Dua kali gagal menikah membuat Rellunae berhenti percaya pada cinta. Baginya, semua orang hanya datang untuk pergi, tidak ada pria yang benar-benar mencintai dirinya dengan tulus. Sampai ia bertemu Orion. Seorang pasien dengan masa lalu kelam yang dipindahkan dari satu rumah sakit jiwa ke rumah sakit jiwa lainnya karena tak seorang pun mampu menanganinya.
Awalnya Rellunae hanya ingin menyembuhkan. Namun ia tidak menyadari bahwa setiap senyuman, perhatian, dan kebaikan yang diberikannya perlahan membuat dirinya menjadi pusat dunia pasiennya. Bagi Orion, Rellunae bukan hanya sekedar psikiater, melainkan seseorang yang harus tetap berada di sisinya apa pun yang terjadi. Tapi bagaimana jika satu-satunya orang yang mencintainya dengan tulus adalah seseorang yang mencintainya terlalu dalam hingga berubah menjadi obsesi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12 | What...?
Keheningan langsung menyergap kamar itu, menyisakan suara detak jam dinding yang seolah berdentang dua kali lebih keras.
Luna mematung. Sendok berisi bubur di tangannya tertahan di udara, tepat beberapa sentimeter di depan wajah Orion. Matanya melebar tipis, menatap lurus pada manik mata abu-abu gelap milik pria itu yang kini justru memancarkan binar geli bercampur kesungguhan yang intens.
I want to be your first kiss.
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Orion yang masih tampak kering, terdengar sangat tenang namun sarat akan kepemilikan.
Detik berikutnya, Luna menarik kembali sendoknya. Ia meletakkannya kembali ke dalam mangkuk dengan ketukan pelan yang disengaja untuk menetralisir gemuruh aneh di dadanya. Sebagai seorang psikiater, ia sudah terlatih menghadapi berbagai jenis delusi, obsesi, dan manipulasi verbal dari pasiennya. Namun, entah mengapa, intensitas tatapan Orion selalu berhasil menyentuh celah pertahanannya.
Luna mengembuskan napas panjang, memasang kembali topeng profesionalnya yang sempat retak. "Mulut," ucap Luna dingin, kembali menyodorkan sendok tanpa menjawab pertanyaan konyol tersebut.
Orion terkekeh rendah, sebuah suara serak yang terdengar begitu dekat. "Kamu mengabaikan pertanyaanku, Nanae."
"Dan kamu mengabaikan fakta kalau kamu hampir mati dehidrasi karena kabur dari rumah sakit," balas Luna tajam, tidak memberi ruang untuk perdebatan. "Makan, Orion. Atau saya panggil Pak Darto untuk menyuapimu dengan sekop taman."
Senyum tipis kembali terukir di bibir Orion. Tanpa protes lagi, ia membuka mulutnya dan menerima suapan itu. Setidaknya, ancaman Luna cukup efektif membuat pria keras kepala itu menghabiskan setengah porsi buburnya sebelum efek obat penurun demam mulai bekerja, memaksanya kembali terpejam dan tenggelam dalam tidur yang lelap.
☆☆☆
Sinar matahari pagi menyiram area luas Silver Oak, sebuah kompleks medis terpadu yang terkenal dengan arsitektur klasiknya yang dikelilingi pohon-pohon ek raksasa. Kompleks ini terbagi menjadi dua wilayah utama yang dipisahkan oleh sebuah taman tengah yang asri: sisi barat adalah Rumah Sakit Umum Silver Oak, sedangkan sisi timur, yang lebih tertutup dan dijaga ketat adalah Rumah Sakit Jiwa Silver Oak.
Hari ini, Luna tidak mengenakan pakaian kasual semi-formal seperti saat ia bertugas sebagai psikiater. Ia mengenakan kemeja biru muda yang dibalut jubah putih dokternya dengan stetoskop yang melingkar di leher. Hari Kamis adalah jadwal rutinnya untuk membantu di klinik umum rumah sakit, sebuah kewajiban rotasi yang tetap ia jalani di sela-sela kesibukannya menangani pasien-pasien dengan gangguan kejiwaan.
