NovelToon NovelToon
Sisi Yang Tak Ingin Ku Tunjukkan

Sisi Yang Tak Ingin Ku Tunjukkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / Teen
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: See You Soon

Warning! Reverse Harem!!


Ratu Ahimsa Yunanda hanya ingin menjadi siswi SMA biasa. Di tahun ajaran barunya, Yuna sudah membuat satu keputusan sederhana:

Jangan mencolok.

Jangan sampai orang lain menyadari bahwa cara berpikirnya tidak seperti kebanyakan orang.

Bagi Yuna, menjadi terlalu berbeda hanya akan membuatnya sulit diterima. Maka ia belajar menahan diri.

Menahan analisis yang terlalu dalam.

Bahkan menahan komentar-komentar yang sebenarnya sudah berdesakan di kepalanya.

Ia hanya ingin menjalani masa SMA seperti remaja lainnya.

Namun ternyata, menyembunyikan dirinya sendiri jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.

Sebab tanpa disadari Yuna, justru sisi dirinya yang paling berusaha ia tutupi mulai menarik perhatian tiga orang pemuda. Dan terpaksa menghadapi satu masalah yang tidak pernah masuk dalam perhitungannya.

Bagaimana jika orang-orang yang selama ini ingin ia jauhi justru menjadi orang-orang yang paling memahami dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kunjungan ke galeri seni

Angga akhirnya mematikan mesin motornya. Suara dengungan mesin yang sebelumnya bergema halus pun seketika diam.

Tangannya melepas helm hitam yang sedari tadi menutupi rambutnya, lalu menggantungkannya pada spion sebelah kiri.

Ia menarik napas pelan sejenak. Kemudian melangkah memasuki halaman rumah.

"Assalamualaikum..."

Nazwa pun bergegas menghampiri pintu sembari sedikit merapikan rambutnya yang disanggul sederhana dengan jepit rambut. Senyum hangat terbaiknya pun langsung terpatri di wajahnya.

"Waalaikumsalam. Temen SMA Yuna ya?"

"Iya, Kak."

Angga segera mengulurkan tangan. Nazwa dengan ramah membalas salaman itu.

"Makasih loh udah repot-repot jemput adekku."

"Sama-sama, Kak. Nggak repot juga kok," ucapnya sembari membungkuk kecil.

Di sampingnya, Yuna juga mengangguk pelan.

"Terimakasih sudah tepat waktu."

Gadis itu ikut menyalami teman sekelasnya sejenak.

Sederhana. Tanpa rasa canggung yang menyelinap.

Sementara di belakang, Yuda yang tiba-tiba duduk di sofa sembari berakting merokok—meski asapnya sudah padam—ikut mendongak kearah pintu.

Namun bukannya memberikan tatapan ramah seperti istrinya Nazwa, matanya justru tidak berkedip sedikit pun.

Pandangannya menyipit. Seolah sedang menginterogasi seorang tersangka kasus besar.

Melihat gelagat aneh itu,

"Ayo duduk dulu. Pasti capek kan? Rumahnya di mana emang?"

Nazwa buru-buru mempersilahkan teman cowok Yuna itu untuk segera masuk sebelum situasi semakin runyam.

Angga langsung menggeleng sopan.

"T-tidak usah, Kak. Terima kasih. Takut kemalaman nanti nugasnya."

"Oh begitu? Yaudah, nggak apa-apa."

Nazwa mengangguk maklum.

Angga pun ikut terkekeh ramah.

Namun...

Tanpa sengaja Angga melirik lagi ke arah Yuda. Dengan tatapan yang masih sama. Bahkan mungkin belum berkedip semenjak kehadirannya.

"...."

Angga refleks menggaruk tengkuknya.

Dan untuk memecah kecanggungan,

"Sore, Bang."

Yuda hanya mengangguk.

Angga pun mengulurkan tangan untuk bersalaman.

Namun uluran tangan itu hanya ditatap saja oleh Yuda—tanpa berniat untuk menyambutnya. Membiarkan tangan Angga menggantung beberapa detik.

"..."

