NovelToon NovelToon
Imperium Rahasia: Sang Menantu Triliuner

Imperium Rahasia: Sang Menantu Triliuner

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Perubahan Hidup / Kaya Raya
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Marcos

Tiga tahun Arga hidup sebagai menantu miskin yang dipandang rendah keluarga istrinya. Di meja makan, di pesta keluarga, di setiap tatapan dingin, ia diperlakukan seperti beban yang tidak punya masa depan.
Tidak ada yang tahu bahwa pria pendiam itu adalah pewaris tersembunyi keluarga Mahendra, pengendali kekaisaran bisnis bernilai triliunan rupiah yang bergerak dari balik layar. Saat penghinaan berubah menjadi batas terakhir, Arga mulai mengambil kembali semua yang dirampas darinya: nama, kekuasaan, harga diri, dan kebenaran di balik kematian orang tuanya.
Di tengah perang bisnis para konglomerat, intrik keluarga elite, aliansi berbahaya, dan musuh yang bersembunyi di balik hukum, Arga harus memilih cara membalas tanpa kehilangan dirinya sendiri. Sementara itu, pernikahannya dengan Bianca diuji oleh rahasia, luka lama, dan cinta yang ternyata lebih kuat daripada kebohongan.
Ini kisah tentang menantu yang diremehkan, pewaris yang bangkit diam-diam, dan balas dendam yang tidak datang lewat amarah, melainkan lewat kuasa yang tepat sasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22 - Strateg Anonim

Penyelidikan terhadap Dewantara Properti menjadi berita yang lebih besar daripada perkiraan Arga. Kontan menerbitkan artikel kedua, lebih panjang. Kompas ikut mengambil isu itu. Dalam dua minggu, kasus tersebut sudah muncul di CNN Indonesia, hanya sebagai teks berjalan, tetapi tetap muncul.

Bersama kasus itu, datang pula rumor.

Di pasar keuangan Jakarta, tempat informasi bernilai lebih tinggi daripada uang, tak seorang pun percaya pada kebetulan. Pradipta Investama melepaskan diri dari Dewantara empat puluh enam jam sebelum laporan masuk. Seseorang telah memperingatkan Kamila Pradipta. Sebelum itu, tiga perusahaan lain juga melakukan langkah serupa dalam beberapa bulan terakhir: pemutusan kontrak yang presisi, reposisi strategis, keputusan yang tampak dipandu informasi orang dalam.

Koridor SCBD mulai berbisik tentang seorang konsultan bayangan.

Arga mendengar rumor itu dari Rafael, yang mendengarnya dari manajer dana, yang mendengarnya dari direktur bank. Rantai bisiknya panjang, tetapi kesimpulannya pendek: ada seseorang di Jakarta yang memiliki akses ke intelijen korporasi dengan level yang tidak bisa ditawarkan konsultan mana pun.

"Untuk sekarang masih gosip pasar," kata Rafael, duduk di kursi biasanya, laptop terbuka. "Tapi kalau terus begini, ini akan jadi berita."

Dan itu benar-benar menjadi berita.

Majalah SWA menerbitkannya pada hari Jumat. Artikel tiga halaman, rubrik Bisnis & Strategi. Judulnya: "Konsultan Bayangan, Siapa yang Menyelamatkan Perusahaan-Perusahaan di Jakarta?"

Arga membacanya di ponsel, bersandar di meja dapur sementara kopinya mendingin. Artikel itu tidak menyebut nama. Tidak bisa, sebab tak seorang pun tahu nama apa pun. Namun artikel itu menghubungkan titik-titik: keluarnya Pradipta Investama dari konsorsium Dewantara, pemangkasan kontrak Alamanda Engineering oleh Grup Imperial, dua langkah lain yang bahkan Arga nyaris lupa pernah ia lakukan, tetapi seseorang berhasil mengaitkannya ke pola yang sama.

"Benang merahnya," tulis sang jurnalis, "adalah akses pada informasi intelijen korporasi yang belum pernah terlihat sebelumnya, tingkat pengetahuan yang mengarah pada kemungkinan adanya sumber di lembaga regulator, atau operasi pengumpulan data privat yang tidak diakui pernah ditawarkan oleh konsultan Indonesia mana pun."

Arga meletakkan ponsel di meja. Ia mengusap wajah.

Ia ceroboh. Bukan pada tindakannya, setiap operasi bersih, anonim, tidak terlacak. Masalahnya ada pada pola. Terlalu banyak langkah dalam rentang waktu yang terlalu pendek. Analis yang tajam, dan jurnalis SWA adalah analis tajam, bisa melihat bentuknya.

Itulah kesalahan yang sudah diperingatkan Pak Jaya: terlalu percaya diri. Arga bergerak terlalu cepat, terbawa kuasa Kodeks, lupa bahwa setiap gerakan meninggalkan bayangan. Dan bayangan, jika berjajar, akan membentuk kontur.

Pada hari Senin, Arga memanggil Rafael ke kantor.

"Aku butuh kedok. Perusahaan sungguhan, punya NIB, kantor fisik, karyawan. Konsultan yang bisa menjelaskan langkah-langkah yang sudah kulakukan dan menyerap langkah-langkah yang akan kulakukan."

