Dua puluh tahun lalu sebuah praktek satanisme gagal. Ijah diringkus lalu dibakar hidup-hidup oleh masa sebab dianggap petaka.
Lima orang dipanggil kembali oleh satu sosok yang datang di dalam cermin. Mereka diberitahu untuk menuju ke salah satu tempat yang sempat mereka tinggali dahulu.
Tempat itu sudah lama ditutup. Huruf arab ditempelkan dibanyak pohon hutan sebelum menuju bangunan itu.
Huruf arab itu konon katanya adalah sebuah ayat sebagai penghalang apa yang ada dibangunan itu supaya tidak keluar dari dalam sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 027 : Siapakah yang Akan Dipilih? Munculnya Rachel Gautama
Setelah mengatakan perihal gerbang Sukmo. Malam, kembali datang. Tuan Antony dan Nyonya Antony nampak sangat gusar sekarang.
Pasalnya, Mbah Wicaksono mengatakan bahwa mereka akan melakukan ritualnya besok.
Tetapi, namanya hati orang tua yang kehilangan anak semata wayangnya selama berhari-hari. Jelas saja tidak tenang, ketika ada penundaan.
Suara-suara jangkrik malam itu menemani mereka yang duduk di teras. Berbekal kopi pahit beserta kacang rebus yang disajikan sebagai teman mereka berkumpul.
Tuan Antony yang sudah tidak bisa membendung segenap rasa khawatirnya pun berkata,
"Kenapa kita tidak membuka gerbang itu sekarang, Mbah?" tanya Tuan Antony pada Mbah Wicaksono.
Saat itu, Mbah Wicaksono menoleh memperhatikan raut wajah Tuan Antony yang sangat khawatir.
Pandangannya memang buram saat itu ketika menatap ke arah Tuan Antony. Tetapi, Dia sangat memahami perasaan sepasang suami istri itu.
Meskipun dirinya adalah salah satu orang yang selamat dari desa itu sama seperti Ardin.
Dia pun juga pernah merasakan kehilangan. Kehilangan salah seorang sahabat dekatnya dulu. Saat itu, Mbah Wicaksono yang sedang mengunyah kacang rebus pun berkata,
"Sebab, ada banyak ritual yang harus disiapkan untuk itu. Malam ini, Dhani sudah pergi menyiapkan keperluan untuk kita besok.
Ardin hanya menyimak percakapan itu. Sejujurnya, dalam benaknya. Hatinya pun juga gusar. Ada satu pertanyaan di dalam kepalanya yang sangat aneh untuknya. Itu adalah perihal dirinya.
'Kenapa hanya dia yang dibiarkan lolos dari alam sebelah?' pikirnya saat ini. Saat itu, Ardin memilih untuk mengatakannya pada Mbah Wicaksono di sini.
"Mbah!" panggilnya, pada Mbah Wicaksono. Sehingga perhatian Mbah Wicaksono langsung teralih pada Ardin.
"Ya, nak!" jawab Mbah Wicaksono, sembari bermimik gusar serta banyaknya pertanyaan yang memberatkan kepalanya. Ardin pun berani bersuara,
"Kenapa cuma saya yang dikeluarkan dari sana, Mbah? Kenapa, cuma saya?" tanyanya pada Mbah Wicaksono. Sebuah pertanyaan yang langsung disambut sebuah senyuman oleh Mbah Wicaksono.
"Sebab, kamu bukan yang diinginkan oleh belantara, anakku!" jawab Mbah Wicaksono mantap. Baik Ardin, serta Tuan Antony juga istrinya sama-sama dibuat bingung.
"Belantara hanya memanggil mereka yang teringkat dengan belantara! Sosok Ijah, yang masuk dan mengatakan kalimat-kalimat itu. Energinya murni!" jelas Mbah Wicaksono. Lagi-lagi, sebuah hal yang sukar dipahami oleh Tuan Antony.
