NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Hati

Reinkarnasi Hati

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Setelah bertahun-tahun menanti buah hati, badai besar menghancurkan rumah tangga Lani.
Ia diceraikan oleh suaminya, Alex, yang berselingkuh dengan sahabat karib Lani sendiri.
Di tengah usaha menyembuhkan luka hati dan bangkit dari keterpurukan, takdir mempertemukan Lani dengan Afrain—pria berjiwa bebas yang merupakan mantan suami dari kakak Alex.
Sama-sama membawa trauma masa lalu, pertemuan tak sengaja itu perlahan berubah menjadi ikatan emosional yang dalam.
Afrain menjadi tempat bersandar yang memahami kepedihan Lani, dan benih-benih cinta pun mulai tumbuh di antara mereka. Namun, hubungan baru ini berada di lingkaran keluarga yang rumit dan penuh kecanggungan.
Di hadapan restu yang dipertanyakan dan bayang-bayang masa lalu yang saling berkaitan, akankah Lani berhasil melepaskan diri dari jerat trauma dan menemukan kebahagiaan sejatinya bersama Afrain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

"Mas!!" jerit Lani histeris saat merasakan kehangatan cairan kental yang mulai membasahi jemarinya di punggung Afrain.

Tubuhnya bergetar hebat karena rasa takut yang teramat sangat, jauh lebih menakutkan daripada saat ia disergap di basement tadi.

Pintu gudang tua itu seketika didobrak dari luar. Tim elite Afrain merangsek masuk dengan lampu senter taktis yang membelah kegelapan.

Dengan sigap, beberapa anggota tim langsung membopong tubuh tegap Afrain yang mulai melemas, sementara yang lain memapah Lani.

Mereka bergerak cepat menerobos guyuran hujan deras, membawa Afrain dan Lani masuk ke dalam mobil komando mewah yang aman.

Pintu mobil ditutup rapat, meredam suara gemuruh badai di luar.

Afrain dibaringkan di kursi tengah yang luas dengan Lani yang terus menekan luka di punggung suaminya menggunakan kain kassa yang diberikan tim medis.

Di tengah kesadarannya yang mulai berangsur turun dan napasnya yang memberat, Afrain perlahan membuka matanya.

Ia menatap wajah Lani yang dipenuhi air mata dengan binar kelembutan yang tidak pudar sedikit pun.

Dengan sisa tenaganya, ia meraih jemari Lani yang gemetar.

"Sesuai... janjiku... aku akan selalu... melindungimu, Sayang," ucap Afrain terbata-bata di dalam mobil yang masih berhenti itu.

Bibirnya memucat, namun ia memaksakan sebuah senyuman tipis untuk menenangkan belahan jiwanya.

"Mas, diam! Jangan banyak bicara dulu!" potong Lani di sela tangisnya, suaranya parau karena panik.

Ia tidak peduli lagi dengan janji itu, yang ia inginkan sekarang hanyalah suaminya tetap bernapas.

"Simpan tenagamu, Mas. Tolong..."

Lani sempat menoleh ke arah kaca jendela mobil yang basah oleh air hujan.

Di luar sana, di bawah sorot lampu mobil taktis, ia melihat anggota tim keamanan lainnya menyeret Sisil yang mengerang kesakitan memegangi tangannya, bersama Alex yang sudah diborgol dengan wajah tertunduk penuh penyesalan.

Keduanya dimasukkan secara kasar ke dalam mobil lain untuk dibawa langsung menuju kantor polisi, mempertanggungjawabkan perbuatan keji mereka yang telah berakhir.

Begitu semua tim memberikan kode aman, sang sopir di kursi depan tidak membuang waktu lagi.

Ia segera menginjak pedal gas dalam-dalam, melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah sakit terbaik.

Lani kembali memeluk tubuh Afrain dari samping, menyembunyikan wajahnya di dada suaminya yang berdetak lemah.

"Mas, bertahanlah. Demi aku, tolong bertahanlah..." bisik Lani berulang kali bagai sebuah doa di tengah deru mobil yang melaju memburu waktu.

