NovelToon NovelToon
The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Azkaqia

​"Gue benci banget sama lo. Tapi kalau lo pergi... gue bisa hancur."
Ini tentang ego yang sama-sama keras kepala, sampai akhirnya sadar kalau kehilangan itu ternyata jauh lebih nakutin daripada ngakuin perasaan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu yang Tidak Diundang

Tiga hari setelah malam penuh darah di penthouse Arsen, Senja berusaha keras mengembalikan hidupnya ke jalur normal. Di kantor Malik Media, dia kembali menjadi asisten kreatif yang sibuk berkutat dengan revisi desain. Hubungannya dengan Arsen pun kembali formal, meski sekarang ada aturan mutlak terselubung: Senja wajib berada di bawah pantauan Arsen selama jam kerja.

​"Mbak Senja, astaga... coba lo nengok ke depan deh sekarang," bisik Rara tiba-tiba sambil menyenggol lengan Senja heboh.

​Senja mendongak dari layar laptopnya. "Kenapa, Ra? Ada revisi massal lagi?"

​"Bukan! Itu... ada cowok ganteng banget baru masuk. Katanya adiknya Pak Arsen. Ramah banget, sumpah! Tadi pas nanya kubikel lo ke resepsionis, dia senyumnya manis banget, nggak kayak Kakaknya yang hobi bikin jantungan," Rara senyam-senyum sendiri, matanya berbinar.

​Senja mengernyitkan dahi, ikut melempar pandangan ke arah koridor utama.

​Di sana, seorang pria muda dengan setelan kasual mewah sedang berjalan santai. Wajahnya sekilas punya garis rahang yang mirip dengan Arsen, tapi pembawaannya jauh lebih hangat dan bersahabat. Langkah pria itu mendadak berhenti tepat di depan kubikel Senja. Begitu mata mereka bertemu, senyum menawan langsung terbit di bibirnya.

​"Halo, maaf mengganggu waktunya sebentar," sapa pria itu dengan nada suara yang sangat ramah dan luwes. Dia berdiri tegap di depan meja Senja, memperlihatkan gestur tubuh yang sopan. "Kamu Senja, ya? Asisten pribadinya Kak Arsen?"

​Senja buru-buru berdiri dari kursinya. "Ah, iya bener, Pak. Saya Senja."

​"Eh, jangan panggil 'Pak' dong, santai aja. Panggil Devan," potong Devan sambil terkekeh pelan, menyodorkan tangannya buat bersalaman dengan sangat sopan. "Gue adiknya Arsen. Senang bisa kenalan sama lo. Kemarin-kemarin gue sering denger soal kinerja bagus lo di kantor dari tim legal, makanya hari ini gue sempetin mampir buat liat langsung."

​Senja membalas jabat tangannya, merasa agak lega karena mengira adik Arsen ini tipe orang yang menyenangkan. "Oh ya? Terima kasih banyak, Devan."

​"Sama-sama. Oh iya, Kak Arsen tipe yang tegas banget kalau kerja, kan? Kalau lo ngerasa capek atau butuh temen ngobrol pas jam istirahat, kabari gue aja. Nanti siang lo senggang, gak? Gimana kalau—"

​BRAK.

​Suara pintu ruangan ujung koridor yang terbuka dengan sentakan kasar langsung memotong kalimat Devan. Arsen berdiri di ambang pintu. Jas hitamnya terpasang rapi, tapi ekspresi wajahnya bener-bener sedingin es. Sepasang mata elangnya menatap tajam ke arah jemari Devan yang baru saja terlepas dari tangan Senja.

​"Devan. Masuk ke ruangan saya," perintah Arsen. Suaranya rendah, berat, dan penuh penekanan yang tidak bisa dibantah.

​Bukannya takut, Devan justru berbalik sambil melempar senyum lebar yang kelihatan sangat tulus dan hangat ke arah Arsen.

​"Eh, Kak Arsen! Baru aja mau gue samperin ke dalam," ujar Devan dengan nada suara yang terdengar sangat perhatian dan menyayangi kakaknya di depan para karyawan. "Gue sengaja mampir nih, bawain suplemen vitamin yang dititipin Mama buat lo. Katanya belakangan ini Kakak kelihatan kurang fit dan pucat. Tolong dijaga ya badannya, Kak. Jangan terlalu diforsir kerjanya, kita semua khawatir."

​Pencitraan adik yang berbakti itu sukses bikin beberapa karyawan perempuan di kubikel lain langsung menatap Devan dengan pandangan kagum dan terharu.

​Tapi di mata Arsen, topeng manis Devan itu justru memicu amarah terselubung. Rahang Arsen tampak mengatup rapat, urat di lehernya menegang seiring dengan tangannya yang mengepal di sisi tubuh.

​"Saya tidak butuh vitamin kamu. Masuk sekarang," ucap Arsen, nadanya semakin dingin dan berbahaya. Pria itu melangkah maju, mendekati kubikel Senja dengan ritme jalan yang tenang namun terasa mengancam. Arsen berhenti tepat di antara Devan dan Senja, seolah sengaja membuat batas fisik agar adiknya tidak bisa mendekati asistennya lagi.

​Arsen melirik Senja dengan pandangan menuntut yang tajam. "Senja, bawa berkas evaluasi bulanan ke ruangan saya. Sekarang."

​"P-Pak, tapi berkasnya belum selesai—"

​"Sekarang, Senja Naura," potong Arsen, mutlak.

​Senja menelan ludah, langsung menyambar map acak di mejanya demi menyelamatkan diri dari ketegangan aneh ini. "Baik, Pak."

​Devan yang melihat reaksi Arsen yang terlalu defensif dan posesif itu langsung menaikkan sebelah alisnya. Kilat jenaka penuh arti melintas di matanya selama sedetik, sebelum dia kembali memasang wajah adiknya yang penurut.

​"Ya udah, Kak, jangan galak-galak sama asistennya dong," ucap Devan santai sambil menepuk pundak Arsen sekilas dengan akrab sebelum berjalan mendahului mereka menuju ruangan. "Gue masuk duluan ya. Sampai ketemu nanti, Senja."

​Arsen tidak bergerak dari tempatnya sampai Devan benar-benar masuk. Begitu Senja berjalan melewatinya untuk ikut masuk ke ruangan, Arsen mendadak menahan lengan Senja sebentar. Cengkeramannya erat, hangat, dan dipenuhi getaran emosi yang coba dia tahan.

​"Jangan pernah membalas senyuman atau ajakan dia lagi. Paham?" bisik Arsen tajam, tepat di dekat telinga Senja. Mata elangnya menggelap, memancarkan rasa cemburu dan posesif yang luar biasa pekat, kontras dengan topeng bos kaku yang biasa dia pakai.

​Senja tertegun, menatap bos tiran-nya yang mendadak kelihatan... sangat tidak tenang hanya karena Devan mendekatinya.

​"Loh, kenapa emangnya, Pak? Devan kan baik, dia cuma mau kenalan," sahut Senja polos.

​Mendengar kata 'baik' keluar dari mulut Senja untuk memuji adiknya, tatapan Arsen semakin menajam intens. Dia melepaskan lengan Senja dengan perlahan, lalu berbalik masuk ke ruangannya dengan wajah sekeras batu tanpa memberi jawaban.

​Senja berdiri terpaku di koridor sejenak, memegangi lengannya yang terasa hangat. Jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat. Tunggu... si tiran itu barusan kenapa sih? batin Senja, mendadak merasakan letupan manis yang aneh menyelinap di dadanya.

1
Arya Suluran
bagus banget jalan ceritanya
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!