Ada alasan kenapa banyak orang menyebutnya Perfect Husband.
Leo J memiliki semua yang diimpikan seorang wanita. Ia setia, bertanggung jawab dan mencintai istrinya dengan cara yang membuat siapa pun iri.
Namun, cinta itu tidak pernah sederhana.
Leo J mencintai dengan cara yang berlebihan. Terlalu melindungi, terlalu posesif, terlalu takut kehilangan. Hingga terkadang, cintanya itu terasa menyesakkan.
Di masa lalu, pria yang kini begitu memuja istrinya itu... pernah mencintai wanita lain hingga rela memberikan seluruh dunianya.
Pada suatu hari, mereka dipertemukan dalam satu meja. Keheningan berubah menjadi sesak ketika Leo J menatap wanita yang pernah menjadi alasan hidupnya.
"Sekarang, Leo ada di depanmu, Kiara. Apa yang ingin kau katakan padanya?"
Yuna mengizinkan mereka berbicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Dia Pacarku
Maaf jika kisahnya tidak sesuai ekspektasi kalian.
🍃🍃🍃🍃
Sementara di sana. Di pulau seberang. Mobil Karel berhenti di halaman luas keluarga Arnis.
“Er, apa kau grogi?” tanya Arnis sebelum mereka keluar dari mobil.
“Tidak. Aku akan menerima semua keputusan orang tuamu. Jika kita tidak jod---”
Arnis segera menutup bibir Karel dengan telapak tangannya.
“Jodoh. Kita jodoh, Er. Tidak ada kata jika tidak jodoh,” ucapnya pasti dengan keyakinan.
Karel hanya tersenyum dalam bekapan mulutnya. Semoga, ucapnya dalam hati.
“Kenapa kau diam. Jawab jika kita jodoh,” Arnis memprotesnya.
Kerel mengangkat tangannya untuk menunjuk tangan Arnis yang menutup bibirnya.
“Kau bisa mengangguk sebagai jawaban. Aku akan membuka telapak tanganku jika kau sudah menganggguk,” ucap Arnis.
Karel masih tersenyum dalam bekapan itu dan ia mengangguk sebagi jawaban.
“Kau terbaik, Er,” kata Arnis dan ia membuka bekapan tangannya dari Karel.
Karel mencubit pipinya. “Jodoh itu di tangan Tuhan, bukan di anggukan kepalaku,” ucapnya.
“Setidaknya kau sudah berfikir kita adalah jodoh. Tuhan akan mengabulkan apa yang kita pikirkan, jadi berpikirlah dengan baik,” jawab Arnis. Dia mendekatkan dirinya dan membuat ciuman di pipi Kerel. “Semangat,” ucapnya.
“Aku akan menculikmu jika nanti orang tuamu tidak setuju,” ucap Karel meniru ucapan Arnis.
Arnis mengangguk setuju. “Ah mantap,” jawabnya. “Jangan lupa minta tebusan, hahahaaa.”
Mereka keluar mobil bersama. Menggenggam tangan dengan erat seolah mereka tidak akan melepaskan satu sama lain.
Pintu rumah besar itu sudah terbuka dan memang sengaja terbuka untuk menunggu kedatangan putri mereka. Siapa yang akan putri mereka bawa ke rumah dan mengenalkan seseorang yang gadis itu bilang adalah pacarnya.
Genggaman tangan Arnis semakin erat saat mereka masuk ke dalam rumah. Papa dan Mamanya sudah menunggu disana. Di ruang tamu yang sangat luas.
Papa dan Mama Arnis terkejut bukan main setelah tahu siapa laki-laki yang putrinya bawa. Laki-laki yang saat ini menggandeng tangan putrinya. Mereka mengenalnya, Chef Karel yang sempat mereka undang pada acara ulang tahun perusahaan waktu itu. Jadi, pacar putri mereka adalah Chef Karel?!!
Arnis melambai dan nyengir saat berdiri berhadapan pada kedua orang tuanya. Sementara Karel membungkuk memberi salam dengan sopan. Dia menyapa kedua orang tua Arnis dengan ramah dan sopan.
“Silahkan duduk, Er,” ucap Arnis dan ia langsung menarik lengan Karel untuk duduk di sofa. “Silahkan duduk Ma, Pa,” ucapnya lagi setelah melihat Papa dan Mamanya masih berdiri terdiam seperti patung.
Tuan besar dan Nyonya besar Andrea kembali duduk. Tuan Andrea membawa pandangannya pada Karel.
Karel membungkuk dalam duduknya.
“Mohon maaf jika saya lancang bertamu ke sini, Tuan besar. Saya---”
“Dia pacarku, Pa,” sahut Arnis segera. Membuat semua mata langsung menatapnya. Arnis meletakkan telapak tangannya diatas punggung tangan Karel. “Dia pacarku, Pa, Ma,” ulangnya.
