Setelah ayahnya meninggal, Azalea hidup bagai pembantu di rumahnya sendiri di bawah kekejaman ibu dan kakak tirinya. Hingga suatu hari, Rosalinda menjual Azalea seharga miliaran rupiah kepada Daxon Ravenzo, penguasa mafia kejam.
Azalea diserahkan ke pria iblis itu bukan untuk menjadi istri, tapi hanya sebagai kandang pewaris. Daxon menginginkan tubuhnya hanya untuk melahirkan anak, tanpa cinta, tanpa belas kasihan.
"Kau kubeli untuk jadi BENIH keturunanku. Jangan bermimpi aku akan menyayangimu, karena bagiku... kau hanya alat."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Satu jam kemudian, Daxon kembali ke ruang kerjanya. Di sana ia melihat Azalea terlelap nyenyak dalam posisi duduk. Ia berjalan mendekat, berniat membaringkan wanita itu agar tidak terasa pegal bangun nanti.
Tiba‑tiba tangan Azalea bergerak dan menampar pipinya Daxon.
Plak!
Daxon memegang pipinya, sementara Azalea terbangun kaget karena bunyi itu. Ia mendapati Daxon menatapnya tajam sambil memegang pipi.
“A‑ada apa? Aku… aku tidak melakukan apa‑apa,” ucap Azalea bingung, tak sadar dirinya yang menampar.
“Kau berpura‑pura tidur lalu menamparku sekeras itu?” tanya Daxon.
“Aku… aku cuma bermimpi diganggu nyamuk. Sungguh, aku tak berniat sedikitpun,” jawab Azalea gugup.
“Kalau begitu kau harus bertanggung jawab,” ucap Daxon sambil mendekatkan wajahnya.
“B–bertanggung jawab bagaimana?” tanyanya makin gelisah.
“Begini caranya…” bisik Daxon, lalu melumat bibir Azalea.
Ia mengangkat tubuh Azalea dan berjalan menuju ruang rahasia di balik dinding. Di sana, Daxon membaringkan Azalea dan mulai mendekapnya erat. Azalea mencoba mendorong, namun Daxon hanya menatapnya lekat.
“Aku ingin cimol,” celah Azalea.
“Nanti kita beli. Setelah selesai urusan ini,” jawab Daxon tenang.
“Tapi… ini di kantormu,” tolaknya pelan.
“Kita di ruang tersembunyi. Tidak ada yang mendengar. Diam saja,” perintah Daxon tegas.
Azalea akhirnya diam saja. Daxon pun meraba setiap lekuk tubuh mungil itu dan mengecup lehernya, meninggalkan tanda merah yang jelas terlihat.
Keadaan menjadi hening hanya terdengar napas mereka yang saling bersahutan. Daxon tak melepaskan pelukannya, perlahan meluluhkan segala rasa kaku yang masih tersisa pada diri Azalea. Di ruang tersembunyi itu, tak ada lagi batasan di antara mereka, kehangatan dan rasa memiliki menyelimuti keduanya sepenuhnya.
Setelah semuanya berlalu, Daxon berbaring di samping Azalea sambil tetap memeluknya erat. Ia mengusap lembut rambut dan pipi wanita itu yang tampak masih merona dan lemas. Azalea hanya bisa diam, merasakan detak jantung Daxon yang kini berirama seirama dengan miliknya.
“Kau ingin beristirahat dulu atau langsung pergi membeli?” tanya Daxon menatap Azalea yang tampak sangat lelah.
“Aku mau beli cimol sekarang,” jawab Azalea. Ia mencoba bangkit sambil menarik selimut menutupi tubuhnya yang masih belum memakai sehelai pakaian, namun gerakannya membuat selimut sedikit tersingkap. Ia baru sadar jika Daxon belum mengenakan sehelai pakaian pun. Wajahnya seketika merah padam karena malu, lalu ia segera membalikkan badan memunggunginya.
“Aduh, kenapa aku ceroboh sekali, ” batinnya menahan rasa malu.
Tiga menit kemudian, Daxon sudah tampak rapi kembali dengan kemeja dan jas hitamnya. “Aku sudah siap. Keluarlah setelah kau sudah berpakaian,” ucapnya sambil berjalan keluar memberi ruang.
...****************...
Setelah selesai membeli cimol, Azalea menoleh menatap Daxon. “Kau mau cimol juga?” tanyanya.
“Tidak,” jawabnya singkat.
“Baiklah, aku mau duduk sebentar di taman sana,” kata Azalea seraya menunjuk deretan bangku taman.
Ia berjalan mendekati bangku, diikuti Daxon dari belakang. Baru saja ia duduk, terdengar seseorang memanggil namanya.
“Azalea…”
Azalea menoleh dan tertegun melihat sahabatnya. “Sari…?”
“Bukannya kau ada di luar negeri? Kenapa tiba‑tiba ada di sini?” tanya Sari tak percaya.
“Aku… aku…”
“Azalea, apa ada yang kau sembunyikan dariku?” desak Sari.
Keringat dingin mulai membasahi pelipis Azalea. Ia bingung mencari alasan, lalu melirik Daxon yang diam saja. Ia pun tersenyum terpaksa.
“Aku kembali karena ada urusan dengan klien ini,” ucapnya seraya menunjuk Daxon.
“Aku?” Daxon menunjuk dirinya sendiri, tak mengerti.
"Oh, aku senang bertemu denganmu lagi Azalea. Aku kira kamu sudah melupakanku,” ucap Sari.
