NovelToon NovelToon
Jerat Sang Mafia

Jerat Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Duda / Pernikahan kedua / Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Menikah dengan Kerabat Mantan / Tamat
Popularitas:686
Nilai: 5
Nama Author: SilvinaTracy

Valentina Sierra punya segalanya: keluarga terpandang, kekasih idaman, dan kursi di Harvard yang menanti. Sampai satu malam mengubah segalanya. Ia terbangun di ranjang asing, pakaian robek, seprai bernoda darah—dan di sisinya berbaring Dorian Cervantes, pria paling ditakuti sekaligus paling dibencinya. Duda dingin berdarah dingin, seorang pengusaha yang menyimpan rahasia jauh lebih gelap dari yang bisa dibayangkan siapa pun.

Dijual oleh keluarganya sendiri atas nama "kehormatan", Valentina dipaksa menikahi sang iblis. Yang tak ia sadari: malam itu bukan kebetulan. Itu sebuah jebakan—dan ia hanyalah satu bidak dalam permainan yang jauh lebih besar, permainan yang berakar pada rahasia kelam tentang jati dirinya yang sebenarnya.

Terperangkap di dunia penuh topeng, senjata, dan pengkhianatan, Valentina harus belajar bertahan. Belajar menembak. Belajar membalas. Dan yang paling berbahaya dari semuanya—belajar bahwa benci dan cinta hanya dipisahkan satu garis tipis.

Dari kebencian menjadi hasrat, dari korban menjadi pemburu. Ketika seluruh kebenaran akhirnya terkuak, siapa yang akan berlutut, dan siapa yang akan menarik pelatuknya lebih dulu?

Sebuah kisah romansa gelap tentang pernikahan paksa, dendam yang membara, dan cinta yang tumbuh di tempat paling mustahil. Untuk pembaca dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilvinaTracy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: JALAN-JALAN ROMANTIS

DORIAN CERVANTES

Venesia, tempat romantis yang justru sedang kami benci. Kami harus berciuman, Valentina dan aku, padahal yang kami inginkan adalah menjauh sejauh mungkin satu sama lain.

Meski begitu dia tak terlalu buruk juga, hanya saja terlalu cengeng, terlalu rapuh dan lembut bak malaikat untuk pria sepertiku—walau secara fisik dia menggairahkan.

Kami harus meneruskan sandiwara pernikahan bahagia, karena si tolol itu tak datang sendirian, alhasil kami diawasi dua puluh empat jam penuh.

"Apa-apaan kamu?" tanyanya ketika melihatku membuang bungkus-bungkus kondom ke lantai sementara kondomnya sendiri kubuang ke kloset.

"Aku terus menegaskan bahwa kita punya banyak 'kegiatan' di ranjang ini. Memangnya apa lagi?"

"Kurasa mereka takkan masuk kemari." Dia begitu polos sampai membuatku stres.

"Mereka akan masuk. Percayalah," tegasku, lalu melanjutkan urusanku.

"Sebelum menikah denganmu, semuanya tenang-tenang saja." Lelah dengan keluhannya, kucengkeram bahunya dan kuguncang sedikit, barangkali dengan begitu sistem yang jelas-jelas macet di kepalanya bisa berjalan lagi.

"Berapa lama ketenanganmu itu bertahan, ha? Sampai kamu muncul di lelang sialan, atau lebih parah lagi, diserahkan pada seseorang yang sudah memesanmu lebih dulu. Tapi karena kamu tidur denganku, kamu jadi tak berharga lagi. Kamu mau kuserahkan lengkap dengan dokumen yang menyatakan kamu masih perawan? Kita lihat seberapa lama ketenanganmu bertahan." Kulepaskan cengkeramanku dengan kasar sambil melihatnya menangis.

"Aku tak mau. Maafkan aku, kamu benar," pintanya sambil menunduk seperti hewan kecil yang ketakutan.

"Kalau begitu bekerja samalah, dan ingat apa yang kukatakan padamu. Berpisah sekarang bisa mendatangkan terlalu banyak masalah. Bersikaplah baik, bekerja sama, dan kita akan jadi pasangan paling mesra sedunia sampai semua ini jelas dan kita bisa kembali ke kehidupan masing-masing." Dia mengangguk tanpa membantah lagi, lalu kami keluar bergandengan tangan.

