NovelToon NovelToon
Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

"Saat ayahku memilih menyelamatkan putri kesayangannya, dia mengorbankanku tanpa ragu."

Savira Dharma menghabiskan seluruh hidupnya mengejar sesuatu yang tidak pernah ia miliki: pengakuan dari ayahnya.

Sebagai putri kandung keluarga Dharma, ia belajar lebih keras, bekerja lebih lama, dan mengorbankan masa mudanya demi membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Namun ketika skandal penggelapan dana mengguncang Dharma Group, Savira dijadikan kambing hitam untuk melindungi keluarga yang selama ini ia bela.

Ditinggalkan sendirian di tengah hujan fitnah, ayahnya memilih diam.

Malam itu, Savira melompat dari puncak gedung perusahaan yang telah merenggut seluruh hidupnya.

Namun kematian bukanlah akhir.

Saat membuka mata, ia kembali menjadi gadis tujuh belas tahun—tujuh tahun sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.

Kali ini, Savira tidak akan mengemis cinta.

Ia tidak akan mengorbankan dirinya demi keluarga yang tak pernah memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Kekacauan yang Sedang Terjadi

Layar televisi menyala menampilkan berita utama tentang penarikan massal produk kecantikan Dharma Group.

Savira duduk bersila di atas karpet tipis apartemen usangnya. Secangkir kopi hitam yang mulai mendingin tergeletak di samping kakinya. Tepat pukul enam pagi, ledakan bom digital yang ia tanam semalam mengoyak kedamaian ibukota dengan presisi yang sangat mematikan.

Pembawa acara berita investigasi independen itu berbicara dengan nada mendesak dan raut wajah tegang. Latar belakang layar studio televisi memuat halaman pertama dari dokumen asli uji laboratorium kampus. Logo keemasan Dharma Group terpampang nyata, dicetak tebal dengan stempel merah darah bertuliskan "BERACUN".

Garis waktu masa depan telah ia bengkokkan dengan paksa malam tadi.

Breaking news pagi ini merilis kesaksian eksklusif dari sepuluh pemengaruh kecantikan ternama. Mereka adalah target pasar utama yang menerima paket VIP peluncuran kosmetik tersebut dua hari lalu. Wajah mereka yang biasanya mulus kini dipenuhi ruam kemerahan, melepuh, dan mengelupas parah.

Kandungan logam berat dan pengawet industri kelas bawah itu bekerja membakar epidermis kulit mereka secara brutal sejak pemakaian pertama.

Savira menatap layar televisi dengan mata yang sedingin lautan es. Ujung jarinya mengusap pinggiran cangkir kopi yang kasar. Aliran darah di dadanya berdesir hangat, memompa adrenalin kemenangan yang sangat memabukkan ke seluruh sel tubuhnya.

Kamera televisi beralih menampilkan potongan video promosi megah milik Nadia Dharma. Wajah angkuh saudara tirinya yang memeluk botol emas kini disandingkan langsung dengan foto-foto luka menganga para korban kosmetik tersebut.

Gelar "Putri Keberuntungan" yang dibangun susah payah oleh Wijaya kini berubah menjadi lelucon paling menjijikkan di seluruh ranah publik.

Video promosi itu diputar berulang kali oleh stasiun televisi. Suara manja Nadia yang mengklaim keajaiban produknya terdengar sangat ironis saat ditimpa oleh suara isak tangis para korban di rumah sakit. Narasi kebohongan publik yang selama ini menjadi tameng utama Dharma Group robek tanpa ampun.

Savira meraih ponsel sekundernya dari atas meja. Ia membuka platform media sosial utama yang sedang terbakar emosi massa. Tagar boikot Dharma Group menduduki peringkat pertama tren pencarian nasional hanya dalam waktu dua jam setelah berita mengudara.

Ribuan komentar hujatan membanjiri akun resmi perusahaan dan akun pribadi Nadia secara masif.

Ibu jari Savira menggulir layar dengan ritme yang sangat lambat. Caci maki kasar, tuntutan hukum pidana, dan sumpah serapah mengalir tanpa henti bagai air bah. Ilusi kesempurnaan malaikat yang selalu dipamerkan Nadia hancur lebur menjadi serpihan debu kotor pagi ini.

Tiga hari yang lalu, gadis berbaju merah itu berdiri menyombongkan diri di depan piramida kosmetik. Nadia merendahkan Savira, mengklaim dirinya sebagai pembawa hoki yang paling dicintai oleh ayah mereka.

Kini, hoki palsu itu menjerat leher Nadia sendiri. Gadis tiruan itu pasti sedang meringkuk ketakutan di dalam kamarnya yang mewah, menangisi hilangnya ribuan pujian palsu yang selalu menjadi makanan egonya.

