Menemukan batu bintang, tersambar petir lalu koma tiga hari. Setelah bangun semua berubah, rumah jerami reot perlahan menjadi mewah dan nyaman. Bubur sayuran liar hilang dari meja makan, berganti dengan nasi dan gandum wangi.
Setiap hari akan ada ikan, daging, telur, yang kesemuanya cuma dapat mereka makan setahun sekali.
Bagaimana bisa perubahan itu terjadi pada keluarga miskin tanpa bakat dan kemampuan..?
Apa sebenarnya yang dialami gadis itu saat koma tiga hari..?
Batu bintang, benda apa dan darimana asalnya itu...?
Ikuti perjalanannya dan dapatkan jawabannya di Bai Anshu Story.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Dengan menyewa gerobak keledai milik dokter Yong, seluruh keluarga Bai cabang kedua pergi ke Guangdong guna mengantarkan dua ribu pics sabun.
Bai Jinyu yang baru pertama ini pergi kekota Tiankeng, amat sangat tidak sabaran.
Sejak dini hari kala masih berlatih beladiri, bocah balita itu sudah merengek dengan terus bertanya kapan berangkat. Bahkan semalaman ia tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Pedati yang dikendalikan Bai Dashan, melaju bersama dengan gerobak sapi Pei Dayan yang penuh penumpang.
Selain nenek Pan dan cucu bungsunya dengan manisan Haw, sekarang ada beberapa penduduk yang mulai pergi berbisnis kekota.
Seperti bibi Yan, memilih berdagang cincau hitam saus manis dan pedas asam.
Bibi Yin, istri putra kedua kepala desa Pei Yuhan, menjual roujiamo.
Paman dan bibi Choi, dengan pangsit kucai dan telur.
Serta paman Jang dan putrinya yang memilih berdagang mie acar ikan.
Selain itu, ada beberapa rumah tangga yang berbisnis kedermaga dengan menjual makanan juga.
Desa Huanshan, yang dulu cuma berkutat seputaran bertani dan berburu, kini mulai hidup dengan beragam aktifitas.
Jalanan gelap jika malam datang, sekarang telah diterangi lentera linen yang menggantung berjejeran.
Huanshan, bukan lagi desa miskin putus asa, pasrah akan takdir seperti dulu.
Gerobak melewati gerbang kota setelah membayar satu koin, dan langsung menuju kemenara Guangdong.
Kakek Guang sigap berdiri menyambut, begitu melihat Bai Anshu melompat dari atas pedati.
"Shu'er, syukurlah kau datang." ucap lega kakek Guang.
"Salam kakek..!"
"Ya..!" kakek Guang menepuk pelan pucuk kepala Bai Anshu.
Guang Yulong dan Meilan, turut serta menyapa riang.
"Shu-ya, semua sabun kemarin habis terjual, dan hari ini kami sudah menerima pesanan dua ratus batang." lapor Guang Meilan antusias.
"Benarkah..?" sahut tercengang Anshu.
Meilan mengangguk cepat.
"Ah, kakek, Lan-ya, kakak Long, kenalkan ini ayah dan ibu, juga adik bungsuku."
"Salam tuan Guang, tuan muda, nona Guang..!" sapa Bai Dashan dan Chen Muwan.
"Salam tuan Bai, nyonya...!"
"Salam paman, bibi..!"
Bai Dashan dan Muwan terkesiap, mendengar sapaan keakraban Yulong dan Meilan.
Mereka ini orang desa, yang bahkan harus menjaga pandangan jika bertemu para keluarga kaya.
Tapi ini malah diperlakukan baik layaknya keluarga. Jelas mereka kaget tak percaya.
"Ayo, mari, silahkan masuk. Tidak perlu sungkan..!" ajak kakek Guang.
"Em, maaf tuan, kami akan menurunkan sabun-sabunnya terlebih dulu." ucap Bai Dashan.
Guang Yulong sigap membantu, membawa semua kotak kemas bambu kedalam toko.
Untuk pembahasan selanjutnya, kakek Guang berurusan langsung dengan Bai Dashan.
Sementara Bai Anshu, melihat-lihat prodak-prodak yang dijual ditoko itu.
"Ada berapa warna perona bibir ini..?" tanya Bai Anshu, menunjuk kertas lipstik.
"Hanya satu saja..!" jawab Guang Meilan.
Bai Anshu dengan cermat menelisik setiap item kosmetik disana.
Kesimpulannya, prodak kecantikkan yang ada dipasaran saat ini rupanya masih amat terbatas jenisnya. Terutama dalam pilihan warna.
Kedua ujung kemanisan Bai Anshu saling menarik, otaknya gegas membolak-balikan tiap lembar pengetahuan perihal semua prodak kecantikan dari masa kemasa.
Dikala Anshu asik mengamati, Bai Dashan sedang melakukan transaksi.
Seribu lima ratus tujuh puluh tael delapan ratus wen, uang yang diperoleh dari pengiriman sabun kali ini.
