Apa jadinya kalau Zyan, Direktur dingin yang dunianya cuma berisi angka dan rapat bosan, harus menikah dengan Alexa, mahasiswi bar-bar yang lebih sayang motor ZX-nya daripada sisir rambut?
Zyan baru saja menduda dan bersumpah nggak mau berurusan sama drama cinta lagi. Tapi, takdir (dan paksaan orang tua) membawanya ke pelaminan bersama gadis rambut wolfcut yang hobinya nantangin maut.
Bagi Alexa, nikah muda itu bencana. Tapi melihat wajah kaku Zyan yang kayak manekin, jiwa jahilnya meronta-ronta. Misi Alexa cuma satu: Bikin si Om kaku ini darah tinggi tiap hari sampai minta ampun! Tapi, siapa sangka, di balik tembok es Zyan, ada kehangatan yang bikin Alexa perlahan lupa cara nge-gas motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Malam itu, Alexa baru saja selesai membersihkan motor ZX-nya di garasi. Keringat bercucuran, tapi wajahnya tampak cerah karena punya rencana jenius. Di otaknya sudah tersusun skenario "Pembalasan Dendam Jilid 2" yang lebih halus tapi lebih mematikan daripada sambal terasi kemarin.
"Lo pikir lo bisa bikin gue baper terus menang gitu aja, Om? No way," gumam Alexa sambil membawa sebuah tas plastik kecil dari mini market. Isinya? Bedak bayi, pewarna makanan cair warna biru, dan sebotol kecil minyak goreng.
Alexa masuk ke kamar utama. Zyan belum pulang dari kantor, masih ada waktu sekitar tiga puluh menit lagi. Alexa langsung menuju kamar mandi mewah milik Zyan yang bernuansa marmer hitam dan emas.
"Oke, langkah pertama," Alexa membuka tutup kepala shower yang sangat besar itu. Dengan teliti, ia memasukkan beberapa tetes pewarna makanan biru ke dalam lubang-lubang kecil shower tersebut. "Entar pas dia mandi, dia bakal berubah jadi Smurf. Pasti lucu banget!"
Langkah kedua, Alexa menuju ke arah wastafel. Ia mengoleskan sedikit sekali minyak goreng di pegangan pintu kamar mandi bagian dalam. Tujuannya? Agar saat Zyan selesai mandi dan tangannya masih basah, dia bakal kesulitan buka pintu dan terjebak di dalam kamar mandi yang uapnya panas.
Langkah terakhir yang paling epik: Alexa mengambil bedak bayi. Ia menaburkan bedak itu dengan sangat tebal di atas baling-baling kipas angin gantung yang ada tepat di atas tempat tidur Zyan. Begitu kipas itu dinyalakan... BOOM! Kamar bakal jadi kayak lokasi syuting film musim salju.
"Sempurna!" Alexa merapikan kembali semuanya agar tidak terlihat mencurigakan. Ia lalu duduk di sofa kamar, pura-pura baca komik sambil menunggu "sang korban" datang.
Tak lama kemudian, terdengar suara mobil Audi R8 memasuki gerbang. Jantung Alexa berdebar kencang antara takut dan semangat. Zyan masuk ke kamar dengan wajah yang tampak sangat lelah. Dasinya sudah longgar dan kancing kemeja atasnya terbuka.
"Kamu belum tidur, Alexa?" tanya Zyan sambil melempar tas kerjanya ke kursi.
"Belum, Om. Masih asyik baca komik. Lo capek banget ya?" Alexa mencoba terdengar manis, tapi matanya terus melirik ke arah pintu kamar mandi.
"Iya. Rapat tadi sangat menguras energi. Saya mau mandi air hangat sebentar, setelah itu kita tidur," Zyan langsung melangkah menuju kamar mandi tanpa curiga sedikit pun.
Alexa menahan tawa dengan menutup mulutnya pakai komik. Ia menunggu dalam diam. Lima menit berlalu...
Tiba-tiba terdengar teriakan dari dalam kamar mandi.
"ALEXA!!! APA-APAAN INI?!"
Alexa langsung meledak tertawa. Ia lari ke depan pintu kamar mandi. "Kenapa, Om? Airnya seger kan? Warnanya kayak air laut Maladewa ya?"
"ALEXA! BADAN SAYA BIRU SEMUA! INI PEWARNA APA?!" suara Zyan terdengar sangat frustrasi.
"Cuma pewarna makanan kok, tenang aja! Aman buat kulit, paling cuma nggak hilang selama tiga hari! Hahaha!"
Terdengar suara kucuran air yang lebih deras. Sepertinya Zyan mencoba menggosok badannya sekuat tenaga. Sepuluh menit kemudian, suara air berhenti. Alexa bersiap-siap untuk tahap kedua.
Cklek... cklek... cklek...
Suara pegangan pintu diputar berulang kali tapi tidak mau terbuka.
"Alexa! Buka pintunya! Kamu kasih apa di gagang pintu ini?!" teriak Zyan dari dalam.
"Eh, kok nggak bisa dibuka sih? Wah, kayaknya pintunya ngambek tuh gara-gara lo terlalu kaku!" Alexa terduduk di lantai sambil memegangi perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa.
"Buka sekarang atau saya dobrak!"