"Tekanan darah Ibu sudah normal, tapi tolong kurangi makanan yang terlalu asin, ya? Obatnya nanti ditebus di apotek depan," ucap Luna ramah sambil memberikan resep kepada seorang pasien paruh baya.
"Terima kasih banyak, Dokter Luna. Dokter cantik sekali hari ini," puji pasien itu tulus sebelum beranjak keluar dari ruang poli umum.
Luna tersenyum tipis, lalu mengembuskan napas lelah begitu pintu tertutup. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.
Pikirannya melayang pada kejadian subuh tadi. Demi menghindari skandal dan laporan kedisiplinan rumah sakit, Luna terpaksa meminta bantuan sopir pribadi keluarganya untuk mengantarkan Orion kembali ke RSJ Silver Oak secara diam-diam sebelum matahari terbit. Ia bahkan harus menelepon kepala perawat bangsal VIP agar menerima kepulangan Orion tanpa perlu membuat laporan resmi yang rumit.
Semuanya berjalan lancar. Setidaknya, itu yang ia pikirkan sampai pintu polinya diketuk dengan tidak sabar.
Tok! Tok! Tok!
Pintu terbuka bahkan sebelum Luna sempat mempersilakan masuk. Fiona, perawat kepala dari bangsal psikiatri, melangkah masuk dengan napas terengah-engah dan wajah yang luar biasa panik. "Dokter Luna! Untung Dokter masih di sini!" seru Fiona sambil menutup pintu rapat-rapat.
Luna langsung menegakkan posisi duduknya. Firasat buruknya mendadak bangkit. "Ada apa, Fi? Tenang dulu, tarik napas."
"Pasien VIP nomor 404... Orion!" Fiona menyebut nama itu setengah berbisik, namun nadanya sarat akan keputusasaan. "Dia sudah kembali subuh tadi, kan? Tapi pagi ini dia mengamuk!"
Luna mengernyitkan dahi. "Mengamuk? Bukankah fisiknya masih sangat lemah setelah demam tinggi semalam?"
"Fisiknya mungkin lemah, Dok, tapi keras kepalanya luar biasa!" Fiona mengusap dahinya yang berkeringat. "Dia mencabut paksa jarum infusnya sendiri sampai tangannya berdarah. Dia menolak disentuh oleh dokter visit pagi ini, bahkan sempat melempar nampan sarapan ke arah perawat. Dia mengunci diri di dalam kamar mandi bangsal VIP."
Luna memejamkan mata sejenak, menahan kekesalan yang mulai membumbung di dadasnya. Pria itu benar-benar tidak bisa dibiarkan tenang sehari saja. "Apa tuntutannya?" tanya Luna, meski jauh di dalam lubuk hatinya, ia sudah tahu jawabannya.
Fiona menatap Luna dengan pandangan memohon sekaligus cemas.
"Dia bilang... dia hanya mau keluar dan dipasang infus lagi kalau 'Nanae' yang melakukannya. Dia tidak mau dokter lain, Dok. Kepala ruangan bingung setengah mati karena tidak ada dokter atau perawat bernama Nanae di seluruh rumah sakit ini. Tapi saya langsung ingat... bukankah itu panggilan khusus Orion untuk Dokter?"
Luna menghela napas panjang, melirik jam dinding di ruang polinya. Pasien umumnya pagi ini sudah habis, dan ia memiliki jeda istirahat satu jam sebelum sif berikutnya.
"Dokter Luna, tolong bantu kami," rintih Fiona lagi. "Orion itu sudah dipindahkan dari enam rumah sakit jiwa berbeda sebelum ke sini karena kasus kedisiplinan dan penolakan terapi yang ekstrem. Kami tidak mau Silver Oak jadi korban ketujuh yang gagal menangani dia."