Bai Dashan meringis, begitu menerima uang kertas, perak dan tembaga dari tangan kakek Guang.
Dengan mengantongi dua ribu tael lebih, Bai Dashan tidak takut lagi kekurangan uang dalam merenovasi rumah serta pembelian furniture.
"Tuan Guang, untuk pengiriman selanjutnya kami baru bisa melakukannya dua hari lagi." beritahu Bai Dashan.
"Tidak masalah tuan Bai, aku bisa memberitahu pelanggan untuk datang dihari itu jika memang nanti kehabisan stok" balas kakek Guang.
"Terimakasih atas pengertiannya tuan..!"
Kedua belah pihak berbincang sejenak, sebelum keluarga Bai pamit, sebab sudah mulai banyak pembeli datang.
Tujuan berikutnya, toko material bangunan dan pengerajin kayu.
Bai Anshu memberikan desain furniture pada pemilik tempat, penggabungan seni modern dan era sekarang.
Selain itu, Bai Anshu juga memesan daun pintu dan jendela.
Nantinya Bai Anshu ingin setiap jendela rumah barunya dipasangi teralis, agar dapat dibuka tutup dengan aman.
Tidak seperti masa sekarang, umumnya semua jendela tertutup kertas dan jika dibuka langsung menganga menampakkan seluruh ruangan.
Untuk keamanan juga sangat tidak safety, mudah sekali dibobol.
"Mau membeli apa untuk kakek dan nenek..?" tanya Bai Dashan, begitu keluar dari pandai besi.
"Kue bulan, kue teratai, daging dan lemak babi, gula, garam juga beras poles putih. Sekalian membeli roujiamo dilapak bibi Yin untuk makan siang, lalu manisan Haw nenek Pan." jawab Anshu.
Chen Muwan tersenyum lembut, hatinya menghangat haru. Ia amat bersyukur, memiliki suami dan anak-anak yang begitu perhatian serta berbudi luhur.
"Ayah, aku mau patung gula...!" seru Jinyu, menunjuk toko permen.
"Baik, sekalian beli untuk semua kakak sepupumu." balas Bai Dashan, memarkirkan gerobaknya dibahu jalan.
Kelima orang itu melangkah beriringan membeli gulali beragam bentuk serta permen malt dan maltosa kacang.
Setelah semua barang didapat, keluarga itu gegas menuju kedesa Qingshan.
Butuh dua jam bagi mereka untuk sampai dikediaman utama keluarga Chen, dan bertepatan sekali waktunya makan siang.
Berkat sirup kesehatan dengan campuran air suci, perubahan fisik seluruh anggota keluarga Chen mulai terlihat.
Visual kesemuanya tak lagi seperti orang desa yang kusam dekil.
Dari yang tua sampai yang muda, kini nampak terlihat bersih bersinar, tampan dan cantik.
Jika mereka mengenakan pakaian sutra, surai berhias giok dan perak. Orang yang tidak mengenal, akan mengira jika mereka berasal dari keluarga terpandang.
"Kenapa selalu harus membawa banyak barang..? kau ini pemborosan sekali." pekik nenek Chen, menampar lengan putri bungsunya.
Chen Muwan cuma mampu tersenyum saja.
"Jangan seperti ini, kami tidak enak dengan mertuamu. Bagaimana juga orang-orang nanti menilaimu..?" kata nenek Chen penuh kekhawatiran.
"Ibu, jangan memikirkan pendapat orang lain, mereka tidak tahu bagaimana dalamnya guci gandum keluarga kita. Lagi pula, tak ada yang salah dari anak memberi pada orangtuanya." sambar Bai Dashan menenangkan.
"Ayah dna ibu mertuaku juga sama mendapatkan ini, bu..! mereka sangat baik padaku, tidak perlu cemas."
"Justru karena mereka baik, kami jadi merasa tak enak hati." kakek Chen menimpali.
"Hanya hal kecil ayah, jangan terlalu dipikirkan." kata Bai Dashan.
Mereka makan siang bersama terlebih dulu dengan menu ruojiamo, aneka permen serta kue teratai dan kue bulan.
Setelahnya barulah berbincang perihal renovasi rumah, juga rencana mengajak Chen Yaran dan Linli, dalam pembuatan asesoris.
Gaji untuk Pei Yemin yang didapuk menjadi mandor bangunan, serta upah Yaran dan Linli, sekalian disebutkan.
Sambutan baik pun didapatkan.
Tak lupa, Bai Anshu mengaliri sumur dengan air suci, begitu juga tempayan dan kendi minum.
Chen Muwan menyelipkan kantung uang berisi dua puluh lima tael kepada sang ibu.
Sudah pasti ditolak, tapi ucapan yang sama seperti pada kakek dan nenek Bai, Anshu lontarkan.
Alhasil, meski enggan, nenek Bai akhirnya menerima dengan segaris air mata menghiasi pipinya.