"Bujur buset!"
Bukan sulap, bukan sihir. Dinda yang seharusnya sudah 'metong' dihantam mobil tronton, nyatanya masih bernapas. Alih-alih terbangun di rumah sakit dengan tubuh hancur, ia justru mendapati dirinya terduduk di tengah rimbunnya hutan belantara.
Ia masih mengenakan setelan santai jalan-jalannya lengkap dengan sling bag yang masih tersampir di bahu. Isinya pun masih lengkap: ponsel, uang tunai, set peralatan make-up, hingga parfum sweet vanilla kesukaannya.
"Gila, gue di mana? Masa iya ketabrak mobil, terus kelemparnya sejauh ini?" gumamnya panik.
Dinda merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, berharap bisa menghubungi seseorang. Namun, saat layar menyala, ia justru mematung. Ponselnya terasa asing—seolah baru keluar dari kotak—kosong, bersih tanpa jejak data, tanpa sinyal, tanpa sisa.
Tiba-tiba, suara dedaunan kering yang terinjak dari balik semak membuatnya tersentak. Dinda menoleh cepat ke belakang.
Di sana, ia terpaku. Seorang pria berbadan tegap berdiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Mandi di sungai
Dinda duduk bersandar di amben sembari menatap layar ponselnya. Dahinya berkerut heran melihat indikator baterai yang masih kokoh di angka 99%—tidak berkurang sedikit pun, tapi juga tidak bertambah. Seolah-olah dayanya membeku di angka itu.
Anehnya, jam digital di pojok atas tetap berjalan normal sebagaimana mestinya. Bahkan bar sinyalnya pun penuh, membuat Dinda bisa membuka beberapa aplikasi media sosial. Namun, kegembiraannya sirna saat ia mencoba mencari kontak atau mengetikkan nama teman serta keluarganya di kolom pencarian. Layar ponselnya selalu memunculkan tulisan: Error. Terjadi kesalahan sistem.
Dinda menghela napas pasrah. Ponsel ini ada sinyalnya, tapi seperti terisolasi dari dunianya yang dulu. Mau menghubungi siapa kalau semua nama orang yang ia kenal mendadak diblokir oleh sistem dimensi ini?
Tak lama kemudian, Dinda mulai merasa sangat gerah. Keringat tipis mulai membasahi lehernya. Rasanya ingin sekali ia mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air segar. Namun, masalah baru muncul: ia tidak membawa baju ganti. Pakaian santai yang ia kenakan sejak kemarin rasanya sudah bau tidak karuan akibat keringat hutan dan asap perapian dapur.
"Aku harus mandi," gumam Dinda lirih, mencium aroma bajunya sendiri dengan ekspresi masam. "Ah, iya! Aku ingat. Di dalam rumah minimalis itu kan ada lemari pakaian besar. Aku ambil baju dari situ saja!"
Mata Dinda berbinar girang. Tanpa membuang waktu, ia segera mengusap cincin bulan sabit di jarinya. Wusss!
Dalam sekejap mata, tubuhnya sudah berpindah tempat, berdiri tepat di depan rumah minimalis di dalam ruang dimensinya. Dinda melangkah ringan, mendorong pintu masuk, dan langsung melesat menuju kamar utama. Ia membuka lemari pakaian besar berpintu tiga tersebut dengan semangat.
Namun, senyum Dinda langsung membeku begitu melihat isinya.
Bukannya deretan kaus, celana jins, atau daster modern yang ia temukan, lemari itu justru penuh dengan pakaian tradisional zaman dulu—namun dalam versi kain yang sangat mewah dan modern. Ada deretan kebaya, rok plisket batik, kain jarik lilit, hingga kemben. Dinda membuka pintu lemari kedua, dan isinya ternyata khusus pakaian dalam wanita dengan bahan-bahan yang nyaman.
Penasaran sekaligus kesal, Dinda membuka pintu lemari ketiga. Di dalamnya terdapat berbagai macam kotak beludru berisi aksesoris berkilauan, mulai dari gelang emas, cincin, kalung, hingga tusuk konde berdesain rumit.
"Apaan, sih? Masa iya aku harus pakai baju modelan begini?" protes Dinda bingung pada lemari kosong itu.
Namun, otak cerdik Dinda langsung berputar keras. Ia teringat cara berpakaian Mbok Ginem. Wanita tua itu juga memakai kain jarik lilit dengan kemben.