Angga perlahan menariknya kembali.

"O-oke."

Angga refleks menggaruk tengkuknya.

Tiba-tiba—

"Kalau pulang kemaleman, gue jemput."

Nazwa yang mendengar jawaban itu, sontak menoleh dengan tatapan setajam silet.

Sementara Yuna masih berdiri polos. Belum mengerti kenapa suasana mendadak aneh.

Melihat keadaan mulai tidak kondusif, Nazwa buru-buru mendorong pelan punggung Yuna.

"Ayo."

"Eh?!"

Yuna yang belum siap sampai menyeret sedikit telapak sepatunya di atas keramik.

"Kak?"

"Udah sana. Kelamaan nanti"

Dorongan kecil itu membuat Yuna terhuyung satu langkah ke depan. Lalu berjalan menuju kearah motor Angga.

Angga spontan mengangguk cepat.

"Y-yaudah yuk."

Dari belakang, Nazwa melambaikan tangan lebar-lebar.

"Jangan malam-malam ya, Dek! Love you, Yunaa!"

Yuna hanya membalas dengan anggukan kecil.

"Love you too, Kak."

Angga yang melihat interaksi kakak-adik ipar itu ikut tersenyum tipis.

Namun sebelum pergi, ia kembali menghampiri Nazwa untuk berpamitan sekali lagi.

"Pamit dulu ya, Kak."

"Iya."

Nazwa membalas salaman itu. Kemudian berbisik di dekat telinga Angga.

"Jangan ngebut ya. Yuna gak terlalu suka cowok pembalap."

Wajah Angga langsung memerah.

"I-iya, Kak. T-tenang aja."

Nazwa terkekeh puas.

"Nah gitu dong."

Kini tinggal satu orang lagi. Ke tempat sosok yang bersemayam dengan duduk bersila. Dengan rokok yang telah padam asapnya.

Namun baru saja ia hendak mengulurkan tangan kepada Yuda—

"Awas aja ya."

Yuda mendadak berdiri.

"Kalau lu pulangnya kemaleman..."

"Gue lacak lu."

"Gue kepret lu."

"Gue—"

Pluk!

Sebuah tangan ramping beraroma sabun langsung menutup mulut Yuda.

"Mmmhh!"

"Mmmhh!!"

Yuda meronta.

Nazwa langsung memiting leher suaminya sembari tersenyum manis. Sungguh pemandangan yang kontras antara ekspresi dengan perlakuannya sekarang.

"Udah sana. Keburu magrib."

Angga meringis ketakutan.

"Eee... baik, Kak. Saya pamit dulu."

Ia segera membungkukkan badan. Lalu hampir setengah berlari menuju motornya.

Di sana, Yuna sudah berdiri tenang di samping motor.

Begitu Angga duduk di jok depan, ia buru-buru memasukkan kunci.

"Ceklek."

Mesin kembali menyala.

Yuna pun ikut naik dengan sedikit berhati-hati. Karena mengenakan rok, ia pun duduk menyamping.

Motor melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan halaman. Sedikit lebih cepat ketimbang saat ia datang. Seolah ingin mencoba kabur dari kejaran sesuatu.

Semakin jauh.

Hingga akhirnya menghilang di tikungan perempatan.

...****************...

Motor matic berwarna hitam metalik itu melaju membelah jalanan sore. Melintasi jalanan kota yang masih cukup ramai oleh kendaraan umum dan pribadi yang berlalu lalang.

Angin berembus lembut membuat ujung rok Yuna menjadi sedikit berkibar. Karena duduk menyamping, salah satu tangannya mencengkeram pegangan belakang motor. Sedangkan tangan satunya memeluk tas punggung hitam yang bertumpu di pangkuannya.

Suasana beberapa menit pertama hanya diisi deru mesin. Membiarkan suara bising knalpot dan klakson memenuhi sekeliling mereka.

Setelah itu, barulah Angga membuka percakapan.

"Yun?"

"Hm?"

"Ega tadi sempat chat. Kalo dia hadirnya nggak bisa lama-lama."

