Xian Yue tewas setelah bertahun-tahun menjadi seorang penyintas di dunia Distopia.
Tapi, bukannya bangkit di alam kubur dan menerima semangkuk sup reinkarnasi dari Meng Po, Xian Yue justru terlempar ke tanah antah berantah.
Dalam perjalanan menuju rumah mertuanya, Xian Yue tak tau tubuh yang dimasukinya ternyata sudah dijual sebagai menantu yang menumpang, pada keluarga miskin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8 Pajak Musim Gugur
Pagi itu, Desa Qinghe tampak lebih ramai dari biasanya. Sejak matahari baru muncul di balik perbukitan, suara pintu rumah yang dibuka silih berganti memenuhi desa. Para petani mengenakan pakaian terbaik yang mereka miliki, meski sebagian besar hanyalah baju tua yang telah berkali-kali ditambal.
Tak seorang pun datang dengan wajah ceria.
Setiap kali kepala desa memanggil seluruh penduduk berkumpul, jarang sekali ada kabar baik.
Di halaman rumah keluarga Han, Han Zheng sedang merapikan kerah bajunya. Baju itu sudah dipakai bertahun-tahun. Warna birunya telah memudar hingga hampir keabu-abuan, dan bagian siku dipenuhi tambalan dengan warna kain yang berbeda.
Nyonya Han mengibaskan sedikit debu yang menempel di pundaknya. "Kalau kepala desa benar-benar menaikkan pajak..."
Wanita paruh baya itu tidak mampu melanjutkan ucapannya. Han Zheng tersenyum tipis. "Jangan dipikirkan dulu."
"Kita dengarkan saja." Meski berkata demikian, ia sendiri tahu keadaan keluarga mereka.
Kalau pajak benar-benar bertambah, mereka mungkin harus menjual sebagian hasil panen sebelum sempat menikmatinya. Atau lebih buruk lagi...
Menambah utang.
Lian Yue berdiri di samping pintu sambil mengamati percakapan mereka. "Apakah semua warga harus datang?"
Han Zheng mengangguk. "Minimal satu orang dari setiap keluarga."
Lian Yue mengangguk pelan. "Aku ikut."
Han Zheng menoleh. "Kau baru datang ke desa. Tidak apa-apa?"
"Aku juga bagian dari keluarga Han sekarang."
Jawaban itu membuat Nyonya Han tersenyum tanpa sadar.
Kalimat sederhana tersebut terdengar tulus.
Tidak seperti orang yang dipaksa menjadi menantu.
.
.
Balai desa berada di tengah Desa Qinghe.
Bangunannya lebih besar dibanding rumah-rumah penduduk lain, meski tetap sederhana. Tiang-tiang kayunya mulai lapuk dimakan usia, sedangkan atap jeraminya tampak baru diganti beberapa bulan lalu.
Saat mereka tiba, halaman sudah dipenuhi warga. Beberapa kelompok kecil saling berbisik.
"Apa benar pajaknya naik?"
"Aku dengar desa sebelah juga begitu."
"Kalau terus begini, lebih baik kami makan rumput saja."
Tawa kecil terdengar, tetapi segera menghilang. Tak ada yang benar-benar menganggapnya lucu.
Lian Yue berdiri di belakang Han Zheng sambil mengamati wajah-wajah di sekelilingnya.
Kulit mereka menghitam karena matahari. Tangan mereka penuh kapalan. Namun sorot mata mereka sama.
Lelah. Bukan karena bekerja. Melainkan karena kehidupan yang tak kunjung membaik.
Tiba-tiba terdengar suara tongkat menghantam lantai kayu.
Tok!
Tok!
Tok!
Suara bisik-bisik langsung berhenti.
Seorang pria tua berjanggut putih melangkah keluar dari balai desa. Dialah Kepala Desa Luo.
Usianya mungkin sudah melewati enam puluh tahun, tetapi tubuhnya masih tegap. Sorot matanya tajam, membuat suasana seketika menjadi hening.
Di belakangnya berdiri dua pemuda yang membawa gulungan bambu berisi catatan desa.
Kepala Desa Luo memandang satu per satu warga yang berkumpul. "Terima kasih sudah datang." Suaranya berat namun jelas.
"Aku tidak akan berbicara panjang. Beberapa hari yang lalu aku menerima perintah dari kota." Wajah beberapa warga langsung berubah. "Musim gugur tahun ini...setiap desa diwajibkan menambah setoran gandum."
Suasana menjadi sunyi. Tak ada yang langsung bersuara. Seolah semua orang masih berharap mereka salah dengar.
Namun harapan itu segera pupus. "Kenaikannya sekitar dua puluh persen."
Kalimat itu bagaikan batu besar yang dijatuhkan ke tengah danau.
"Bagaimana mungkin?"
"Itu terlalu banyak!"
"Panen saja belum tentu berhasil!"
Seorang petani tua maju selangkah. "Kepala Desa Luo, bukankah musim kemarau tahun ini lebih panjang? Kalau kami menyerahkan sebanyak itu...anak-anak kami makan apa?"
