Setara untuk segala bibit, bebet, bobot dan kedudukan adalah aturan tak tertulis namun paten dalam pernikahan para bangsawan.
Kerajaan memiliki aturan ketat soal pernikahan, selain harus setara maka hubungan pernikahan harusnya memiliki keuntungan untuk kerajaan. Seperti memperkuat wilayah kerajaan atau membangun relasi yang lebih luas.
Tapi apa jadinya, jika pangeran mahkota memilih calon istrinya sendiri demi memperkuat kekuatan kedudukannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Breathing Room
Dua hari menjelang pertunangan kerajaan, mansion tidak lagi terasa setenang biasanya.
Para pelayan berlalu-lalang sejak pagi membawa rangkaian bunga, kotak-kotak gaun, hingga berbagai dokumen acara yang terus berdatangan dari istana.
Suasana yang sebelumnya sunyi kini dipenuhi kesibukan.
Namun anehnya—
di tengah seluruh persiapan megah itu, Lilly justru merasa dirinya semakin kecil.
Sesak.
Dan semakin asing dengan dirinya sendiri.
"Nona, silakan berdiri lebih tegak."
Salah satu penjahit kerajaan membungkukkan tubuh di depan Lilly sambil membawa jarum dan pita pengukur.
Ruangan fitting itu dipenuhi kain-kain mahal dengan warna lembut yang menggantung panjang di sepanjang dinding.
Champagne.
Ivory.
Silver pucat.
Seluruh warna itu terasa terlalu indah untuk dirinya.
Lilly berdiri diam di atas podium kecil sementara beberapa pelayan wanita mulai membenarkan jatuh gaun di tubuhnya.
Korset kembali dikencangkan.
Lapisan kain kembali dirapikan.
Dan sekali lagi—
Lilly merasa seperti seseorang yang perlahan dibentuk menjadi orang lain.
"Gaun pertunangan calon Putri Mahkota tidak boleh memiliki satu kesalahan pun."
Madam Elish berdiri di dekat meja desain sambil memperhatikan seluruh proses fitting dengan tatapan tajamnya yang biasa.
"Terlalu ketat," gumam Lilly pelan ketika napasnya mulai terasa sesak.
"Itu memang bagian dari prosesnya, Lady."
Lilly mengalihkan pandangannya perlahan ke arah Madam Elish.
Namun wanita paruh baya itu tetap terlihat tenang meski melihat Lilly kesulitan bernapas.
"Ketidaknyamanan akan terasa biasa selama Lady terbiasa menjalaninya."
Untuk sesaat Lilly ingin membantah.
Namun sebelum ia sempat bicara—pintu ruangan terbuka perlahan. Dan Noah masuk ke dalam.
Tatapan pria itu langsung jatuh pada Lilly yang berdiri di atas podium. Gadis itu tengah dikelilingi beberapa pelayan yang sibuk mengukur tubuhnya.
Gaun champagne keemasan dengan bordir bunga yang rumit membalut tubuh Lilly terlalu sempurna.
Terlalu anggun untuk ukuran gadis itu.
Hingga sesaat Noah hampir tidak mengenali gadis yang pertama kali ia bawa ke mansion itu.
Pria itu memandanginya cukup lama sampai akhirnya menyadari satu hal—
Lilly tengah menahan napas.
Ada getar kecil di jemarinya yang berusaha ia sembunyikan.
Tatapan Noah perlahan jatuh pada pita satin yang mengikat korset.
Ikatan itu—
Terlalu kencang.Tidak memberi ruang bagi gadis itu untuk bernapas dengan cukup.
Tanpa banyak bicara, Noah melangkah mendekat.
Beberapa pelayan langsung menegang ketika pria itu berhenti tepat di depan podium kecil tempat Lilly berdiri. Mereka mundur satu langkah seolah memberi ruang pada pasangan itu.
Lilly sendiri tampak sedikit membeku.
Namun Noah tidak mengatakan apa pun. Jemarinya hanya bergerak pelan melepas ikatan pita itu.
Dan untuk pertama kalinya sejak fitting dimulai, Lilly bisa menarik napas lebih lega.
"Longgarkan."
Satu ucapan Noah langsung mengubah atmosfer ruang fitting itu.
Madam Elish menjadi orang pertama yang menyampaikan protes.
"Yang Mulia," wanita itu berhenti sesaat sebelum melanjutkan, "gaun ini telah disesuaikan dengan standar kerajaan."
Noah mengernyit pelan.
"Dengan membuat orang kesulitan bernapas?"
"Kami hanya mengikuti tradisi."
"Aku tidak meminta pendapat tradisi."
Ruangan itu langsung sunyi.
Beberapa pelayan saling bertukar pandang sebelum akhirnya melihat ke arah Madam Elish.
Wanita paruh baya itu tersenyum samar.
"Baik, Yang Mulia."
Tatapan Noah kembali jatuh pada Lilly.
Gaun yang membalut tubuh gadis itu memang indah.
Namun entah mengapa—
Noah justru terlihat semakin tidak nyaman memandangnya terlalu lama.
