Di dunia fantasi Eldoria yang dikuasai oleh perserikatan klan penyihir, Aura Zephyra adalah perwujudan dari kepolosan masa muda. Sebagai putri sulung dari Klan Penyihir Angin yang agung, hidup remajanya dipenuhi dengan tulusnya cinta kepada tunangannya, Gavin Elrod. Namun, di hari pernikahan mereka yang seharusnya menjadi momen paling bahagia, cinta itu berubah menjadi mimpi buruk. Gavin mengkhianatinya, membantai seluruh klannya, dan menusuk dada Aura demi merebut Inti Sihir Angin untuk ambisi takhtanya. Di ambang kematian, dalam kobaran api kuil yang hancur, Aura mengutuk Gavin dengan air mata darah.
Bukannya lenyap, jiwa Aura justru terlempar kembali ke masa lalu—dua tahun sebelum tragedi pembantaian itu terjadi. Terbangun di tubuh remajanya yang berusia tujuh belas tahun, Aura bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Keajaiban regresi waktu tidak hanya membawa ingatannya, tetapi juga membangkitkan atribut sihir terlarang yang telah punah ribuan tahun: Sihir Es Kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sidang Dewan Kekaisaran
Aroma anyir darah dari arena Koloseum seolah belum sepenuhnya menguap, namun riak kehancuran yang ditinggalkan oleh belati es Aura telah berpindah ke aula agung Istana Matahari.
Aula bertiang emas itu biasanya menjadi tempat perdebatan kebijakan pajak atau wilayah perbatasan, tetapi siang ini, atmosfer di dalamnya begitu berat hingga para menteri kekaisaran yang paling vokal sekalipun memilih untuk menundukkan kepala dalam-dalam.
Di ujung aula, di atas singgasananya yang megah, Kaisar Eldoria duduk dengan ekspresi wajah yang datar, menumpukan dagunya pada kepalan tangan yang terbalut cincin permata sihir. Di bawah podium kekaisaran, suasana sangat kontras.
"Yang Mulia Kaisar! Ini adalah tindakan kriminal yang terang-terangan di bawah hidung takhta!" Duke Gerald Elrod melangkah maju dengan napas memburu, wajahnya yang biasanya dipenuhi wibawa kini merah padam oleh murka dan keputusasaan.
"Putraku, Gavin Elrod, adalah penerus sah klan besar yang diakui hukum! Tindakan wanita itu di arena bukan lagi kompetisi, melainkan mutilasi sihir yang disengaja! Dia telah menghancurkan pembuluh magis putraku! Ini adalah percobaan pembunuhan terhadap masa depan klan pilar kekaisaran, Yang Mulia!"
Raymond Zephyra, yang berdiri beberapa meter di samping Gerald, langsung menyahut dengan suara guntur sihir anginnya. "Gerald! Jaga ucapanmu! Putramu sendiri yang menolak untuk menyerah hingga batas akhir! Di dalam arena ujian sihir, cedera adalah risiko yang sudah ditandatangani oleh setiap peserta! Mengapa saat putra klan lain cacat di tangan faksimu di tahun-tahun sebelumnya, kau menyebutnya sebagai 'seleksi alam'. Lantas ... saat putramu sendiri yang kalah, kau menangis seperti pengecut?!"
"Raymond! Kau—!"
"Cukup."
Satu kata yang diucapkan dengan nada rendah namun sarat akan tekanan magis mutlak itu menggema di seluruh aula. Suara itu bukan berasal dari Kaisar, melainkan dari sudut kiri ruangan, tempat di mana Pangeran Kaelen Vane berdiri dengan santai, bersandarkan pada salah satu pilar marmer besar.
Kaelen melangkah maju, jubah bulu serigala hitamnya menyapu lantai dengan suara berdesir yang entah mengapa terdengar seperti ancaman bagi siapa pun yang mendengarnya. Di sampingnya, Aura berjalan dengan langkah tenang yang anggun, wajah remajanya sama sekali tidak menunjukkan penyesalan atau ketakutan.
Kaelen berhenti tepat di tengah aula, berdiri tegak di depan Duke Gerald. Perbedaan tinggi badan dan aura pembunuh yang pekat dari sang Monster Utara langsung membuat Duke Gerald menahan napas secara refleks.
"Duke Gerald...," Kaelen menatap pria tua itu dengan sepasang mata merah delimanya yang berkilat kejam. "Anda menuntut keadilan dari takhta atas kekalahan putramu dalam pertarungan resmi yang disaksikan oleh puluhan ribu pasang mata. Apakah hukum di ibu kota ini ditulis hanya untuk keuntungan Klan Elrod saja?"
