Naura diberi kesempatan hidup kedua setelah mati karena kerja dan keluarga yang terus memerasnya. Kali ini, ia menolak jadi ATM untuk orang tua dan adik laki-lakinya. Ia meninggalkan karier bergengsi di dunia keuangan Jakarta, lalu memilih bekerja sebagai pengelola rumah tangga profesional untuk keluarga elite.
Siapa sangka, keputusannya justru membawanya bertemu Arkan Pradipta, CEO dingin yang ditakuti banyak orang, tetapi kacau dalam urusan hidup sehari-hari.
Di antara kontrak kerja, rahasia masa lalu, keluarga toksik, dan perasaan yang makin sulit ditolak, Naura harus memilih: terus bersembunyi, atau merebut hidup yang sejak awal memang miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12
Rumah Arkan di Pondok Indah terlalu rapi untuk disebut rumah.
Itu pikiran pertama Naura ketika melewati foyer.
Lantai marmer bersih. Dinding putih abu. Lukisan abstrak mahal. Furnitur minimalis. Semua berada di tempatnya, tetapi tidak ada satu pun benda yang memberi tanda seseorang benar-benar tinggal di sana.
Tidak ada sandal sembarangan.
Tidak ada buku terbuka.
Tidak ada cangkir tertinggal.
Tidak ada aroma masakan.
Hanya dingin.
Arkan meletakkan kunci mobil di meja konsol.
"Ini rumahnya."
Naura menatap ruang tamu luas itu.
"Saya lihat."
"Kamu terdengar tidak terkesan."
"Rumah Bapak bagus."
"Tapi?"
Naura menahan diri.
Ia baru hari pertama. Tidak sopan mengkritik rumah klien.
Arkan menoleh. "Katakan saja."
"Rumah ini terasa seperti showroom."
Hening.
Naura langsung menambahkan, "Maaf, maksud saya sangat rapi."
Arkan menatap ruang tamunya sendiri.
"Memang jarang dipakai."
Jawaban itu tidak marah.
Naura sedikit lega.
Seorang perempuan paruh baya keluar dari arah dapur. Wajahnya tampak letih, tapi ramah.
"Mas Arkan."
"Mbak Siti."
Jadi ini pekerja lama yang hendak berhenti.
Mbak Siti menatap Naura. Tatapannya bukan cemburu atau tidak suka, melainkan kasihan.
Itu membuat Naura waspada.
"Mbak Naura, ya?" tanya Mbak Siti.
"Iya, Mbak."
"Semoga betah."
Arkan menatapnya. "Mbak Siti."
Mbak Siti langsung menutup mulut, lalu tersenyum canggung. "Maaf, Mas."
Naura ingin tertawa, tapi ditahan.
Mereka berkeliling rumah. Dapur sangat lengkap, tetapi sebagian besar alat masih terlihat baru. Kulkas penuh makanan kemasan sehat, buah yang hampir layu, dan kotak katering berlabel tanggal kemarin. Lemari bumbu rapi, tapi banyak yang belum dibuka.
"Bapak jarang masak," kata Naura.
"Tidak pernah."
Setidaknya jujur.
Ruang laundry berada di belakang. Semua mesin canggih. Ada layanan dry clean untuk jas dan kemeja formal. Pakaian rumah, handuk, dan perlengkapan tidur biasanya diurus Mbak Siti.
Kamar utama di lantai dua.
Naura berhenti di depan pintu.
"Untuk area pribadi, saya perlu tahu batasnya."
Arkan mengangguk. "Kamu boleh masuk untuk mengganti seprai dan mengambil laundry jika aku tidak di kamar. Kalau aku di dalam, ketuk dulu. Kalau tidak ada jawaban, jangan masuk."
"Baik."
Mbak Siti terlihat lega mendengar aturan itu.
Naura mencatat.
Saat masuk ke kamar, ia melihat tempat tidur besar yang rapi, meja kerja kecil, rak buku, dan balkon. Di satu sisi ada jam tangan, manset, beberapa dokumen, dan satu botol obat maag.
Naura menunjuk botol itu.
"Obat maag sering diminum?"
Arkan melirik. "Kadang."
Mbak Siti langsung berkata, "Sering, Mbak. Kalau telat makan."
Arkan menatapnya.
Mbak Siti pura-pura melihat lemari.
Naura mencatat tanpa komentar.
Setelah tur selesai, Mbak Siti menyerahkan beberapa kunci dan daftar kebiasaan rumah. Ia tampak benar-benar ingin pergi dengan damai.
"Mbak Naura, Mas Arkan bukan orang jahat," katanya saat Arkan menerima telepon di ruang kerja.
"Saya tidak berpikir begitu."
"Dia cuma... tidak tahu harus bilang apa kalau butuh sesuatu. Kalau lapar, diam. Kalau sakit, diam. Kalau baju habis, dia beli baru."
Naura menatapnya.
"Beli baru?"
"Pernah. Karena lupa laundry."
Naura menutup mata sebentar.
Orang kaya memang punya solusi yang kadang menyakiti akal sehat.
Mbak Siti melanjutkan, "Saya berhenti bukan karena Mas Arkan kasar. Anak saya baru melahirkan di Bekasi, saya mau bantu jaga cucu. Tapi rumah ini sepi sekali. Lama-lama saya ikut sepi."
Naura memandang ruang makan yang mengilap.
"Saya mengerti."
