Mengisahkan tentang dua orang anak kembar yang memilki dunia yang sama. Karena sejak kecil mereka memang tidak pernah terpisahkan.
Rean Arya Partama, kakak dari Sean Kingston yang terkenal sebagai dokter playboy, padahal dirinya bahkan tidak pernah berpacaran sebelumnya. Sosok hangat yang selalu menjadi partner terbaik dalam hidup adik kembarnya, Sean.
Sean Aryo Pratama, seorang dokter muda yang memiliki kesabaran seluar lautan, namun berubah menjadi dingin saat sebuah kecelakaan merenggut seluruh masa depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 20
Rean membuka pintu kamarnya untuk Jasmine saat sang ibu menyuruhnya membawa Jasmine berkeliling.
"Bukannya ibu kamu nyuruh kita keliling ya? Kenapa ke kamar?" tanya Jasmine gugup.
Dia masih mengingat dengan jelas apa yang di lakukan Rean padanya tadi saat di apartemen.
Jadi Jasmine tidak akan terjebak untuk kedua kalinya.
Lagi-lagi Rean membuat Jasmine jantungan. Dia menundukkan tubuhnya, hingga mereka bisa sejajar.
"Kamu takut saya melakukannya lagi?" dengan polos Jasmine menganggukkan kepalanya.
Siapa yang tidak takut kejadian tiba-tiba seperti itu.
"Ini rumah Ibu, jadi tidak mungkin saya melakukan sesuatu yang tidak-tidak dengan kamu. Lain cerita kalau dia-" Jasmine membekap mulut Rean yang semakin tidak tau aturan itu.
Entahlah, dia bahkan langsung masuk begitu saja ke dalam kamar Rean, meninggalkan sang pemilik disana.
Ketika dia masuk, terdapat banyak buku-buku yang tersusun dengan begitu rapi, dan banyak piala serta piagam penghargaan disana.
Jasmine melangkah pelan, menelusuri rak-rak buku tersebut hingga dia berdiri tepat di depan lemari kaca, yang berisikan piagam, medali, dan piala bertuliskan nama Rean Arya Pratama disana.
"Ini belum seberapa di bandingkan milik Sean." ucap Rean di belakang Jasmine.
"Hah?" Jasmine berbalik hingga tubuhnya menabrak tubuh tinggi Rean.
"Aduh!" keningnya terasa sakit saat menabrak dada bidang Rean yang keras.
"Makanya hati-hati." kata Rean mengusap kening Jasmine dengan lembut, bahkan meniupnya membuat jantung Jasmine semakin tidak karuan.
Dia tidak bisa terus berada di posisi seperti ini. Karena tidak baik untuk kondisi jantungnya.
"Munduran dikit." Jasmine mendorong tubuh Rean yang bergerak sedikit dari posisinya.
"Kenapa, Hem?" tanya Rean lembut membuat Jasmine semakin ahkkk...sulit untuk menjalankan situasi mereka saat ini.
Aahhhkkk...aku yang nulis baper 😩😩😩
"Udah di bilang munduran dikit ya munduran. Aku gak mau mati muda!"
"Mati muda?" gumam Rean terkekeh kecil.
"Disini, harus kamu tanamkan perasan untuk saya, bukan untuk jantungan! kalau kamu tidak mau mati muda, maka ikuti pola hidup sehat seperti saya, maka saya pastikan hidup kamu akan panjang bersama saya." ucap Rean menekan bagian dada Jasmine dengan telunjuknya, membuat gadis itu semakin salah tingkah.
Dia menyesal tidak pernah menjalin hubungan dengan pria di luar sana. Hingga dia sulit untuk menghadapi dokter dengan 1001 akal bulusnya ini.
"Ah, tauk ah!" Jasmine merajuk, dan lebih memilih meninggalkan Rean disana.
Dia berjalan ke balkon kamar Rean dan menikmati udara malam dari sana.
"Ahhhkkk...rasanya jauh lebih baik saat ini." gumam Jasmine menikmati malam ini.
Rean datang dari belakang, dan memeluknya. Membuat jantungnya semakin berdebar kencang.
"Mulailah terbiasa dengan hal seperti ini, Jasmine. Saya akan selalu melakukan hal-hal seperti ini dengan kamu." ucap Rean seraya mengecup puncak kepala Jasmine yang hanya sebatas dagunya saja.
"Pro banget jadi laki-laki. Keliatan banget buaya daratnya!" gerutu Jasmine yang mulai menikmati posisi mereka saat ini.
Rean tertawa kecil saat Jasmine mengatakannya buaya darat. "Perhatikan kata-kata anda, Nona Rean."
Blushh...
Wajahnya memerah saat Rean menyebutnya dengan panggilan Nona Rean. Kenapa terdengar begitu manis sekali.
"Gombalnya itu ngegombal banget!" cibir Jasmine lagi.
"Kamu harus tau, jika kamu satu-satunya perempuan yang saya perlukan seperti ini, Jasmine."
"Gak percaya banget, sumpah." jawabnya tidak percaya dengan gombalan Rean.
"Saya tidak meminta kamu untuk percaya. Tapi harus kamu tau, jika pacar kamu ini tidak pernah berbohong. Kau perempuan pertama yang membuat saya melajukan hal-hal seperti ini, Jasmine."
"Pacar? sejak kapan kita pacaran?" tanya Jasmine yang membutuhkan kepastian.
Dia tidak ingin salah mengambil langkah dengan semua perhatian Rean padanya.
"Sejak malam dimana kamu mengenalkan saya sebagai kekasih kamu. Dan perlu kamu ketahui, jika saya menyukai kamu saja pertama kali kita bertemu."
"What!" pekik Jasmine tidak percaya.
"Sejak pertama kali kita ketemu? itu artinya saat pertama kali aku berobat waktu itu?" tanya Jasmine penasaran.
Rean menggelengkan kepalanya. "Bukan. Karena pertemuan pertama kita saat tabrakan di lorong rumah sakit waktu itu." ujar Rean membuat Jasmine menatap tidak percaya.
Dia ingat kejadian itu, karena waktu kejadian itu mereka sama-sama memakai masker, tapi kenapa Rean bisa mengingatnya?
"Jangan heran kenapa saya bisa mengingat kamu. Karena kepintaran saya hanya di bawah Sean 0, sekian saja. Jadi mudah bagi saya untuk mengingat kamu waktu itu, walau penampilan serba tertutup. Hanya bagian paha kamu saja yang terlihat begitu jelas saat memakai celana pendek itu!"
Plak!
"Dasar dokter mesum!" umpat Jasmine yang membuat Rean hanya tersenyum saja.
Sedangkan Sean yang berada di dalam kamarnya benar-benar merasa muak mendengar percakapan tidak masuk akal sepasang kekasih itu.
"Benar-benar sangat memuakkan!" umpat Sean langsung menutup pintu balkon kamarnya hingga terdengar oleh sepasang anak manusia yang sedang di mabuk cinta itu.
Brak!
"Apa itu?" tanya Jasmine penasaran.
"Sean." jawab Rean datar, membuat Jasmine terkejut.
"Kamarnya deketan? Jangan-jangan dia denger semuanya?"
"Menurut kamu bagaimana dengan reaksi dia yang menutup pintu balkonnya seperti itu?" jawaban apa ini?
Sungguh, Jasmine benar-benar merasa sangat malu di buatnya. Hingga dia hanya bisa pasrah bersandar di dada bidang Rean, yang menghangatkan malamnya.
***
jevan lho up sn... kok trs di tgl kn
eee jevan noh