Rumah tangga Xena dan Reyhan terlihat sempurna, penuh cinta dan kesetiaan. Apalagi dari dulu hingga sekarang, Reyhan selalu memperlakukan Xena dengan baik. Malah cenderung meratukan istrinya tersebut.
Tapi semuanya hancur ketika terdengar kabar bahwa Reyhan diam-diam menikahi wanita lain demi mendapatkan keturunan karena Xena tak kunjung hamil. Lebih menyakitkan lagi, wanita itu adalah tetangga mereka sendiri yang selama ini terlihat baik di depan Xena.
Dikhianati setelah semua pengorbanannya, Xena memilih pergi. Tapi sebelum itu, ia membongkar identitas dan rahasia besar yang selama ini ia sembunyikan dari suaminya. Saat kebenaran terungkap, Reyhan baru sadar bahwa wanita yang ia sia-siakan ternyata bukan wanita biasa, dan penyesalannya datang ketika semuanya telah terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CEO Baru
Hari ini adalah babak baru dalam hidup seorang Xena Alatas. Tidak ada air mata, tak lagi ratapan atas pengkhianatan Reyhan dan Nadine. Hari ini adalah hari pertamanya terjun ke dunia bisnis keluarga, memimpin salah satu anak perusahaan raksasa dari ALS Grup, yang bergerak di bidang manufaktur dan distribusi, PT Aljaya Sukses.
Xena sengaja memilih untuk turun tangan sendiri tanpa asisten pribadi di hari pertama ini. Ia ingin merasakan atmosfer murni perusahaan, menilai kinerja karyawannya tanpa ada sekat formalitas seorang ajudan.
Toh, tim manajemen internal pasti sudah menyusun seluruh rule jadwal kegiatan pengenalan dan orientasi untuknya hari ini. Xena memercayakan hal itu sepenuhnya pada profesionalisme mereka.
Di meja makan, Xena duduk bersama kedua orang tuanya menikmati sarapan dengan tenang. Penampilannya sangat elegan.
"Xena," Papinya membuka suara setelah selesai menyantap. "Besok malam, setelah urusanmu selesai, Papi sudah mengatur pertemuan dengan pria yang Papi ceritakan waktu itu. Hanya ngobrol santai saja, tidak usah dijadikan beban."
Xena menghentikan gerakan pisau menteganya sejenak. Besok adalah sidang perdana perceraiannya dengan Reyhan. "Besok malam ya, Pi? Iya, atur saja. Xena pasti datang di sela kesibukan."
"Pria ini sangat sibuk, Xena. Kalau dia bisa meluangkan waktu besok malam, itu artinya dia benar-benar menghormati niat baik keluarga kita," tambah Papinya seraya mengangguk puas. Xena pun ikut memgangguk, seraya mengapresiasi atas waktu luang diberikan.
Sarapan selesai dengan kehangatan yang sudah lama tidak Xena rasakan. Tak berselang lama, sebuah mobil mewah sudah siap di lobi rumah. Xena melangkah masuk, disupiri oleh supir pribadi kepercayaan keluarganya.
Sementara itu,
Di kantor PT Aljaya Sukses justru terasa super sibuk. Reyhan yang menjabat sebagai Manajer Operasional sedang mondar-mandir di lobi utama. Baginya, kantor adalah satu-satunya tempat pelarian dari kegilaan yang terjadi di rumahnya.
Pikirannya yang sempat mau pecah akibat drama rahim palsu Nadine, ancaman penjara, serta kedatangan ibunya yang tiba-tiba meminta uang, kini ia paksa untuk fokus ke pekerjaan. Hari ini adalah hari besar. CEO baru dari ALS Grup akan datang meninjau kantor mereka.
Reyhan sendiri yang menyusun rule penyambutan, mematangkan strategi, dan bersiap menjadi pemandu utama yang akan mendampingi sang CEO melakukan company tour. Ia sudah mematangkan taktik cari muka agar posisinya di perusahaan ini semakin kokoh.
Ting!
Sebuah surel masuk ke gawai Reyhan dari pihak pusat. Isinya adalah secercah informasi mengenai profil singkat CEO baru agar tidak terjadi salah paham saat penyambutan nanti. Reyhan membuka lampiran tersebut dengan cepat. Begitu matanya membaca nama yang tertera, jantungnya berdegup kencang.
Reyhan tersentak. Kepalanya mendongak, menatap langit-langit lobi. Xena Alatas? Namanya mirip sekali dengan Xena-ku...bisik Reyhan dalam hati.
Seketika kemiripan nama tersebut membangkitkan rasa rindu yang teramat sangat di dadanya. Mengingat besok adalah sidang cerai mereka, otak Reyhan yang mulai frustrasi mulai menyusun rencana gila. Ia ingin membuat Xena klepek-klepek lagi besok di pengadilan.
Namun untuk saat ini, ia harus fokus menyambut sang pemimpin baru terlebih dahulu.
Sebenarnya Reyhan sudah kehilangan akal sehatnya sejak kemarin malam. Merasa tidak yakin bisa melunakkan hati Xena dengan cara biasa setelah pengkhianatan keji yang dilakukannya, kemarin sore Reyhan diam-diam pergi ke seorang dukun. Dari dukun tersebut, ia mendapatkan sebuah jimat pelet.
Dukun itu berpesan agar dicemplungkan ke minuman target, lalu sang target bertekuk lutut kembali ke pelukannya.
"Manajer Pak Reyhan. CEO baru sudah tiba di gerbang depan." seru salah satu staf HRD, membuyarkan lamunan Reyhan.
