Seraphina Lim kembali ke Jakarta dengan label yang memalukan — anak haram keluarga konglomerat Lim.
Dibuang sejak kecil, dibesarkan oleh keluarga lain, dan kini dipanggil pulang hanya untuk dijadikan bidak politik. Saudari tirinya yang menggantikan posisinya selama 20 tahun menganggapnya sampah. Ayah kandungnya ingin menjodohkannya dengan putra keluarga paling korup di Jakarta.
Tapi Seraphina bukan gadis lemah yang bisa diinjak.
Di malam pertamanya di Jakarta, takdir mempertemukannya kembali dengan Reynard Hartono — pewaris tunggal Hartono Group, pria paling berkuasa dan paling berbahaya di kota ini. Dingin, posesif, dan tak pernah tersentuh oleh wanita manapun...
...kecuali dia.
"Kau adalah hartaku yang paling berharga."
Reynard sudah menunggunya selama empat tahun. Dan kali ini, dia tidak akan melepaskannya — tidak peduli berapa banyak musuh yang harus dihancurkan.
Identitas palsu. Cinta obsesif. Balas dendam yang manis.
Ketika rahasia terbesar keluarga Lim terbongkar, seluruh Jakarta akan tahu — gadis yang mereka injak-injak selama ini, justru adalah pewaris sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 025
Di Bawah Lampu Jakarta
Seraphina masuk ke mobil, membawa rahasia baru yang terasa hangat di dadanya.
Reynard tidak langsung menyalakan mesin. Ia menatapnya dari sisi kemudi, seolah masih memastikan Seraphina benar-benar duduk di sana karena memilih, bukan karena terbawa arus.
"Masih bisa berubah pikiran," katanya.
Seraphina memasang sabuk pengaman. "Tentang jebakan romantis?"
"Tentang aku."
Pertanyaan itu terlalu jujur untuk dijawab dengan bercanda.
Seraphina menoleh. Di luar kantor Astoria, lampu gedung komersial lama memantul di kaca mobil. Tempat itu baru saja menjadi saksi tiga hari terberat dalam hidup profesionalnya, juga subuh ketika ia membiarkan seseorang memegang tangannya dan berkata ia jatuh cinta.
"Aku masuk mobilmu, kan?"
Reynard menatapnya beberapa detik, lalu menyalakan mesin.
Perjalanan ke Teluk Mutiara tidak panjang, tetapi malam itu terasa seperti garis pemisah. Jakarta bergerak di luar jendela: lampu merah, ojek online, mobil mewah, warung tenda di pinggir jalan, gedung yang kaca-kacanya memantulkan hidup orang lain. Seraphina menatap semua itu dengan perasaan aneh.
Kota yang sama pernah terasa seperti tempat yang hanya menunggunya tersandung.
Malam ini, kota itu terlihat seperti sesuatu yang bisa ia pilih untuk tinggali.
Di Teluk Mutiara, Sejuta sudah menunggu di balik pintu kaca. Begitu melihat Seraphina, anjing besar itu menekan hidungnya ke kaca dan mengibaskan ekor begitu kuat sampai seluruh tubuhnya ikut bergerak.
Seraphina baru turun dari mobil ketika Sejuta hampir menerjangnya.
"Sejuta," tegur Reynard.
Sejuta berhenti setengah meter di depan Seraphina, lalu duduk dengan sangat patuh. Dua detik kemudian, ia mengangkat satu kaki depan seperti meminta salam.
Seraphina menatap Reynard. "Kau mengajarinya?"
"Tidak."
"Jadi dia memang lebih sopan daripada kebanyakan orang di Jakarta."
"Aku tidak akan membantah."
Seraphina menyambut kaki Sejuta. "Halo juga."
Sejuta langsung berdiri dan menempelkan kepala ke sisi pahanya. Kehangatan tubuh anjing itu membuat Seraphina tersenyum tanpa sadar.
Reynard memperhatikan senyum itu seperti orang yang menemukan sesuatu lalu diam-diam takut membuatnya hilang.
"Ayo," katanya.
"Ke dapur?"
"Bukan malam ini."
Ia membawa Seraphina melewati ruang tamu, naik tangga ke lantai tiga. Selama ini, Seraphina hanya melihat bagian bawah dan dapur rumah itu. Lantai atas terasa lebih pribadi. Dindingnya dipenuhi rak buku rendah, beberapa foto hitam putih Jakarta lama, dan satu lorong kaca yang menghadap taman belakang.
Di ujung lorong, Reynard membuka pintu menuju tangga kecil.
Angin malam langsung menyentuh wajah Seraphina.