"Saya tau, Fi." Luna bangkit dari kursinya, merapikan jubah putihnya dengan gerakan tegas. Sisi profesionalnya berteriak bahwa ia sedang dimanipulasi oleh obsesi pasiennya sendiri. Namun, tanggung jawabnya sebagai seorang dokter tidak bisa mengabaikan pasien yang sengaja menyakiti diri sendiri.
"Mari ke sana," kata Luna dingin. "Biar saya selesaikan urusan dengan pasien keras kepala itu."
☆☆☆
Langkah kaki Luna terdengar ritmis di atas lantai marmer koridor penghubung. Begitu melewati pintu kaca besar yang membatasi area rumah sakit umum dan area psikiatri, atmosfer di sekitarnya mendadak berubah. Suara riuh rendah pengunjung berganti dengan keheningan yang sedikit mencekam, khas bangsal VIP yang didesain terisolasi dan tenang.
Fiona berjalan setengah berlari di sampingnya, masih dengan gurat kecemasan yang kentara. "Dokter Luna, jujur saya agak ngeri. Enam rumah sakit jiwa sebelumnya angkat tangan bukan cuma karena dia menolak obat, tapi karena sifatnya yang manipulatif. Dia bisa membaca psikologis staf medis dan memanfaatkan celah mereka sampai mereka sendiri yang tertekan."
"Saya tau, Fiona," sahut Luna datar, pandangannya lurus ke depan. "Dia obsesif. Dan dalam kasus Orion, obsesi itu sayangnya mengarah kepada saya sejak hari pertama dia dipindahkan ke sini."
Luna mengingat kembali sesi konsultasi pertama mereka dua hari yang lalu. Orion hanya duduk di kursi seberang mejanya, menopang dagu dengan mata yang tertuju pada dirinya. Selama hampir satu jam, pria itu tidak mengucapkan sepatah kata pun tentang traumanya, delusinya, atau apa yang ia rasakan. Pria itu hanya menatap Luna. Menatap dengan sepasang mata abu-abu yang seolah sedang menelanjangi seluruh isi kepala Luna.
"Nanae," hanya kalimat itu yang diucapkannya di akhir sesi, sebelum tersenyum tipis dan berjalan kembali ke kamarnya dengan sukarela.
Hanya satu sesi, dan pria itu sudah bertingkah seolah Luna adalah pusat semestanya. "Kita sampai, Dok," bisik Fiona, memecah lamunan Luna.
Di depan pintu kamar nomor 404, dua orang petugas keamanan berbadan tegap tampak berjaga dengan raut tegang. Di dekat mereka, Dokter sekunder yang bertugas visit pagi ini menggelengkan kepala sambil memegang berkas medis yang sedikit lecek.
"Dokter Luna," sapa dokter pria itu dengan nada lega yang kentara. "Pasien mengunci diri dari dalam. Kami bisa saja mendobraknya, tapi kami takut dia semakin nekat melukai dirinya sendiri. Lantainya sudah berlumuran darah karena dia mencabut jarum infus secara paksa."
Luna mengangguk paham. Ia mendekati pintu kayu jati yang kokoh itu, lalu mengetuknya tiga kali dengan ketukan yang tenang namun tegas "Orion," panggil Luna. Suaranya tidak keras, namun memiliki intonasi yang tidak bisa dibantah. "Ini saya. Buka pintunya."
Keheningan sempat merayap selama beberapa detik. Tak ada suara benturan atau teriakan dari dalam. Hanya kesunyian yang membuat semua orang menahan napas.
Klik!
Suara kunci yang diputar dari dalam terdengar begitu jelas. Perlahan, pintu itu terbuka sedikit, menyisakan celah sempit. Dari balik celah itu, sepasang mata abu-abu yang familiar menatap keluar. Begitu manik mata itu menemukan sosok Luna yang berdiri dengan jubah putihnya, binar dingin di dalamnya mendadak luruh, berganti dengan binar hangat yang tampak kekanak-kanakan namun mengerikan di saat yang sama.
