Mahardika yang harus menanggung penyakit kusta selama 3 tahun, setelah berobat di berbagai macam caranya, dari obat alternatif, hingga rumah sakit besar, tapi penyakitnya tak kunjung sembuh.
Hingga akhirnya, uang tabungan habis untuk berobat dan hanya tinggal sebidang tanah dan sebuah rumah yang tersisa. Dan itu tidak mungkin ia jual karena hanya itu satu-satunya peninggalan untuk anak dan istrinya.
Hingga akhirnya ia bermimpi ada seorang kakek datang dan memintanya untuk datang ke gunung Merapi jika ia mau sembuh.
Mahardika pun meminta izin dengan istrinya, dan berharap bisa sembuh jika ia berobat dengan kakek tersebut.
Hari berganti bulan, hingga akhirnya dia tahun berlalu. Kini Mahardika sudah sembuh total dan sehat kembali dan mendapatkan wasiat menjadi tabib.
Tapi saat ia pulang, alangkah terkejutnya dia. Karena rumah dan tanah itu sudah terjual, dan lebih sakitnya, anaknya ternyata di titipkan ke panti, sementara istrinya sudah menikah lagi.
Akhirnya ia membangun keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Pak Hendra yang baru saja sembuh, berdiri dibantu oleh pengawalnya.
"Dokter Mahardika... Anda baru saja menyambung nyawa saya! Jika bukan karena Anda, saya pasti sudah jadi mayat hari ini. Budi baik Anda tidak akan pernah saya lupakan!" ucap Pak Hendra dengan penuh rasa syukur.
Pak Hendra merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah cek kosong beserta pulpen emas, lalu menyodorkannya kepada Mahardika.
"Tulis berapa pun nominal yang Anda inginkan, Dokter! Ini bentuk rasa terima kasih saya yang tidak seberapa!" tegas Pak Hendra.
Namun, Mahardika hanya tersenyum tipis dan menyentuh pelan tangan Pak Hendra untuk menolak cek tersebut.
"Simpan cek Anda, Pak Hendra. Saya menolong Anda karena tugas saya sebagai seorang tabib untuk menyelamatkan nyawa yang terancam, bukan demi selembar kertas bernilai uang," kata Mahardika berwibawa.
Mendengar jawaban Mahardika, seluruh orang di ruangan VIP tersebut semakin takjub.
Walikota menggeleng-gelengkan kepala penuh kekaguman.
"Sungguh watak seorang ahli sejati! Dokter Mahardika, kota kita sangat beruntung memiliki sosok seperti Anda!" puji Walikota tinggi-tinggi.
"Terima kasih Wali Kota," ucap Mahardika dengan sopan.
...********...
Keesokan paginya....
Sinar matahari pagi menembus celah-celah daun pohon.
Pagi itu, Mahardika berjongkok di pekarangan samping rumahnya.
Di tangannya, ada beberapa kantong kain kecil berisi benih-benih herbal langka yang dulu ia petik langsung dari lereng Gunung Merapi, benih yang memilki daya hidup luar biasa jika disiram dengan energi murni.
"Papa! Amel sudah bawakan airnya!" seru sebuah suara mungil.
Mahardika menoleh dan tersenyum hangat. Amel berjalan pelan sambil membawa ember plastik kecil berisi air bersih.
"Anak pintar. Taruh di sini ya, Sayang," kata Mahardika lembut seraya menerima ember kecil itu.
Amel berjongkok di samping ayahnya, memiringkan kepala menatap benih-benih berwarna hitam kecokelatan di tangan Mahardika.
"Papa, ini biji apa? Kok bentuknya aneh seperti batu kecil?" tanyanya penasaran.
"Ini namanya benih Ginseng Salju Merapi dan Bunga Akar Emas. Tanaman ini beda dengan sayuran biasa, Amel. Tanaman ini bisa dipakai untuk menyembuhkan orang-orang yang sakit parah, orang yang dadanya sesak, atau yang badannya lelah luar biasa," terang Mahardika seraya mengelus lembut kepala putrinya.
Mata Amel berbinar-binar. "Wah! Berarti kalau tanam ini, Papa bisa sembuhkan banyak orang lagi?"
"Iya, Sayang. Makanya Amel bantu Papa ya, kita tanam baik-baik di sini."
"Mau, Pa! Amel yang lubangi tanahnya!" seru Amel penuh semangat.