Pukul sembilan tepat, bel pembukaan bursa saham berbunyi nyaring menembus portal berita finansial.

Savira segera memindahkan fokusnya ke layar laptop yang menyala di pangkuannya. Ia membuka terminal bursa efek dengan jari yang sedikit bergetar karena antisipasi.

Grafik saham Dharma Group langsung terjun bebas menembus batas bawah pertahanan pasar.

Angka-angka hijau yang selalu menjadi tuhan bagi Wijaya Dharma berubah menjadi warna merah darah yang mengalir deras. Kepanikan masif melanda para investor ritel maupun institusi besar. Nilai kapitalisasi pasar perusahaan raksasa itu menguap triliunan rupiah setiap menitnya tanpa ada satu pun pialang yang berani menahannya.

Layar ponsel di samping laptopnya menyala singkat, menampilkan pesan teks terenkripsi dari nomor yang sangat ia kenal.

"Otoritas bursa baru saja membekukan sementara perdagangan saham Dharma. Mereka panik menghadapi tekanan jual." Pesan dari Aaron Jayanegara itu singkat, padat, dan memancarkan dominasi yang buas dari balik layar.

Savira membaca rentetan kalimat berikutnya yang masuk sedetik kemudian.

"Aku menahan unit tempur finansialku. Pasar sudah melakukan tugas penghancurannya untukmu pagi ini." Aaron menepati janjinya untuk tidak mengintervensi serangan taktis utama Savira. Pria posesif itu rela mengikat tangannya sendiri demi menghargai kebebasan bergerak Savira.

Savira tidak membalas pesan tersebut. Ia membiarkan Aaron menjaga batas perimeter dari jauh. Ia butuh ruang kosong ini untuk menikmati mahakaryanya sendirian.

Gadis itu merogoh saku flanelnya perlahan. Ia mengeluarkan sebungkus permen stroberi, merobek kemasan plastiknya hingga berbunyi gemerisik, lalu memasukkan permen itu ke dalam mulut.

Rasa manis buatan pecah di lidahnya. Sensasi gula ini berpadu sempurna dengan pemandangan kehancuran musuh besarnya. Ledakan dopamin di otaknya menyingkirkan sisa kelelahan akibat begadang semalaman di laboratorium.

Kepuasan ini terasa luar biasa solid dan nyata. Ia tidak membutuhkan pengakuan atau tepuk tangan dari seorang ayah sosiopat untuk membuktikan eksistensinya di dunia ini. Ia membuktikan nilainya dengan meruntuhkan pilar keangkuhan pria itu menggunakan kejeniusannya sendiri.

Kejeniusan yang selalu ditekan dan disembunyikan demi menjaga perasaan gadis tiruan yang rapuh.

Tangan kanannya kembali masuk ke dalam saku. Jemarinya menyentuh ujung tajam dari jepit rambut melati plastiknya yang patah. Tekstur benda mati itu meredam euforianya agar tidak meluap menjadi kecerobohan.

Bau melati samar menguar dari pori-pori kulitnya, menyingkirkan aroma apak apartemen murah tersebut. Wangi organik ini menjaga kakinya tetap membumi. Kemenangan hari ini adalah langkah awal yang indah, tetapi perang sesungguhnya dengan sang kaisar baru saja ditabuh.

Savira sangat memahami anatomi kejiwaan ayahnya lebih dari siapa pun.

Wijaya Dharma adalah monster yang sangat rapi dan metodis. Pria paruh baya itu tidak akan hancur hanya karena satu tamparan skandal kosmetik, sebesar apa pun dampaknya di bursa saham. Sosiopat itu tidak pernah membiarkan tangannya kotor oleh darah atau lumpur kegagalan.

Ketegangan baru mulai merayap naik, menyusup ke dasar perut Savira. Otot bahunya yang sempat rileks kembali menegang kaku.

Ayahnya pasti sedang duduk tenang di ruang kerjanya saat ini. Wijaya akan menyeduh secangkir teh kamomil, meniup uap panasnya dengan sangat sopan, lalu memikirkan kambing hitam mana yang harus ia korbankan untuk membersihkan nama Dharma Group.

Jika produk ini gagal total, Nadia akan menjadi target terdekat yang paling logis untuk dikorbankan. Wajah gadis itu tertampang di seluruh materi promosi. Tanggung jawab hukum akan sangat mudah dilimpahkan ke pundak manja tersebut.