"Tambahkan kain tulle pada bagian dada dan lengannya."
Seluruh pelayan kembali menghentikan kegiatannya.
"Yang Mulia?" tanya Madam Elish pelan.
"Buat lebih tertutup."
Wanita itu diam sesaat.
"Potongan terbuka tengah menjadi tren di kalangan bangsawan muda."
Noah mengalihkan tatapannya perlahan. Wajah pria itu tetap tenang. Terlalu tenang hingga sulit ditebak apa yang sebenarnya ia pikirkan.
"Kita tidak sedang menyiapkan boneka pajangan untuk para bangsawan."
Netra gelap Noah kembali tertuju lurus pada Lilly.
"Gaun tetap bisa terlihat anggun tanpa harus menunjukkan terlalu banyak."
Satu kalimat itu terasa mutlak..
Di sisi lain, Madam Elish memperhatikan pasangan itu cukup lama dengan tatapan yang sulit diartikan.
Seolah baru menyadari satu hal—
Pangeran Mahkota mulai terlalu personal untuk sesuatu yang seharusnya hanya menjadi kewajiban.
Butuh beberapa saat hingga seluruh pelayan akhirnya meninggalkan ruang fitting itu. Menyisakan Noah dan Lilly yang kini telah berganti dengan pakaian rumah.
Pria itu duduk di sofa pojok dengan kaki bersilang, aura dominannya tetap terasa bahkan dalam keheningan.
"Kau sebenarnya tidak perlu mengubah gaunnya sebanyak itu."
Untuk pertama kalinya sejak hari dimana ia membawanya ke mansion, Noah mendengar Lilly bicara tanpa nada tajam.
Tatapannya bahkan terlihat jauh lebih hidup dibanding biasanya.
"Terima kasih."
Noah menatapnya sesaat.
"Untuk?"
"Gaunnya."
Keheningan tipis jatuh di antara keduanya. Tatapan Noah perlahan jatuh pada mata hazel itu.
"Aku tidak sedang menyiapkan boneka pajangan."
Suara Noah rendah.
Tenang.
"Apalagi hanya untuk menyenangkan para bangsawan itu."
Sesuatu perlahan menghangat dalam dada Lilly—
ia merasa dirinya benar-benar didengar.
Seolah Noah perlahan membuktikan bahwa dirinya tidak sepenuhnya dijadikan alat untuk menyenangkan dunia aristokrat.
Tok.
Tok.
Tok.
"Yang Mulia, ini saya Morgan."
Suara pria itu memecah keheningan di antara mereka.
"Masuk."
Pintu terbuka perlahan memperlihatkan Morgan yang berdiri dengan ekspresi tenang seperti biasa.
"Ada panggilan dari istana."
Noah mengembuskan napas pelan sebelum bangkit dari duduknya.
"Aku akan segera ke sana."
Namun sebelum benar-benar pergi, pria itu kembali menatap Lilly.
"Melawanlah jika memang diperlukan."
Hanya itu yang ia ucapkan sebelum akhirnya meninggalkan ruangan.
Lilly membeku di tempatnya.
Untuk beberapa detik, gadis itu hanya diam. Mencerna kalimat Noah perlahan.
Ia baru saja diminta untuk melawan.
Kalimat itu tertinggal dalam kepalanya. Gadis itu memandang pantulan cermin di hadapannya.
Pada pantulan dirinya dan manekin tempat gaun champagne gold itu dipajang.
Dan anehnya, jika tadi ia sempat memikirkan bahwa itu asing kini Lilly mulai berpikir gaun ini jauh lebih manusiawi.
Di sisi lain, pada ruang kerja Noah yang jauh lebih senyap.
"Dewan Barat mulai mempertanyakan pertunangan, Anda."
Satu kalimat Morgan cukup membuat rahang Noah mengeras.
"Ada apa?"
"Mereka mempertanyakan garis keturunan Lady Lillyane yang bukan bangsawan ataupun anak pejabat tinggi maupun pengusaha kaya."
Morgan tampak ragu sesaat. Menyerahkan tablet.
"Mereka juga mulai meragukan keputusan dari Grand Duke d'Orvain yang dianggap terburu-buru."
"Lalu apa lagi?"
"Dan juga, menganggapnya mulai menaruh pion di sisi Yang Mulia."
Noah terdiam sesaat. Jemarinya mengetuk permukaan meja kerjanya.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara dering telepon datang. Segera Morgan menerimanya.
"Yang Mulia, ini dari Grand Duke d'Orvain. Sebagai Ketua Dewan."
Noah menerimanya.
"Yang Mulia," suara pria dari seberang terputus sesaat.
"Pertunangan akan tetap dilaksanakan bagaimana mestinya."
Noah diam sesaat memandangi meja kerjanya yang dipenuhi dokumen.
Dewan Barat.
Duke d'Orvain.
Dan Lilly—nama yang kini mulai dipermasalahkan lebih jauh.
Ia mulai menyadari bahwa pertunangan ini bukan lagi sekadar urusan kerajaan.
Melainkan titik di mana arah politik mulai bergerak melawannya.
Secara terang-terangan.
*****