"Aku juga senang bertemu denganmu disini," jawab Azalea dan tersenyum.
Sari seraya menyodorkan selembar undangan. “Ini pesta ulang tahun adikku, kau harus datang.” ucap Sari.
Azalea menerimanya gugup. “Tentu saja. Kalau begitu aku pamit dulu ya.” Tanpa menunggu jawaban, ia langsung menarik lengan Daxon pergi.
Daxon terheran di tarik sembarangan, apalagi mendengar dirinya disebut klien. “Kita mau ke mana?” tanyanya.
“Pulang,” jawab Azalea singkat.
“Mobil terparkir di sana,” tunjuk Daxon ke arah tempat parkir.
Azalea berhenti sejenak. “Kau saja naik, aku jalan kaki.”
“Yakin mau jalan sejauh ini sampai ke mansion?” nada Daxon terdengar menantang.
“Tentu saja. Dulu aku sering berjalan kaki ke mansion ayahku, jadi ini tak masalah,” jawab Azalea penuh percaya diri.
“Baiklah kalau begitu. Aku naik duluan,” ujar Daxon lalu berjalan menuju mobil.
Di dalam, ia duduk di sebelah sopir. “Ikuti dia dari jauh. Jangan terlalu cepat,” perintahnya.
“Siap, Tuan,” jawab sopir dengan sopan.
Mobil melaju sangat pelan, persis seperti siput. Daxon ingin tahu sampai di mana Azalea sanggup bertahan.
"Aku ingin melihatmu, sampai kapan kau kuat,"batinnya sambil tersenyum miring.
Satu jam berlalu. Keringat membanjiri wajah Azalea. Panas matahari terasa membakar kulit dan tenggorokannya terasa kering.
"Kenapa dia tidak menawari aku naik di mobil? Apa dia tidak lihat aku sudah kelelahan? Dasar pria tidak punya hati! " gerutunya dalam hati.
Kepalanya mulai terasa pening dan pandangannya berbayang. “Sepertinya… aku tak sanggup lagi…”
Grep!
Tubuhnya luruh lemas, namun tak sempat menyentuh tanah. Daxon sudah sigap menangkap dan mengangkatnya ke dalam gendongan, melihat Azalea akhirnya tak sadarkan diri karena kelelahan.
Daxon mengangkat tubuh Azalea dengan hati‑hati kembali ke dalam mobil, lalu memberi isyarat agar sopir segera melaju menuju kediamannya. Sesampainya di sana, ia langsung membawanya naik menuju kamar Azalea, membaringkan Azalea di atas kasur empuknya.
Ia segera memanggil pelayan. “Hubungi dokter, suruh datang ke sini secepatnya,” perintahnya tegas tanpa menoleh sedikit pun.
Sambil menunggu kedatangan dokter, Daxon duduk di sisi ranjang, menatap wajah Azalea yang masih pucat dan tak sadarkan diri. Tangannya sesekali menyentuh dahi gadis itu, memastikan suhu tubuhnya. Di luar ia tampak tenang, namun dalam hatinya terselip kekhawatiran yang tak ingin ia tunjukkan.
Tak lama kemudian dokter tiba dan segera memeriksa keadaan Azalea. Setelah beberapa saat, dokter berdiri dan berbicara pelan pada Daxon. “Hanya kelelahan berat dan sedikit dehidrasi, Tuan. Dia butuh istirahat cukup dan banyak minum nanti saat sadar. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” ucal dokter menjelaskan.
Setelah dokter pergi dan obat‑obatan diletakkan di meja samping tempat tidur, Daxon tetap duduk di sana. Ia tak beranjak, terus mengawasi setiap gerakan kecil Azalea yang masih terlelap dalam kelelahan.
...****************...
Sinar matahari mulai meredup dan berubah menjadi cahaya remang di balik tirai jendela saat Azalea perlahan membuka matanya. Kepalanya masih terasa berat, tenggorokannya kering luar biasa. Ia mencoba mengerjap, lalu menyadari sosok Daxon masih duduk di sisi tempat tidur, bersandar malas di kursi namun matanya tetap terjaga mengawasi.
"Di mana..." suaranya keluar parau dan lemah.
Daxon segera bangkit sedikit, mengambil segelas air yang sudah disiapkan di meja.
"Di kamarmu. Kau pingsan karena terlalu keras kepala," jawabnya datar, namun tangannya sigap membantu menopang punggung Azalea agar bisa minum sedikit demi sedikit.
Azalea diam saja sambil meneguk air, rasa kesal masih ada meski tubuhnya terlalu lelah untuk dipersoalkan lebih jauh. Ia menatap Daxon sekilas, lalu membuang muka.
"Kau sengaja membiarkanku berjalan sampai begini..." ucap Azalea pelan.
Daxon meletakkan gelas kembali, lalu merapikan selimut sebatas dada gadis itu. "Kau yang menantang, dan aku hanya membiarkanmu membuktikan kemampuanmu sendiri," ucapnya tenang.
Daxon berdiri hendak pergi namun sempat berbalik sebentar. "Istirahatlah. Besok kau harus lebih tahu diri." ucap Daxon.
Tanpa menunggu jawaban, ia pun melangkah keluar dan menutup pintu perlahan, meninggalkan Azalea yang masih diam merasakan campuran rasa kesal dan rasa aman yang tak bisa ia tolak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
tega banget si valeria mpe celakai azalea😔😔😔
aldric paling penakut iiih🤣
rasaiin kau daxon beli sate ayam sana🥰😂
lanjut thor😄