"Pangeran Kaelen! Ini adalah masalah internal ibu jota! Istrimu telah melanggar batas kemanusiaan—"
"Istriku ...," Kaelen memotong dengan nada suara yang semakin dingin, seolah-olah setiap silabel mampu membekukan udara di dalam aula istana, "Hanya membela diri dari kepungan faksi sampah yang dibentuk oleh putramu. Berapa banyak penyihir muda dari klan kecil yang kehilangan masa depan mereka karena keserakahan faksi Gavin di masa lalu? Di mana suaramu saat itu, Duke Gerald?"
Kaelen kemudian berbalik, menghadap ke arah singgasana Kaisar. Ia menepuk dadanya dengan kepalan tangan, memberikan penghormatan militer yang tegas.
"Yang Mulia Kaisar, sesuai dengan hukum kuno Eldoria yang tertulis dalam Piagam Pendirian Kekaisaran Bab Empat, Ayat Tujuh: Setiap bangsawan yang telah mengikat sumpah pernikahan dengan penguasa wilayah otonom perbatasan, status hukumnya berada di bawah yurisdiksi wilayah tersebut selama berada di dalam maupun di luar arena resmi."
Mendengar pasal hukum kuno itu disebut, beberapa menteri hukum di barisan belakang langsung saling berbisik panik sambil membuka gulungan kitab hukum mereka dengan tergesa-gesa.
"Aura Zephyra adalah ratu sah dari Utara ...," Kaelen melanjutkan, suaranya menggelegar ke seluruh penjuru aula. "Setiap tindakan, pengadilan, atau tuntutan hukum yang diarahkan kepadanya harus melalui Pengadilan Militer Benteng Serigala Es di Utara, bukan di dewan sipil ibu kota. Jika Duke Gerald Elrod bersikeras ingin mengadili istriku ... maka aku, atas nama tiga puluh ribu pasukan Ksatria Hitam Utara, dengan senang hati menyambut tentara Klan Elrod di gerbang perbatasan salju kami untuk mendiskusikan hukum tersebut."
Deg!
Ancaman perang terbuka itu dijatuhkan begitu saja di tengah aula istana. Wajah Duke Gerald mendadak pucat pasi. Meratakan perbatasan? Menantang Ksatria Hitam yang terkenal kejam dan tak pernah kalah di medan perang Utara? Itu sama saja dengan bunuh diri massal bagi Klan Elrod yang kekuatannya berbasis di pusat kota yang damai.
Aura yang berdiri di samping Kaelen, melirik suaminya dari sudut mata. Ada kehangatan tak terduga yang berdesir di dalam hatinya yang sedingin es. Di kehidupan lalu, ketika ia difitnah dan disudutkan oleh Gavin dan keluarganya, ia harus berlutut dan memohon sendirian di lantai dingin ini tanpa ada satu pun orang yang membela—bahkan ayahnya pun saat itu terlalu tak berdaya menghadapi konspirasi politik. Namun kini, pria di sampingnya ini bersedia mengangkat pedang dan mengancam seluruh kekaisaran hanya untuk menjadi perisainya.
Aura melangkah maju satu langkah, menyejajarkan posisinya dengan Kaelen. Ia mendongak, menatap langsung ke arah Kaisar yang masih memperhatikan dari singgasananya.
"Yang Mulia Kaisar," Aura berbicara dengan suara yang jernih, mengalun merdu namun tegas tanpa getaran ketakutan sedikit pun. "Tindakan saya di arena murni adalah refleksi dari energi magis saya yang belum stabil setelah menjalani kultivasi ekstrem di Gua Salju Abadi. Tuan Muda Gavin adalah penyihir angin yang hebat, saya tidak menyangka pertahanannya begitu rapuh hingga belati es saya mampu menghancurkan saluran sihirnya dalam sekali benturan."
Kata-kata 'pertahanannya begitu rapuh' adalah penghinaan tidak langsung yang luar biasa tajam.
"Namun ...," Aura melanjutkan dengan senyuman mawar esnya yang tipis, "Sebagai bentuk rasa hormat saya kepada takhta kekaisaran, Klan Zephyra dan Wilayah Utara bersedia memberikan kompensasi berupa sepuluh gerobak batu sihir angin tingkat tinggi kepada militer kekaisaran untuk memperkuat pertahanan ibu kota. Ini adalah bukti bahwa kami tidak memiliki niat buruk terhadap ketertiban Eldoria."
Diplomasi yang cerdas di usia 17 tahun. Aura tidak hanya menggunakan kekuatan militer Kaelen untuk mengintimidasi, tetapi juga memberikan alasan yang manis bagi Kaisar untuk menutup kasus ini dengan keuntungan finansial dan militer bagi pihak istana.