Namun, Wijaya telah menginvestasikan terlalu banyak citra publik pada gadis itu. Menghancurkan Nadia berarti mengakui kegagalan sistem pembinaan moral keluarga Dharma di mata para konglomerat saingannya.

Sosiopat itu pasti sedang mencari jalan memutar yang jauh lebih kejam dan menguntungkan.

Napas Savira menderu pelan. Ia menyadari bahwa Wijaya akan segera mencari cara untuk memutus rantai kerugian ini. Ayahnya akan mencari celah hukum, menyuap aparat, atau mengkambinghitamkan pihak manufaktur independen yang merakit kosmetik tersebut.

Pertempuran berikutnya tidak akan terjadi di bursa saham atau di meja laboratorium kampus.

Savira mematikan layar televisi dengan satu tekanan kasar pada tombol remot. Ruangan apartemennya kembali dicekik oleh kesunyian yang menekan gendang telinga.

Ia bangkit berdiri dari atas karpet. Ia melangkah pelan mendekati jendela kecil yang menghadap ke jalanan ibukota. Sisa awan mendung badai semalam masih menggantung rendah di atas gedung-gedung pencakar langit, menciptakan atmosfer kelam yang sangat menyesakkan dada.

Ia harus kembali ke dalam sarang monster itu secepatnya. Ia harus melihat langsung bagaimana Wijaya merespons krisis ini dari jarak dekat. Ia harus memastikan bahwa sosiopat itu tidak berhasil memanipulasi situasi untuk lolos dari jerat kehancuran.

Ponsel utama Savira yang terhubung dengan kontak rumah mendadak bergetar keras di atas meja makan kecil.

Benda pipih itu berdengung panjang, menari-nari memecah kesunyian ruangan. Layarnya menyala terang, memantulkan cahaya putih ke wajah Savira yang tanpa ekspresi.

Savira membalikkan badannya. Sepatu ketsnya berdecit pelan saat ia melangkah mendekati meja tersebut. Matanya menyapu layar ponsel yang berkedip tanpa henti.

Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Savira dari asisten rumah tangga, meminta semua anggota keluarga berkumpul malam ini.

Savira mengunci layar ponselnya kembali. Ruangan ini terasa semakin dingin. Otaknya sudah bisa membayangkan seberapa besar kekacauan yang sedang terjadi di mansion saat ini.

1
sukensri hardiati
itu kalau permen strawberry terus dikonsumsi....mk begitu wijaya tumbang...maka kamu juga bisa tumbang kena diabet
Sulati Cus
adu kekuatan sm bokap yg kental kelicikan ternyata g ada seujung kuku nya, terlalu dini pgn balas dendam mlh hancur sendiri
gina altira
makin rumit pertarungannya
tutiana
luar biasa
gina altira
Sosiopat itu sangat mengerikan
sukensri hardiati
hadeeeh savira....ganti permen straberimu dengan camilan sehat....otak geniusmu jadi lengket nanti...
gina altira
jgn" Savira yg akan jadi tumbal
gina altira
kuat Savira,, jgn menyerah
nur
ngeselin bpkmu vir
Pawon Ana
terus terang sampai sini perkembangan karakter Savira agak lambat, yng aku pahami Savira ini masih terbelenggu dengan trauma dimasa kehidupan sebelumnya, dia belum bisa benar2 lepas, egonya yang merasa mampu sendiri masih tinggi...🤦
Pawon Ana
ih itu otak Savira kok tidak ngebul ya....aktif terus tidak berhenti...🤦
Wega Luna
sebenarnya ceritanya bagus entah kenapa musuh lebih kuat dari para MC,panik panik panik sedang musuh hanya dengan diam tapi bisa melihat segala nya, ,dan sekarang Savira ditanya siapa pelakunya, Savira hanya menambah luka, jika tidak dicintai buat hatimu menjadi tembok besar, jangan sampai menambah luka, dengar berita ini langsung sakit hati,aku dulu juga gitu dengan orang tua ku,aku memilih cuek dan tidak memasukkan ke hati,, sampai bab ini aku belum bisa bangga dengan savira
Pawon Ana
berhadapan dengan sumber trauma terkadang memang menguras kewarasan mental 💪✌️
Cty Badria
ya hancurkan
Pawon Ana
ayo aku menunggu aksi duo genius selanjutnya 💪
kymlove...
mari🫡
watno antonio
lanjut thor
sukensri hardiati
tolong masukkan cerita ini ke perpus on going dong....biar gampang nyarinya ...
sukensri hardiati
aduuuhh...klo boleh menyayangkan awal yg tragis...bunuh diri...nggak cocok untuk gadis kuat yg merupakan tokoh utama cerita...
nur
msok cpet banget ketahuan km vir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!