Sesampainya di rumah sakit, suasana mendadak berubah menjadi sangat tegang.

Pintu mobil langsung dibuka lebar oleh tim medis yang sudah bersiap di depan lobi darurat.

Dengan sigap, tubuh Afrain dipindahkan ke atas brankar dorong.

Lani setengah berlari di sampingnya, terus menggenggam erat tangan suaminya yang kian mendingin hingga mereka tiba di depan pintu besar bertuliskan batas suci.

Perawat dan dokter spesialis dengan cekatan segera membawa Afrain masuk ke dalam ruang operasi untuk mengambil tindakan darurat atas luka tusuk di punggungnya.

Langkah Lani terhenti di depan pintu yang tertutup rapat tersebut.

Dunianya serasa runtuh, kakinya lemas, dan ia terduduk di kursi tunggu koridor rumah sakit dengan tubuh yang terus bergetar hebat.

Tak berselang lama, derap langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar menggema di sepanjang koridor.

Mbok Mar dan sang sopir pribadi datang dengan wajah yang dipenuhi rasa cemas yang amat sangat.

Begitu melihat kondisi Lani yang begitu rapuh, Mbok Mar langsung berlari memeluk erat tubuh majikan mudanya itu.

"Non Lani... Astagfirullah, Non..." bisik Mbok Mar dengan suara yang ikut bergetar, mencoba menenangkan Lani yang kembali terisak di pelukannya.

Sementara sang sopir berdiri di dekat mereka, berusaha memberikan ketenangan dan memastikan bahwa seluruh administrasi serta keamanan di sekitar rumah sakit sudah dijaga ketat oleh tim elite Afrain.

Mbok Mar mengusap-usap punggung Lani dengan penuh kasih sayang, lalu pandangannya turun ke pakaian yang dikenakan Lani.

Blus kerja yang tadi pagi tampak sangat rapi kini telah kotor, robek di beberapa bagian akibat guratan tali tambang di gudang, dan yang paling memilukan, ada noda darah Afrain yang mengering di sana.

Dengan kelembutan seorang ibu, Mbok Mar memegang kedua bahu Lani. "Non Lani, Bapak sudah ditangani oleh dokter-dokter terbaik di dalam.

Sekarang, mari ikut Mbok sebentar. Mbok Mar mengajak Lani mengganti pakaian di toilet rumah sakit. Mbok sudah bawakan baju ganti yang bersih dari rumah. Non harus bersih dan kuat demi menyambut Bapak setelah operasi nanti."

Lani menatap baju ganti di tangan Mbok Mar, lalu menoleh ke arah pintu ruang operasi yang masih menyalakan lampu merah.

Dengan perlahan, ia menganggukkan kepalanya, mencoba mengumpulkan sisa kekuatan demi pria yang telah mempertaruhkan nyawa untuk melindunginya.

Setelah mengganti pakaiannya dengan baju yang bersih dan longgar, Lani berjalan gontai kembali ke koridor.

Setelah itu, Lani duduk di depan ruang operasi, menatap nanar ke arah lampu indikator di atas pintu yang masih menyala merah—tanda bahwa perjuangan tim dokter di dalam sana belum usai.

Melihat Lani yang tampak begitu pucat dan lemas, Mbok Mar dengan cekatan membuka tas kain yang dibawanya sejak dari rumah.

Dari dalam tas tersebut, Mbok Mar membuka termos kecil berisi teh hangat yang aromanya menenangkan, lalu mengeluarkan kotak bekal berisi roti panggang madu yang masih terasa hangat.

"Mbok..." panggil Lani lirih, suaranya terdengar sangat parau dan tak bertenaga.

Ia menggelengkan kepala pelan, sama sekali tidak merasakan rasa lapar karena seluruh pikirannya tertuju pada keselamatan Afrain.

"Makan dulu, Non..." bujuk Mbok Mar dengan nada suara yang sangat lembut, penuh perhatian seorang ibu.

