"Tandatangani kontrak ini, maka seluruh utang keluargamu lunas dan ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik malam ini juga."
Bagi Viona (23 tahun), dunia ini tidak pernah ramah. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dari ancaman rentenir kejam, dia terpaksa membuang harga dirinya sedalam mungkin. Di bawah guyuran hujan badai, dia menjual kebebasannya kepada seorang pria asing yang ternyata adalah penguasa bisnis paling ditakuti di ibu kota—Arkan Mahendra (29 tahun).
Arkan adalah pria berwajah dewa yang berhati es. Baginya, Viona hanyalah mainan eksklusif yang dia beli untuk memuaskan obsesi dan gairahnya. Hubungan mereka adalah rahasia mutlak. Di siang hari, Viona hanyalah staf administrasi biasa yang tak terlihat. Namun di malam hari, dia adalah wanita yang terkurung dalam pesona membara sang CEO dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Realita Sang Nyonya dan Boneka Tuan
Udara berpendingin di dalam kafe Le Petit mendadak terasa membekukan tulang. Viona duduk mematung di kursinya, menatap wanita cantik beraura aristokrat di hadapannya dengan dada yang terasa sesak. Katakata Clarissa baru saja mengoyak sisasisa kewarasan yang Viona coba pertahankan selama menjadi wanita simpanan Arkan Mahendra.
Tunangan resmi. Calon nyonya sah.
Dua frasa itu terus bergaung di kepala Viona, menabuh genderang kesakitan yang tak kasat mata. Viona menarik napas dalamdalam, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Dia tidak boleh terlihat hancur di depan wanita ini.
Clarissa merogoh tas Hermes edisi terbatasnya dengan gerakan anggun yang terlatih, mengeluarkan sebuah buku cek kecil dan pena berukir emas. Tanpa repotrepot menatap Viona, wanita itu menuliskan deretan angka yang jumlahnya fantastis, lalu merobek kertas itu dan mendorongnya melintasi meja ke hadapan Viona.
"Aku tahu wanitawanita sepertimu hanya mencari satu hal dari pria sekelas Arkan," ucap Clarissa dengan nada merendahkan yang kental, senyum tipisnya melukiskan kemenangan mutlak. "Ambil cek ini. Jumlahnya pasti jauh lebih besar dari apa yang Arkan berikan padamu setiap bulannya. Gunakan uang ini untuk pergi sejauh mungkin dari Jakarta, dan jangan pernah menampakkan wajahmu di depan tunanganku lagi."
Viona menunduk, menatap selembar kertas berharga yang kini tergeletak di depannya. Matanya memanas. Beginilah pandangan dunia terhadapnya. Seorang pengeruk harta, seorang perusak hubungan, seorang wanita murah yang bisa diusir dengan lembaran uang.
Namun, rasa sakit yang dia rasakan saat ini ternyata lebih besar dari sekadar harga diri yang diinjak. Ada denyut nyeri yang aneh di ulu hatinya saat menyadari bahwa Arkan—pria yang setiap malam merengkuhnya dengan gairah yang begitu membara—ternyata telah memiliki tempat berlabuh yang sah.
Dengan tangan yang sedikit gemetar namun pasti, Viona mendorong kembali cek tersebut ke arah Clarissa.
Clarissa menaikkan sebelah alisnya yang terbentuk sempurna, tampak terkejut namun sekaligus terhina oleh penolakan itu. "Kau merasa jumlahnya kurang? Jangan serakah, Viona. Uang ini sudah cukup untuk menghidupi tujuh turunan orangorang dari kelas sosialmu."
"Anda salah paham, Nona Clarissa," suara Viona akhirnya keluar, pelan namun luar biasa dingin. Dia menatap lurus ke sepasang mata Clarissa yang dibingkai riasan sempurna. "Saya tidak menginginkan uang Anda. Dan saya... tidak pernah berniat merebut Tuan Arkan dari Anda."
"Lalu apa rencanamu? Tetap menjadi benalu di hidupnya?" desis Clarissa tajam.
"Jika Anda ingin saya pergi," Viona menelan ludah, menahan bongkahan batu imajiner yang menyumbat tenggorokannya, "maka bicaralah pada tunangan Anda. Mintalah dia merobek kontrak yang mengikat saya. Karena selama Tuan Arkan tidak melepaskan saya, saya tidak memiliki kuasa apa pun untuk pergi dari sangkar yang dia buat."
Wajah Clarissa memerah menahan amarah mendengar kelancangan Viona. Wanita sosialita itu tidak terbiasa dibantah, apalagi oleh seseorang yang dia anggap berada jauh di bawah levelnya.