Mbak Siti tersenyum. "Semoga Mbak tidak ikut sepi."
Ucapan itu tertinggal setelah Mbak Siti pulang.
Arkan kembali dari ruang kerja.
"Dia sudah pergi?"
"Sudah."
"Kamu mau mulai hari ini atau besok?"
Naura melihat jam. Pukul lima lewat dua puluh.
"Hari ini. Bapak makan malam di rumah?"
"Ya."
"Ada pantangan?"
"Tidak."
"Ada yang tidak disukai?"
Arkan berpikir.
"Makanan yang terlalu manis."
"Selain itu?"
"Tidak suka ikan yang banyak duri."
"Pedas?"
"Sedang."
"Porsi?"
"Tidak banyak."
Naura mengingat Bu Marini berkata: jangan percaya.
"Baik."
Ia membuka kulkas dan lemari bahan. Dengan bahan yang ada, ia memutuskan membuat nasi, ayam panggang bumbu kecap ringan, tumis brokoli bawang putih, sup tahu rumput laut, dan sambal kecil.
Arkan duduk di meja makan sambil membuka laptop.
"Pak Arkan."
"Ya?"
"Kalau bekerja di meja makan, nanti sulit makan."
Arkan menatap laptopnya.
Seolah baru sadar meja makan bukan ruang rapat.
"Saya pindah."
Ia membawa laptop ke ruang kerja.
Naura memasak dengan tenang. Dapur yang tadinya seperti ruang pamer perlahan berubah. Wajan berbunyi. Bawang putih harum. Sup mendidih kecil. Nasi matang.
Pukul enam tiga puluh, makan malam siap.
Naura mengetuk pintu ruang kerja.
"Pak Arkan, makan malam."
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi.
"Pak?"
Masih hening.
Naura mengingat aturan: kalau tidak ada jawaban, jangan masuk untuk kamar. Tapi ini ruang kerja. Kontrak mengizinkannya memanggil untuk makan.
Ia membuka pintu sedikit.
Arkan duduk di kursi kerja, satu tangan menekan perut bagian atas, wajahnya pucat.
Naura langsung masuk.
"Pak Arkan?"
Ia mengangkat kepala. "Tidak apa-apa."
"Maag?"
"Sedikit."
"Sudah makan siang?"
Arkan diam.
Itu jawaban.
Naura menahan napas agar tidak terdengar menghakimi.
"Saya ambil air hangat dulu. Makan malam sudah siap. Jangan langsung makan sambal."
"Saya bisa."
"Saya tidak tanya bisa atau tidak, Pak."
Kalimat itu keluar tegas.
Arkan menatapnya.
Naura baru sadar ia bicara seperti kepada Bagas yang keras kepala. Bedanya, Arkan bukan adiknya. Ia klien.
"Maaf. Maksud saya, kalau perut sedang sakit, sebaiknya mulai dari sup hangat."
Arkan berdiri perlahan.
"Baik."
Ia mengikuti ke ruang makan.
Naura menyajikan sup terlebih dahulu. Arkan memakannya tanpa protes. Warna wajahnya perlahan membaik.
Ketika ia mulai mengambil ayam, Naura memindahkan sambal sedikit lebih jauh.
Arkan melihat gerakan itu.
"Kamu menyita sambal saya?"
"Menjauhkan sementara."
"Itu berbeda?"
"Secara hukum mungkin."
Arkan menatapnya beberapa detik.
Lalu ia menunduk makan.
Naura merasa sudut bibirnya hampir naik.
Setelah makan malam, Arkan membawa piringnya ke dapur.
Dengan sangat hati-hati.
Kali ini tidak ada yang pecah.
Naura berkata, "Terima kasih, Pak."
Arkan meletakkan piring di wastafel.
"Saya belajar."
"Terlihat."
"Itu pujian?"
"Anggap saja."
Ia menggunakan kalimat Pak Aditya.
Arkan menyadarinya. Telinganya sedikit merah.
Naura mulai mencuci piring. Arkan masih berdiri di sana.
"Pak, Bapak bisa istirahat."
"Saya tidak menghalangi."
"Bapak berdiri di depan laci sabun."
Arkan melihat ke bawah, lalu bergeser.
Kali ini tepat menghalangi tempat sampah.
Naura berhenti.
Arkan mengikuti arah matanya, lalu bergeser lagi.
"Saya sebaiknya keluar."
"Itu pilihan yang aman."
Ia keluar dari dapur.
Naura akhirnya tertawa pelan.
Malam pertama berjalan lebih baik daripada yang ia takutkan.
Sampai pukul delapan lewat lima belas.
Naura sedang memeriksa stok kamar mandi tamu ketika terdengar suara pecah dari lantai dua.
Keras.
Ia berlari ke arah tangga.
"Pak Arkan?"
Tidak ada jawaban.
Ia naik cepat dan menemukan pintu kamar utama terbuka. Di dalam, Arkan berdiri di dekat meja kecil. Di lantai, pecahan cangkir berserakan. Air teh menyebar di karpet.
Jari telunjuk kanannya berdarah.
Naura menatap darah itu.
Arkan menatap pecahan cangkir.
Wajahnya masih dingin.
Telinganya merah padam.
"Cangkirnya licin," katanya.
Naura menarik napas.
Hari pertama.
Baru hari pertama.
Ia masuk perlahan.
"Pak Arkan, jangan bergerak. Kacanya kecil-kecil."
jgn setengah 2 ya