Jalur mature book, yang masih piyik jangan masuk 📌🙏🏻
Kenzo yang di khianati kekasih di masa lalu membuat dia tak mau dekat dengan wanita manapun. mantan kekasihnya adalah ibu tirinya saat ini.
Bagi Kenzo cinta adalah omong kosong, cinta cuma bisa di buktikan di atas ranjang, setelah itu tak ada ikatan apapun.
Kenzo Eko Armanta saat ini adalah sosok dingin, arogan, cuek, semaunya dan kejam.
Tiba-tiba saat seorang gadis bernama Vinda yang menjadi sekretaris baru masuk ke lingkungan hidupnya, gadis itu bisa memporak-porandakan kebekuan Hati Kenzo, saat itu lah dia baru sadar jika cinta itu masih ada.
Kenzo bisa kembali bersikap manusiawi dan mempercayai cinta lagi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Perlindungan total dari pria ku
Kenzo tersenyum tipis, lalu mengusap rambutnya dengan lega karena suasana lebih kondusif. "Aku juga minta maaf kalau ucapanku tadi siang menyakitimu. Maafkan aku, Vinda… sudah ya jangan nangis lagi, matamu sudah bengkak Vin"
Kenzo bergegas mengusap pipi dan merapikan rambut Vinda yang berantakan.
"Malam ini kita ke apartemenku saja, kamu bisa istirahat dengan nyaman di sana."
"Terima kasih, pak. Beneran nggak apa-apa kesana?"
"Iya nggak apa-apa kok, lagian aku tinggal sendirian" Kenzo terkekeh, panggilan pak itu terdengar lucu di telinganya, saat mereka sedang tak ada di kantor.
Sampai di apartemennya yang mewah Kenzo langsung membukakan pintu depan, mendudukkan Vinda di sofa abu‑abu diruang tamu, lalu bergegas ke dapur mengambil air minum dan kotak obat. Tak lama dia kembali.
"Bibirmu luka, harus diobati dulu supaya tidak makin parah besok." Vinda meringis perih saat cairan alkohol dingin menyentuh bibir dan pipinya yang lebam.
"Aduh, perih sekali…"
"Sabar, ini aku obati pelan kok. Kalau dibiarkan nanti malah infeksi." Dengan telaten Kenzo mengoleskan obat di luka kecil tangan dan wajah Vinda.
"Minum dulu ya biar seger. Aku ambilkan kemeja ganti biar kamu bisa istirahat nyaman malam ini."
"Baik, makasih pak" Kenzo menghela napas lalu berjalan ke kamar. Lima menit kemudian dia kembali membawa kemeja putih miliknya.
"Ada kamar mandi di sebelah sana. Mandilah dulu, setelah itu kamu boleh tidur di kamarku."
Vinda mengangguk lalu berjalan tertatih menuju kamar mandi dekat dapur. Kenzo duduk di sofa sambil memijat pelipis, sedih sekali dia melihat sikap gadis itu yang jadi pendiam sejak tadi.
"Sialan… ini salahku. Semoga mulutku ini nggak sembarangan lagi bicara," Gerutunya pelan.
*****
Pagi harinya langit tampak mendung, awan kelabu menutup sinar matahari dan udara kota Seoul terasa dingin menusuk.
Vinda menggeliat perlahan saat membuka mata. Kasur ini sangat empuk dan nyaman, kamarnya juga sejuk karena pendingin ruangan.
Vinda baru sadar semalam tak tidur di kamarnya sendiri, apalagi bau wangi tubuh pria masih menempel di bantal dan selimut.
Vinda bangun, merapikan kemeja putih kebesaran punya Kenzo yang hanya bisa menutup sampai pertengahan paha. Meski kaki masih nyeri, dia berjalan perlahan ke jendela lalu membuka tirai lebar. Pemandangan gedung‑gedung pencakar langit ibukota tampak indah di hadapannya.
"Semoga mulai hari ini aku bisa melupakan kejadian buruk itu. Bantu aku tuhan, ayo semangat, Vinda!" Bisiknya pelan.
Vinda mengusap sisa air mata di pipi, lalu menoleh saat ada ketukan pintu. Kenzo masuk membawa nampan berisi sarapan.
"Kupikir kamu belum bangun." Pria itu tersenyum ramah, tampak sangat tampan dengan kemeja putih digulung sampai siku dan celana jeans hitam, rambutnya agak basah dan acak-acakan, tapi dia terlihat makin seksi.
"Bibik ART ku dan tukang bersih‑bersih libur kalo hari Sabtu sama Minggu, jadi aku cuma bisa buatkan kamu roti bakar keju sama susu. Ayo sarapan dulu." Vinda duduk di pinggir kasur, sedikit risih dengan penampilan yang terbuka, tapi Kenzo paham, dia segera meletakkan bantal di pangkuan gadis itu sebagai penutup.
"Makasih ya pak"
"Iya sama-sama, aku tunggu di luar. Setelah sarapan kita langsung ke kantor polisi supaya kamu bisa memberikan kesaksian, dan penjahat itu dihukum seberat‑beratnya.
"Apa saya harus ikut? Saya takut, saya gak mau bertemu mereka lagi," Rintih Vinda hampir menangis.
"Tenang saja, aku akan selalu di sampingmu. Mereka takkan berani menyentuhmu lagi.
