Menceritakan tentang seorang mantan pembunuh berantai, yang di bebaskan untuk membantu polisi dalam memecahkan sebuah kasus, yang kemudian membuat dirinya secara resmi menjadi konsultan khusus kepolisian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocolate Chase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan yang Membeku
Arthur melangkah memasuki gedung kantor polisi NYPD dengan langkah yang biasanya santai, tetapi kali ini terasa sedikit lebih lambat. Hoodie hitamnya basah oleh gerimis tipis yang turun sejak pagi hari. Di tangan kanannya, masih tergenggam secangkir kopi bawaan yang sudah mulai mendingin. Jam dinding besar di area lobi menunjukkan pukul 09.47 pagi, padahal rapat tim seharusnya dimulai tepat pukul 09.00.
Ia terlambat hampir lima puluh menit.
Semalam ia tidur larut karena pikirannya terus melayang-layang di antara pusaran kasus Senator Grant, bayangan kehidupan normal yang ia impikan, dan riak pertengkaran kecil dengan Elena sehari sebelumnya. Akhirnya, ia memutuskan untuk berendam lama sekali pagi ini, berharap air hangat bisa menenangkan isi kepalanya yang kian gelisah. Namun, keputusannya itu harus dibayar mahal. Begitu pintu ruang rapat utama yang besar dibuka, suasana di dalam ruangan langsung membeku seperti es.
Hampir dua puluh lima orang sudah duduk mengelilingi meja panjang. Para detektif senior, agen FBI, perwakilan dari kantor wali kota, teknisi forensik, dan tentu saja Elena Kuznetsova yang duduk di ujung meja dengan ekspresi sedingin kutub. Kapten Lopez tampak berdiri di depan layar proyektor, dengan Manuel Vin yang bersedekap di sampingnya.
Detik itu juga, semua mata langsung tertuju padanya.
Tatapan-tatapan itu bukanlah sekadar ketidaksukaan biasa. Ada kebencian yang terang-terangan, rasa jijik, serta kecurigaan yang menusuk tajam. Beberapa detektif senior mendengus pelan, sementara seorang agen FBI di barisan belakang berbisik cukup keras kepada rekannya. "Monster dibebaskan, sekarang dia datang seenaknya seperti raja. Kita di sini membahas nyawa orang, dia datang membawa kopi."
Arthur berhenti sejenak di ambang pintu. Senyum miringnya masih terpasang di wajah tampan itu, tetapi kali ini guratan senyumnya terasa sangat kaku. Ia bisa merasakan setiap tatapan di ruangan itu menyerupai mata pisau yang siap menguliti eksistensinya.
Kapten Lopez hanya menggelengkan kepala pelan dengan ekspresi kelelahan, sedangkan Manuel Vin mengusap wajahnya sambil mengembuskan napas berat. Manuel sudah terbiasa dengan kelakuan Arthur, tetapi situasi konfrontatif seperti ini tetap saja membuatnya tidak nyaman.
Elena Kuznetsova berdiri perlahan dari kursinya. Wajah cantiknya yang biasa sudah terlihat tajam, kali ini benar-benar tampak membeku oleh amarah. Sepasang mata birunya menyala hebat.
"Kau terlambat," katanya dengan suara jernih yang menusuk, membuat aksen Rusianya terdengar jauh lebih tegas dari biasanya. "Kami di sini sudah hampir satu jam membahas misi tim yang seharusnya kau pimpin, membahas nyawa potensi korban berikutnya, dan menyusun strategi menghadapi pembunuh yang sangat berbahaya. Dan kau datang sesantai ini sambil membawa kopi seolah sedang berlibur? Apa kau pikir ini hanyalah sebuah permainan baru bagimu, Rutherford? Apa kau masih merasa spesial karena dulu kau hobi membunuh orang dan sekarang diberi kesempatan untuk bermain lagi?"
Ruangan seketika menjadi hening total, bahkan desau mesin pendingin ruangan terdengar begitu keras.
Ucapan Elena melesat bagai anak panah yang tepat menghujam ke dalam dada Arthur. Pria itu berdiri kaku di sana, tangannya masih memegang cangkir kopi, dengan seluruh tubuh yang menegang. Rasa malu yang sudah sangat lama tidak pernah ia rasakan, kini naik ke permukaan dengan gelombang yang begitu kuat. Kata-kata Elena bukan hanya sekadar menyakitkan, melainkan telak menyentuh bagian paling rapuh dari dirinya yang saat ini sedang mati-matian berusaha untuk berubah.
Seluruh orang di ruangan ini membencinya. Ia tahu itu, ia selalu tahu hal itu sejak awal. Namun, mendengarnya langsung dikuliti oleh Elena, seseorang yang diam-diam mulai ia hargai kecerdasannya, memberikan rasa sakit yang jauh lebih menusuk.
Arthur tidak membalas rentetan kalimat itu dengan sarkasme tajam seperti biasanya. Ia hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terasa lembut, pahit, dan sedikit rapuh. Tanpa membalas sepatah kata pun, ia berjalan pelan menuju ke arah kursi kosong di ujung meja lalu duduk dengan diam. Sepasang mata hijaunya hanya menatap lurus pada map berkas di depannya, sementara tangannya meletakkan cangkir kopi dengan gerakan yang sangat lambat.
