NovelToon NovelToon
Sistem 2bit: Dari Sampah Jadi Dewa

Sistem 2bit: Dari Sampah Jadi Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Sistem / Harem / Komedi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: HAMBALANGVERSE

Raka Pratama pernah menjadi kebanggaan keluarganya.

Bakat luar biasa. Masa depan cerah. Tunangan idaman.

Sampai sebuah misi menghancurkan meridiannya.

Kultivasinya mandek. Pertunangannya dibatalkan. Keluarganya membuangnya ke gubuk tua di pinggir desa.

Saat semua orang menganggap hidupnya telah berakhir, sebuah warisan kuno terbangun.

Sistem 2Bit.

Sistem murahan yang mengaku dirinya kelas dua.

Tapi bagi yang sudah kehilangan segalanya, kesempatan sekecil apa pun sudah cukup.

Mereka mengira kisah Raka telah berakhir.

Padahal baru dimulai.


━━━━━━━━━━━━━━━

⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️

Genre:
#Cultivation
#System
#Action
#Fantasy
#Harem
#Revenge
#Survival
#Hambalangverse.


🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Hujan deras menghantam atap genteng rumah besar Keluarga Pratama. Suaranya bising, menelan segala suara lain.

Raka Pratama berdiri di depan gerbang besi hitam. Air hujan mengguyur tubuhnya tanpa ampun. Seragam kultivasinya—kain murah berwarna abu-abu—telah basah kuyup, menempel ketat pada kulitnya yang kurus. Dinginnya menusuk tulang, tapi Raka tidak menggigil.

Tangannya gemetar. Bukan karena suhu.

Dia menatap ke atas. Ke teras utama yang tinggi.

Kirana berdiri di sana. Gaun sutra biru muda. Kering. Bersih. Dia memegang payung transparan, melindungi dirinya dari dunia yang kotor di bawah sana.

Jarak mereka hanya lima meter. Tapi terasa seperti jurang.

"Raka."

Suara Kirana datar. Tidak ada getaran emosi. Hanya fakta.

Raka mengangkat kepala. Air hujan mengalir dari pelipisnya, masuk ke mata, perih. Dia tidak mengedip.

"Ayahku sudah memutuskan," kata Kirana. Dia tidak turun. Dia melemparkan sesuatu.

Sebuah amplop merah.

Amplop itu jatuh di genangan air lumpur di depan kaki Raka. Plap. Warna merahnya langsung luntur, bercampur dengan kotoran tanah. Tinta emas tulisan 'Pertunangan' di sudutnya terlihat buram, hancur.

"Pertunangan kita batal."

Raka menatap amplop itu. Jari-jarinya bergerak refleks, ingin memungutnya, tapi berhenti di udara. Tangannya mengepal erat di samping tubuh. Kuku-kukunya menusuk telapak tangan sendiri. Sakit. Itu membantu dia tetap sadar.

"Meridianmu rusak, Raka," lanjut Kirana, suaranya masih datar, seolah membaca daftar belanja. "Tidak ada harapan untuk perbaikan. Kamu... terlalu lemah untuk menjadi suami kepala keluarga cabang."

Rusak. Kata itu sudah didengar Raka seribu kali. Tapi kali ini, rasanya berbeda. Kali ini, itu vonis mati sosial.

Raka membuka mulut. Ingin membentak. Ingin bertanya kenapa. Tapi tenggorokannya kering. Rahangnya menegang begitu keras hingga otot pipinya berkedut.

Dia memilih diam.

Marah tidak akan mengubah kenyataan. Menangis hanya akan membuat Kirana jijik.

"Selamat tinggal, Kirana," ucap Raka. Suaranya serak, hampir tertelan suara hujan.

Dia berbalik. Punggungnya menghadap wanita yang dulu pernah dia janji lindungi. Dia melangkah. Satu langkah. Dua langkah. Kakinya berat, seolah ditarik oleh gravitasi rasa malu.

Kirana tidak memanggil. Tidak ada penyesalan. Hanya hening, kecuali deru hujan.

Raka berjalan tanpa tujuan. Kakinya membawanya menjauh dari pusat kota, menuju pinggiran desa yang terlupakan.

Tempat ini bau. Bau sampah basah, selokan mampet, dan kayu busuk.

