NovelToon NovelToon
Nona Kota Di Posko Kkn

Nona Kota Di Posko Kkn

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anshuu_

Alya Mahendra, gadis kota yang harus menjalani KKN di Desa Sukamaju, sebuah desa pelosok yang jauh dari kehidupan nyamannya. Karena tingkahnya yang sering mengeluh dan tak terbiasa hidup sederhana, teman-temannya mulai menjulukinya “Nona Kota.”

Di tengah hari-hari KKN yang penuh tantangan, ada Arga Pratama, cowok dingin dan kaku yang diam-diam sering membantu Alya meski wajahnya selalu terlihat tak peduli. Namun saat konflik mulai muncul di posko, mampukah Alya bertahan sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Pak Kades..

Setelah menempuh perjalanan sekitar lima menit dengan berjalan kaki, akhirnya rombongan KKN itu tiba di sebuah rumah panggung bercat hijau yang berdiri tidak jauh dari area perkebunan warga.

Cat rumah itu terlihat sudah cukup tua dan sedikit memudar di beberapa bagian. Meski begitu, rumah tersebut tampak sangat terawat. Halaman depannya bersih, dengan beberapa pot bunga berwarna-warni tersusun rapi di sekitar teras, menambah kesan hangat khas rumah pedesaan.

Begitu sampai, Danu dan adik kecilnya langsung berlari naik ke rumah tanpa ragu sedikit pun.

Sebagian anak KKN langsung menatap heran.

“Buset… langsung masuk aja, cok,” celetuk Adrian spontan.

Reza yang berdiri di sampingnya langsung tertawa kecil.

“Hahaha… namanya juga anak-anak.”

Adrian langsung mendecak.

“Lah, anak-anak maupun orang dewasa tetap aja harus ada tata krama bertamunya.”

Mereka masih berdiri di bawah rumah panggung itu, belum ada yang berani naik.

Sampai akhirnya muncul seseorang dari atas rumah.

Seorang pria dengan penampilan sederhana, wajahnya terlihat masih muda, mungkin sekitar akhir dua puluhan. Namun ada aura tenang dan wibawa yang membuat sebagian dari mereka langsung diam.

Pria itu tersenyum santai.

“Heh, kirain siapa yang datang… ternyata anak-anak KKN.”

Ia lalu melambaikan tangan.

“Ayo sini, naik… naik…”

Tanpa menunggu lama, mereka pun mulai naik satu per satu lalu bergantian menyalami pria tersebut.

Begitu semuanya berkumpul, Dimas yang sedari tadi penasaran akhirnya memberanikan diri bertanya.

“Maaf mas… Pak Kepala Desanya ada nggak ya?”

Pertanyaan itu membuat pria tadi tertawa kecil.

Sementara yang lain hanya saling pandang kebingungan.

“Ayo masuk dulu aja,” katanya santai.

Mereka pun mengikuti pria itu masuk ke dalam rumah.

Di sana sudah terhampar sebuah karpet besar dengan kondisi jauh lebih bagus dibanding karpet tua yang ada di posko.

Alya diam-diam memperhatikan sekitar.

Wah… karpet di sini lebih bagus dari yang di posko, batinnya.

Setelah semuanya duduk rapi, pria tadi akhirnya kembali bicara.

“Oh iya… perkenalkan.”

Ia tersenyum.

“Nama saya Arya. Saya kepala desa di sini.”

Ruangan langsung hening beberapa detik.

Adrian sontak melongo.

“Lahh buset… ternyata Pak Kadesnya?” ucapnya spontan. “Gue kira tadi saudara atau anaknya.”

Beberapa anak KKN lain langsung mengangguk kecil.

Jujur saja, sebagian dari mereka berpikiran kepala desa pasti pria berumur lima puluhan dengan wajah tua dan serius.

Sedangkan pria di hadapan mereka sekarang terlihat masih sangat muda.

Arya hanya tertawa kecil melihat reaksi mereka.

“Saya baru tiga tahun menjabat jadi kepala desa di sini.”

“Ohh…” jawab mereka hampir bersamaan.

Arya kembali tersenyum.

“Oh iya, coba perkenalkan diri satu-satu. Nama sama jurusan kalian apa.” Ia melanjutkan.

“Kebetulan ini pertama kali kita ketemu. Dan maaf ya, kemarin saya nggak ikut jemput kalian karena baru pulang dari luar desa.”

“Oh iya Pak,” jawab mereka kompak.

Arga yang duduk paling depan mulai memperkenalkan diri lebih dulu.

“Perkenalkan, nama saya Arga Pratama, jurusan DKV, Desain Komunikasi Visual.”

Setelah itu Alya ikut menyusul.