Kepala Desa Luo menghela napas pelan. "Aku sudah menyampaikan keberatan. Tapi keputusan itu datang dari pejabat wilayah. Aku tidak bisa mengubahnya."
Warga kembali saling berpandangan. Wajah mereka dipenuhi keputusasaan. Lian Yue memperhatikan Kepala Desa Luo dengan saksama. Ia tidak menemukan kesombongan ataupun kepuasan.
Sebaliknya... Pria tua itu tampak sama lelahnya dengan warga lain. Berarti masalahnya memang berasal dari atas. Bukan dari kepala desa. Di dunia mana pun, rakyat kecil selalu menjadi pihak yang paling mudah dikorbankan.
Pertemuan berjalan singkat dan berakhir tanpa solusi. Warga pulang dengan langkah berat. Sepanjang perjalanan, hampir semua orang membicarakan hal yang sama.
Pajak, panen dan utang.
Tak ada topik lain.
Han Zheng berjalan sambil menatap jalan tanah di depannya. "Ayah pasti akan semakin khawatir."
Lian Yue melirik suaminya. "Apakah selama ini banyak keluarga yang gagal membayar pajak?"
Han Zheng mengangguk. "Ada."
"Lalu?"
Han Zheng menghela nafas berat, "Mereka kehilangan ladang, atau menjual ternak."
"Kalau tetap tidak mampu..." Ia berhenti sejenak. "...anak perempuan mereka dijual menjadi pelayan."
Lian Yue mengepalkan tangan di balik lengan bajunya. Ia menundukkan kepala agar ekspresinya tidak terlihat. Tubuh yang kini ia tempati pun pernah mengalami hal yang sama.
Bukan karena malas. Bukan karena bodoh. Hanya karena lahir di keluarga miskin.
.
.
Saat hampir tiba di rumah, terdengar suara cekikikan dari pinggir jalan.
"Lihat. Itu keluarga Han."
Lian Yue menoleh. Tiga pemuda sedang berdiri di bawah pohon besar. Salah satunya adalah pria bertubuh gemuk yang beberapa hari lalu mengomentari ladang keluarga Han.
Pria itu menyeringai. "Han Zheng. Dengar-dengar ladangmu mulai menghijau. Semoga hasil panennya cukup untuk bayar pajak." Nada bicaranya terdengar seperti ejekan.
Han Zheng hanya menjawab singkat. "Semoga ladangmu juga begitu."
Pria itu mendengus. "Aku hanya bercanda. Tidak usah tegang."
Meski demikian, tatapannya sempat melirik ke arah Lian Yue. "Jadi...itu istri barumu itu? ujarnya dengan tatapan yang membuat Lian Yue merasa risih.
"Cantik juga." Timpal pria itu sambil tersenyum, membuat Lian Yue tambah merasa tidak nyaman.
Han Zheng tanpa sadar bergeser setengah langkah, berdiri di depan istrinya. Gerakannya sangat kecil. Namun cukup untuk menghalangi pandangan pria itu.
Lian Yue memperhatikan punggung suaminya. Ia tidak mengatakan apa pun. Namun dalam hati, ia mulai memahami sifat Han Zheng.
Pendiam. Tidak suka mencari masalah. Tetapi juga tidak akan membiarkan keluarganya diganggu.
Pria gemuk itu akhirnya mendengus pelan sebelum pergi bersama kedua temannya. Setelah mereka menghilang, Han Zheng menoleh.
"Maaf."
Lian Yue mengernyit."Untuk apa?"
"Aku tidak pandai berbicara. Aku tidak ingin kau merasa dipermalukan."
Lian Yue tersenyum kecil. "Aku justru merasa aman."
Han Zheng terdiam. Untuk sesaat, wajah pria itu memerah karena malu. Ia segera berdeham, lalu mempercepat langkah menuju rumah.
Lian Yue berjalan di belakangnya sambil menatap ladang yang terbentang di sisi jalan. Musim gugur semakin dekat. Waktu mereka tidak banyak. Kalau ingin melewati musim dingin dengan selamat...
Ia harus membuat tanah itu hidup lebih cepat. Namun kali ini, ia juga harus berhati-hati. Karena ia mulai merasakan...
Bukan hanya tanah keluarga Han yang sedang diperhatikan. Melainkan juga keluarga Han sendiri.
sehingga apa yg membuat mereka ingin membuang mu jauh jauh dan dilarang kesana bertemu batu merah
dgn diatas
apakah mereka sengaja membuang kian Yue .agar tidak mampu membangkitkan ilmunya
makanya dia dilarang bertemu batu merah
sehingga para burung dan binantang lainnya sangat ketakutan
semoga kau bisa menyelamatkan keluarga han
mungkin terlalu tua 💪💪
disaat kemarau juga sama ya kadang tak kunjung datang hujan
sampai sampai mendoakan kejayaan untk mereka
saling bertanya
deep talk gitu😁😁🤔
bisa mendengar BHS binatang