Dia berhenti di depan sebuah gubuk reyot. Atapnya bolong di beberapa titik. Dinding kayunya berlubang-lubang, ditumbuhi lumut hijau gelap. Rumput liar tumbuh setinggi lutut di ambang pintu, menunjukkan bahwa tidak ada manusia waras yang menginjakkan kaki di sini selama bertahun-tahun.

Ini tempat pembuangan. Tempat untuk mereka yang tidak diinginkan.

Raka mendorong pintu. Engselnya berkarat, berbunyi kreeek panjang yang menyakitkan telinga.

Di dalam, gelap. Bau apek menyerang hidungnya. Lantai tanah becek. Di pojok, tumpukan karung goni yang sudah dimakan rayap dan tikus. Botol-botol pecah berserakan, memantulkan cahaya redup dari luar.

Seekor tikus besar lari melintas di dekat kakinya. Raka tidak bereaksi. Dia hanya letih.

Dia duduk di lantai tanah. Punggungnya menyandar pada dinding kayu yang rapuh. Kayu itu bergetar halus setiap kali angin berhembus dari luar. Tidak kokoh. Sama seperti hidupnya.

Perutnya berbunyi. Keroncongan. Lapar. Haus. Saku bajunya kosong. Tidak ada uang. Tidak ada makanan. Bahkan sisa harga diri pun sudah tertinggal di gerbang tadi.

Raka menunduk. Menatap tangannya yang kotor dan gemetar.

Bima mengirimku ke zona kematian.

Kirana membuangku seperti sampah.

Ayahku diam saja.

Kenapa?

Pertanyaan itu berputar di kepalanya, tajam dan menyakitkan. Raka menggigit bibir bawahnya. Keras. Rasa logam darah menyebar di lidahnya. Sakit itu membuatnya fokus.

Dia mengangkat kepalan tangan kanan. Dengan segenap sisa tenaga dan amarah yang tertahan, dia membantingkannya ke dinding kayu di depannya.

DUG!

Suara tumpul. Debu kayu beterbangan. Tangan Raka lecet, kulit terkelupas. Darah segar menetes, bercampur dengan lumpur di lantai.

Sakit. Tapi lega.

Dia siap melakukannya lagi. Menghancurkan tangannya sendiri jika itu bisa menghilangkan rasa sesak di dada.

Tiba-tiba, sebuah cahaya biru berpendar di depan matanya.

Raka mengerjapkan mata. Cahaya itu tidak hilang. Ia berbentuk kotak persegi panjang, melayang di udara, dengan teks pixelated kasar yang berkedip-kedip.

[!] DETEKSI HOST...

Raka menatapnya. Berkedip lagi. Masih ada.

[!] SCAN MERIDIAN: RUSAK (98,3%)

[!] POTENSI KULTIVASI: 0,7%

[!] KESIMPULAN: SAMPAH.

Kata terakhir itu berkedip merah. Tajam. Menghina.

Darah Raka mendidih. Bukan karena sistem itu muncul, tapi karena kebenarannya.

"Terima kasih atas diagnosanya, benda aneh," gumam Raka. Suaranya parau, penuh sarkasme pahit.

Layar biru itu berkedip sekali. Teks baru muncul, lebih lambat, seolah prosesor yang sedang berpikir keras.

[!] TAPI...

[!] DETEKSI WARISAN KUNO: TERKUNCI.

[!] SISTEM 2BIT DIAKTIFKAN.

Suara terdengar di kepala Raka. Bukan suara manusia. Bukan juga suara robot canggih di film-film. Suaranya datar, bergema sedikit, seperti rekaman lama yang diputar di radio rusak.

"Selamat datang, Host. Identitas: Sistem 2Bit. Versi Beta. Banyak bug. Harap maklum."

Raka menyipitkan mata. "Sistem?"

"Benar. Host dapat memanggil saya Sistem. Atau 2Bit. Host tidak wajib sopan. Sopanitas tidak meningkatkan efisiensi."

Raka tertawa pendek. Tawa yang kering dan tanpa humor. "Kau bisa memperbaiki meridianku?"

"Bisa."

"Berapa lama?"

"Tergantung ketahanan nyali Host. Dan toleransi rasa sakit."

Raka diam. Jari-jarinya yang berlumuran darah perlahan mengendur. Ada harapan. Kecil. Tipis. Tapi ada.

