Nathan, seorang polisi yang gagal menjalankan tugasnya, menemui akhir yang tragis. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan mengirimnya kembali ke masa ketika ia baru memulai karier sebagai polisi.
Kali ini, Nathan bertekad mengubah nasibnya. Dengan bantuan sebuah sistem misterius yang memberinya hadiah setiap kali berhasil menangkap penjahat, ia akan memburu para kriminal satu per satu dan memperbaiki semua penyesalan di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Pengadilan
"Normal?" Nathan menyilangkan tangan di dada, menatapnya tidak percaya.
"Mana ada orang normal yang menikmati siksaan fisik seperti itu? Sudahlah, duduk di situ. Aku ambilkan kotak P3K dulu untuk mengobati lukamu."
Nathan melangkah ke dapur dan kembali membawa kotak P3K berwarna putih.
Ia duduk di samping Lisa, menyalakan lampu meja yang lebih terang, lalu mulai membersihkan luka lebam di pipi Lisa menggunakan kapas dan alkohol antiseptik.
Lisa duduk diam, matanya memperhatikan setiap gerakan jemari Nathan yang telaten dan hati-hati.
"Kamu seperti orang tua ya, Nathan," cetus Lisa tiba-tiba.
Nathan yang sedang mengoleskan salep memar terkekeh pelan tanpa menatapnya. "Iya kah? Yah... jiwaku memang sudah tua."
Lisa memiringkan kepalanya sedikit. "Jawabanmu terdengar tidak bercanda. Itu cukup menghibur."
"Dari mana menghiburnya, dasar gadis aneh!" Protes Nathan dengan nada kesal yang dibuat-buat.
Menghadapi wanita dengan pola pikir tidak wajar seperti Lisa memang membutuhkan tingkat kesabaran ekstra.
Nathan memegang dagu Lisa pelan agar posisi kepalanya tidak bergeser saat ia menempelkan kassa pada luka di dekat pelipisnya.
"Setelah semua kasus ini selesai," ucap Nathan dengan nada bicara yang berubah lebih dalam dan serius, "hiduplah lebih baik. Rawat dirimu. Lain kali... aku akan mencari cara lain yang lebih beradab untuk membantu korban bully seperti Sintia."
Lisa menatap wajah Nathan dengan pandangan malas dari balik kacamata tebalnya. "Kakek Nathan benar-benar perhatian ya."
"Aku bukan kakekmu, bodoh!" tegur Nathan geram, mengetuk jidat Lisa dengan ujung jarinya.
Lalu, Nathan melanjutkan mengobati lebam di wajah wanita itu. "Tapi jujur... melihat kondisimu yang babak belur begini, aku benar-benar merasa bersalah. Kemarin aku sudah bilang mau menghentikan penyamaran ini karena buktinya sudah cukup, tapi kamu malah memaksa lanjut. Dasar bebal."
Lisa terkekeh pelan,sebuah kekehan kecil yang jarang sekali keluar dari mulutnya. "Kan aku dibayar, bodoh."
Hari-hari berikutnya menjadi pembuktian dari seluruh kerja keras dan perencanaan matang yang disusun oleh Nathan.
Pagi itu, suasana di Pengadilan Negeri tampak riuh.
Kasus perundungan berat, pemerasan, pelecehan, dan pengancaman yang terjadi di SMA Distrik 1 mendadak menjadi sorotan publik setelah Nathan memisahkan berkas perkara ini dari campur tangan pihak sekolah yang berusaha menutup-nutupi kejadian tersebut.
Orang tua dari keempat pelaku perundung datang membawa jajaran pengacara papan atas.
Mereka tampil percaya diri di ruang sidang, berniat memanfaatkan pasal perlindungan anak untuk membebaskan anak-anak mereka dengan sanksi ringan berupa masa percobaan atau sekadar permohonan maaf.
Namun, Nathan yang hadir sebagai saksi ahli sekaligus penyidik dari Polsek Distrik 1 bersama Komisaris Martin telah menyiapkan benteng hukum yang tidak bisa diruntuhkan.
Di dalam ruang sidang yang penuh sesak, Nathan berdiri tegap di depan hakim.
Dengan tenang dan sistematis, ia menyerahkan seluruh bukti fisik ke meja majelis hakim.
"Yang Mulia," ujar Nathan dengan suara lantang dan menggema di seluruh ruangan.
"Para terdakwa memang masih berstatus di bawah umur secara hukum pidana. Namun, bukti yang kami ajukan menunjukkan adanya niat jahat yang terencana secara sistematis dan berulang dalam jangka waktu berbulan-bulan."
Nathan memutar rekaman video digital di layar proyektor sidang.
Layar memperlihatkan dengan sangat jelas bagaimana keempat pelaku melakukan pemerasan uang, penganiayaan fisik secara brutal, hingga rekaman pemaksaan pelecehan terhadap Sintia.
Tidak hanya itu, Nathan juga menyajikan bukti rekaman aksi mereka terhadap Lisa yang membuktikan bahwa perbuatan tersebut merupakan pola kejahatan yang konsisten dan berbahaya bagi masyarakat.