Aminah dipaksa Bekerja banting tulang untuk kesejahteraan semua anggota keluarganya tapi tak pernah dianggap sama sekali.
Bahkan lelaki yang dia cintai dan dia bantu mencapai cita-cita nya pun menusuknya dari belakang dengan memanfaatkan dirinya,
Mampukah dia bangkit setelah semua kesakitan yang dia terima
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Keduanya tidak peduli, mereka yakin itu hanya gertakan semata, mana mungkin teman Aminah itu bisa memiliki kos seperti ini.
"Benar tu kak, kakak harus berikan uang sama ibu, aku ini ingin kuliah, selama ini kan uang jajan dan transportasi aku kuliah itu dari gaji kakak jadi kasih ibu saja, berhenti membangkang kak, jangan jadi anak durhaka".
Dia menatap kesal sang kakak karena sejak tadi menghalangi niat mereka untuk mendapatkan uang padahal dia ingin pergi berbelanja setelah mendapatkan uang itu.
"Tidak akan, kalau mau uang kerja Lisa, jangan hanya tahu meminta uang, kamu itu tidak berguna". Kesal Aminah karena sang adik sejak tadi seenaknya berkata padanya.
"Lah kenapa kakak marah?, itu memang kewajiban kakak sebagai anak sulung untuk membantu orangtua menghidupi dan menyekolahkan adiknya". Sungutnya tidak terima dihina sang kakak.
"Bodoh amat Lisa, kakak saja hanya tamatan SMA itupun dari hasil kakak kerja bukan uang dari ayah dan ibu jadi lakukan hal yang sama, kita sama anak mereka". Bentaknya
"Tapi aku ini ingin kuliah kak, aku tidak mau hidup seperti kakak, aku ingin kerja kantoran dan juga hidup enak, ngapain aku harus sekolah SMA saja".
"Dasar tidak tahu diri". Celetuk sahabat Aminah itu dengan sarkas.
Lisa mendelik tidak terima, matanya menatap tajam sahabat sang kakak.
"Diam kamu, benar yang dikatakan anak saya, tugas anak sulung membantu orang tuaembiayai adiknya, setidaknya dia bisa berguna untuk kami karena kami membesarkan nya".
"Tapi aku juga anak ibu". Teriak Aminah dengan suara bergetar lirih.
Matanya memanas mendengar perkataan sang ibu seolah dirinya hanya dibutuhkan untuk berguna bagi keluarganya.
"Tidak usah banyak bicara kak, berikan uang itu sama ibu".
"Benar kata adikmu, sekarang berikan uang itu Aminah, ibu tidak mau tahu". Geram sang ibu berusaha menjambak rambut Aminah dengan kasar.
Lagi-lagi dia tidak bisa melakukannya karena tangan itu langsung dicekal oleh sahabat Aminah itu dan langsung ditarik kasar sehingga dia terhuyung.
"Persetan dengan hormat pada orang tua". Ucapnya dalam hati.
Dia sungguh geram dan kesal setengah mati melihat tingkah laku orangtua sahabatnya itu.
"Apa yang kamu lakukan pada ibuku?". Bentak Lisa tidak terima.
Dia segera menyerang sang kakak karena semua ini bermula darinya tapi sahabat Aminah itu segera bertindak karena geram
Sahabat Aminah itu langsung menjambak rambut Lisa dan ikut menyeretnya langsung kehadapan sang ibu dan menghempaskannya sehingga keduanya tersungkur bersama.
"Sudah habis kesabaranku, sejak tadi aku bicara dengan baik-baik tapi kalian tidak mengindahkan, aku akan pastikan kalian masuk kedalam penjara supaya kalian berdua tahu bagaimana rasanya diperlakukan seperti binatang oleh orang lain". Teriaknya sambil berkacak pinggang.
"Kurang ajar, aku akan membalas mu". Lisa berdiri hendak menyerang sahabat kakaknya itu.
Tapi tamparan keras langsung didapatnya dari sang kakak yang kini tengah dilanda emosi berat, matanya menyiratkan kemarahan mutlak melihat mereka selalu bertindak seenaknya bahkan sejak kemaren dia menjadi bahan tontonan yang membuatnya malu setengah mati.
"Kakak menamparku?". Tanyanya dengan penuh emosi.
Dia menatap kakaknya dengan tidak terima dan mengepalkan tangannya, dia ingin menampar sang kakak tapi tangannya ditangkap baik oleh Aminah kemudian dihempaskan dengan kasar.