"Kau benarbenar wanita jalang yang tidak tahu diri," desis Clarissa, bangkit berdiri dengan kasar hingga kursinya berderit di atas lantai kayu kafe. "Kita lihat saja nanti, Viona. Aku akan memastikan Arkan sendiri yang menendangmu keluar dari hidupnya seperti anjing liar."
Clarissa mengenakan kembali kacamata hitamnya dengan angkuh, berbalik, dan melangkah pergi meninggalkan kafe, meninggalkan aroma parfum vanila mahalnya yang membuat perut Viona terasa mual.
Sepeninggal Clarissa, pertahanan Viona akhirnya benarbenar runtuh. Setetes air mata yang sedari tadi ditahannya lolos melewati pipinya. Dia menundukkan kepala dalamdalam, menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangannya. Kenapa rasanya sesakit ini? Bukankah dia seharusnya bahagia jika ada wanita lain yang bisa mengambil alih perhatian Arkan darinya? Bukankah itu berarti dia bisa segera bebas dari kontrak berdarah ini?
Namun hati kecilnya tidak bisa berbohong. Terbiasa dengan dominasi, sentuhan, dan tatapan posesif Arkan membuat Viona tanpa sadar mulai menumbuhkan perasaan yang dilarang keras untuk tumbuh. Dia telah jatuh cinta pada pria yang tidak akan pernah bisa dia miliki.
Malam itu, Viona pulang ke penthouse lebih awal dari biasanya. Dia merasa terlalu lelah, baik secara fisik maupun mental, untuk kembali ke kantor logistik. Bosnya pasti memaklumi, mengingat reputasi buruk yang kini melekat pada Viona semenjak kedatangan Arkan tempo hari.
Viona berdiri di depan cermin raksasa di dalam kamar mandi utama. Dia menatap pantulan dirinya sendiri dengan tatapan kosong. Mengingat perintah Arkan semalam, serta menyadari posisinya yang baru saja ditampar telak oleh realita, Viona memutuskan untuk melakukan hal yang paling menyakiti hatinya sendiri: dia akan menjadi boneka sempurna yang Arkan inginkan.
Viona membuka lemari pakaian, mengabaikan piyama katun dan sweter longgar yang biasa dia jadikan tameng pelindung. Tangannya terulur mengambil sehelai gaun malam berbahan satin sutra berwarna merah marun yang sangat tipis dan mengekspos lekuk tubuhnya. Dia merias wajahnya tipis, menyisir rambut panjangnya hingga tergerai indah di punggungnya, lalu menyemprotkan parfum favorit Arkan ke pergelangan tangan dan lehernya.
Jika dia memang hanya sebuah barang sewaan, maka malam ini dia akan bersikap layaknya barang sewaan yang tidak memiliki hati dan perasaan. Hanya dengan cara itu dia bisa melindungi sisasisa kewarasannya agar tidak hancur lebur oleh rasa cemburu.
Pukul setengah sembilan malam, suara pintu utama yang terbuka memecah keheningan penthouse.
Langkah kaki tegap yang sangat familiar itu terdengar melintasi lorong. Arkan Mahendra muncul di ambang pintu ruang tengah, masih mengenakan setelan jas kantornya yang rapi. Pria itu tampak lelah, namun sepasang mata elangnya langsung memancarkan kilat tajam saat mendapati Viona sedang duduk di atas sofa beludru, menunggunya dengan penampilan yang luar biasa menggoda.
Langkah Arkan terhenti sejenak. Keterkejutan melintas di matanya. Viona yang biasanya selalu melawan, menghindar, dan menutupi tubuhnya rapatrapat, malam ini justru menyuguhkan dirinya secara sukarela. Gaun merah marun itu membalut kulit putih Viona dengan kontras yang memabukkan.
"Kau... terlihat berbeda malam ini," suara bariton Arkan terdengar sedikit serak saat dia melangkah mendekat. Pria itu melonggarkan dasinya, membuang jasnya sembarangan ke atas kursi terdekat.
Viona berdiri dari sofa. Senyum palsu yang telah dia latih di depan cermin selama berjamjam akhirnya terukir di bibirnya—senyum yang cantik, menggoda, namun tidak pernah mencapai matanya.
"Selamat datang kembali, Tuan Arkan," sapa Viona dengan nada yang dibuat semanja mungkin, meniru cara bicara wanitawanita sosialita yang sering dia lihat di televisi. "Apakah hari Anda melelahkan di kantor?"
Kening Arkan berkerut dalam. Alihalih merasa senang dengan sambutan itu, insting dominannya justru merasa ada sesuatu yang sangat salah. Dia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka, lalu menangkup wajah Viona dengan kedua tangan besarnya. Jempol kasarnya mengusap tulang pipi Viona dengan gerakan menilai.
"Apa yang terjadi padamu hari ini?" tanya Arkan, suaranya merendah, menuntut kejujuran. "Di mana Viona yang selalu menatapku dengan tatapan memberontak?"