"Jangan dong! Mahal itu pintunya! Coba pake handuk deh, Om, biar nggak licin!"
Setelah perjuangan keras, akhirnya pintu terbuka. Zyan keluar dengan hanya memakai handuk yang melilit pinggangnya. Pemandangan itu sebenarnya sangat estetik kalau saja wajah, leher, dan sebagian lengannya tidak berwarna biru muda terang. Zyan terlihat seperti karakter film Avatar versi korporat.
"Kamu... benar-benar tidak ada kapoknya ya?" Zyan berjalan mendekati Alexa dengan tatapan yang sangat tajam. Meski badannya biru, aura intimidasinya tetap kuat.
Alexa mundur perlahan. "Ampun, Om! Kan cuma bercanda! Lagian lo tadi di kantor sok romantis banget, gue kan jadi geli!"
Zyan terus memojokkan Alexa ke arah tempat tidur. "Oh, jadi kamu merasa geli dengan perhatian saya? Kamu mau saya yang versi jahat kembali?"
"Eh, nggak gitu juga! Om, stop! Jangan deket-deket! Lo serem kalau lagi biru gitu!"
Tepat saat Alexa terduduk di pinggir kasur, ia tidak sengaja menyenggol remot kipas angin yang ada di atas nakas. Tombol power tertekan. Kipas angin di langit-langit yang sudah dipasangi jebakan salju oleh Alexa mulai berputar.
*WUUUSSSHHHH!*
Dalam hitungan detik, gumpalan bedak bayi terbang ke segala arah, menghujani Zyan dan Alexa sekaligus. Kamar yang tadinya rapi mendadak putih semua. Zyan yang tadinya sudah biru, sekarang tertutup bubuk putih, membuatnya terlihat seperti donat gula yang dicelupkan ke tinta biru.
Alexa juga tidak luput. Rambut wolfcut-nya penuh bedak, membuatnya terlihat seperti nenek-nenek berumur 50 tahun.
Hening sejenak.
Alexa menatap Zyan. Zyan menatap Alexa. Mereka berdua sekarang sama-sama terlihat sangat konyol.
"Hahahaha!" Alexa kembali tertawa, tapi kali ini tertawanya lebih keras karena ia sendiri juga kena batunya. "Om... lo... lo kayak kue mochi basi! Biru-biru putih gitu! Hahaha!"
Zyan yang awalnya ingin marah besar, tiba-tiba melihat wajah Alexa yang penuh bedak dan tertawa lepas. Sesuatu di dalam hatinya mencair. Alih-alih mengamuk, Zyan justru ikut tersenyum kecil, lalu ia mengambil segenggam bedak yang masih ada di kasur dan meniupkannya tepat ke wajah Alexa.
Puff!
"Uhuk! Uhuk! Heh! Kok malah bales sih!" protes Alexa sambil mengucek matanya.
"Ini namanya keadilan, Alexa. Kamu yang memulai, kita harus menyelesaikannya bersama," Zyan duduk di samping Alexa, mengabaikan kondisi kamar yang sudah berantakan.
Zyan mengusap bedak di hidung Alexa dengan jarinya. "Kamu tahu tidak? Ini adalah pertama kalinya saya merasa rumah ini benar-benar punya nyawa setelah bertahun-tahun saya tinggal sendiri."
Alexa terdiam. Tawanya mereda. Ia menatap mata Zyan yang kini tampak sangat jujur di balik sisa-sisa bedak. "Masa sih? Emang dulu sesepi itu?"
"Sangat sepi. Hanya ada saya, berkas kantor, dan keheningan. Tapi sejak ada kamu, meskipun kamu sangat menyebalkan dan hobi bikin saya hampir mati serangan jantung, saya merasa lebih... hidup."
Alexa memalingkan wajahnya yang mendadak panas. "Gombal lagi kan. Padahal badan masih biru gitu."
Zyan terkekeh, lalu ia merebahkan tubuhnya di kasur yang penuh bedak itu, menarik napas dalam. "Biarkan saja seperti ini. Besok kita panggil jasa pembersih. Malam ini, saya terlalu lelah untuk bertengkar lagi denganmu."
Alexa akhirnya ikut berbaring di samping Zyan. Mereka berdua menatap langit-langit kamar yang masih berputar pelan.
"Om," panggil Alexa pelan.
"Hmm?"
"Maaf ya soal biru-birunya. Nanti gue bantuin gosok deh besok pagi pake amplas motor kalau perlu."
Zyan tertawa pelan, lalu meraih tangan Alexa dan menggenggamnya erat. "Tidak perlu amplas. Cukup jangan nakal untuk sehari saja, itu sudah cukup."
"Nggak janji ya!"
Malam itu, di tengah kamar yang putih penuh bedak dan aroma stroberi bercampur bedak bayi, mereka berdua tertidur dengan posisi tangan yang saling bertautan. Sebuah kedamaian yang aneh tapi nyata mulai terbentuk di antara mahasiswi bar-bar dan duda dingin ini.
Namun, Alexa tidak tahu, bahwa besok pagi ada kejutan lain yang menunggu: Mama Zyan dan Mama Alexa mendadak mau datang berkunjung untuk mengecek apakah mereka sudah "program" punya cucu atau belum!
Bersambung.....