Kami melakukan hal yang lazim, berkeliling dengan gondola, dan anjing peliharaan kakak serta keponakanku itu ikut naik pula, tapi dengan perahu lain. Sungguh, ayah dan anak itu bersaing memperebutkan gelar tolol paling top dekade ini, dan keduanya seri dalam hal kebebalan.

Mereka mengirim pesuruh mereka yang paling murah dan paling bodoh untuk memata-matai kami, padahal jelas-jelas dia tak berusaha sedikit pun menyamarkannya.

Jadi kami harus melanjutkan sandiwara. Kami berciuman dan tersenyum seperti sepasang kekasih tolol sementara si idiot itu memotret kami tanpa malu-malu.

Setibanya di kamar, kuperiksa apakah ada mikrofon terpasang, dan ternyata benar, ada empat buah. Valentina terkejut, apalagi ketika melihat barang-barang yang tak pada tempatnya. Kutatap dia dengan angkuh—yang tua lebih banyak makan asam garam, dan untuk berhadapan dengan keluargaku, pengalamanku lebih dari cukup.

Kubawa dia ke kamar mandi sambil membekap mulutnya, lalu kunyalakan keran pancuran agar pembicaraan kami tak terdengar.

"Turun ke resepsionis, minta apa pun yang terlintas di kepalamu, atau tanyakan hal bodoh apa saja," bisikku.

"Untuk apa?" tanyanya kebingungan.

"Turuti saja, biar aku bisa mencabut semua mikrofon di sini dan memasangnya di kamar lain. Ada seorang pelacur yang menginap di lantai bawah. Mereka akan sibuk mendengarkan bagaimana wanita itu bekerja." Dia tampaknya paham, lalu keluar kamar.

Kuambil mikrofon-mikrofon itu hati-hati dan kubawa ke kamar tempat wanita yang sudah kubayar mahal itu berada. Kuminta dia mandi dulu, dan dia menurut—karena aku takkan berbuat apa pun dengannya sebelum dia membersihkan diri. Kumanfaatkan menit-menit itu untuk memasang semuanya, lalu kubilang aku ada urusan mendadak dan harus pergi. Mereka pasti akan mengira kami bercinta sepanjang hari, keberuntungan yang bagus buat kami. Lagi pula dengan begini mereka takkan tahu kapan kami pergi.

Setelah itu kami bisa bersantai sejenak dan memanfaatkan malam untuk meninggalkan hotel, pindah menginap ke tempat lain. Aku terus memantau bagaimana semua operasi berjalan, sementara Valentina hanya memikirkan siapa yang tega mengkhianatinya sedemikian rupa.

Sebuah telepon masuk, dari tangan kananku, membawa laporan-laporan yang kuminta.

📱"Bos, aku sudah dapat semua yang bisa kutemukan soal keluarga Sierra." Nada suaranya memberi isyarat akan ada kabar menarik.

📱"Bagus. Ada yang penting?" tanyaku, tahu aku takkan suka dengan apa yang akan dikatakannya.

📱"Perusahaan mereka butuh suntikan modal. Sepertinya mereka membeli beberapa barang tanpa melunasinya, dan uang yang Anda berikan pada mereka habis seluruhnya untuk membayar itu." Aku memikirkannya. Menjaminkan aset itu cara lama, apalagi di bidang yang mereka geluti.

📱"Mereka butuh uang, sudah kuduga. Ada lagi?" tanyaku sambil berpikir.

📱"Mereka bertemu dengan keponakan Anda, Iván, dan begitu pertemuan usai, keponakan Anda keluar tergesa-gesa dengan bekas tamparan di pipinya. Keluarga Sierra juga pergi dengan sangat kesal." Itu benar-benar di luar dugaanku.

Semuanya terlalu janggal. Kuminta dia melanjutkan penyelidikan, lalu kututup teleponnya tanpa memahami sedikit pun apa yang sedang terjadi. Apa hubungan keponakanku dengan semua ini?

"Iván punya hubungan tertentu dengan orang tuamu?" Hanya Valentina yang bisa kutanyai untuk menggali, dan dia menatapku bingung.

"Dengan Iván? Dia hampir tak pernah berurusan dengan mereka, paling sekali atau dua kali. Kenapa kamu tanya?" Semua ini makin meyakinkanku bahwa ada sesuatu yang janggal sedang terjadi.

"Cuma penasaran," jawabku untuk menenangkannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!