“Dia—” Tuan besar ingin menjawab tetapi putrinya lebih dulu menyahut.
“Dia Karel Erlangga. Chef Karel yang pernah Papa undang untuk datang mengisi acara ulang tahun perusahaan,” jelas Arnis. Dia akan mepromasikan pacarnya dengan biak di depan papanya.
“Mama yang meminta mengundangnya,” Nyonya besar Andrea menyahut.
Arnis dan Karel kini menatap Nyonya besar.
“Ah mama keren.” Arnis memberi Mamanya satu jempol. Kemudian, ia kembali menatap Papanya. “Pa, dia ini Karel Erlangga,” Arnis menepuk-nepuk pelan lengan Karel. “Tinggi, pintar, masakannya lezat, bodinya jangan ditanya, apa lagi wajahnya. Sangat tampan. Ummm, putrimu ini sangat pintar mencari calon menantu bukan? Selera putrimu sangat tinggi. Jika suami dari putrimu adalah Karel Erlangga, Papa dan Mama akan memiliki cucu-cucu yang lucu, bermata biru berkilauan. Uhhh, manisnya.” Arnis bersemangat tetapi dalam hati, dia benar-benar cemas. Bagaimana jika papanya tidak merestui.
Mama tidak bisa menahan tawanya. Beliau tersenyum lebar dan bertepuk tangan pelan. Hmmm, imutnya cucu-cucu bermata biru berkulaian.
“Dia---”
“Papa,” Arnis menyahut papanya lagi. Jantungnya semakin tidak menentu saat Papanya menatap Karel. Jangan sakiti hati pacarku dengan menolaknya, gumam Arnis dalam hatinya. “Pa, aku sudah menyetujui untuk memegang satu perusahaan cabang. Aku keren, bukan? Jika tentang uang, aku bisa menghasilkan banyak dari perusahaan yang kupegang, ya kan? Tidak perlu dihitung, Papa sudah tahu seberapa banyak. Jadi, tidak ada masalah dengan uang. Pun dengan pekerjaan,” ucap Arnis. “Jadi tolong jangan permasalahkan pekerjaan atau aset pacarku. Yang terpenting, dia adalah laki-laki yang baik dan aku mencintainya.”
Mama tidak bisa menahan tawa melihat kegigihan putrinya. Sementara Karel bingung harus berkata apa. Dia hanya sesekali mengalihkan pandangan dan kemudian memperhatikan pacarnya yang terlihat bersemangat.
Tuan besar menatap Karel lagi setelah putrinya selesai berbicara.
“Karel---”
“Pa,” Arnis menyahutnya lagi. Dia semakin gugup dan cemas.
Tuan besar Andrea membawa pandangannya pada putrinya.
“Bisakah kau diam dulu? Biarkan Papa berbicara!!!" ujar beliau.
“Ku harap Papa berbicara dengan ucapan yang membuatku senang. Kuharap Papa tidak mematahkan hatiku,” jawab Arnis.
Tuan besar tidak menjawabnya. Beliau kembali menatap Karel. Tangan Arnis semakin erat menggenggam. Dan usapan pelan jari Karel sedikit menenangkannya.
“Karel, Kau sungguh pacar Arnis?” tanya Tuan besar.
Karel mengangguk sopan. “Benar, Tuan besar,” jawab Karel.
“Tentu saja benar, kenapa Papa harus bertanya lagi,” sambung Arnis.
Tuan besar masih menatap Karel. “Karel, bagaimana jika kau pikirkan kembali,” ucap beliau.
Arnis menatap papanya dengan tajam. Sementara Karel diam memberi waktu pada Tuan besar untuk melanjutkan ucapannya.
“Yang ku lihat, kau adalah laki-laki yang kalem. Aku takut kau menyesal telah jatuh cinta pada Arnis, lihat saja, dia sangat bar-bar,” ucap Tuan besar. Ucapan yang membuat Karel tersenyum lebar. Dia sempat mengira jika Tuan besar akan mengatakan bahwa dia harus berfikir ulang karena mereka berbeda kasta tetapi ternyata bukan.
Sementara Arnis menatap Papanya dengan cemberut.
“Papa, kenapa kau tidak mempromosikan putrimu dengan baik. Kenapa kau malah membully putrimu sendiri,” protesnya.
“Papa berkata yang sebenarnya. Papa takut Karel menyesal telah berpacaran denganmu,” jawab Papa Andrea. Arnis menatap Papanya, dia ingin pada intinya. Iya atau tidak.
“Jadi Papa merestuiku dengan Karel?” tanyanya.
