NovelToon NovelToon
Nyonya Kampung Di Rumah Megah Sang Perwira

Nyonya Kampung Di Rumah Megah Sang Perwira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Menikahi tentara
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: PqxxyZ

Vina, gadis desa sederhana, menyelamatkan Radit, perwira militer yang terjebak perangkap dan badai kabut di hutan perbatasan. Merasa berutang budi sekaligus kagum, Radit akhirnya membawa Vina ke kota untuk dinikahi dan tinggal bersama keluarganya yang kaya raya serta terpandang.

​Namun di rumah itu, Vina terus ditekan dan direndahkan sebagai "gadis kampung". Di tengah kejamnya intrik kasta kota dan perbedaan status sosial, sebuah rahasia masa lalu perlahan terkuak.

Akankah cinta mereka mampu bertahan diuji antara ketulusan, harga diri, dan kejamnya tatanan kasta kota?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 : Ramuan Ajaib

​"Kau harus keluar," ujar Vina lirih, menatap pintu kamar yang masih digedor dari luar.

​Radit mengernyitkan dahi, tangannya mencengkeram gagang pintu dengan erat. "Kenapa? Mereka pasti hanya bersandiwara untuk mengacaukan malam kita."

​"Tidak, Tuan... maksudku, Mas Suami. Aku takut," bisik Vina dengan sorot mata cemas. "Aku takut ada hal buruk yang benar-benar terjadi di luar sana. Tolong periksa ibumu."

​Radit mengembuskan napas berat, lalu mengangguk pelan. "Baiklah. Mari kita lihat bersama-sama."

​Klik.

​Radit dan Vina membuka pintu kamar bersamaan. Sosok Sella yang berdiri di depan pintu seketika menghentikan gerakan tangannya yang hendak mengetuk kembali. Gadis bergaun merah itu terengah-engah dengan wajah yang dibuat sepanik mungkin.

​"Radit! Ibumu sedang sesak napas di bawah!" seru Sella dengan nada histeris yang dibuat-buat. "Sepertinya beliau sangat tertekan memikirkan pernikahan dadakanmu ini!"

​"Pergi dari sini! Turun dan tunggu di bawah!" bentak Radit, suaranya yang tegas membuat Sella tersentak mundur.

​Melihat ke arah Vina yang berdiri di belakang Radit, Sella langsung membuang muka dengan dengusan jijik, lalu berjalan cepat menuruni anak tangga marmer.

​Saat Radit hendak melangkah panik untuk menyusul ke bawah, Vina dengan cekatan menahan pergelangan tangan suaminya. "Tunggu, Mas. Dengarkan aku dulu."

​Radit menoleh, menatap Vina dengan kening berkerut. "Ada apa, Vina?"

​"Saat turun nanti, kau harus membuat ibumu berbaring dengan ganjalan bantal yang cukup tinggi di punggungnya," instruksi Vina dengan tenang dan percaya diri. "Dan kalau beliau tidak ingin berbaring, maka biarkan dia duduk saja condong ke depan. Bantu dia mengatur napasnya dengan baik agar paru-parunya tidak tertekan."

​Radit menatap istrinya dengan pandangan kagum yang tidak bisa disembunyikan. "Lalu, apa yang akan kau lakukan?"

​"Aku akan pergi ke dapur dan menyiapkan herbal alami untuk beliau minum," jawab Vina mantap.

​"Baiklah, lakukan apa yang menurutmu terbaik," sahut Radit seraya mengangguk. Mereka berdua kemudian berjalan bersama-sama menuruni anak tangga menuju lantai bawah.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

​Begitu sampai di area dapur mansion yang sangat luas, Vina seketika tampak kebingungan. Langkah kakinya terhenti di depan deretan konter marmer dan alat-alat memasak modern yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya di kampung.

​"Bagaimana cara menyalakan kompor besi ini?" gumam Vina cemas pada dirinya sendiri.