"Apa tugas pertamaku?" tanya Raka. Dia berdiri. Lututnya gemetar, bukan karena takut, tapi karena gula darah rendah dan kelelahan.

[!] TUGAS 1: LATIHAN DASAR.

[!] INSTRUKSI: Lakukan 1.000 pukulan ke target fisik.

[!] HADIAH: Jamu Leluruh Roso (Grade Rendah). Efek: Pembersih Meridian Dasar.

"Seribu kali?" Raka menatap tangannya yang luka. "Dengan tangan seperti ini?"

"Sistem 2Bit adalah sistem kelas ekonomi. Murahan. Efisien. Tidak ada jalan pintas. Ubah sampah menjadi... sampah yang sedikit lebih keras."

Kalimat itu seharusnya menghina. Tapi bagi Raka, itu terdengar jujur. Tidak ada janji manis. Tidak ada keajaiban instan. Hanya kerja keras dan rasa sakit.

Itu bahasa yang dimengerti Raka.

"Baik," kata Raka. Matanya yang tadi kosong, kini menyala. Api kecil. "Aku kerjakan."

Di belakang gubuk, ada pohon jati tua. Batangnya besar, kulit kayunya kasar dan retak-retak.

Raka berdiri di depannya. Angin malam berhembus dingin, menerbangkan rambut basahnya.

Dia menutup mata. Menarik napas dalam-dalam.

Dalam kegelapan kelopak matanya, wajah-wajah itu muncul.

Bima, tersenyum licik saat mengirimnya ke jebakan.

Kirana, melempar amplop merah ke lumpur.

Ayahnya, membelakangi, diam membisu.

Raka membuka mata. Tatapannya tajam. Dingin.

BRAK!

Pukulan pertama. Kulit jari sobek. Darah membasahi kayu kasar. Sakitnya menjalar hingga ke siku.

Raka tidak berhenti.

BRAK!

BRAK!

BRAK!

Pukulan ke-100. Tangannya bengkak. Buku-buku jarinya tampak putih karena tekanan. Darah menetes ke tanah, membentuk bercak kecil di lumpur.

Pukulan ke-500. Rasa sakit mulai mati rasa. Yang tersisa hanya dentuman tumpul. Otaknya kosong. Hanya ada ritme. Maju. Pukul. Tarik. Maju. Pukul. Tarik.

[!] PERINGATAN: Jaringan lunak tangan Host mengalami kerusakan minor. Disarankan istirahat.

Raka tidak menjawab. Napasnya tersengal-sengal. Keringat dingin bercampur dengan air hujan di wajahnya.

[!] Host keras kepala. Mencatat poin kepribadian: Obstinate.

"Diamlah," geram Raka di antara napasnya.

BRAK!

Pukulan ke-999. Kakinya lemas. Pandangannya kabur. Dunia berputar. Tapi dia mengangkat tangan kanannya yang sudah berbentuk cakar darah. Bibirnya digigit kuat untuk menahan jeritan.

BRAK!

Pukulan ke-1.000.

Raka roboh. Lututnya menghantam tanah becek. Dadanya naik turun drastis, seperti ikan yang terlempar ke darat.

Tangannya terbuka di pangkuan. Bengkak. Berdarah. Hancur.

Tapi di sudut bibirnya, terbentuk senyuman tipis. Senyuman kemenangan atas diri sendiri.

Ting.

Sebotol kaca kecil muncul di udara, lalu jatuh tepat di telapak tangannya yang terluka. Cairan di dalamnya berwarna hijau pekat. Baunya tajam: jahe, kunyit, dan sesuatu yang asing.

[!] Minum. Jangan diendus. Efektivitas menurun jika terpapar oksigen.

Raka membuka tutup botol dengan gigi. Dia menenggak isinya sekaligus.

Rasanya pahit. Sangat pahit. Lalu, panas.

Seperti menelan bara api.

Api itu menjalar dari kerongkongan, meledak di perut, lalu menyebar ke seluruh tubuh melalui jalur-jalur energi yang selama ini tertutup.

"Aargh!"

Raka terjatuh berguling di lumpur. Tubuhnya kejang-kejang. Otot-ototnya menegang keras. Giginya bergemelutuk. Rasanya seperti setiap tulang di tubuhnya dipatahkan dan disusun ulang.

