NovelToon NovelToon
KEMBANG DESA SANG CEO

KEMBANG DESA SANG CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Persaingan Mafia / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Rumah Tangga
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lada Jingga

Kemuning selalu tahu hidupnya murah di mata keluarga sendiri. Sejak kedua orang tuanya meninggal, ia hanya dianggap beban—dipaksa menjadi pembantu di rumah bibinya, tidur di lantai dingin, dan menahan sakit demi membesarkan adik kecilnya seorang diri.

Suatu malam, bibinya menyerahkan Kemuning kepada seorang tuan tanah untuk melunasi hutang judi. Tanpa persetujuan. Tanpa belas kasihan.

Semua orang mengira nasib Kemuning selesai saat mobil hitam itu membawanya pergi dari desa. Tapi mereka salah, karena pria yang menunggunya di kota jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan; dingin, kaya, tampan, dan memandang Kemuning seolah gadis desa itu adalah miliknya.

Kemuning membenci cara pria itu mendekat terlalu dekat, cara tatapannya selalu membuat napasnya kacau… dan cara tubuhnya gemetar setiap kali pria itu menyentuhnya hanya untuk hal-hal kecil yang seharusnya biasa saja.

Namun yang paling menakutkan bukanlah ketertarikan itu.
Melainkan rahasia besar tentang alasan Kemuning sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lada Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 - Jangan Menatapku Seperti Itu

Arkana masih memegang wajah Kemuning dengan kedua tangannya di ruang tengah mansion yang sunyi. Telapak tangan pria itu terasa hangat di pipi Kemuning yang mulai memanas karena gugup. Tatapan mata Arkana terlalu dekat, terlalu intens, dan terlalu sulit dihindari. Sampai Kemuning benar-benar lupa bagaimana cara berpikir normal. “Padahal yang paling berbahaya sekarang justru dirimu sendiri?” Suara Arkana terdengar rendah dan pelan di antara sunyinya malam.

Kalimat itu membuat dada Kemuning bergetar aneh tanpa bisa ia pahami. Jantungnya nyaris meledak hanya karena cara pria itu menatapnya. Kemuning membeku di tempat. Ia tidak benar-benar mengerti maksud ucapan Arkana. Namun sesuatu dalam nada suara pria itu terasa terlalu intim dan berbahaya. Membuat napasnya langsung kacau.

Arkana berada terlalu dekat sekarang. Aroma parfum maskulin pria itu memenuhi seluruh indera Kemuning sampai membuat kepalanya ringan. Dan semakin lama ditatap seperti ini, semakin lemah pertahanannya sendiri. Hal itu justru membuat Kemuning takut. Ia mulai sadar satu hal yang berbahaya.

Arkana Mahendra perlahan menjadi terlalu penting baginya. Setiap sentuhan kecil pria itu selalu berhasil mengguncang seluruh pikirannya. Dan Kemuning tidak tahu bagaimana menghentikannya. Padahal mereka berasal dari dunia yang sangat berbeda. Arkana hidup di dunia mewah, kekuasaan, dan orang-orang elite. Sedangkan dirinya hanyalah gadis desa yang bahkan tidak punya tempat untuk kembali.

Perasaan seperti ini seharusnya tidak boleh tumbuh.

Di sisi lain, Arkana juga mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Wajah polos Kemuning terlalu mudah memancing sisi protektifnya keluar. Mata gadis itu terlalu jujur setiap kali menatapnya. Dan itu membuat Arkana semakin sulit menjaga jarak. Pria itu bahkan tidak sadar kapan dirinya mulai terus memikirkan Kemuning. Mulai memperhatikan hal-hal kecil tentang gadis itu. Mulai merasa marah setiap kali Kemuning sedih atau menangis. Dan semuanya terasa semakin tidak normal sekarang.

Arkana tanpa sadar mengusap pipi Kemuning perlahan dengan ibu jarinya. Gerakan kecil itu lembut dan nyaris penuh hati-hati. Kemuning langsung menahan napas saat sentuhan itu terasa semakin nyata. Tubuhnya gemetar halus tanpa bisa dikendalikan. Namun Arkana tiba-tiba tersadar pada apa yang sedang dilakukannya. Pria itu langsung menjauh sedikit sambil mengembuskan napas pendek. Rahangnya mengeras seolah sedang menahan sesuatu dalam dirinya sendiri.

Kemuning buru-buru menunduk malu.

“Jangan menatapku seperti itu.” Suara Arkana terdengar rendah setelah beberapa detik sunyi.

Kemuning mengangkat kepala pelan dengan wajah bingung. “Seperti apa?” tanyanya lirih.

Arkana langsung terdiam cukup lama. Tatapan matanya kembali jatuh pada wajah Kemuning yang polos dan gugup. Lalu pria itu akhirnya menjawab dengan suara lebih pelan dari sebelumnya. “Seolah aku satu-satunya tempat kau bisa bergantung.”

Kalimat itu menghantam dada Kemuning tanpa ampun. Jantungnya langsung berdetak semakin kacau. Dan untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari mereka yang mampu bergerak. Suasana di ruang tengah terasa terlalu intim sekarang.

Kemuning buru-buru memalingkan wajah karena malu. Tangannya meremas ujung dressnya sendiri gugup. Sedangkan Arkana akhirnya mundur beberapa langkah dan kembali memasang wajah dingin. Namun keduanya tahu momen tadi tidak akan mudah dilupakan.