Angga memperlambat motornya ketika lampu lalu lintas berubah merah, kemudian berhenti di antara barisan motor yang menunggu giliran berbelok.

"Ega bilang..."

"...habis foto buat dokumentasi kelompok, dia izin pulang dulu. Katanya ada urusan keluarga yang gak bisa ditinggal."

Yuna mengangguk pelan.

"Itu berarti..."

"...tinggal kita berdua?"

"Iya."

Angga buru-buru menambahkan.

"Eh... maksudku buat observasi."

"Soalnya dia bilang nanti bagian ngetik laporan, edit foto, sampai presentasi biar dia yang kerjain. Biar ada kontribusi dikit lah."

Yuna berpikir beberapa detik.

"Oh baiklah. Sepertinya bukan masalah."

Lampu lalu lintas berubah hijau. Asap knalpot memukul wajah Angga hingga ia terbatuk singkat. Membuatnya buru-buru memutar gas.

"Jadi..."

"Aku sama kamu tinggal observasi sama bikin catatan aja."

Yuna mengangguk lagi.

Meski gerakan kepala itu hanya terpantau melalui spion kiri di pandangan Angga. Namun itu sudah cukup baginya.

Suasana pun kembali hening.

Motor terus melaju melewati deretan pertokoan yang mulai dipenuhi lampu-lampu menjelang petang.

Dalam hati, Angga tersenyum tipis.

Ia sempat mengira perjalanan ini akan terasa canggung karena sikap Yuna waktu dikelas memang sedikit pendiam.

Namun ternyata...

Mengobrol dengan Yuna jauh lebih mudah daripada yang dibayangkannya. Meski hampir setiap jawaban gadis itu terdengar seperti laporan hasil penelitian.

.....

Setelah melewati beberapa tikungan dan menyeberangi beberapa perempatan, motor yang ditumpangi Angga perlahan sedikit melambat. Lalu mulai menepi ke bahu jalan sebab lingkungan disekitarnya nampak familiar di penglihatannya.

Deretan pepohonan trembesi yang menaungi jalan utama mulai berganti dengan kawasan pusat kota. Lalu lintas juga masih cukup ramai meski tak sampai membuat macet.

Di sisi kiri jalan berdiri Pendopo Kabupaten.

Bangunan joglo besar dengan tiang-tiang kayu jati berukir itu tampak teduh diterpa cahaya matahari sore. Halamannya begitu luas. Hamparan rumput hijau membentang rapi, diselingi beberapa pohon beringin tua yang usianya mungkin jauh lebih tua daripada para pengunjung yang berlalu-lalang di sekitarnya.

Beberapa keluarga tampak duduk santai di bawah pohon. Anak-anak kecil berlarian mengejar gelembung sabun yang ditiup seorang pedagang keliling.

Tak jauh dari sana, beberapa mahasiswa sibuk memotret bangunan pendopo menggunakan kamera DSLR. Sedangkan tepat di seberangnya, berdiri sebuah bangunan bergaya modern yang didominasi dinding kaca tinggi.

Di atas pintu masuknya terpasang sebuah papan sederhana.

Galeri Seni Rupa Kabupaten.

Bangunannya tidak terlalu megah.

Namun bersih.

Tenang.

Dan memiliki halaman kecil yang dihiasi patung-patung abstrak dari besi, kayu, hingga batu alam.

Angga memarkir motornya di area parkir yang sudah dipenuhi kendaraan.

"Ramai banget..." gumamnya sambil melepas helm.

Yuna ikut turun perlahan. Merapikan rok dan tas punggungnya sejenak. Lalu pandangannya ikut menyapu area sekitar.

Tanpa sadar, pupil matanya membesar memperhatikan ornamen dan dekorasi yang ditampilkan oleh bangunan ini.

"Sangat ramai..." batinnya memperhatikan.

"Sekitar tiga sampai empat kali daripada hari-hari biasa."

"Ayo masuk."

Suara Angga spontan membuyarkan lamunannya.

"Eh, iya!"

Mereka berjalan berdampingan menuju pintu masuk. Semakin dekat, semakin terlihat bahwa sebagian besar pengunjung ternyata seusia mereka.