“Nama saya Alya Mahendra, jurusan DKV juga.”

Tiara tersenyum lalu ikut berbicara.

“Saya Tiara Calista, jurusan DKV.”

Satu per satu anggota lain ikut memperkenalkan diri. Ada yang berasal dari jurusan pertanian, agribisnis, kesehatan, pendidikan, dan beberapa jurusan lain.

Total ada tiga belas mahasiswa dalam kelompok KKN itu.

Arya mengangguk puas.

“Wahh… bagus-bagus ya.”

Di tengah obrolan mereka, tiba-tiba muncul seorang perempuan dari arah dapur.

Wajahnya cantik, terlihat masih muda. Ia membawa nampan berisi beberapa gelas teh hangat.

Di belakangnya, Danu ikut berjalan sambil membawa nampan lain yang berisi beberapa potong kue tradisional.

Perempuan itu tersenyum ramah.

“Ayo diminum dulu… jangan sungkan.”

Arya kemudian menoleh ke arah mereka.

“Oh iya, ini istri saya. Namanya Lastri.”

Sambil tersenyum, ia mengulurkan Tangan lalu menepuk pelan bahu Danu yang berdiri di sampingnya.

“Kalau ini anak pertama saya, namanya Danu.”

Seketika Adrian membulatkan mata.

“EH buset… pantesan tadi langsung nyelonong masuk.”

Ia menunjuk Danu.

“Ternyata rumah sendiri toh.”

Ucapan itu membuat Arya langsung tertawa kecil.

Sementara Danu hanya menunduk malu-malu.

Belum selesai suasana mencair, tiba-tiba dari belakang Lastri muncul anak kecil perempuan yang tadi berjalan bersama Danu.

Tubuh kecilnya setengah bersembunyi di balik kaki ibunya, hanya memperlihatkan wajah mungilnya.

Arya tersenyum melihat putrinya.

“Kalau itu putri saya juga. Masih agak pemalu.”

Mendengar dirinya dibicarakan, anak kecil itu justru semakin bersembunyi.

Pemandangan itu sukses membuat anak-anak KKN tertawa kecil.

Dan tanpa sadar, suasana di rumah sederhana itu perlahan berubah hangat. Jauh lebih hangat dari yang mereka bayangkan sebelumnya.

Setelah suasana mulai lebih santai, Arga akhirnya kembali mengingat tujuan utama kedatangan mereka. Ia sedikit membenarkan posisi duduknya sebelum menatap Pak Arya.

“Pak, kami mau tanya soal lingkungan di sekitar sini,” ucap Arga sopan. “Terutama soal pasar. Kami mau tahu kalau mau beli kebutuhan sehari-hari itu aksesnya bagaimana, terus harga barang-barang di sini kira-kira mahal atau nggak.”

Mendengar pertanyaan itu, Arya hanya tersenyum kecil.

“Oh… kalau pasar, di desa ini memang nggak ada,” jawabnya tenang.

Beberapa anak KKN langsung saling menoleh.

“Kalau kalian mau ke pasar, harus ke desa sebelah. Lumayan jauh dari sini,” lanjut Arya.

Adrian yang mendengar itu langsung menghela napas panjang.

“Waduh…”

Namun Arya kembali tersenyum, seolah sudah menebak reaksi mereka.

“Tapi kalian nggak perlu khawatir. Kalau cuma mau beli kebutuhan sehari-hari kayak sayur, ikan, atau bahan dapur lainnya… beli aja ke warga sini.”

Mereka kembali fokus mendengarkan.

“Di desa ini beberapa warga memang jualan. Biasanya setiap sore, di dekat lapangan desa, warga suka kumpul jual hasil kebun atau hasil tangkapan mereka sendiri.”

Ia mengambil gelas tehnya sebentar sebelum kembali bicara.

“Di situ biasanya ada yang jual sayuran segar, ikan, cabai, bawang, telur… pokoknya kebutuhan dapur cukup lengkap lah.”

Mendengar penjelasan itu, beberapa anak KKN terlihat sedikit lega.

Setidaknya mereka tidak perlu berjalan jauh setiap kali ingin membeli makanan atau kebutuhan memasak selama tinggal di desa itu.

Mendengar penjelasan itu, Alya yang sejak tadi diam tiba-tiba mengangkat kepala.

“Ehh… tapi lapangannya di mana ya?” tanyanya spontan.

Pertanyaan itu membuat Arya kembali terkekeh kecil.

“Nanti Danu bisa nganterin kalian ke sana,” jawabnya santai.

Tangannya bergerak lembut mengusap rambut anak lelakinya yang berdiri di dekatnya.

