NovelToon NovelToon
Mantan Suamiku Menyesal Saat Aku Hamil Anak CEO

Mantan Suamiku Menyesal Saat Aku Hamil Anak CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Penyesalan Suami
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Jung

Alara percaya, jika ia berhasil menikah dengan cinta pertamanya, ia akan menjadi orang paling bahagia.
Karena itulah ia rela meninggalkan kariernya sebagai desainer dan model demi menikah dengan Bagas, pria yang telah ia cintai sejak remaja.
Namun pernikahan impiannya berubah menjadi mimpi buruk.
Bagas selalu sibuk bekerja dan tak pernah membelanya saat ibu mertuanya menghina serta memperlakukannya seperti pembantu. Bertahun-tahun tidak memiliki anak membuat Alara dicap mandul. Hingga suatu hari, ibu mertuanya membawa seorang wanita muda ke rumah dan memaksa Bagas menikah lagi.
Saat itulah kesabaran Alara habis.
Ia memilih bercerai dan pergi dengan harga diri yang tersisa.
Semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Nyatanya, Alara bangkit.
Ia kembali mengejar mimpi yang pernah ditinggalkan. Serta membalas rasa sakit hati yang ia rasakan selama ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Jung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wajah Asli Nindy

Alara membuka pintu sedikit, matanya menyipit penuh waspada. Bagas tidak menatapnya dengan obsesi, melainkan dengan ketakutan murni.

"Ibu baru saja menuntut pengalihan aset perusahaan atas namamu sebagai bentuk 'kompensasi' cerai," ujar Bagas dengan napas memburu.

"Dia berencana memutarbalikkan fakta seolah kamu yang menipu kami, dan ini adalah bukti hukumnya."

Pengacara di sampingnya menyodorkan dokumen berisi ancaman pembunuhan karakter yang disusun Wendah. Alara terdiam, ternyata mertuanya belum menyerah. Bagas menatapnya dalam, bukan sebagai mantan istri, melainkan sebagai saksi kunci yang bisa menjebloskan ibunya ke penjara jika ia berani melawan.

---

Suasana di kediaman keluarga Bagas berubah menjadi sedingin es sejak malam pembatalan pertunangan itu. Kehangatan yang dulunya kerap dipamerkan kini menguap, menyisakan ketegangan yang menyesakkan dada. Nindy, wanita yang biasanya piawai mengenakan topeng gadis lemah lembut dan pengertian, mulai kehilangan kendali atas emosinya.

Selama berbulan-bulan, Nindy merasa telah menggenggam dunia. Ia yakin, dengan kesabaran dan keanggunan yang ia tampilkan, kursi sebagai istri sah Bagas akan segera menjadi miliknya. Namun, sejak sidang perceraian pertama dimulai, Bagas berubah menjadi orang asing. Pria itu lebih sering mematung di balkon, pulang larut dengan aroma rokok yang menyengat, dan yang paling parah, ia mulai mengabaikan Nindy.

"Apa Mas Bagas masih memikirkan mbak Alara, ya Bu?" tanya Nindy malam itu, suaranya tajam memecah keheningan ruang keluarga. Ia duduk di depan ibu Bagas, kuku-kukunya mencengkeram tas kulit mahal di pangkuannya.

Wendah menghela napas panjang, mencoba menenangkan wanita di depannya. "Bagas hanya syok, Nindy. Semua ini terlalu mendadak bagi perasaannya. Beri dia waktu. Setelah semuanya selesai, dia akan kembali ke rencana awal."

Gadis itu memutar bola matanya. "Waktu? Berapa lama lagi? Aku tidak bisa terus-terusan menunggu sementara dia bertingkah seperti pria yang kehilangan arah seperti itu, Bu."

Ketidakpercayaan mulai menggerogoti pikiran Nindy. Keesokan harinya, didorong oleh rasa curiga yang memuncak, ia mengikuti Bagas ke kantor. Dari balik kaca mobilnya yang gelap, Nindy mengamati Bagas yang duduk di dalam mobilnya sendiri di parkiran kantor. Pria itu tidak segera turun. Bagas hanya termenung, menatap layar ponsel dengan sorot mata yang belum pernah Nindy lihat sebelumnya, tatapan yang penuh kerinduan dan penyesalan yang mendalam.

