Alina Mahendra, pengacara berhijab sukses dan berprinsip, akhirnya siap mengikat janji suci dengan Farhan Adhitama—pemuda cerdas, gagah, ahli karate, dan pemilik hati yang ia tunggu bertahun‑tahun lamanya. Namun di tengah persiapan bahagia itu, musuh lama kembali muncul dengan wajah baru. Raka Haris kini bersembunyi di balik nama dan topeng pengusaha terhormat, menjalankan bisnis jauh lebih jahat dari ayahnya dulu, dengan satu tujuan tunggal. Menghancurkan Alina sehancur‑hancurnya tepat sebelum pernikahannya berlangsung.
Kebenaran tampak begitu jelas di mata hukum, namun siapa sangka di baliknya tersimpan kebohongan yang dirancang sedemikian rupa. Akankah cinta dan keteguhan mereka cukup menyingkap DI BALIK TOPENG KEBENARAN itu sebelum semuanya terlambat?
Bantu dukung karya ini dengan subscribe, like, komentar dan beri hadiah dan bintang jika suka ya... Terimakasih banyak 🙏😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 : PANGGILAN HATI DARI SEBERANG PADANG PASIR
...BAB 12...
...PANGGILAN HATI DARI SEBERANG PADANG PASIR...
Sudah lebih dari dua tahun Dimas tinggal di Madinah Al-Munawwarah.
Setiap hari ia menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu, menghafal Al-Qur'an, mengikuti kajian, dan memperbaiki diri. Kehidupan di kota suci itu membuat hatinya jauh lebih tenang dibandingkan sebelum berangkat dari Indonesia. Namun, di balik ketenangan itu, ada satu kebiasaan yang tak pernah ia tinggalkan.
Setiap selesai salat, ia selalu menyebut nama keluarganya satu per satu dalam doa.
"Ya Allah... jagalah Ibu. Jagalah Papa Aditya. Jagalah Kak Alina... dan mudahkan langkah Mas Farhan yang akan menjadi imam untuk kakakku."
Doa itu selalu sama. Dan setiap selesai berdoa, dadanya terasa lapang. Sampai sepuluh hari terakhir. Entah mengapa, setiap kali mengangkat tangan untuk berdoa, justru ada rasa sesak yang sulit dijelaskan.
Malam-malamnya pun mulai dipenuhi mimpi aneh. Dalam mimpinya, Alina berdiri sendirian di tengah keramaian.
Wajahnya pucat. Matanya sembab.
Bibirnya bergerak seperti memanggil nama Dimas, tetapi tak ada suara yang keluar.
Dimas terbangun dengan napas memburu.
Ia langsung duduk di tepi ranjang.
"A'udzubillahi minasy syaithanir rajim..."
Ia beristigfar berkali-kali sebelum mengambil air wudu. "Semoga hanya bunga tidur."
Ia berusaha menenangkan dirinya. Namun mimpi itu kembali datang malam berikutnya.
Lalu malam setelahnya lagi. Bahkan kali ini ia melihat Bu Kirana duduk sendirian di ruang tamu sambil menangis diam-diam. Padahal ibunya bukanlah perempuan yang mudah memperlihatkan kesedihan.
"Kenapa aku terus bermimpi seperti ini?" gumamnya pelan.
Sejak saat itu, kegelisahan mulai menggerogoti hatinya.
Selesai salat berjamaah di Masjid Nabawi, Dimas masih duduk bersandar di salah satu tiang masjid. Biasanya ia menikmati ketenangan setelah berzikir. Tapi hari itu berbeda. Dadanya terasa semakin berat.
"Ya Allah... ada apa sebenarnya?"
Seorang teman asal Malaysia yang sering belajar bersamanya menghampiri.
"Kamu kelihatan murung sejak beberapa hari ini, Dim."
Dimas tersenyum tipis. "Aku juga tidak tahu. Hatiku tidak tenang."
"Rindu keluarga?" tanyanya menebak.
"Mungkin... tapi rasanya lebih dari sekadar rindu."
Temannya mengangguk pelan. "Kalau begitu, banyak-banyaklah berdoa."
Dimas hanya mengangguk. Namun jauh di dalam hatinya, ia merasa ada sesuatu yang sedang terjadi. Beberapa hari kemudian, ia memutuskan menelepon rumah. Panggilan pertama diangkat oleh Bu Kirana.
"Assalamu'alaikum, Bu."
["Wa'alaikumussalam... Dimas."]
Suara itu terdengar biasa. Tetapi bagi Dimas, ada sesuatu yang berbeda.