“Mereka biasanya mulai jualan sekitar jam tiga sore. Kalau mau, kalian bisa keliling desa dulu sebelum ke lapangan. Nanti Danu yang jadi pemandu kalian.”

“Siap, Pak,” jawab beberapa anak KKN hampir bersamaan.

Di sisi lain, beberapa dari mereka tanpa sadar memperhatikan keluarga kecil Pak Arya.

Lastri yang sesekali tersenyum lembut, Danu yang duduk diam di samping ayahnya, dan si kecil Amel yang masih setengah bersembunyi namun terus mengintip dengan mata penasaran.

Semuanya terlihat begitu hangat.

Begitu harmonis.

Dimas yang melihat itu tiba-tiba berbisik sambil melirik Arga.

“Pak Kades asyik ya… nggak kayak ketua kita.”

Seketika beberapa orang langsung tertawa kecil.

Pak Arya ikut terkekeh mendengar itu, sementara pandangannya sempat beralih ke arah Arga.

Di tengah suasana itu, Alya mendadak mengembungkan pipinya kecil.

“Ihh… jadi kangen Papi, sama Kak Elang, sama Kak Keano,” gumamnya pelan.

Adrian yang mendengar langsung menunjuk Alya.

“Aduhh… bahaya ini. Kalau nona kota kita sampai nangis repot.”

Ruangan langsung kembali dipenuhi tawa.

Alya spontan melotot.

“Apaan sih, Adrian.”

Di sisi lain, Arga yang sedari tadi memperhatikan hanya memandang Alya sekilas.

Dan tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecil. Untungnya, tidak seorang pun menyadari perubahan kecil pada ekspresi Arga itu.

Tiba-tiba suara kecil terdengar dari samping Lastri.

“Kakak… kalau kangen sama kakaknya, boleh pinjam kakakku kok.”

Mendengar suara kecil itu, seluruh perhatian di ruanGan langsung beralih ke satu arah.

Ternyata Amel yang sejak tadi berdiri di dekat ibunya baru saja bicara.

Anak kecil itu masih berdiri malu-malu sambil menggenggam baju ibunya.

“…tapi kalau papaku nggak boleh.”

Ucapan polos itu membuat Alya langsung tersenyum gemas.

“Kenapaa?” tanyanya penasaran.

Amel menatap Alya sebelum menjawab pelan.

“Nanti kalau kakak pinjam papaku… siapa yang beliin Amel boneka…”

Ia berhenti sebentar lalu melanjutkan dengan wajah serius.

“…terus siapa yang bacain cerita dongeng buat Amel tiap malam.”

Mendengar jawaban polos itu, beberapa Orang spontan menahan tawa sambil saling melirik.

Alya terkekeh kecil.

“Ehh… tapi kalau kakaknya kok boleh dipinjam?” tanyanya lagi.

Kali ini hampir semua orang ikut menunggu jawaban si kecil.

Amel langsung menjawab polos.

“Kalau Kak Danu boleh sih…”

Ia menunjuk kakaknya.

“Biar papaku cuma buat aku.”

Setelah mengucapkan itu, Amel justru tertawa kecil puas dengan jawaban versinya sendiri.

Sementara Danu yang berdiri di dekat ayahnya hanya menaikkan alis dengan ekspresi malas, seolah sudah biasa mendengar adiknya bicara seperti itu.

Adrian langsung memegang dada sambil tertawa.

“Haha astaga… bisa-bisanya mikir gitu.”

Dimas ikut menimpali.

“Di-pinjemin kakaknya, coii…”

Dan sekali lagi, rumah sederhana itu kembali dipenuhi suara tawa hangat dari seluruh orang di dalamnya.

1
Aylnn_
...
Aylnn
Bagus Sekali..
Aylnn
bagus kak..
cintaa
lanjut thor🙏🙏
Aylnn_: Besok sy update yah Kak..🙏🥰
total 1 replies
cintaa
ditunggu kelanjutannyaa 🙏💪
Aylnn_: Sudah update yaa kak..
total 1 replies
cintaa
lanjut thorr tapi banyakin yaa maaf kalo ngelunjakk🙏🙏🙏
Aylnn_: Sudah Update yaa kak, itu saya buat kan 3 bab yahh kak semoga suka🥰
total 1 replies
cintaa
hmm... mana yaa kak lanjutannya🙏🙏
Aylnn_: sudah update ya kak, maaf kemarin² saya sibuk🙏🥰
total 1 replies
cintaa
lanjut thorr💪💪💪💪
Aylnn_: Oke besok pagi yaa kk..
total 1 replies
Muh Adhil
hahah author nya tega banget sama alya 🤣
Aylnn_: Yaa Ampunn..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!