Tuan besar mengangguk menatap Karel dan kemudian menatap putrinya. “Ya. Papa Merestui kalian,” jawab beliau.
Arnis langsung berdiri dari duduknya. “Yess,” serunya. Kemudian ia kembali duduk dan menatap Mamanya.
“Ma, bagaimana dengan Mama?” tanyanya.
Mama langsung mengangguk dengan senyum lebar. “Ya, Mama juga merestui kalian,” jawab beliau. “Mama sangat bahagia karena akhirnya kamu menemukan laki-laki yang membuatmu jatuh cinta dan itu adalah Chef Karel,” tambah beliau. Mama membawa pandangannya pada Karel. Dan kemudian beliau membungkuk dalam duduknya.
Karel segera membalasnya. Dia membungkuk dalam duduknya.
“Chef Karel, terima kasih sudah mencintai Arnis,” ujar Mama tulus.
Karel kembali membungkuk.
“Terima kasih juga untuk Tuan besar dan Nyonya besar yang dengan ketulusan hati, merestui saya dengan Arnis. Menerima saya apa adanya,” jawab Karel sopan.
Tuan dan Nyonya besar mengangguk.
Ahhh, sungguh lega. Ini seperti bongkahan batu besar yang disingkirkan dari dadanya. Arnis berdiri dan memeluk papa dan mamanya. Dia mengucapkan terima kasih pada keduanya.
“Papa hanya heran dengan Karel. Kenapa dia mau denganmu,” ujar Tuan besar masih meledek anaknya sendiri.
“Papa, ish, Putrimu ini sangat cantik dan menggemaskan,” bela Arnis.
“Karel sangat kalem dan kau sangat bar-bar,” ujar Tuan besar lagi.
“Cinta itu melengkapi, Papa. Apakah aku harus membacakan puisi cinta agar Papa tahu bagaimana cinta itu bekerja dengan lembut,” jawab Arnis.
Mama tersenyum lebar.
“Semoga Chef Karel sabar menghadapi Arnis,” ucap Mama sambil menatap Karel.
Karel membungkukkan badannya sopan. “Pasti. Dia gadis yang manis, Nyonya,” jawab Karel dengan sengaja sedikit menatap Arnis dengan jenaka. Membuat wanita itu tersenyum lebar dan merasa menjadi tuan putri pada sebuah pesta dansa.
“Saya bersyukur, pacar Arnis adalah kamu Chef. Saya selalu menonton acara Chef Karel dan sejujurnya, saya fans Chef Karel,” ujar Mama.
Arnis langsung menatap mamanya, wah wah wah. Sementara Karel kembali membungkukkan badannya dengan sopan.
“Terima kasih, Nyonya besar. Saya merasa terhormat,” jawab Karel.
“Itulah kenapa saya merekomendasikan Anda pada suami saya untuk mengisi acara besar perusahaan. Dan ternyata sekarang Chef Karel datang sebagai pacar Arnis. Jangan tanya bagaimana saya begitu terkejut saat melihat gadis tomboy ini membawa Chef Karel masuk ke rumah. Sangat bahagia, Saya sangat bahagia. Oh, Chef idolaku adalah calon menantuku,” ujar beliau dengan semangat.
“Wah, wah. Ku pikir Mama sering menonton acara Er, karena Mama mencatat resepnya. Oh, ternyata Mama suka dengan chefnya,” komentar Arnis.
“Ya, tentu saja. Chef tampan jangan sampai dilewatkan,” jawab Mama.
“Uhum,” Tuan besar berdehem. Namun kemudian dua orang datang, seorang wanita yang mirip dengan Arnis dan laki-laki yang menemaninya.
Wanita itu sama terkejutnya saat melihat ada Karel di ruang tamu orang tuanya. Dia segera menatap Arnis.
“Jangan bilang jika pacarmu adalah Chef Karel?” tanyanya dengan mengangkat telunjuknya.
“Ya, dia pacarku,” jawab Arnis.
“Aaaa … astaga, astaga. Chef Karel ayo kita berfoto. Aku salah satu Fansmu,” seru wanita kakak perempuan Arnis. “Mama ayo kita ambil foto,” tambahnya. Dia dan Mamanya memang sama-sama ngefans dengan Chef Karel Erlangga.
Arnis menepuk keningnya pelan tetapi dia merasa sangat lega. Ternyata tidak seburuk yang dia pikirkan. Dan lagi, ternyata mama dan kakaknya adalah fans Karel. Tidak buruk, Karel diterima dengan baik di keluarga ini.
***@****
nah gitu aja,kalo Yuna lagi ngambek jawabnya i love you,i love you,i love you terus aja leo🤣🤣,ya Allah aku ngakak
yaelaaaah aq d bawa k alam mimpi pas ngetik komen🤣🤣🤣🤣