Rafael berpikir selama sepuluh detik.

"Konsultan apa?"

"Strategi korporasi dan manajemen risiko. Cukup umum untuk menutup sektor apa pun, cukup spesifik untuk terdengar serius."

"Struktur pemegang saham?"

"Tidak boleh ada nama yang terhubung ke Grup Imperial. Pakai holding perantara, buat di Singapura kalau perlu. Aku tidak muncul di mana pun. Direktur eksekutif: rekrut orang dari pasar. Seseorang yang kompeten, tertutup, dan tidak punya hubungan dengan keluarga mana pun."

Rafael mencatat.

"Nama?"

Arga menatap ke luar jendela. Jakarta kelabu, tak berujung, penuh rahasia.

"Meridian Consulting."

Rafael menulis nama itu tanpa bertanya asalnya. Itu salah satu kualitas yang paling Arga hargai darinya: kemampuan untuk tidak mengajukan pertanyaan yang tidak perlu diajukan.

"Tenggat?"

"Sepuluh hari. NIB aktif, kantor siap, situs mengudara. Aku ingin perusahaan ini tampak sudah ada setidaknya enam bulan. Buat riwayat domain terlihat lebih tua, ciptakan profil profesional, tanam referensi di forum industri. Jangan berlebihan, cukup agar tidak tampak lahir kemarin."

"Itu mahal."

"Aku tahu berapa biayanya. Kerjakan."

Dalam sepuluh hari, Meridian Consulting berdiri. NIB aktif, kantor di Kuningan, dua ruang kerja, resepsionis, ruang rapat dengan kaca buram. Direktur eksekutif: Andra Wibisana, mantan McKinsey, empat puluh dua tahun, tertutup karena karakter dan karena kontrak.

Tiga analis junior untuk memberi volume. Situs institusional yang generik tetapi rapi. LinkedIn diperbarui.

Sebuah perusahaan nyata. Yang menjalankan konsultasi nyata. Yang juga berfungsi sebagai penjelasan sempurna untuk langkah apa pun yang perlu Arga benarkan.

Rafael menyerahkan laporan akhir pada hari Jumat.

"Meridian sudah punya dua klien kecil. Kontrak sah, omzet masih sederhana. Kalau ada yang menyelidiki, mereka akan menemukan konsultan menengah yang sedang mencoba tumbuh di pasar. Tidak lebih."

Arga mengangguk. Ia menelusuri situs itu di ponsel Rafael, bersih, profesional, anonim. Persis yang ia butuhkan. Sebuah perisai kewajaran di atas operasi yang sama sekali tidak wajar.

"Bagus. Mulai sekarang, operasi apa pun yang melibatkan perusahaan di luar Grup Imperial lewat Meridian. Tanpa pengecualian. Dan kalau ada yang bertanya tentang konsultan bayangan itu, jawabannya sederhana: Meridian. Konsultan baru yang sedang membangun nama. Tidak lebih."

Eduard Dewantara membaca artikel SWA di ruang kerja ayahnya pada Sabtu pagi. Ia membaca cepat sekali, lalu mengulanginya perlahan sambil menggarisbawahi beberapa bagian dengan pena merah.

"Akses pada informasi intelijen korporasi yang belum pernah terlihat sebelumnya."

Ia menggarisbawahinya dua kali.

"Tingkat pengetahuan yang mengarah pada operasi pengumpulan data privat."

Tiga kali.

Eduard bersandar di kursi. Menatap ke luar jendela. Jakarta kelabu, seperti biasa.

Seseorang memiliki informasi orang dalam tentang bisnis keluarga Dewantara. Informasi yang bahkan departemen hukum internal belum pernah susun serapi itu. Nilai tepat. Tanggal tepat. Nama-nama yang tidak ada di sistem mana pun yang bisa diakses secara legal.

Eduard memikirkan peretas. Memikirkan mantan karyawan. Memikirkan penyadapan.

Lalu ia memikirkan sesuatu yang lebih buruk.

Mungkin seseorang tidak mencuri informasi itu. Mungkin seseorang memang sudah memilikinya. Sejak lama.

Ia mengambil ponsel dan menelepon kepala keamanan keluarga.

"Aku butuh penyisiran lengkap. Semuanya. Kantor, server, ponsel, email. Dan aku mau laporan semua akses ke sistem kita selama dua belas bulan terakhir."

Ia memutus sambungan. Menatap artikel itu lagi. Membaca ulang kalimat yang digarisbawahi.

"Informasi orang dalam... atau ada orang yang mencuri arsip kita?"

Pilihan kedua buruk. Tetapi pilihan pertama lebih buruk. Sebab kalau seseorang sudah memiliki informasi itu dalam keadaan tersusun, berarti seseorang menghabiskan bertahun-tahun untuk mengumpulkannya. Itu berarti perencanaan. Kesabaran. Sumber daya.

Eduard Dewantara bukan orang bodoh. Justru karena itulah, ia merasa takut.

1
Anime aikō-kā
haii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!