Pria itu, mengerutkan keningnya. Rasanya, dia seperti sedang mempelajari sandi-sandi sulit sekarang. Pembicaraan ini, tidak sampai pada kepalanya. Sehingga ribuan pertanyaan kini beranak-pinak dalam kepalanya.
"Maksudnya?" tanya Tuan Antony, entah mengapa dia kesal sekarang?
"Tolong, jelaskan dengan bahasa yang bisa saya pahami. Sebelum kejadian yang menimpa anakku ini, aku bukan orang yang percaya bahwa, mereka ada!" kata Tuan Antony, sedikit meninggikan suaranya.
Istrinya sontak segera meredam amarah suaminya.
"Tenanglah, ingatlah kita sedang di rumah orang!" tutur Nyonya Antony. Sementara Ardin dia diam.
Mbah Wicaksono, bukannya kesal balik. Dia malah tersenyum tipis. Dia terharu rasanya, sebegitu besar rasa sayang orang tua angkat Farah ini pada Farah yang jelas tidak sedarah dengan mereka.
"Mulai sekarang, kamu harus menerima!" tutur Mbah Wicaksono pada Tuan Antony. Mbah Wicaksono mengarahkan tatapannya pada Tuan Antony.
"Kita semua hidup berdampingan! Perihal alam sebelah beserta hal-hal ghaib itu. Tidak bisa dinalar logika. Sebab mereka adalah hal-hal yang berada di luar logikanya manusia! Jadi, kalau kamu mau anakmu. Kamu harus ikuti ritualnya." tutur Mbah Wicaksono lagi, dia lalu menggerakkan tangan kanannya.
Meraba-raba tempatnya duduk. Mencari keberadaan kopi hitam miliknya. Ardin memperhatikannya, dia yang peka pun segera menggeser cangkir milik Mbah Wicaksono.
Mencoba membantu Mbah Wicaksono menemukan cangkirnya hingga dapat. Setelah cangkirnya berhasil Mbah Wicaksono dapatkan. Mbah Wicaksono pun tersenyum lagi.
Mbah Wicaksono meneguk kopi hitamnya. Ada rencana di dalam kepalanya untuk besok. Ini harus disampaikan.
"Ada satu lagi!" kata Mbah Wicaksono, ucapannya sontak mengundang perhatian mereka bertiga menatap tepat ke arah Mbah Wicaksono.
"Kalau gerbangnya sudah memilih, yang tersisa dua orang lagi yang tidak masuk itu. Kalian, harus mencari tubuh dari kelima anak itu. Kalian harus menemukannya, apakah kalian sanggup?" tanya Mbah Wicaksono pada mereka.
"Tubuh?" tanya Tuan Antony kebingungan.
"Ya, tubuh Farah dan ke empat anak itu. Pasti sedang disembunyikan. Aku yakin," ujar Mbah Wicaksono.
Tuan Antony mengernyitkan keningnya. Dia berhari-hari menyusuri hutan. Dia tidak menemukan apapun.
"Tapi saya sudah berhari-hari menyusuri hutan. Saya tidak menemukan apapun!" katanya, Mbah Wicaksono terkekeh mendengarnya.
"Karena kamu hanya mencarinya dengan mata telanjang, Nak! Besok, aku akan memberimu Jimat. Carilah lagi, susuri lagi hutannya. Maka yang mati pasti akan menuntunmu menemukan mereka," jelas Mbah Wicaksono.
Mbah Wicaksono, memilih bangkit dari duduknya setelah mengatakan itu.
"Kalau begitu, sekarang mari kita tidur! Besok akan menjadi hari yang cukup panjang!" kata Mbah Wicaksono pada mereka bertiga. Mbah Wicaksono pun, dibantu dengan tongkatnya mulai berjalan pelan masuk ke dalam rumahnya. Meninggalkan tiga orang tamunya yang masih duduk di teras rumahnya.
Merasa tidak lagi memiliki ide serta solusi lagi. Tuan Antony pun menuruti apa yang dikatakan oleh Mbah Wicaksono. Malam ini mereka semua tidur di kediaman Mbah Wicaksono. Meskipun hati mereka kalut rasanya.