"Memberontak hanya akan membuat Anda marah, bukan?" Viona menjawab dengan senyum yang tidak luntur, meskipun hatinya menjerit kesakitan. "Saya sudah merenungkan posisi saya, Tuan. Anda sudah membayar mahal untuk tubuh dan waktu saya. Bukankah sudah kewajiban saya untuk memuaskan Anda tanpa banyak mengeluh?"
Rahang Arkan mengeras. Katakata itu terdengar persis seperti apa yang selalu dia tuntut dari Viona, namun saat mendengarnya keluar langsung dari bibir gadis ini dengan nada sekosong itu, Arkan merasa seolah ada seseorang yang baru saja meninju ulu hatinya. Dia benci ini. Dia benci tatapan mati di mata Viona.
"Jangan bermainmain denganku, Viona. Katakan padaku, siapa yang mengganggumu hari ini? Apakah pria sialan di kantormu itu mencarimu lagi?!" kilat kemarahan dan kecemburuan kembali menyala di mata Arkan. Cengkeramannya di rahang Viona sedikit menguat.
"Tidak ada yang mengganggu saya, Tuan," dusta Viona lancar. Dia mengangkat kedua tangannya, mengalungkannya di leher kokoh Arkan, menarik tubuh pria itu agar merapat padanya. "Saya hanya menyadari... bahwa saya tidak berhak menuntut apa pun dari Anda. Lagipula, saya tidak ingin merusak kebahagiaan Anda bersama... tunangan Anda yang sempurna."
Udara di sekitar mereka mendadak membeku. Tubuh Arkan menegang seketika. Kedua tangannya yang berada di rahang Viona merosot turun, mencengkeram pinggang ramping gadis itu dengan kekuatan yang nyaris menyakitkan.
"Siapa yang memberitahumu tentang hal itu?" desis Arkan, suaranya berubah menjadi geraman rendah yang sangat berbahaya.
Viona menahan napas, menatap langsung ke dalam badai yang berkecamuk di mata hitam Arkan. "Apakah itu penting, Tuan? Jakarta ini sempit bagi orangorang dari kalangan atas seperti Anda. Cepat atau lambat, berita tentang Nona Clarissa pasti akan terdengar."
Mendengar nama Clarissa meluncur dari bibir Viona, amarah Arkan meledak. Dia tahu dengan pasti bahwa Clarissa pasti telah menemui Viona di belakang punggungnya. Ego sang CEO terluka parah—bukan karena rahasianya terbongkar, melainkan karena ada orang lain yang berani menyentuh miliknya tanpa izin. Arkan benci fakta bahwa Clarissa telah masuk ke dalam wilayah yang hanya boleh diisi olehnya dan Viona.
"Dengarkan aku baikbaik," Arkan menarik pinggang Viona hingga tubuh mereka menempel tanpa celah, matanya menatap tajam, menembus pertahanan palsu yang Viona bangun. "Apa yang terjadi di luar sana, siapa pun wanita yang disandingkan dengan namaku di atas kertas... itu bukan urusanmu. Dan mereka tidak berhak menyentuhmu."
"Tentu saja itu bukan urusan saya," jawab Viona, air mata mulai mengkhianatinya, menggenang di pelupuk matanya meski dia masih memaksakan senyum. "Saya hanya simpanan Anda. Saya hanya rahasia kotor di balik kesempurnaan hidup Tuan Arkan Mahendra."
"Diam!" bentak Arkan, frustrasi oleh jarak tak kasatmata yang tibatiba membentang luas di antara mereka. Pria itu tidak tahan lagi melihat senyum palsu di bibir Viona.
Dengan gerakan kasar yang dipenuhi oleh keputusasaan dan gairah yang menggelap, Arkan membungkam bibir Viona dengan ciuman yang menuntut. Pria itu melampiaskan seluruh amarah, kebingungan, dan rasa posesifnya melalui pagutan tersebut. Dia menggigit pelan bibir bawah Viona, memaksa gadis itu untuk membuka mulutnya, mendominasinya secara mutlak untuk membuktikan bahwa di ruangan ini, Vionanya tidak boleh memikirkan nama orang lain selain dirinya.
Viona memejamkan mata, air matanya akhirnya jatuh membasahi pipi. Dia tidak membalas ciuman itu, namun juga tidak menolaknya. Dia membiarkan dirinya tenggelam dalam bara gairah yang disulut oleh sang CEO, membiarkan tubuhnya diakuisisi, sementara hatinya perlahanlahan membeku menjadi balok es yang tak akan pernah bisa dihangatkan lagi. Di dalam sangkar emas ini, malam panjang yang penuh siksaan batin baru saja dimulai.
bener sih kecewa sama perbuatan anak,tapi semua itu buat nyambung hidup mu.