NovelToon NovelToon
Jejak Kaki Di Kotaku

Jejak Kaki Di Kotaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: A.T. Setiawan

Menelusuri lorong kota itu setelah sekian lama meninggalkannya mengusik ingatanku.

Beberapa tempat yang tak berubah, mengingatkan sebagian kisah masa laluku yang menempaku menjadi seperti sekarang .... Laki-laki yang masih tetap menjadi dirinya sendiri.

Aku bisa selembut kapas dan berubah sekeras batu padas seiring kedewasaan hidupku yang dikelilingi kepalsuan dan intrik penumpang gelap di sekitarku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.T. Setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Pemantik Bara

"Mikul dhuwur mendhem jero ...!" Entah berapa kali kalimat itu diucapkan setiap kali Bapak membahas suatu persoalan seusai rutinitas makan malam.

Yang kukagumi bukan tentang makna peribahasa itu, tetapi betapa Bapak mampu menjaga keriangan suasana tanpa terburu menyinggung suatu persoalan di tengah makan bersama kami.

Setelahnya barulah Bapak mulai mengulik sebab suatu persoalan yang ada dengan bahasa sederhananya.

Tidak semua pembicaraan mengharuskan kami duduk bersama. Aku dan adikku akan menyingkir dari meja makan jika Ibu memberi kode untuk menyingkirkan piring dan gelas kotor setelah makan malam usai.

Barulah jika persoalan itu perlu dibicarakan dengan Aku atau adikku, Bapak akan memanggil kami berdua.

Dan yang paling sering menjadi topik pembicaraan di meja makan itu pastilah Aku.

"Kamu itu mbarep Pras, ... harus jadi conto adik-adikmu."

Semula aku sebal jika persoalan yang ada sebab ulah adik-ku selalu saja menyeret diriku. Mulai dari kelalaianku mengawasinya atau malas membantunya menyelesaikan PR sekolahnya saat tak ada Bapak atau Ibu, dan masih banyak persoalan remeh temeh yang menjengkelkan diriku.

"Jangan sampai kalian terlihat tidak akur hanya karena malas mengajari adikmu," pungkas Bapak jika persoalan PR Christ atau Dion diadukan dua adikku ke pengadilan meja makan.

"Huuuuffft .... Selalu Aku .... Selalu Aku !" keluhku tanpa ada keberanian membantah.

Walau pembicaraan di meja makan itu tak terlalu saklek, Aku lebih senang menjadi pendengar karena toh pada akhirnya Ibu akan jadi pembela kami jika dirasanya kata-kata Bapak sudah cukup mengadili persoalan kami.

"Kalian berjanji tidak mengulanginya kan ?" Itulah suara yang selalu kami tunggu di setiap persidangan meja makan.

Kami pasti akan kompak mengangguk bersamaan jika Ibu sudah menyela Bapak dengan pertanyaan lembut tetapi tegas ke arah kami, sekaligus palu pemukul penutup vonis buat kami.

Dan sialnya .... Tak begitu lama kami pasti mudah melupakannya dan akan selalu mengulanginya seperti kebanyakan bocah yang lain.

***

Aku tumbuh dalam lingkungan Jawa Banyumas yang masih memegang budaya unggah ungguh dalam keseharian.

Bapak dan Ibu mengajari Aku dan adikku untuk selalu memakai bahasa Jawa kromo alus kepada orang yang lebih tua atau tamu dan saudara yang lebih tua.

Hanya dalam percakapan di rumah, Bapak dan Ibu lebih suka kami memakai bahasa Jawa ngoko Banyumasan.

Kata mereka supaya Aku dan adikku lebih terbuka dan tak merasa segan jika ingin mengungkapkan sesuatu seperti orang Banyumas yang blakasuta.

Dari campuran unggah ungguh Jawa yang dijadikan pijakan Bapak dan Ibu untuk membesarkan dan mendidik kami, Aku lebih mengenal Jawa Banyumas dari pergaulan sehari-hari. Apalagi bibi Yanti penggemar berat ketoprak Banyumas, yang selalu menyetel keras-keras radio saat menyiarkan dongeng babad Banyumas atau Sokaraja di RRI setiap hari Minggu pagi.

"Raden Kaligenteng Pras." Begitulah bibi Yanti mengingatkanku untuk tidak berisik saat acara di radio favoritnya mulai disiarkan.

Dongeng legenda Banyumas yang mengenalkan Aku kepada golongan-golongan sosial dalam lingkungan Jawa Banyumasan. dan tak ayal semakin menegaskan rambu-rambu dalam pergaulanku sehari-hari.

Jadi aneh saja jika Aku mendengar omongan si Pram yang lebih ke kraton-kratonan ketika dia mengobrol di kelas, tetapi kelakuannya malah terlihat brangasan seperti tak mengerti unggah ungguh.

"Asu ... Goblog .... Wedus ...!" Enteng keluar dari mulut si Pram ketika membahas setiap persoalan di dalam kelas.

Jika dalam dongeng babad Sokaraja Aku masih bisa menerima kelakuan Raden Kaligenteng anak Adipati Kertabangsa bupati Purbalingga yang petantang petenteng sok kuasa memperebutkan keris Setan Kober, ... kini Aku malah harus melihat sendiri dan berhadapan dengan kelakuan sosok antagonis di dongeng ketoprak yang sudah kuhapal itu.

Sosok yang merasa harus dihormati karena berdarah petinggi, lalu bebas berbuat rusuh di mana-mana mulai mengusik hatiku di kelas putih biruku ....