Nindy memicingkan mata, lalu dengan sigap mengeluarkan ponselnya untuk memotret layar ponsel Bagas dari kejauhan. Begitu ia melihat hasilnya, napasnya tercekat. Itu adalah foto Alara, diambil bertahun-tahun lalu saat mantan istri Bagas itu masih menjadi model pameran busana. Wajah Alara tampak bersinar, penuh kebahagiaan yang tulus. Rasa cemburu yang panas langsung membakar dada Nindy, mengubah dunianya menjadi abu-abu.

---

Malam harinya, kesempatan itu datang. Bagas tertidur lelap di ruang kerja setelah satu hari yang melelahkan. Nindy masuk dengan langkah tanpa suara, mendapati ponsel Bagas tergeletak di atas meja kayu besar. Tanpa ragu, ia membukanya. Meski tak ada pesan yang mencurigakan, ia menemukan folder tersembunyi yang berisi puluhan foto lama Alara.

"Kenapa dia masih menyimpannya?" pikir Nindy, jemarinya gemetar hebat. Tanpa berpikir panjang, ia menekan tombol delete.

Satu demi satu, kenangan itu hilang dari galeri. Ia merasa puas, seolah dengan menghapus foto itu, ia juga menghapus kehadiran Alara dari kehidupan Bagas.

Namun, keesokan paginya, kekacauan meledak.

Bagas yang menyadari galerinya kosong, mendatangi Nindy dengan raut wajah yang mengerikan. "Siapa yang menyentuh ponselku?" suaranya rendah, namun mengintimidasi.

Nindy berdiri dengan dagu terangkat. "Aku. Aku sudah menghapusnya. Untuk apa kamu menyimpan foto wanita yang sudah kamu ceraikan? Itu tidak sopan bagiku, Mas!"

Bagas terdiam sejenak, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. Pria yang selalu tenang itu membentak. "Itu hakku! Foto-foto itu adalah kenanganku, sejarah hidupku yang tidak berhak disentuh oleh siapa pun, termasuk kamu, Nindy!"

Nindy terpaku. Ia tidak menyangka reaksi Bagas akan sekeras itu. Ia mengira Bagas akan meminta maaf atau setidaknya merasa bersalah. Namun, topeng lembut yang ia bangun selama ini mulai retak. "Kamu masih mencintainya, kan? Kamu hanya menganggapku pelarian sementara kamu menunggu dia kembali!" teriak Nindy, suaranya melengking tinggi.

Pertengkaran hebat pun tak terelakkan. Suara mereka membahana hingga ke ruang tengah, memanggil ibu Bagas yang segera berlari untuk melerai. Namun, keadaan justru semakin memburuk. Nindy, yang sudah kehilangan akal sehatnya, tidak lagi peduli pada citra yang ia jaga.

"Aku tidak peduli padamu, Mas!" seru Nindy tanpa sadar. "Sejak awal, yang aku inginkan hanyalah kehidupan mewah ini, status sebagai istri seorang pengusaha sukses! Aku tidak pernah peduli apakah kamu mencintaiku atau tidak, selama aku mendapatkan segalanya!"

Ruangan itu mendadak hening seketika. Ibu Bagas terbelalak, menatap Nindy dengan rasa tidak percaya. Bagas, yang berdiri di depan Nindy, menatap wanita itu dengan sorot mata yang kosong. Kepercayaan yang selama ini ia berikan, rasa hormat yang ia tanamkan, kini hancur berkeping-keping di depan matanya.

Nindy tersentak. Ia menyadari ucapannya telah menghancurkan segalanya. "Mas Bagas ... tidak, maksudku bukan begitu. Aku tadi hanya emosi."

Bagas tidak lagi menanggapi. Ia membalikkan badan dan berjalan keluar rumah tanpa menoleh lagi. Kepercayaan itu telah mati, dan tidak ada kata-kata yang bisa membangkitkannya kembali.