Teras atap Teluk Mutiara terbentang di bawah langit Jakarta. Tidak terlalu luas, tetapi dirancang seperti tempat untuk diam lama: lantai kayu, sofa rendah, tanaman dalam pot besar, lampu kecil di sepanjang pagar kaca. Di kejauhan, lampu gedung-gedung kota menyala seperti ribuan bintang yang jatuh terlalu dekat ke tanah.
Di satu sisi, meja kecil sudah disiapkan. Bukan makan malam besar. Hanya teh oolong panas, dua cangkir, sepiring buah, dan sebuah kotak kayu kecil.
Seraphina berhenti di ambang pintu. "Kau merencanakan ini."
"Ya."
"Sejak kapan?"
"Sejak kau bilang ingin mencoba."
"Itu baru subuh tadi."
"Aku bekerja cepat."
Seraphina menatapnya. "Aku mulai khawatir kalau suatu hari kau bilang bekerja pelan."
"Itu mungkin berarti aku sakit."
Ia tertawa kecil, lalu melangkah ke teras.
Angin membawa aroma laut jauh yang tipis, bercampur wangi tanaman basah dan teh. Di bawah sana, Teluk Mutiara sunyi, jauh dari suara keluarga Lim, jauh dari lounge, jauh dari kantor yang penuh kabel. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, Seraphina tidak memikirkan vendor, Kevin, Hendrawan, atau komentar orang.
Ia hanya berdiri di bawah langit dan menyadari Reynard sedang menatapnya, bukan kota.
"Kenapa di sini?" tanyanya.
Reynard berdiri di sampingnya. "Karena dari sini, Jakarta terlihat besar tapi tidak menelanmu."
Seraphina menatap garis lampu di kejauhan.
"Aku dulu merasa kota ini terlalu penuh," katanya. "Semua orang punya tempat. Aku tidak."
"Sekarang?"
Ia menarik napas. "Sekarang aku belum yakin. Tapi aku punya kantor kecil yang berantakan, tiga perempuan gila yang mengaku temanku, anjing serigala yang mengira aku bantal, dan..."
Ia berhenti.
Reynard menunggu.
Seraphina menoleh padanya. "Dan pacar rahasia yang terlalu pandai membuat jebakan romantis."
Mata Reynard berubah.
"Ulangi."
"Tidak."
"Sera."
"Kau mendengar."
"Aku ingin mendengar lagi."
Seraphina berpura-pura menatap kota. "Pacar rahasia."
Reynard menunduk sedikit, seperti dua kata itu menyentuh sesuatu yang sangat dalam di dadanya.
"Aku ingin lebih dari rahasia," katanya.
Seraphina menegang.
Reynard langsung melanjutkan, "Bukan sekarang. Aku tahu aturannya. Aku hanya ingin kau tahu, ketika waktunya datang, aku tidak akan ragu berdiri di sampingmu di depan siapa pun."
Seraphina menatapnya.
Selama ini, banyak orang ingin menggunakan dirinya di depan publik. Hendrawan ingin menempatkannya di meja Wijaya. Yolanda ingin menaruhnya sebagai bahan gosip. Kevin ingin menyeretnya menjadi bukti ego yang terluka.
Reynard justru menunggu ia memilih waktu.
"Aku takut," katanya jujur.
"Aku tahu."
"Kalau hubungan ini terbuka, mereka akan menyerang lebih keras."
"Mereka mungkin."
"Astoria bisa terseret."
"Bisa."
"Keluarga Lim akan menjadikannya senjata."
"Mungkin."
Seraphina mengerutkan kening. "Kau tidak membantu."
"Aku tidak mau berbohong dan bilang semuanya mudah." Reynard mengambil satu langkah mendekat. "Aku hanya bisa bilang, saat itu terjadi, kau tidak akan berdiri sendirian."
Angin menggerakkan rambut Seraphina. Reynard mengangkat tangan, berhenti sebentar meminta izin dengan tatapan. Seraphina tidak mundur. Ia merapikan helai rambut itu ke belakang telinganya.
Sentuhan kecil. Efeknya tidak kecil.
"Aku tidak pernah yakin tentang apapun dalam hidupku," kata Reynard pelan, "kecuali satu hal: aku ingin bersamamu."
Seraphina menutup mata sesaat.
Kalimat itu bukan janji berlebihan. Bukan sumpah megah. Tetapi di teras itu, dengan Jakarta membentang di bawah kaki mereka, ia terasa lebih nyata daripada semua kata keluarga yang pernah dipakai untuk menekannya.
"Rey."