"Nanae..." gumam Orion pelan.
Luna tidak membalas sapaan itu. Dengan gerakan tenang, ia mendorong pintu hingga terbuka lebih lebar dan melangkah masuk ke dalam kamar. "Kalian semua tunggu di luar. Jangan masuk sebelum saya panggil," perintah Luna kepada Fiona dan para petugas keamanan tanpa menoleh.
"Tapi, Dok–"
"Tutup pintunya, Fiona.
Brak!
Pintu ditutup rapat dari luar. Kini, menyisakan Luna dan Orion di dalam kamar bangsal VIP yang luas. Bau anyir darah langsung menyengat hidung Luna. Di lantai dekat ranjang, genangan darah kecil terlihat berserakan bersama dengan tiang infus yang sudah terguling dan pecahan piring sarapan pagi.
Luna mengalihkan pandangannya pada Orion. Pria itu berdiri di depannya dengan pakaian pasien berwarna abu-abu. Tangan kirinya tampak mengerikan. Darah segar masih mengalir dari punggung tangannya yang robek akibat jarum infus yang ditarik paksa, menetes satu demi satu ke atas lantai. Wajahnya masih pucat sisa demam semalam, namun tatapannya terkunci rapat pada Luna.
"Kamu datang," ucap Orion. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum tulus yang tampak kontras dengan kekacauan di sekelilingnya. "Aku tau kamu pasti datang kalo aku melakukan ini."
Luna menghela napas panjang. Ia berjalan mendekati meja nakas, mengambil sekotak tisu dan sepasang sarung tangan steril yang tersedia di sana. "Kamu pikir ini lucu, Orion?" tanya Luna, suaranya terdengar dingin dan datar saat ia memakai sarung tangan karetnya.
"Ngga lucu," sahut Orion ringkas. Ia melangkah mendekati Luna, sama sekali tidak memedulikan rasa sakit di tangannya. "Tapi ini satu-satunya cara agar dokter-dokter tidak berguna itu berhenti menyentuhku dan memanggilmu ke sini."
Luna berbalik, meraih pergelangan tangan kiri Orion yang terluka dengan gerakan yang sengaja dibuat tidak terlalu lembut agar pria itu sadar akan rasa sakitnya. Ia menekan luka itu dengan beberapa lembar tisu steril untuk menghentikan pendarahan.
Orion bahkan tidak meringis. Ia justru memanfaatkan kedekatan posisi mereka untuk menundukkan kepalanya sedikit, menghirup aroma familier dari tubuh Luna. "Aroma tubuhmu sama seperti semalam. Aku menyukainya."
Luna mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata Orion dengan jarak yang hanya berkisar belasan sentimeter. Tatapannya tajam dan menusuk, tipikal seorang psikiater yang sedang menembus dinding pertahanan pasiennya.
"Orion, dengarkan saya baik-baik," ucap Luna dengan nada rendah yang penuh penekanan. "Saya di sini sebagai dokter umum yang sedang bertugas di Silver Oak. Bukan sebagai psikiatermu, dan jelas bukan sebagai seseorang yang bisa kamu manipulasi dengan aksi menyakiti diri sendiri seperti ini."
Orion menatap bibir Luna yang bergerak saat berbicara, lalu perlahan menaikkan pandangannya kembali ke mata wanita itu. "Aku ngga peduli kamu pakai baju putih ini atau baju yang semalam, Nanae. Bagiku, kamu tetap kamu."
Pria itu memiringkan kepalanya sedikit, senyumnya memudar, digantikan oleh ekspresi yang luar biasa serius yang membuat bulu kuduk manusia biasa akan meremang.
"Dan soal perkataanku semalam..." Orion berbisik, suaranya serak tepat di depan wajah Luna. "Aku serius. Jangan biarkan orang lain menyentuh bibirmu sebelum aku menciummu, Rellunae."