_______
Sementara di alam manusia sana. Keluarganya sedang mengkhawatirkannya. Farah, yang sejak tadi ketakutan dan hampir menyerah. Memilih untuk tetap berjalan. Dia berjalan dan terus berjalan.
Di antara kesunyian, di antara kehampaan tanpa adanya suara. Hanya suara dirinya, serta pijakan kakinya yang berulang kali menginjaki dedaunan kering.
Seandainya dia bisa meminta tolong. Seandainya tim SAR bisa datang kemari. Mungkin, hal itu sekarang yang akan dia lakukan.
Tetapi, ada satu hal yang membuat Farah tetap kuat pada nyalinya. Itu adalah berita, berita yang dikatakan oleh sosok bocah perempuan itu.
Dia harus menemukan teman-temannya, menyampaikannya, kemudian menyatukannya dengan segala informasi yang ditemukan oleh teman-temannya juga.
Saat itu, Farah yang sudah cukup lelah pun memilih berhenti. Dia berhenti di sana, sendirian tanpa adanya teman. Sejenak dia menatap ke depan. Lelah, itulah yang kini dia rasakan.
"Apa kamu lelah?" sebuah suara wanita yang bergema lembut bak sebuah hembusan angin lewat tepat di daun telinganya.
Seketika membuat Farah tersentak. Dia yang tadinya lelah, segera menoleh ke samping. Dan ya, dia mendapati seseorang di sini. Seseorang yang berdiri di sampingnya. Di belakang orang itu, juga berdiri satu pria.
"Siapa kamu?" tanya Farah lirih padanya. Wanita itu memperhatikannya sejenak.
Dia memperhatikan Farah, dari bawah hingga atas kepala. Di situ, wanita itu dapat merasakan auranya. Aura dan bau jiwa hidup.
"Kamu, bukan di sini tempatnya, kan?" kata wanita itu menebak. Sebuah tebakan yang lagi-lagi membuat Farah kaget. Tetapi, refleks kemudian dia menganggukkan kepalanya.
"Hahahaha... aku sudah tahu! Tercium dari auramu. Jadi, kamu mau kemana?" tanyanya pada Farah. Farah sedikit takut Jujur.
Meskipun kedatangan wanita ini wujudnya tidak seram. Tetapi dia trauma, atas segala perubahan yang mendadak berubah-ubah di tempat ini. Kadang datang sopan, kadang berubah beringas. Dia takut.
Tatapan Farah yang nampak ketakutan itu jelas terbaca oleh wanita itu. Lelaki di belakangnya terlihat gusar sekarang.
"Rachel! Jangan terlalu lama kamu di sini! Kita harus sembunyi lagi!" katanya, ya, Lelaki itu baru saja memanggil nama wanita itu. Rachel namanya.
"Tenang saja! Lagi pula, aku sudah mengakali mereka! Sepertinya, gadis ini butuh bantuan kita, Thoriq!" kata Rachel pada lelaki di belakangnya, Thoriq rupanya namanya.
Thoriq hanya pasrah mendengar itu. Sementara Farah kebingungan, ketika Rachel kembali menatap Farah. Dia pun berkata,
"Kamu bertemu aku di sini, itu sudah bagus! Aku Rachel Gautama, akan kubantu kamu!" katanya mantap.
Apabila kalian pembaca setia Gautama Family, kalian pasti akan sangat mengenali siapakah Rachel Gautama? Jika kalian pembaca baruku.
Maka selamat, kalian sudah menemukan masterpiece kesayanganku. Rachel Gautama, cenayang muda yang terjebak pada kontrak ikatan iblis.
Di mana, setelah sepuluh tahun kasus yang dia tangani. Dia akan dikejar habis oleh iblis di alam sebelah.
Dia akan terus berlari, bersembunyi di sini, dengan taruhan. Jika dia tertangkap, maka, dirinya akan menjadi budak iblis beserta dengan seluruh perewangannya.
_______