Vinda mengangguk meskipun wajahnya masih tampak cemas.
"Semua pasti segera beres, kamu pasti baik‑baik saja."
"Iya, pak."
"Ayo kamu sarapan dulu nih" Kenzo tersenyum dan menyerahkan segelas susu hangat.
"Terima kasih untuk semuanya… kalau semalam kamu tak datang menolong, entah seperti apa jadinya saya sekarang," ucap Vinda lirih.
"Lupakan saja, itu juga salahku karena membiarkan kamu pergi dalam keadaan marah," Jawabnya pelan.
Kenzo maklum melihat Vinda kembali terisak. mungkin dia trauma semalam masih terasa nyata dan berefek ketakutan mendalam.
*
*
Kantor polisi Polsek.
"Kalian akan dijerat pasal berlapis atas pelecehan dan percobaan pemerkosaan. Tahu tidak hukuman untuk kejahatan semacam ini di sangat berat?" Tegas petugas.
"Tapi kami mabuk, pak… kami tak sadar berbuat begitu," Kilah salah satu tersangka.
AKBP Syarif yang sedang mengetik berita acara penyidikan hanya menyeringai dingin.
"Mabuk? Kalau tahu bakal mabuk kenapa keluyuran di jalan?! Kenapa tak pulang saja di rumah lalu tidur?! Ingat baik‑baik ya, gadis yang hampir kalian rusak itu tak pernah berbuat salah sama kalian."
Saat itu Adrian masuk dengan wajah cemas, memperlihatkan pesan di ponselnya kepada Kapolsek Indra.
"Pak Kenzo sedang dalam perjalanan ke sini membawa pengacara pak Hutapea dan Nona Vinda. Dasar bodoh mereka berdua ini, sekarang kalian benar‑benar dalam masalah besar."
Adrian teman Kenzo sekaligus jaksa di kejaksaan setempat, menepuk kepala kedua tersangka dengan map di tangannya sampai mereka meringis kesakitan.
Kapolsek Indra malah terkekeh santai sambil melipat tangan di dada. "Pak Kenzo minta kita tuntut mereka seberat‑beratnya ya?"
"Betul. Kalau tidak dihukum berat, dia mengancam akan naik banding sampai Mahkamah Agung, dia mengirim pengacara andalannya pak Hutapea, dan membuat urusan makin panjang. Dasar mereka orang tak tahu diri," Gerutu Adrian.
"Ini gara-gara kalian, kalo mau nafsu itu hati‑hati pilih korban. Kalau sampai salah orang bisa berabe urusannya. Kasus dua tahun lalu soal kakaknya saja sempat bikin heboh media, dan kepolisian polda metro jaya sampai jadi sasaran kritik tajam," sahut AKBP
"Kalau gagal, jabatanmu juga terancam, pak. Teman saya itu tak segan‑segan menjatuhkan siapa saja yang berani menyakiti orang yang dia lindungi," Tambah Adrian menakuti pak Indra. "Aduh, gara‑gara kalian berdua kita jadi sasaran amarahnya pak Kenzo!" Seru pak Indra kesal.
Dua tersangka itu melongo bingung.
"Bukankah Nona Vinda itu cuma gadis biasa, dia cuma cantik saja?" Celetuk salah satu.
Plak!
Plak!
"Aduh, sakit, pak!" AKBP Syarif terkekeh melihat atasannya berang.
"Pantas saja kamu bodoh hah! Dia memang gadis biasa, tapi yang memukul kalian sampai babak belur itu pak Kenzo! Tahu siapa dia?!" seru pak Indra kesal.
Keduanya menggeleng ketakutan.
"Dia salah satu bagian dari keluarga konglomerat di negara ini, Pamannya sekarang dubes di Korea Selatan, ayahnya komisaris utama PT LG Indah group, keluarga pak Kenzo itu masuk jajaran keluarga konglomerat terkaya. Kakak iparnya CEO di pusat perbelanjaan Lotte Dept store. kalian pernah dengar PT LG indah group yang menaungi jaringan hotel TLJ World, toko Tous Les Jours, pusat perbelanjaan LG Dept store dan rumah sakit internasional Hospital, sampai merek perhiasan berlian Bucheri, semua usaha dagang itu pak Kenzo salah satu pemegang saham terbesar. Dia punya akses langsung ke istana presiden karena ada pamannya yang Irjen dan menteri, dia berasal dari keluarga terpandang. Kemarin kalian hampir saja merusak wanitanya. Jadi bersiaplah terima akibatnya."
"A… apa?!" Keduanya terbelalak kaget dan pucat pasi mendengar penjelasan itu. Petugas polisi lain di ruangan hanya diam tersenyum simpul melihat reaksi mereka.
"Berita acara sudah lengkap, tinggal menunggu keterangan saksi dari Nona Vinda."
Saat Kenzo, Vinda, dan pak Hutapea tiba, Vinda duduk tenang di ruang tunggu depan sementara tiga pria itu langsung berdiskusi serius dengan Adrian.
"Aku tak mau Vinda makin tertekan karena harus bersaksi di depan orang‑orang macam ini. Semua urusan hukum biar pengacaraku yang tangani. Dan ingat, kalau kasus ini tak beres tuntas, ancaman ku sungguh‑sungguh, Adrian," Ucap Kenzo tegas.