​Vina mencoba mendekati beberapa pelayan senior yang sedang mencuci piring di sudut dapur. "Permisi, Boleh saya meminta tolong diajarkan cara menyalakan—"

​Namun, ucapan Vina diabaikan begitu saja. Para pelayan itu sengaja menghiraukan kehadirannya dan membuang muka, tampaknya mereka sudah dipengaruhi oleh Nyonya Laksmana untuk tidak menghormati sang "Nyonya dari Kampung".

​Vina menggigit bibir bawahnya, merasa sangat asing dan tersisih. Namun, tiba-tiba seorang pelayan perempuan yang berusia jauh lebih muda berjalan mendekat ke arahnya dengan senyum ramah.

​"Nyonya muda, apakah Anda membutuhkan bantuan?" tanya pelayan muda itu dengan sopan.

​Vina terperangah, lalu mengulas senyum lega. "Ah, iya! Tapi... apa tidak apa-apa jika kamu membantuku? Apakah pelayan lain tidak akan memarahimu?"

​"Tidak apa-apa, Nyonya," jawab pelayan itu dengan suara berbisik yang tulus. "Nama saya Ica. Saya diperintahkan langsung oleh Tuan Radit untuk membantu dan menjaga semua keperluan Anda di rumah ini."

​"Hah? Oh... syukurlah. Baiklah kalau begitu," cicit Vina, merasa hatinya menghangat karena perhatian terselubung dari suaminya.

​Ica tersenyum manis, bersiap di depan kompor. "Apa ada yang bisa saya bantu untuk ramuan Anda, Nyonya?"

​"Apa kau tahu cara cepat merebus air panas? Dan apakah di dapur ini ada persediaan jahe segar dan madu murni?" tanya Vina bertubi-tubi.

​"Tentu saja ada dan saya bisa menyiapkannya dengan cepat," jawab Ica cekatan.

​Sebelum Ica menyalakan kompor, Vina menahan pundak pelayan itu sebentar. "Tapi... maaf, Ica. Apa kau tahu apakah Ibu Radit memiliki alergi terhadap makanan, tanaman obat, atau apa pun itu?"

​Ica tampak berpikir sejenak, mengingat-ingat riwayat kesehatan sang majikan besar. "Hmm... sepertinya tidak ada, Nyonya. Selama ini Nyonya besar bisa memakan apa saja."

​"Bagus sekali," ujar Vina dengan binar mata yang cerdik. "Sekarang, kau harus mengikuti seluruh arahanku untuk membuat wedang jahe dan uap inhalasi alami ini, oke?"

​"Siap, Nyonya Muda!" sahut Ica penuh semangat.

​Sementara itu di dalam kamar utama lantai bawah, Radit sudah berada di sisi ranjang ibunya. Mengikuti instruksi medis tradisional dari Vina, Radit memaksa ibunya untuk duduk bersandar dengan ganjalan tiga bantal besar, bukan membiarkannya tidur telentang seperti yang direncanakan Sella.

​Nyonya Laksmana tampak megap-megap memegangi dadanya, mencoba memperpanjang akting lemasnya di depan sang putra. "Ugh... Radit... dada Ibu rasanya sesak sekali..."

​Radit menatap ibunya dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Kenapa Ibu bisa mendadak seperti ini? Padahal tadi sore Ibu terlihat sangat sehat."

​Sella yang berdiri di sudut ranjang langsung menyambar percakapan dengan nada memanas-manasi. "Tante Laksmana menjadi seperti ini tentu saja karena dirimu, Radit! Beliau syok dan tertekan melihatmu membawa wanita murahan dari kampung itu masuk ke rumah terhormat ini!"

​"Sella," panggil Radit, suaranya mendadak berubah menjadi sedingin es.

​Sella langsung tersenyum manis, mengira Radit akan mendengarkan pembelaannya. "Iya, Radit? Ada apa?"

​Radit tidak membalas senyuman itu. Ia justru menoleh ke arah pintu kamar dan memanggil pelayan pria yang berjaga di luar. "Pelayan!"

​"Iya, Tuan Muda?" sahut pelayan pria itu sembari membungkuk hormat di ambang pintu.