Keheningan mencekam masih bertahan selama beberapa detik sebelum Kapten Lopez akhirnya berdeham untuk memecah kecanggungan.
"Baiklah… kita lanjutkan," kata Kapten Lopez dengan suara beratnya. "Arthur, kau memang terlambat, tetapi kami sudah menyelesaikan pembahasan poin-poin utama. Elena, tolong ulangi ringkasannya untuknya."
Elena masih berdiri tegak, menatap Arthur selama beberapa detik lagi. Ada sekelebat kilat penyesalan yang melintas di dalam matanya, tetapi ia bergerak cepat untuk menyembunyikannya. Suaranya kembali terdengar profesional saat menjelaskan temuan terbaru mengenai server, jejak digital, serta tiga nama tersangka utama yang saat ini sedang dilacak intensif.
Arthur hanya mengangguk pelan. Sepanjang sisa jalannya rapat, pria Wales itu lebih banyak memilih untuk membisu. Saat ada pertanyaan teknis psikologi yang ditujukan langsung padanya, ia hanya menjawab dengan kalimat yang singkat, tepat sasaran, dan tanpa emosi. Tidak ada lelucon, tidak ada sarkasme, dan tidak ada senyum miring yang biasa ia pamerkan.
Elena sesekali meliriknya secara diam-diam. Awalnya ia mengira akan merasa puas karena berhasil membungkam Arthur, tetapi semakin lama rapat bergulir, ada rasa tidak nyaman yang merayap di dalam dadanya. Kenapa dia tidak membalas ucapan ku? pikir Elena gelisah. Biasanya, pria itu sudah akan menyerangnya balik dengan puluhan kalimat pedas yang mengesalkan.
Rapat besar tersebut berlangsung selama hampir dua setengah jam. Seluruh detail kasus dibahas secara mendalam, mulai dari kemungkinan motif politik, dendam masa lalu, hingga ancaman lanjutan terhadap para pejabat tinggi lainnya. Arthur mencatat beberapa poin penting di secarik kertas kecil, tetapi bibirnya tetap terkatung rapat.
Saat rapat akhirnya dibubarkan, orang-orang mulai meninggalkan ruangan satu per satu. Beberapa di antara mereka masih menyempatkan diri melirik Arthur dengan tatapan sinis. Seorang detektif senior bahkan sengaja berbisik pelan saat berjalan melewati kursinya. "Semoga kau bisa berguna kali ini, Monster."
Arthur tetap bergeming di tempat duduknya sampai ruangan tersebut hampir kosong sepenuhnya. Manuel melangkah mendekat, lalu menepuk pundaknya dengan pelan.
"Kau baik-baik saja?" tanya Manuel dengan suara rendah yang protektif.
Arthur menyunggingkan senyum tipis, jenis senyuman yang sama seperti saat ia diserang oleh Elena tadi. "Aku baik-baik saja, Manuel. Mereka semua benar, kok. Aku memang seorang monster yang tidak tahu diri karena datang terlambat hari ini."
Elena yang saat itu masih mengemasi perlengkapan laptop-nya di ujung meja samar-samar mendengar penuturan itu. Gerakan tangannya terhenti seketika, dan jemarinya mencengkeram tas komputer dengan lebih erat. Untuk sesaat, ego di dalam dirinya mendesak untuk mengatakan sesuatu, entah meminta maaf atau setidaknya mencairkan ketegangan yang pekat ini. Namun, pada akhirnya, gengsi membuatnya hanya bisa menggigit bibir bawah dan melangkah keluar dari ruangan tanpa mengucapkan satu patah kata pun.
Arthur duduk sendirian selama beberapa menit berikutnya di dalam ruang rapat yang kini menjelma sunyi. Ia menatap permukaan meja yang kosong, dan perlahan-lahan senyuman di wajahnya memudar sepenuhnya. Ia tahu bahwa seluruh orang di gedung kepolisian ini menganggapnya sebagai ancaman, sebagai noda hitam di dalam sistem peradilan, dan sebagai pembunuh yang hanya dipinjam untuk sementara waktu. Namun, hari ini, ucapan dari Elena sukses membuatnya merasa sangat kecil.
Akhirnya, ia bangkit berdiri, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku hoodie, dan berjalan keluar ruangan dengan langkah kaki yang tenang. Di koridor tengah, ia sempat beradu pandang selama satu detik dengan Elena yang sedang berdiri memegang secangkir kopi baru. Arthur hanya memberikan seulas senyuman kecil yang sopan dan formal, lalu melanjutkan langkah kakinya melewati wanita itu begitu saja.
Elena membalikkan badan, menatap kosong pada punggung Arthur yang kian menjauh di sepanjang lorong. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ia merasa bahwa rentetan kalimat yang dilontarkannya pagi ini mungkin sudah keterlaluan.
Sementara itu, jauh di dalam lubuk hati Arthur, sebuah suara kecil berbisik dengan sangat pelan. Mungkin memang akan jauh lebih baik jika aku kembali membusuk di dalam sel penjara saja. Setidaknya di sana, tidak ada satu pun orang yang harus berpura-pura menyukaiku.
Namun, Arthur tetap terus melangkah maju. Senyum tipis yang kaku kembali dipasang pada wajah tampannya. Pura-pura tidak tahu, pura-pura tetap kuat, persis seperti topeng yang selalu ia gunakan untuk menipu dunia selama ini.