"Pergilah Lisa, jangan buat kesabaran ku habis, kalian tidak akan mendapatkan apapun dariku, aku akan memberikan kalian jika ingin tapi jika sikap kalian terus seperti ini maka aku akan benar-benar tidak memandang kalian lagi".
Air matanya yang tadinya mengenang dipelupuk mata akhirnya mengalir juga, sekuat apapun dia bertahan dengan rasa sakit tetap saja luka terdalamnya adalah melihat ibunya terluka karena dirinya tapi tetap saja dia hanyalah manusia biasa yang ingin hidup dan bernafas Dnegan baik tanpa tekanan emosional seperti ini.
"Kumohon ergilah Bu, jangan buat aku menjadi anak durhaka seperti perkataan ibu, aku tahu kalian semua memiliki uang karena ayah baru saja mendapatkan tender besar, jadi tolong pulanglah, aku tidak akan bisa menolong kalian jika sahabatku memasukkan kalian ke penjara".
"Itu bukan urusanmu, tugasmu hanya berbakti dan menuruti perkataanku, aku ibu mu yang mengandung, melahirkan dan juga membesarkanmu". Bentaknya
Halimah berdiri dan berusaha menyerang Aminah tapi tangannya ditangkap baik oleh sang anak, Aminah menahan tangan ibunya sambil menggelengkan kepalanya.
"Apa polisinya sudah dekat Na?".Tanya Aminah dengan sendu
Walau dia tidak tega tapi ibu dan adiknya memang sudah keterlaluan, ini adalah kos milik sahabatnya dan semua orang yang ada disana terganggu dengan kehadiran mereka.
"Hajar dia Na, jangan sampai lengah kami semua akan bantu mengusir orang ini, dasar ibu durhaka sama anak, anak tidak mau kok dipaksa, dan lagian ini anak kecil satu, kamu itu harusnya kerja bantuin kakak kamu bukan seenaknya memeras kakakmu, enak benar hidup kalian itu". Geram salah satu ibu-ibu yang sejak tadi menyaksikan pertengkaran itu
"Mereka akan tiba, paling mereka ada digang depan, kamu tahu kan jika disini tidak bisa dilewati oleh mobil?".
Mendengar hal itu kedua orang sejak tadi menyalakan api amarah mendadak kaku, wajah mereka seperti disiram air es sampai tubuh mereka seakan membeku.
"Permisi, apa anda tahu kos-kosan yang katanya sedang terjadi keributan?". Tanya salah satu seseorang.
Percakapan itu jelas ditangkap baik oleh sepasang ibu dan anak itu, wajah mereka memucat dan tanpa aba-aba mereka langsung melangkahkan kakinya setengah berlari menembus kerumunan dan melarikan diri dari sana.
Mereka berdua tidak menyangka jika sahabat Aminah betul-betul memanggil polisi sehingga akan menangkap mereka.
"Jangan kabur". Teriak orang-orang begitu melihat keduanya berlari terbirit-birit.
Mereka segera menaiki motor itu dan menjalankannya dengan kecepatan gila menembus gang sempit itu.
Mereka bahkan tidak melihat keadaan sekitar sampai akhirnya berbelok tanpa melihat yang datang ternyata bukan polisi melainkan sahabat Aminah yang seorang security dan berpakaian layaknya polisi karena pakaian mereka memang sangat mirip.
Keduanya tertawa pelan melihat keduanya lari terbirit-birit bahkan nyaris menabrak orang lain karena ketakutan.
"Terima kasih sudah datang, aku yakin mereka tidak akan berani memunculkan dirinya setelah ini kecuali kalau mereka manusia tidak punya malu dan bebal".
"Kamu benar, mereka itu hanya bisanya menyerang orang yang dia pikir lemah tapi begitu diancam balik malah kabur tak tersisa, dasar tidak tahu diri".
Kedua sahabat Aminah itu saling berkomentar tentang kelakukan keluarga sahabatnya itu sedangkan Aminah hanya bisa diam saja karena yang mereka katakan benar adanya.
"Ingat kalau mereka datang lagi, katakan padaku, aku akan memberi mereka pelajaran ".
Aminah hanya bisa mengangguk dan mengiyakan perkataan sahabatnya itu, dia sudah sangat lelah menghadapi sikap keluarganya yang membuatnya malu setengah mati.