Ia menyodorkan cangkir teh hangat dan sepotong roti ke dekat tangan Lani.

"Sedikit saja ya, Non? Dari siang Non Lani belum ada kemasukan makanan apa-apa. Non harus menjaga kondisi tubuh. Kalau nanti Den Afrain sudah keluar dari ruang operasi dan melihat Non Lani jatuh sakit karena tidak mau makan, Den Afrain pasti akan sangat sedih dan menyalahkan dirinya sendiri," lanjut Mbok Mar lagi, berusaha membujuk dengan alasan yang menyentuh hati Lani.

Lani menatap teh hangat yang mengepul tipis di hadapannya.

Perkataan Mbok Mar ada benarnya; ia tidak boleh tumbang sekarang.

Afrain membutuhkan dirinya yang kuat saat terbangun nanti.

Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Lani akhirnya menerima cangkir teh hangat tersebut, menyesapnya perlahan demi mengisi kembali tenaganya yang sempat terkuras habis.

Karena kelelahan fisik dan tekanan mental yang luar biasa sepanjang hari, Lani akhirnya ketiduran di kursi tunggu dengan posisi menyandarkan kepalanya ke dinding koridor rumah sakit yang dingin.

Mbok Mar yang duduk di sampingnya terus terjaga, menggenggam tasnya sembari tak putus-putus merapalkan doa demi keselamatan sang majikan.

KLIK.

Suara pintu ruang operasi yang terbuka memecah keheningan koridor yang sunyi. Dokter keluar setelah mengoperasi Afrain selama beberapa jam yang menegangkan.

Wajahnya tampak lelah namun guratan ketegangan di dahinya sudah jauh berkurang.

Mendengar suara pintu, Mbok Mar langsung bangkit berdiri dengan tergesa-gesa, menghampiri sang dokter sebelum sempat membangunkan Lani.

"Bagaimana keadaan Den Afrain, Dok?" tanya Mbok Mar dengan suara berbisik namun sarat akan rasa cemas yang mendalam.

Dokter itu tersenyum tipis, memberikan ketenangan yang sangat dinantikan.

"Operasinya berjalan lancar. Luka tusuknya beruntung tidak mengenai organ vital. Pasien sudah melewati masa kritisnya dan sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan untuk proses pemulihan."

Suara percakapan itu rupanya mengusik tidur tipis Lani.

Lani membuka matanya, mengerjap sesaat sebelum kesadarannya pulih total.

Begitu melihat sosok dokter yang berdiri di depan Mbok Mar, Lani langsung menegakkan tubuhnya dan menghambur maju.

"Dok, bagaimana keadaan suami saya?" tanya Lani dengan suara serak, matanya kembali berkaca-kaca menanti kepastian.

Dokter tersebut berbalik menatap Lani dengan pandangan ramah yang menenangkan.

"Ibu tidak perlu khawatir, Tuan Afrain sangat kuat. Operasinya sukses besar dan kondisinya sudah stabil sekarang. Den Afrain akan dipindahkan ke ruang perawatan sebentar lagi, setelah efek biusnya mulai mereda. Anda sudah bisa menjenguknya di sana nanti."

Mendengar kalimat itu, Lani langsung membekap mulutnya sendiri.

Air mata yang keluar kali ini bukan lagi karena ketakutan, melainkan tangis haru dan rasa syukur yang teramat besar karena Tuhan masih melindungi belahan jiwanya.

1
merry yuliana
makasih ceritanya kak 💪💪💪😍🙏
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
yulia nisma
masih nyimak thor kayaknya ceritanya bagus 👍😍
Ame Joh
aku mampir thor, sepertinya seru.
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
falea sezi
cwek nya menye oon😒
falea sezi
🤣🤣 mampuss buang istri baik dpet istri boross bodoh
Dew666
😍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Dew666
🪭🪭🪭🪭
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Dew666
💟💟💟
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹🌹
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Dew666
🔮🔮🔮🔮
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!