Ada yang masih mengenakan seragam Pramuka lengkap. Ada pula yang memakai batik sekolah. Beberapa siswi membawa map transparan berisi lembar observasi.

Sedangkan sekelompok siswa lain sibuk bergantian berfoto di depan sebuah patung logam berbentuk burung.

"Kayaknya banyak yang nugas juga," ujar Angga.

Yuna hanya mengangguk. Tanpa berkomentar.

Di dekat meja informasi, seorang guru dari sekolah lain tampak menjelaskan sesuatu kepada murid-muridnya.

Di sudut ruangan lain, terdengar suara pelan seorang pemandu galeri yang sedang menerangkan sejarah sebuah lukisan kepada rombongan pengunjung.

Suaranya bergema lirih. Cukup menjadi gumaman latar yang membuat suasana galeri terasa hidup.

Yuna berhenti sejenak. Matanya mengamati langit-langit bangunan yang menjulang tinggi.

Pencahayaan putih kekuningan memantul lembut pada lantai granit. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan dengan berbagai ukuran.

Ada yang realistis.

Ada yang impresionis.

Ada pula kanvas abstrak yang dipenuhi sapuan warna tanpa bentuk pasti.

Jarak antar lukisan dibuat cukup renggang. Memberi ruang bagi setiap karya untuk "bernapas" tanpa saling mengganggu perhatian pengunjung.

"Ini..."

"Begitu hening..."

Angga ikut mengangguk.

"Bener..."

"Mirip-mirip kek perpustakaan."

Belum sempat mereka melangkah lebih jauh—

"Angga!"

Panggilan itu menggema diantara patung-patung yang berdiri diam. Lalu muncullah seseorang melambaikan tangan dari arah lobi.

Di tangannya tergenggam sebuah kamera ponsel dan map plastik bening berisi lembar tugas apresiasi seni.

"Wah, akhirnya kalian datang juga!"

1
Arni Arlinawati pratiwi
gak gitu juga thor.. 😭😭
Arni Arlinawati pratiwi
ya allah.. lucu banget, mana kebayang lagi mereka kayak gimna pindah nya.. /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
bener lagi kayak bicara sama ai.. /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
ya ya.. masih menjadi murid SLTA sederajat keseharian mah masih sama.. tumpukan tugas sisa pembelajaran dari guru setiap hari.. adalah makanan sehari hari mereka yang masih sekula, biasa.. /Proud/
Arni Arlinawati pratiwi
cepet nya udah 1 bulan aja nak.. masa masih canggung canggungan sama temen sekelas, gak kan.. 💪
My_Lucia
wihhh ... ternyata paket komplit.. 🤭
My_Lucia
tuh kannn .. ganteng banget tau dia ini /Shy/
My_Lucia
widihh Angga cowok tampan dan berprestasi ini jago olahraga ga ya 🤭
My_Lucia
mau di analisis lagi Bae dia mah 🤣
sebelumnya lebar lapangan
My_Lucia
cowok tengil begini biasanya jadi idola di sekolah sih 🤭
M. T🌻
ihhh baca ini jadi kangen sekolah🤭
kenzi moretti
dito udh terbayang-bayang yuna/Chuckle/
kenzi moretti
duh blak-blakan sekali perkataanmu😌
kenzi moretti
coba lagi besok dito/Chuckle/
kenzi moretti
seseorang ada yg berkata "haremnya yuna nambah"/Sweat/
Moon.: tenang kak. si @Europa. fujoshi udah ku blokir kok dari sini./Smile/
total 1 replies
Europa.
yudi???
Moon.: biarin wlee
total 3 replies
Europa.
ini yuna kalau ngomong nusuk+nyakitin banget, yuda sama najwa aja dulu pernah kena keknya🗿
Europa.: tidak ada yg lolos dari pedang yuna
total 2 replies
Europa.
alasan mau ngerjain sosi inimah, aslinya pengen disamping yuna
Europa.
ughh, sakitnyee
Europa.
wahhh, ini my kisahnya yunaa, akhirnya muncul
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!