"Nggak, ah! Aku nggak mau kalau cuma pakai kemben begitu, ih... terlalu terbuka, nanti masuk angin!" Dinda panik sendiri membayangkannya.
Alhasil, sebagai jalan tengah, Dinda terpaksa mengambil satu setelan kebaya berbahan kain bludru dengan warna biru lembut yang tampak paling tertutup. Tepat saat hendak menutup lemari, sudut matanya menangkap sebuah ikat rambut berwarna perak yang didesain sangat indah. Tanpa pikir panjang, Dinda sekalian mengambil ikat rambut itu lalu menutup rapat pintu lemari.
Sebelum bersiap kembali, Dinda tersadar akan satu hal penting. Di zaman kuno terbelakang ini, kemungkinan besar belum ada sabun mandi yang wangi. Maka, Dinda bergegas ke kamar sebelah, mengambil satu batang sabun mandi modern dari tumpukan logistiknya, lalu menggenggamnya erat-erat. Ia kembali mengusap cincinnya. Wusss!
Dinda sudah berdiri lagi di dalam kamar rumah pohon. Dengan langkah santai, ia berjalan keluar ke teras dan mengedarkan pandangan mencari sang simbah.
"Mbok... Simbok..." panggil Dinda.
"Iya, Nduk. Simbah di sini," sahut sebuah suara dari arah sudut teras. Rupanya Mbok Ginem sedang duduk lesehan sembari memilah beberapa pakaian tua.
"Mbok, aku mau mandi. Apa di sekitar sini ada tempat mandinya?" tanya Dinda sewajarnya anak kota.
Mbok Ginem mendongak lalu tersenyum lebar. "Oh, Nduk Dinda mau mandi toh? Kalau begitu, ayo sama-sama dengan si Mbok ke sungai. Si Mbok juga sekalian mau mencuci pakaian ini," ajak Mbok Ginem ramah.
Kata 'sungai' seketika membuat Dinda tersentak kaget. "Mbok? Mandinya harus pergi ke sungai?" tanya Dinda memastikan, matanya melebar.
Mbok Ginem mengangguk mantap tanpa beban.
"Apa di rumah ini tidak ada bilik kamar mandi, Mbok?" tanya Dinda mulai panik. membayangkan harus mandi di alam terbuka.
Mbok Ginem langsung menghentikan kegiatannya, lalu tertawa renyah seolah mendengar lelucon paling lucu tahun ini. "Walah, Nduk, kamu ini ngomong apa toh? Ya kalau mau mandi mesti ke sungai. Masa mandi di dalam rumah? Ya habis basah kuyup semua nanti rumah kayunya, Nduk!"
"Tapi, Mbok... aku tidak bisa kalau harus mandi di sungai terbuka begitu. Aku malu," rengek Dinda dengan wajah memelas.
"Lah, memangnya kenapa harus malu? Wong tinggal guyur air saja kok," jawab si Mbok, benar-benar bingung dengan jalan pikiran Dinda.
"Maksudku... kalau mandi di sungai kan harus buka baju, Mbok. Nanti kalau dilihat orang lewat bagaimana? Pasti malu banget!" keluh Dinda, membayangkan privasinya yang terancam.
Mbok Ginem menggeleng-gelengkan kepala sembari tersenyum geli. "Kamu ini ada-ada saja, Nduk. Ya mandinya tetap pakai baju toh, masa mau telanjang bulat? Si Mbok juga malu kalau begitu!"
Dinda langsung melongo di tempat. Hah? Mandi dengan tetap pakai baju?! batin Dinda berteriak syok. Aduh, ini mah sudah persis kayak mandi kambing namanya!
"Sudah, jangan bingung begitu. Ini, ambillah baju milik si Mbok untuk dipakai buat basahan di sungai nanti," ucap Mbok Ginem, membuyarkan lamunan Dinda sembari menyodorkan selembar kain.
Dinda menerima pakaian itu dengan pasrah. Tangannya memegang kain jarik usang dan selembar kain kemben yang menjadi modal utamanya untuk menghadapi kerasnya budaya mandi di Desa Rejo pagi ini.
semangat ya up trus 😍😍😍
awal yg bagus cerita nya.. apalagi s MC cewek berpikir idola Korea dan cina😄😄😄 suka aku...
semangat up sampai tamat ya thor😍😍😍😍