abah.
"Iya Dika, tante rasa kamu salah minum obat, udah ah, kamu jangan bawa-bawa tante, tante gak suka lelucon seperti ini!" Kesal Yuni yang mau beranjak dari duduknya.
"Dika kamu jangan aneh-aneh, jangan libatkan tante Yuni dalam urusan keluarga kita, Ayah gak suka, cepat kamu minta maaf sama tante Yuni!" Pinta Adam tapi dicegah oleh Yuni "Gak usah Dam, dia masih terlalu kecil untuk mengerti arti sebuah pernikahan." Ucap Yuni yang akhirnya pergi ke kamarnya.
Dika masih duduk dengan kepala menunduk kebawah. Dia merasa kecewa, ayahnya sendiri terlihat marah padanya sampai pergi begitu saja. Setelah yang lainnya pergi, tinggallah Dika, Abah, Amak dan juga Rara.
"Mama udah cerai Kek!" Ucapan Rara seketika membuat Abah serta Amak terkejut sembari menatapnya seakan tidak percaya.
---------
Like...
Komen...
Vote...
salam kenal dari pengisi suara novel ini 😊😊