***

Di kelas, seperti sudah kusinggung di depan, Aku duduk sebangku dengan Juli, bocah Cina yang kebetulan ditunjuk jadi ketua kelas.

Kami semakin akrab karena sama-sama suka membaca dan menggambar. Kesukaan menggambarlah yang mendekatkan Aku dengannya saat membantu mendekorasi kelas dengan gambar-gambar yang nyeni dan menarik.

Semula, Aku merasa tak ada yang perlu kusinggung tentang kelas putih biruku di cerita ini, sampai kemudian di suatu hari kelas menjadi gaduh ketika si Pram marah-marah dan mengancam Juli.

"Asu kowe .... Awas ntar baliknya !" Si Pram mengacungkan kepalan tangannya ke arah Juli.

Tak berani melawan, Juli hanya duduk mematung dan menekuk wajahnya.

Aku yang sedang meringkas pelajaran di sebelahnya, semula hanya membiarkan keributan itu.

Puas dengan ancamannya, si Pram ngeloyor ke luar kelas sambil terus menyumpahi Juli.

"Temani aku pulang Pras," pinta Juli yang kulihat ketakutan setelah kegaduhan itu berakhir.

"Ya .... " jawabku singkat.

Sebenarnya Aku tak mau terlalu jauh ikut campur, jika saja tak ada kata-kata si Pram yang sama persis diucapkannya dulu ke arah Bogi kawan kecilku.

"Dasar Cina Asu !" Umpatan itulah yang membuatku ingin menengahinya.

Sepertinya si Pram kini menganggap diriku tak bakalan berani lagi menghalangi semua kemauannya setelah kepindahanku ke Mersi dan tak ada Erwin lagi.

Aku juga tahu beberapa bocah laki-laki yang tak bisa diam di kelas di kelas sudah sering lontang lantung dengannya karena sering ditraktir di kantin.

Dari mulut mereka Aku mendengar di Pram mengarang cerita tentang diriku yang katanya jadi tukang pukul bocah Cina sebab dibayar.

Teringat kata-kata Bapak untuk tidak perlu membicarakan kejelekan orang lain, Aku membiarkan saja si kunyuk Pram puas dengan fantasinya sampai kemudian Juli menjadi ujian kebenaran berita tentang diriku.

Aku tak menyalahkan Juli yang mencoret abseni si Pram dan gerombolannya setiap kali mereka minggat tak ikut upacara bendera di hari Senin, karena itu sudah menjadi tugasnya sebagai Ketua Kelas.

Tetapi Aku juga tak bisa membiarkan kawan sebangku-ku dihantui rasa takut seperti Bogi dulu hanya sebab dikerdilkan sebagai Cina tanpa ada hubungannya dengan absen kelas yang mencoret anak-anak yang tak ikut upacara bendera itu.

Dan Aku sudah memutuskan untuk menemani Juli setelah kegaduhan itu. Keputusan yang kelak membuat permusuhan dan api dendam si Pram terhadapku semakin panjang ... !

 ***

*Mikul dhuwur mendhem jero : menjunjung tinggi kebaikan dan kehormatan, serta menutupi keburukan orang lain, khususnya orang tua dan keluarga. 

*Mbarep : Anak nomer satu.

*Unggah-ungguh : Tata Krama.

*Krama Alus : Bahasa Jawa halus untuk berbicara secara santun kepada orang yang lebih tua atau dihormati.

*Ngoko : Bahasa Jawa kasar untuk berbicara tanpa ada perbedaan golongan.

*Babad : Kisah sejarah dalam bahasa Jawa.

*Ketoprak : Sejenis opera dalam bahasa Jawa.

*Banyumas : Daerah Jawa Tengah bagian Barat.

*Blakasuta : Berbicara apa adanya.

1
Dhatu Lukita
🌹 untukmu 🤭💪
Dhatu Lukita
kemekel aku bacanya 😄
Wawan: Tengs .... semoga jadi inspirasi buatmu Thor 🤭👍
total 2 replies
Dhatu Lukita
banjir rob itu apaan ya kak
Wawan: Banjir sebab amblasnya tanah dan naiknya permukaan air laut .... Semarang dan Jakarta jadi contoh terkini banjir rob parah ... tengs atensinya
total 1 replies
SANG
Iklan lagi untukmu thor 👍💪
SANG
Lanjut thor👍💪
SANG
Semangat ya thor 👍💪
ginevra
salam juga pras
Aya Ansyar
Semangat terus berkarya Author 👍🏻
SenandikaMaret
percaya diri itu emang harus 🤣
Wawan: Nah kan .... 🤭🤭🤭😍
total 1 replies
asepnya bikin korong jadi irenk🤣
waktu kecil sering gogoh ikan di sawah, dapet seplastik, tapi malah sering lupa dibawa pulang, kerna keasikan maen ... pas diliat lagi dah jadi bangke🤣
ikan melem itu yang kayak apa kak?
jadi inget pas masih angon wedus pas jelas 3 SD🤭
ini cerita authornya kah🤭
Wawan: Hahaha ....simpulkan 🤣
total 1 replies
bjir, raup tayi🤣
kena pecut ekornya
temannya kek nama kakakku bjir🤣
enak tuh daging biawak, kek ayam
kalo anjingku dulu pas SD namanya Bopi, terus pas jalan" ke pameran ada ibu yang manggil bayinya Bopi, kakakku langsung cekikikan🤭
biasanya abis cari ular🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!