"Baik. Semua jajaran, berdiri di posisi masing-masing! Tegak dan rapi!" komando Reyhan dengan tegas.
Buket bunga anggrek putih premium sudah disiapkan di tangan staf penerima tamu. Kata-kata pidato singkat sambutan yang sudah dihafal Reyhan di luar kepala kembali ia rapalkan dalam hati.
Pintu kaca besar lobi utama dibuka lebar-lebar oleh petugas keamanan. Dua orang yang merupakan supir pribadi berpakaian formal juga seorang kepala security membukakan jalan. Semua karyawan yang berbaris langsung membungkuk hormat.
Akan tetapi Reyhan justru mematung. Seluruh sendi di tubuhnya mendadak kaku bagai disemen. Matanya membelalak sempurna, bahkan lebih lebar daripada saat mendengar rahasia Nadine.
Wanita yang berjalan dengan anggun di atas high heelnya itu adalah Xena. Mantan istrinya. Maksudnya, wanita yang besok akan disidangnya di pengadilan agama.
"X-Xena...?" tenggorokan Reyhan kering seketika. Rasanya ia mau pingsan di tempat. Bagaimana bisa istrinya yang selama ini ia anggap wanita biasa, yang ia selingkuhi dengan Nadine, ternyata adalah pewaris takhta ALS Grup?
Di tengah keterkejutan Reyhan yang luar biasa hingga membuatnya melongo seperti orang bodoh, Pak Ridwan, salah satu staf senior HRD, menyenggol lengannya dengan keras.
"Pak Reyhan kenapa malah melamun? Cepat beri anggukan dan salam hormat. Beliau sudah di depan Anda." bisik Pak Ridwan.
Reyhan tergagap, "Ah... i-iya... Selamat pagi dan selamat datang, Bu... Bu CEO," ucap Reyhan terbata-bata sambil membungkukkan badannya secara kikuk. Seluruh wibawanya runtuh dalam satu detik.
Xena menghentikan langkahnya tepat di depan Reyhan. Melihat ekspresi syok bin mengenaskan dari pria yang telah menyia-nyiakannya, sudut bibir Xena tertarik ke atas, membentuk senyuman tipis yang sarat akan kepuasan.
"Terima kasih atas sambutannya. Jadi, siapa di antara kalian yang merupakan perwakilan manajemen yang akan memanduku untuk menjelajahi area perusahaan hari ini?" tanya Xena dengan suara lantang dan tegas.
Suasana sempat hening beberapa detik karena Reyhan tidak langsung sigap mengambil alih tugasnya. Sangking tidak menyangkanya dengan kenyataan ini, performa kerja Reyhan yang biasanya dinilai cekatan langsung merosot tajam. Ia terlihat sangat amat amatir dan kurang profesional.
Menyadari kesalahannya setelah mendapat tegoran lewat tatapan mata karyawan lain, Reyhan langsung melangkah maju ke depan Xena dengan tubuh salah tingkah.
"M-Mohon maaf sebelumnya atas keterlambatan respon saya, Bu Xena. Saya Reyhan, Manajer Operasional. Saya yang akan memandu Ibu hari ini. Berikut adalah dokumen rule perjalanan dan agenda orientasi kita..."
Xena menerima dokumen itu tanpa menyentuh jemari Reyhan.
"Sebagai seorang Manajer, kamu harus lebih tanggap lagi ya, Pak Reyhan. Jangan sampai atasan harus bertanya dulu baru kamu bergerak. Kecepatan dan ketepatan adalah segalanya di ALS Grup. Paham?" sindir Xena.
Reyhan menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu, wajahnya memerah menahan malu di hadapan bawahannya sendiri. "Baik, Bu. Saya berjanji akan lebih impresif lagi."
Sementara itu, di barisan belakang staf, segelintir orang yang memang tahu bahwa Reyhan dan Xena adalah sepasang suami istri langsung menegang. Kasak-kusuk tak bersuara mulai terjadi melalui tatapan mata yang saling melempar kode. Mereka benar-benar tidak menyangka akan ada drama seheboh ini di kantor tempat mereka mencari nafkah.
Beberapa manajer lain yang biasanya sinis pada Reyhan langsung mengubah raut wajah mereka menjadi penuh kekaguman yang dipaksakan. Dalam hati mereka berpikir, Sialan si Reyhan, ternyata istrinya anak pemilik ALS Grup! Cari muka ah nanti pas jam pulang, biar jabatan aman!
Mereka berencana untuk ngecengin sekaligus memberikan penghormatan berlebih pada Reyhan nanti, bersikap lebih jaim, dan mulai mencari perhatian. Mereka tidak tahu saja bahwa di balik layar, rumah tangga kedua orang di depan mereka telah hancur lebur.
Saat melangkah mendampingi Xena menuju lift, Reyhan tiba-tiba meraba kantong celananya. Jantungnya mencelos. Ia baru ingat sesuatu yang sangat krusial.
Sial! Bodoh sekali aku! Kenapa benda pelet dari dukun itu tidak kubawa hari ini?! umpat Reyhan dalam hati dengan frustrasi yang memuncak.
Mumpung ada kesempatan sedekat ini dengan Xena, benda keramat itu justru tertinggal di rumah.
Di saat yang bersamaan, di rumah Reyhan
Nadine sedang sibuk membereskan kamar tidur utamanya yang berantakan. Langkahnya terhenti di depan meja rias milik Reyhan. Saat hendak membersihkan debu di area laci yang setengah terbuka, matanya menangkap sesuatu yang asing.
Pil apa ini? Aneh banget isinya. Gumam Nadine.
Bersambung.