"Ibu sehat?"
["Sehat."]
"Persiapan pernikahan Kak Alina bagaimana?"
["Alhamdulillah... lancar."]
Jawabannya terlalu singkat. Biasanya Bu Kirana akan bercerita panjang. Tentang katering. Tentang undangan. Tentang dekorasi. Tentang tetangga yang ikut membantu. Hari ini tidak ada.
"Ibu capek?"
["Iya... mungkin cuma kecapekan."]
Dimas terdiam beberapa saat.
"Ibu yakin tidak ada masalah?"
["Tidak ada."]
"Tapi suara Ibu..."
["Dimas."] Nada Bu Kirana berubah lembut.
["Jangan terlalu banyak pikiran ya, Nak. Kamu fokus belajar saja di sana."]
"Ibu benar-benar baik-baik saja, kan?"
["Iya Nak"]
Meski begitu, Dimas menangkap suara isak yang buru-buru ditahan sebelum sambungan telepon berpindah ke Alina.
["Assalamu'alaikum."] Suara Alina terdengar pelan.
"Kak..."
["Dimas."]
"Kakak sedang sakit?"
["Tidak."]
"Kok suaranya lemas?"
Alina tertawa kecil. ["Cuma kurang tidur."]
"Jangan bohong sama aku."
Hening.
Beberapa detik berlalu tanpa jawaban.
Dimas semakin yakin.
"Kak... ada yang mengganggu Kakak?"
["Tidak."]
"Ada yang menyakiti Kakak?"
["Tidak juga."]
"Kalau begitu kenapa aku merasa Kakak sedang menangis?"
Di ujung telepon terdengar helaan napas panjang.
["Lagi sensitif saja mungkin."]
"Kak Alina."
["Iya?"]
"Kalau memang ada masalah, jangan dipendam sendiri."
Alina tersenyum pahit meski Dimas tidak bisa melihatnya. ["Kamu fokus belajar saja."]
"Tapi—"
["Kakak baik-baik saja. Tak perlu mengkhawatirkan Kakak berlebihan begitu. Disini juga ada Ibu, Papa dan Farhan yang menemaniku."]
Jawaban itu terdengar dipaksakan. Dimas mengenal kakaknya. Alina bukan perempuan yang pandai berbohong. Justru ketika ia berkata terlalu singkat, saat itulah ia sedang menyimpan luka. Setelah berbicara dengan Alina, Dimas menghubungi Farhan.
"Assalamu'alaikum."
["Wa'alaikumsalam."]
"Apa kabar, Mas Farhan?"
["Baik, hai Dimas."]
Suara itu juga terdengar berat.
"Mas... sebenarnya ada apa?"
["Tidak ada apa-apa."]
"Semuanya kok jawabannya sama. Kak Alina, Ibu..."
Farhan terkekeh hambar. ["Kamu mulai curiga ya?"]
"Iya."
Farhan terdiam cukup lama.
Akhirnya ia berkata pelan, ["Aku memang sedang menyelidiki sesuatu."]
Dimas langsung menegakkan badan. "Soal apa?"
["Soal fitnah yang menyerang Alina."]
Jantung Dimas berdegup lebih cepat. "Fitnah?"
"Iya." Farhan menghela napas. ["Ada yang ingin menjatuhkan nama baik Alina..."]
"Siapa pelakunya?"
["Itu yang belum kutemukan, Dim."]
"Apakah ada bukti, Mas?"
["Setiap kali hampir dapat, tapi semuanya tiba-tiba hilang."]
"Hilang?" ucap Dimas kaget.
["Ya, seolah-olah ada orang yang selalu selangkah lebih dulu untuk menghapus jejak."]
Dimas mengepalkan tangannya.
"Mas Farhan... Adakah yang paling Mas curigai disana?"
Farhan kembali diam. ["Aku belum bisa menuduh siapa pun."]
Setelah panjang lebar berbicara dengan Farhan di telepon. Malam itu Dimas mencoba menghubungi salah satu teman lama di Surabaya. Dari obrolan singkat itulah ia mendengar satu nama yang terus muncul.
Arka.
["Dia sering membantu keluarga Kak Alina. Baik banget orangnya. Bu Kirana juga sudah menganggap dia seperti anak sendiri. Semua orang memuji-muji dia."]
Semakin banyak pujian yang ia dengar, justru hati Dimas semakin tidak nyaman.
"Aneh..."
Temannya tertawa. ["Aneh bagaimana?"]
"Entahlah."
["Kamu bahkan belum pernah ketemu dia."]