Ia mulai menusuk-nusuk tanah gembur itu dengan ranting kayu kecil.
Mahardika tertawa renyah melihat tingkah polos putrinya.
Ia kembali fokus saat ia mulai memasukkan benih-benih tersebut ke dalam lubang tanah.
Ia memejamkan mata sejenak. Energi keemasan mengalir hangat menuju telapak tangannya.
Saat jarinya menutup tanah tempat benih itu tertanam, ada cahaya keemasan meresap masuk ke dalam bumi.
Wusss...
Secara ajaib, tanah di sekitar pekarangan itu bergetar sedikit.
Dalam hitungan detik, tunas-tunas hijau muda meretas keluar dari dalam tanah, tumbuh lebih cepat dari tanaman biasa.
"Lho! Papa! Tanamannya langsung tumbuh! Papa pakai sihir ya?!" seru Amel kaget sambil menunjuk tunas-tunas kecil yang tumbuh.
"Ini bukan sihir, Sayang. Ini namanya keajaiban alam. Kalau kita merawat tanah dengan kasih sayang, tanah juga bakal balas dengan kebaikan," katanya tersenyum mengembang.
Saat ayah dan anak itu sedang asyik merawat pekarangan, terdengar langkah kaki dari arah gerbang kayu.
Mahardika menoleh.
Di luar pagar, berdiri Pak RT bersama belasan warga desa, beberapa di antaranya adalah tetangga yang dulu sempat sinis dan memercayai fitnah Siska bahwa penyakit Mahardika membawa petaka.
Mereka berdiri canggung sambil membawa bermacam-macam bingkisan: pisang satu tandan, beras, ayam kampung, hingga kue-kue tradisional.
Pak RT melangkah maju lebih dulu dengan raut wajah serba salah. "M-permisi... Dik Dika..."
Mahardika berdiri. "Mari, Pak RT, Bapa-Bapak, Ibu-Ibu. Ada apa ramai-ramai ke sini pagi-pagi?"
Seorang ibu-ibu paruh baya maju sambil menundukkan kepala dalam-dalam, menyerahkan bakul berisi kue basah.
"Dik Dika... kami... kami ke sini mau minta maaf atas kelakuan kami dulu. Dulu kami termakan omongan busuk Siska dan Haryo... Kami pikir Dika membawa petaka, padahal Dik Dika ini orang sakti yang baik hati..." ucap mereka pelan.
"Iya, Mas Dika. Kami dengar kemarin Mas Dika menyembuhkan anak Bu Darti, terus menolong Tuan Besar Perkasa Group, sampai menangkap penjahat-penjahat itu. Kami betul-betul malu pernah jahat sama Mas Dika dan Amel..." sahut warga lainnya penuh rasa malu.
Mahardika menatap wajah-wajah bersalah di hadapannya. Tidak ada sedikit pun rasa dendam di dalam matanya.
"Sudahlah, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu. Yang lalu biarlah berlalu. Saya tahu kalian hanya dimanfaatkan oleh orang-orang berkuasa saat itu. Saya tidak menyimpan dendam sama sekali," jawab Mahardika dengan suara rendah.
Pak RT bernafas lega, matanya berkaca-kaca. "Gusti Tuhan... Dik Dika betul-betul berhati emas. Terima kasih banyak, Dik! Terima kasih!"
"Ayo, silakan masuk. Ini ada hasil kebun kecil saya, udaranya segar sekali di sini," ajak Mahardika ramah.
Warga desa berbondong-bondong masuk ke pekarangan.
Hanya mencium saat aroma tanaman tersebut, tubuh mereka menjadi segar.
"Lho, kok napasku yang tadinya sesak langsung plong ya?" gumam salah satu tetangga kaget.
"Iya! Kepala saya yang pusing dari kemarin langsung sembuh!" seru yang lain takjub.
Melihat respons warga, Mahardika tersenyum. Benih herbal murni yang dialiri energi emas, memang memiliki aura penyembuhan alami.
Tiba-tiba saja mata tembus pandangannya menangkap sinyal keberadaan beberapa mobil hitam berbodi tebal yang sedang melaju kencang menuju ke arah rumahnya.
Ia merasakan aura permusuhan.
"Rupanya ketenangan ini tidak akan bertahan lama. Mari kita lihat, siapa lagi yang berniat menguji kesabaranku." batin Mahardika.