[!] PROSES PEMBERSIHAN MERIDIAN: 20%...

Jantungnya berdebar kencang. Dug. Dug. Dug. Seolah ingin keluar dari dada.

[!] 50%...

Pandangan Raka kabur. Langit malam berputar. Bintang-bintang terlihat seperti garis-garis cahaya yang memanjang.

[!] 90%...

Dia menggigit lidahnya sendiri. Rasa sakit itu menjaga kesadarannya agar tidak hilang. Jangan pingsan. Jangan pingsan.

[!] 100%. SELESAI.

Hening.

Raka tergeletak di lumpur. Napasnya masih berat, tapi teratur.

Perlahan, dia duduk.

Tangannya masih berlumuran darah dan lumpur. Lukanya masih ada. Bengkaknya belum surut.

Tapi ada yang berbeda.

Dia merasakannya.

Hangat.

Di dalam dadanya, ada aliran energi kecil. Lemah, tapi nyata. Seperti tetesan air pertama setelah musim kemarau panjang. Energi itu mengalir lancar, tanpa hambatan, mengisi ruang-ruang kosong di tubuhnya.

Raka membuka telapak tangannya. Mengepal. Membuka. Mengepal lagi.

Kekuatan.

[!] STATUS HOST DIPERBARUI.

Layar biru muncul kembali, kali ini dengan font yang sedikit lebih rapi.

NAMA: Raka Pratama

TAHAP KULTIVASI: Tahap 1 (Macet) -> Tahap 3 (Awal)

MERIDIAN: BERSIH (Efisiensi Aliran: 15%)

Raka menatap angka itu. Diam.

"Tahap tiga," bisiknya. "Karena sumbatan lama pecah sekaligus."

"Koreksi: Host beruntung tidak meledak. Probabilitas kematian sebelumnya: 42%."

Raka tidak menjawab. Dia malah tertawa. Tawa pelan, yang berubah menjadi gelak kecil. Bahunya naik turun.

[!] DETEKSI: Host mengalami euforia. Detak jantung meningkat 20%. Apakah Host membutuhkan bantuan medis?

"Tidak," kata Raka, menghapus darah di sudut mulutnya dengan punggung tangan. "Aku baik-baik saja."

Dia berdiri. Kakinya masih lemas, tapi kokoh. Dia menatap ke arah timur, ke arah siluet rumah besar Keluarga Pratama yang menjulang di kejauhan. Cahaya lampu dari jendela-jendelanya terlihat hangat dan nyaman.

Di sana, Bima mungkin sedang tidur nyenyak. Kirana mungkin sedang memilih gaun untuk pesta besok.

Raka mengepalkan tangan kanannya yang masih perih. Rasa sakit itu mengingatkan dia pada realitas.

Matanya tidak lagi kosong. Ada ketajaman baru. Dingin. Terfokus.

"Besok, Bima," gumam Raka.

Dia berbalik, masuk kembali ke dalam gubuk yang pengap dan bau. Dia berbaring di lantai tanah yang keras. Atap masih bocor, meneteskan air hujan ke pipinya. Tikus masih berkeliaran di sudut ruangan.

Tapi untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, Raka memejamkan mata dengan tenang.

[!] Host... suara sistem terdengar pelan, hampir seperti bisikan.

"Apa?"

[!] Besok. Jangan lupa latihan. Sistem tidak akan mengingatkan kedua kalinya. Baterai hemat energi.

Raka tersenyum tipis dalam gelap.

"Iya. Aku tidak akan lupa."

[!] Bagus. Mode standby diaktifkan.

Layar biru padam.

Raka menarik napas dalam, dan akhirnya, tertidur.

Bersambung.

1
Chen Haoran
Bagus toh sistem nya lucu
KZ2: Kalau gw tulis sejarahnya sistem 2bit bakalan jadi 10 bab🚬🗿🤣.
thanks udah mampir
total 1 replies
Chen Haoran
menurut ku ini menarik di setiap kata-katanya ada dialog yang interaktif dan tidak kelihatan kaku🙏
Chen Haoran: yap euy
total 2 replies
Chen Haoran
lucu euy sistem nya bisa becanda 🤣
KZ2: wkwkkw emang novel absurd
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!