"Itu dia. Makanya aneh."
["Kalau begitu jangan berprasangka dulu."]
Dimas mengangguk. "Ya, aku juga tidak ingin berprasangka."
Namun setiap kali nama Arka disebut, ada rasa dingin yang menjalar di tengkuknya.
Seolah hati kecilnya terus berbisik.
Ada sesuatu yang tidak beres.
Sore harinya, Dimas duduk cukup lama di dekat Raudhah. Tempat itu selalu menjadi lokasi favoritnya untuk berdoa. Ia menengadahkan kedua tangan. Air matanya perlahan terjatuh.
"Ya Allah..."
"Jika keluargaku benar-benar sedang diuji..."
"Berikanlah aku petunjuk."
"Kalau memang aku harus pulang..."
"Maka mudahkan jalanku."
Doa itu terasa jauh lebih panjang daripada biasanya. Setelah selesai, ia masih terdiam.
Entah mengapa, kali ini hatinya justru terasa mantap. Bukan tenang. Melainkan mantap.
"Aku harus pulang."
Kalimat itu terucap begitu saja.
Malamnya, Dimas menemui guru yang selama ini selalu membimbingnya.
"Assalamu'alaikum, Ustadz."
"Wa'alaikumussalam. Silakan duduk, Dimas."
Dimas lalu menceritakan semuanya. Tentang mimpi-mimpi aneh. Tentang telepon dengan keluarganya. Tentang firasat yang terus menghantuinya. Sang guru mendengarkan tanpa memotong sedikit pun. Setelah beberapa saat, beliau tersenyum.
"Hati seorang mukmin terkadang diberi kepekaan."
"Apakah ini firasat, Ustadz?"
"Bisa jadi."
"Apa yang harus saya lakukan?"
Sang guru menatapnya penuh kebijaksanaan.
"Kalau hatimu terus mengarah ke sana setelah istikharah dan doa, jangan diabaikan."
"Tapi masa belajar saya belum selesai."
"Ilmu tidak hanya untuk disimpan." Beliau menepuk bahu Dimas.
"Ilmu harus hadir ketika keluarga membutuhkan."
Dimas menundukkan kepala. "Saya ingin pulang."
"Kalau begitu pulanglah." Beliau tersenyum hangat.."Semoga Allah menjadikan kepulanganmu sebagai jalan datangnya pertolongan."
Dimas mengangguk. "Aamiin."
Sebelum berpamitan, sang guru kembali berpesan, "Jangan umumkan kepulanganmu kepada banyak orang."
Dimas mengernyit. "Kenapa, Ustadz?"
"Kadang orang yang berniat buruk lebih dulu, mengetahui langkah kita." ucapnya. "Tapi biarkanlah kedatanganmu menjadi kejutan."
"Insyaallah."
*****
Keesokan paginya Dimas langsung mengurus kepulangan. Ia membeli tiket penerbangan untuk dua hari lagi. Semua dilakukan diam-diam. Bahkan hanya dua orang sahabat dekatnya yang mengetahui rencana tersebut.
Sebelum meninggalkan Madinah nanti, ia kembali berdiri menghadap Masjid Nabawi.
Matanya berkaca-kaca.
"Terima kasih atas semua ilmu yang Engkau titipkan di tempat ini." Ia menarik napas panjang. "Lindungilah keluargaku sampai aku tiba."
*****
Sementara itu...
Ribuan kilometer jauhnya, di sebuah rumah mewah di Surabaya.
Ponsel Arka bergetar. Sebuah pesan masuk dari seseorang yang selama ini ia bayar untuk mengawasi keluarga Bu Kirana. Ada kabar dari Arab. Anak lelaki Bu Kirana akan segera pulang.
Arka membaca pesan itu tanpa perubahan ekspresi. Beberapa detik kemudian, ia menghapusnya.
Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. "Datang saja."
Ia bersandar santai di kursinya.
"Semua sudah terlambat."
Menurutnya, semua jejak telah disusun begitu rapi. Semua bukti sudah dihilangkan.
Semua orang sudah percaya kepadanya.
Satu orang yang baru pulang dari Madinah tidak akan mampu mengubah apa pun.
Arka sama sekali tidak menyadari...
bahwa kepulangan Dimas justru menjadi awal dari runtuhnya seluruh rencana jahat yang telah ia bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun.
Bersambung...
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Tapi sayang yaaa, genre-nya nggk sesuai sama aku... 😂😂😂 di sini, genre-nya tertulis "Pembalasan Wanita" 😁😁😁🙏