​Radit kembali menatap Sella dengan pandangan mengusir yang sangat telak. "Sepertinya tamu kita ini sudah sangat lelah dan hari juga sudah mulai gelap. Antarkan nona ini untuk segera keluar dari rumah ini sekarang juga. Sepertinya tamu kita ini tidak tahu arah pintu keluar mansion Laksmana."

​Mendengar perintah pengusiran yang begitu blak-blakan di depan calon ibu mertuanya, wajah Sella seketika memerah padam karena menahan malu dan amarah yang luar biasa. "Kau... Radit! Kau benar-benar keterlaluan dan sangat jahat kepadaku!"

​Radit mengabaikan makian itu, sementara pelayan pria tadi langsung mengulurkan tangannya ke arah koridor. "Silakan lewat sini, Nona Sella."

​"Lepaskan! Aku bisa berjalan sendiri dengan kakiku!" sentak Sella dengan kasar. Ia menghentakkan kakinya di atas lantai dan berjalan keluar dari kamar Nyonya Laksmana dengan amarah yang meledak-ledak. Rencana jahatnya malam itu gagal total.

​Tak lama setelah Sella diusir dari rumah, pintu kamar kembali terbuka. Vina berjalan masuk dengan langkah anggun, ditemani oleh Ica yang membawa sebuah nampan berisi baskom air panas yang mengepulkan uap, serta secangkir wedang jahe pekat.

​Vina mendekati ranjang dengan wajah penuh simpati tiruan. "Bagaimana kondisi Ibumu, Mas? Apa beliau sudah merasa agak mendingan?"

​Radit menoleh dan mendapati istrinya membawa ramuan. "Sepertinya begitu. Napasnya masih agak berat."

​Vina beralih menatap ibu mertuanya yang kini mendadak tegang melihat baskom air panas yang dibawa Ica. Vina memberi isyarat pada pelayan mudanya. "Ica, berikan air hangat yang mengepul itu ke dekat hidung Nyonya besar, agar beliau bisa segera menghirup aroma uap panasnya secara mendalam."

​"Baik, Nyonya Muda," sahut Ica patuh.

​Ica dengan cekatan mendekatkan baskom berisi air rebusan jahe dan sirih yang sangat panas itu tepat di bawah wajah Nyonya Laksmana. Uapnya yang sangat pekat dan menusuk hidung seketika membuat mata Nyonya Laksmana berair dan dadanya terasa kepanasan.

Wanita tua itu ingin menjauhkan wajahnya, namun ia sadar Radit sedang memperhatikannya dengan lekat.

​"Ayo Ibu, hirup uapnya yang dalam agar jalan napas Ibu yang tersumbat bisa segera terbuka," bujuk Vina dengan nada yang sangat manis namun terselubung jebakan.

​Nyonya Laksmana terpaksa menghirup uap panas itu berkali-kali hingga wajahnya memerah dan berkeringat deras. Akting sesak napasnya kini benar-benar berubah menjadi siksaan fisik yang nyata baginya.

​"Nah, setelah menghirup uapnya, sekarang berikan minuman wedang jahe ramuanku ini selagi masih panas," ujar Vina sembari mengambil cangkir dari nampan dan menyerahkannya langsung ke tangan Nyonya Laksmana.

​Nyonya Laksmana menatap cairan berwarna cokelat pekat yang baunya sangat menyengat dan pedas itu dengan pandangan horor. "A-apakah Ibu harus meminum air ini?"

​"Tentu saja harus, Ibu," sahut Radit ikut menimpali, mendukung tindakan istrinya. "Vina sengaja membuatkannya khusus di dapur demi kesembuhan jantung dan pernapasan Ibu. Habiskan selagi hangat."

​Dengan tangan yang gemetar karena kesal dan tersiksa, Nyonya Laksmana terpaksa meneguk wedang jahe buatan Vina yang rasanya sangat pedas dan membakar tenggorokannya. Ia harus menelan pil pahit itu bulat-bulat demi menjaga rahasia bahwa dirinya hanya berpura-pura sakit.