Kaisar Eldoria perlahan mengulas senyuman tipis di wajahnya yang tegas. Sang penguasa tertinggi akhirnya berbicara, suaranya berat dan penuh dengan otoritas yang tidak terbantahkan.
"Tantangan Arena Bebas adalah tradisi berdarah yang legal sejak zaman leluhur kita," ucap Kaisar, matanya beralih menatap Duke Gerald yang kini gemetar menahan geram. "Duke Gerald, putramu telah mengucapkan kata menyerah secara terlambat. Cedera yang dialaminya adalah konsekuensi dari ketidakmampuannya mengukur jarak kekuatan dengan lawannya. Tuntutanmu ditolak oleh takhta."
"Y-Yang Mulia ...!" Gerald mencoba memprotes, namun tatapan tajam Kaisar langsung mengunci mulutnya.
"Mengenai kompensasi dari Ratu Aura, istana menerima dengan baik ...," Kaisar kembali menatap Aura dengan pandangan yang dalam. "Ujian tahap kedua untuk posisi sepuluh besar akan ditunda hingga minggu depan untuk memberikan waktu restorasi arena. Sidang hari ini selesai."
Kaisar berdiri dari singgasananya dan melangkah pergi diiringi oleh barisan ksatria emasnya, meninggalkan aula agung yang dipenuhi oleh keheningan yang tersisa.
Begitu keluar dari gerbang istana, Duke Gerald Elrod menatap Aura dan Kaelen dengan mata yang memerah karena dendam yang membara.
"Kalian ... jangan mengira ini adalah akhir. Klan Elrod tidak akan pernah melupakan darah yang tumpah hari ini!" ancam Gerald sebelum berbalik dan pergi dengan tergesa-gesa bersama para pengawalnya, kemungkinan besar untuk memeriksa kondisi Gavin yang masih kritis di kediamannya.
Raymond Zephyra mendekati putri dan menantunya dengan helaan napas lega yang sangat panjang.
"Aura, Pangeran Kaelen ... apa yang kalian lakukan di dalam tadi benar-benar membuat jantung orang tua ini hampir copot. Tapi ... terima kasih, Pangeran Kaelen, karena telah melindungi putriku."
Kaelen hanya mengangguk datar. "Dia adalah istriku, Archmage Raymond. Melindunginya adalah bagian dari kesepakatan kita, dan juga hak mutlakku."
Raymond Zaphyra mengangguk lega, kemudian pamit pergi terlebih dahulu untuk mengurus pengiriman batu sihir kompensasi, Aura dan Kaelen berjalan beriringan menuju kereta sihir mereka yang menunggu di pelataran istana.
"Kau bertindak sangat baik di dalam tadi, istriku ...," Kaelen memecah keheningan saat mereka berdua telah duduk di dalam kereta yang mulai bergerak. "Memadukan ancaman militerku dengan suap batu sihir untuk kaisar ... kau benar-benar tau cara menjinakkan rubah tua di atas singgasananya."
Aura bersandar di bantalan kursi kereta yang empuk, matanya menatap Kaelen dengan binar jenaka yang jarang ia tunjukkan. "Aku hanya belajar dari yang terbaik, Kaelen. Bukankah kau sendiri yang mengajariku bahwa politik di ibu kota ini dikendalikan oleh rasa takut dan keserakahan?"
Kaelen tersenyum tipis, matanya menatap bibir Aura yang kemerahan sebelum beralih ke jemari tangan gadis itu yang masih memancarkan hawa dingin sisa pertarungan. Ia meraih tangan Aura, menggenggamnya erat, membiarkan kehangatan sihir darahnya menetralisir sisa-sisa energi es liar di tubuh remaja Aura.
"Kehancuran Gavin di arena baru permulaan, Aura," bisik Kaelen, nadanya berubah menjadi sangat serius. "Malam ini, mata-mataku di ibu kota melaporkan bahwa Duke Gerald langsung mengadakan pertemuan darurat dengan Klan Api Bara dan Klan Bayangan. Mereka tau mereka tidak bisa mengalahkan kita lewat jalur hukum kekaisaran. Mereka akan mulai menggunakan cara-cara kotor dari balik kegelapan."
Mendengar hal itu, senyuman Aura memudar, digantikan oleh kilat dingin yang kejam di matanya. "Baguslah kalau begitu. Aku memang tidak berniat membiarkan mereka mati dengan tenang lewat jalur hukum. Jika mereka ingin bermain di dalam kegelapan ... maka aku akan menunjukkan bagaimana rasanya diburu oleh bayang-bayang badai es Utara."
Aura mengepalkan tangannya yang berada di dalam genggaman Kaelen.