"Aku tidak meminta kau menjawab dengan kata cinta malam ini," katanya. "Aku tidak akan menagih apa yang belum siap kau beri. Tapi aku ingin malam ini punya bentuk. Bukan hanya rahasia yang kita simpan di ponsel. Bukan hanya kata pacar yang muncul di sela rapat. Aku ingin kau punya satu ingatan yang ketika semuanya kacau, kau bisa kembali ke sini dan tahu bahwa ada satu orang yang memilihmu tanpa syarat transaksi."
Seraphina merasa matanya panas, tetapi kali ini ia tidak ingin menangis. Ia ingin mengingat.
"Kotak itu apa?" tanyanya untuk menahan suara.
Reynard mengambil kotak kayu kecil di meja. "Bukan cincin."
"Aku belum bertanya."
"Aku menjawab kepanikanmu sebelum muncul."
Seraphina hampir tertawa.
Di dalam kotak itu ada gantungan kunci kecil dari kulit hitam, sederhana, dengan huruf S yang dicetak kecil di sudut. Di baliknya ada tulisan sangat kecil:
Pintu ini juga milikmu.
Seraphina menyentuhnya dengan ujung jari.
"Untuk kunci Teluk Mutiara?"
"Ya. Yang lama terlalu kosong."
"Kau membuat gantungan kunci romantis?"
"Aku membuat penanda agar kau tahu kunci itu bukan benda asing."
Seraphina menggenggamnya. Kecil. Hangat karena baru keluar dari kotak. Tidak mahal seperti perhiasan, tetapi justru karena itu terasa lebih berbahaya. Ia bisa menolak berlian dengan mudah. Sulit menolak sebuah pintu yang dibuka untuknya.
"Aku belum tahu cara menjadi pacar yang baik," katanya.
"Aku belum tahu cara menjadi pacar yang tidak terlalu posesif."
Seraphina menatapnya.
Reynard tidak berkedip. "Aku sedang jujur."
"Itu terdengar seperti peringatan."
"Itu juga janji untuk belajar."
Seraphina menarik napas, lalu melangkah lebih dekat. "Kalau kau mulai terlalu posesif, aku akan mengingatkan."
"Aku akan mendengar."
"Kalau kau tidak mendengar?"
"Sejuta boleh menggigitku."
Seolah mendengar namanya, dari bawah terdengar gonggongan sekali.
Seraphina tertawa. Tawa itu lepas, tidak panjang, tetapi cukup untuk membuat Reynard menatapnya seperti seluruh Jakarta di belakang mereka mendadak tidak penting.
"Aku ingin mencoba, Rey," katanya. "Bukan hanya tidak lari. Aku ingin mencoba berjalan ke arahmu."
Reynard tidak menyentuhnya dulu.
Ia selalu belajar.
Seraphina yang mengangkat tangan, menyentuh sisi jasnya, lalu menarik sedikit.
Reynard menunduk.
Ciuman pertama mereka setelah kata pacar terasa berbeda dari semua sentuhan sebelumnya. Tidak terburu-buru, tetapi dalam. Tidak seperti malam hujan yang penuh pilihan nekat. Tidak seperti dapur yang dipenuhi batas hampir runtuh. Kali ini, ciuman itu punya nama.
Mereka.
Reynard memegang pinggangnya dengan hati-hati, dan Seraphina tidak mundur. Jakarta terbentang di bawah kaki mereka, tetapi untuk beberapa detik, dunia menyusut menjadi napas, hangat tangan, dan rahasia yang dipilih dengan sadar.
Ketika ciuman itu berhenti, Reynard tidak langsung menjauh. Ia tetap menunduk, napasnya menyentuh pelipis Seraphina.
"Masih rahasia?" tanyanya.
Seraphina membuka mata. "Untuk sekarang."
"Aku akan menunggu."
"Kau sudah sering bilang itu."
"Karena itu pekerjaanku sekarang."
"Menunggu?"
"Menjadi pacarmu sesuai aturanmu."
Seraphina menatapnya, lalu tersenyum pelan. "Pacarku cukup patuh malam ini."
Mata Reynard berubah begitu cepat sampai Seraphina tahu ia akan mengingat kata itu.
"Ulangi."
"Tidak."
"Sera."
"Kau terlalu mudah dimanjakan."
"Hanya olehmu."
Ponsel Seraphina bergetar di dalam tasnya.
Sekali.
Dua kali.
Ia tahu siapa bahkan sebelum melihat.
Namun ia tetap mengangkat wajah sedikit, membuka tas, dan melihat layar.
Hendrawan Lim.
Nama itu menyala, menuntut seperti biasa.
Seraphina menatap layar selama satu detik.
Lalu ia menekan tombol merah.
Panggilan terputus.
Ia meletakkan ponsel kembali ke tas, menatap Reynard, lalu berdiri lebih dekat.
"Di mana kita tadi?"