​​Malam pun semakin larut. Setelah memastikan kondisi Nyonya Laksmana "membaik" akibat ramuan herbal tadi, Radit dan Vina akhirnya kembali ke kamar utama mereka di lantai dua untuk beristirahat.

​Suasana kamar tidur itu kini terasa sunyi dan damai. Seluruh lampu utama telah dimatikan, menyisakan keremangan dari lampu tidur di sudut ruangan yang memancarkan cahaya kekuningan yang redup.

​Di atas ranjang ukuran king size yang empuk, Vina berbaring dengan tubuh yang diselimuti kain tebal. Namun, matanya sama sekali tidak bisa terpejam. Ia memiringkan badannya perlahan, menatap ke arah sofa panjang yang terletak di dekat pintu masuk kamar.

​Di atas sofa sempit itu, Radit tampak sedang berbaring dengan posisi yang terlihat tidak nyaman bagi ukuran tubuhnya yang tinggi dan tegap. Pria itu sudah tertidur sangat pulas dengan napas yang teratur, tampaknya ia benar-benar kelelahan setelah seharian penuh menghadapi ketegangan di kampung dan konflik di rumahnya.

​Melihat suaminya tertidur tanpa menggunakan pelindung apa pun di tengah dinginnya mesin pendingin ruangan, Vina merasa tidak tega. Hatinya kembali tersentuh oleh kebaikan pria itu yang rela mengalah tidur di sofa demi menghargai batas kenyamanannya di malam pertama pernikahan mereka.

​Vina bangkit dari posisinya secara perlahan agar tidak menimbulkan suara. Ia menyibak selimut tebal yang sedang dikenakannya, lalu berjalan dengan langkah jinjit mendekati sofa tempat Radit tertidur.

​Dengan gerakan yang sangat lembut dan hati-hati, Vina membentangkan selimut tebal itu di atas tubuh kekar Radit, menutupinya dari ujung kaki hingga sebatas dada bidangnya untuk menghalau rasa dingin.

​Vina berdiri diam sejenak di sisi sofa, menatap wajah tampan Radit yang tampak sangat tenang saat tertidur tanpa beban. Sebuah senyuman tulus akhirnya terukir di bibir manis gadis desa itu.

​"Kau benar-benar lelaki yang sangat baik, Radit..." bisik Vina dengan suara yang teramat lirih, hampir menyerupai embusan angin malam.

​Vina membalikkan tubuhnya dan berjalan kembali menuju ranjang besarnya dengan perasaan yang berkecamuk. Ia merebahkan dirinya di atas kasur, menatap langit-langit kamar yang megah dengan sejuta pertanyaan yang memenuhi benaknya.

"​Apakah kita benar-benar bisa hidup bersama selamanya dengan begitu banyak perbedaan kasta di antara kita?" batin Vina bertanya pada takdir, sebelum akhirnya matanya perlahan mulai terpejam menyusul sang suami ke alam mimpi.

1
Putri Ayu/PqxxyZ
aduh maaf banget di bab kali ini banyak typo bertebaran 😭🙏
Ris Ris.25
Semangat ya Thor🙏
Ris Ris.25
Semangat thor🙏🙏
Ris Ris.25
mana nih kelanjutannya?🙏
Putri Ayu/PqxxyZ: Oke ditunggu ya kak😊
total 1 replies
Ris Ris.25
Bagus sekali Thor... semangat! 🙏
Sri Sulastri
mana lanjutannya min 🙏
Putri Ayu/PqxxyZ: huhu makasih ya kak sudah nungguin.. setiap Hari update 1 kali sehari ya biar sehat 🤣🤭 setiap jam 9
total 1 replies
Wawan
Salam kenal Vina ✍️💪
Putri Ayu/PqxxyZ: Hai kakk.. salam kenal kembali..
total 1 replies
Mustafa
Keren
Putri Ayu/PqxxyZ
ayo kita lihat bersama PERWIRA GANTENG DAN BAIK
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!