---

Di sisi lain kota, dalam apartemen kecil yang hangat, Alara tidak tahu bahwa badai besar sedang menghancurkan masa lalunya. Selama dua hari dua malam, ia hampir tidak tidur. Matanya lelah, namun semangatnya berkobar seperti api yang tidak bisa dipadamkan. Ia sedang menyempurnakan koleksi gaun yang akan dipresentasikan di depan klien besar.

Setiap jahitan adalah sebuah harapan. Setiap sketsa adalah bukti bahwa ia bisa berdiri sendiri setelah apa yang terjadi.

Saat ia sedang merapikan sketsa terakhir untuk presentasi besok, sebuah notifikasi masuk ke ponselnya. Sebuah email dari salah satu perusahaan mode terbesar di Indonesia. Alara membukanya dengan tangan yang sedikit gemetar.

Itu adalah undangan resmi untuk mengikuti seleksi desainer utama dalam proyek kolaborasi besar. Sebuah kesempatan yang selama ini hanya berani ia impikan.

Alara tersenyum tipis. Senyum yang tulus, senyum yang sudah lama hilang dari wajahnya. Ia menyadari bahwa pintu menuju kehidupan barunya mulai terbuka lebar. Ia tidak lagi harus menoleh ke belakang, ke rumah yang penuh dengan topeng dan kepalsuan.

Sementara kehidupan lamanya yang ditinggalkannya perlahan runtuh karena kebusukannya sendiri, Alara justru mulai menapakkan kaki di tangga menuju impian yang selama ini ia korbankan. Ia tahu, masa depan adalah miliknya sekarang.

Bersambung...

1
Mertua jahat
Iffanaya 😽
kuy lanjut kk 🙌
Febriana Merryanti
bingung euy kaya di ulang²
Nurul Jung: Maaf kak, masih belajar ini :⁠-⁠). Bab selanjutnya akan di buat lebih baik lagi. Jangan bosan buat bacanya ya 🫰☺️
total 1 replies
Noey Aprilia
Ga sbr nunggu hkm krma buat sng mrtua durjana,enth hkumn apa yg pnts buat dia....scra kjhtannya bnr2 d luar btas.....
Smngt trs alara....bkin mreka mnysal dgn ksuksesanmu....😘😘😘
Noey Aprilia
Wooowww....
Ga msti nunggu lma,trnyta siluman rubah ngmong sndri....bkn krna cnta ktanya,tp dmi hrta.....bagoosss.....😛😛😛.....
Alara ttp smngt....jgn pdulikan mreka yg mnyktimu,tnjukkan sm mreka kl km bs sukaes.....
Noey Aprilia
Apa lg sih bagasssss....
msih ngeyel ga mau cerai atw ada ssuatu yg lain????
jgn smp alara mkin bnci sm situ y....😡😡😡
Nurul Jung
😄
Noey Aprilia
Dfinisi mrtua durjana....
mga abs ni hkum krma dtng buat dia...dn buat bagas,slmt mnikmti pnyesalan......😛😛😛😛
Noey Aprilia
Alara....ttp sm kputusanmu y,jgn smp kena bjuk rayu setan lg....kbnrn mlai trungkap,biarkn mreka nrima hkuman yg stimpal atw bhkn lbih mnykitkan.....
Noey Aprilia
Sprti biasa.....orng akn mnysal stlh khilangn....slmt mnkmti pnyesalan bagas....
Nurul Jung: okok 😄
total 3 replies
Noey Aprilia
Hai kk....
Aku udh mmpir....slm knal....
aku udh ksel dr awal,gemes sm alara yg msih ngemis pnjlasan sm suami dn mrtua durjana....tp sykurlah krna skrng dia ush sdar....ttp smngt alara,abs ni km bkln jd orng sukses dn bhgia.....😘😘😘
Nurul Jung: Hallo kak, salam kenal juga, terus simak kisah Alara ya 😍
total 1 replies
Nurul Jung
Hari ini aku kasih double up ya sayang. Besok kalau mau tak kasih double up, tinggalin jejak yaa
Sabhana Pena
sialan si bagas
Sabhana Pena
loh, kok si Nindy udah ngehubungi. Alara duluan?
Nurul Jung
Betul itu 🤭🙏
Sabhana Pena
yaaa begitulah konflik dengan mertua kaya... ga papa Alara, setelah badai pasti ada 🌈. stay strong 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!