Malam semakin larut di mansion Mahendra. Mahardika memanggil Arkana ke ruang kerja keluarga untuk membahas agenda perusahaan. Kemuning yang hendak mengambil air minum tanpa sengaja mendengar percakapan mereka dari luar ruangan. Dan langkahnya langsung terhenti.

“Besok malam gala dinner perusahaan utama.” Suara Mahardika terdengar tegas dari dalam ruang kerja. “Kau harus hadir sebagai representasi keluarga Mahendra.”

Arkana hanya menjawab singkat.

Ratih yang duduk di sana ikut menyela pelan. “Kalau perlu, ajak Selvina. Kalian terlihat serasi di depan publik.”

Kalimat itu membuat dada Kemuning terasa sesak mendadak. Ia tidak tahu kenapa perasaannya langsung aneh mendengar nama Selvina. Padahal wanita itu memang cocok berdiri di samping Arkana. Cantik, elegan, pintar, dan berasal dari dunia yang sama. Tidak seperti dirinya.

Kemuning menunduk perlahan sambil menggenggam gelas di tangannya lebih erat. Untuk pertama kalinya, ia sadar dirinya sedang cemburu. Dan kesadaran itu langsung membuatnya takut pada dirinya sendiri. Karena ia tidak punya hak untuk merasa seperti itu.

Namun dari dalam ruang kerja, suara Arkana terdengar dingin. “Aku bisa datang sendiri.”

Jawaban singkat itu membuat Ratih langsung terdiam beberapa detik.

Mahardika pun melirik putranya samar. Karena biasanya Arkana tidak pernah peduli soal pasangan acara atau opini publik. Tetapi sekarang pria itu justru langsung menolak tanpa berpikir panjang.

Dan perubahan kecil itu mulai terlihat jelas di mata keluarganya. Termasuk di mata Kemuning.

Malam itu, Kemuning sulit tidur.

Ia berbaring membelakangi Arkana sambil memeluk selimut erat. Pikirannya terus dipenuhi bayangan Arkana dan Selvina berdiri bersama di gala dinner.

Dan entah kenapa, itu terasa menyakitkan.

Di sisi lain kamar, Arkana ternyata juga belum tidur.

Pria itu duduk di sofa sambil membuka laptop tanpa benar-benar fokus membaca layar. Tatapannya beberapa kali jatuh diam-diam ke arah Kemuning yang gelisah di ranjang. Dan itu membuat pikirannya semakin kacau.

Arkana sadar Kemuning sedang memikirkan sesuatu. Cara gadis itu bergerak gelisah di bawah selimut terlalu mudah dibaca. Dan anehnya, Arkana tidak suka melihat Kemuning menjauh atau memendam sesuatu sendiri. Perasaan itu semakin sulit dipahami sekarang. Pria itu juga mulai sadar satu hal lain. Ia tidak suka membayangkan orang lain membuat Kemuning menangis lagi. Tidak suka melihat gadis itu merasa kecil atau tidak pantas. Dan lebih dari itu, Arkana tidak ingin Kemuning pergi.

Tengah malam datang bersama suara hujan kecil di luar jendela. Kemuning akhirnya tertidur dalam keadaan lelah. Namun tidurnya tidak benar-benar tenang malam itu. Tubuh gadis itu mulai gelisah pelan di atas ranjang.

Dalam mimpinya, Kemuning kembali melihat rumah Miranti yang gelap dan sempit. Suara bentakan bibinya menggema keras di telinganya. Tangan kasar yang menjambak rambutnya terasa nyata lagi dan tubuhnya mulai gemetar ketakutan.

“Jangan...” Kemuning bergumam lirih dalam tidurnya. Air mata mulai jatuh dari sudut matanya tanpa sadar. Napasnya terdengar tidak stabil sekarang.

Arkana langsung menoleh begitu mendengar suara kecil itu. Pria itu segera berdiri dari sofa dan mendekati ranjang. Wajah Kemuning terlihat penuh ketakutan bahkan saat tertidur. Dan itu membuat dada Arkana terasa tidak nyaman.

“Kemuning.” Arkana menggenggam tangan gadis itu perlahan. Telapak tangan Kemuning terasa dingin dan gemetar di tangannya. Pria itu langsung mengerutkan dahi samar.

“Kemuning, bangun.” Suara Arkana lebih lembut dari biasanya. Namun Kemuning justru makin gelisah dalam tidurnya. Air mata terus jatuh di pipinya.

“Arkana...” Nama itu keluar pelan dari bibir Kemuning tanpa sadar. Membuat Arkana langsung membeku beberapa detik. Jantung pria itu berdetak aneh mendengarnya.

Arkana akhirnya mengguncang bahu Kemuning perlahan untuk membangunkannya. Gadis itu langsung terbangun dalam keadaan panik dan napas kacau. Matanya masih penuh ketakutan saat melihat sekeliling kamar. Dan refleks pertama yang ia lakukan adalah memeluk Arkana erat.

Tubuh mereka langsung menempel tanpa jarak.

Kemuning gemetar kecil sambil menyembunyikan wajah di dada Arkana. Tangis kecilnya terdengar samar di tengah sunyinya malam. Dan Arkana benar-benar kehilangan sisa pertahanannya.

Untuk pertama kalinya, pria itu memeluk balik Kemuning tanpa ragu. Tangannya mengusap punggung gadis itu perlahan dan protektif. Arkana membiarkan Kemuning bersandar sepenuhnya di dadanya. Seolah di sanalah tempat paling aman untuk gadis itu sekarang. Dan anehnya, Arkana tidak ingin melepaskannya. Perasaan itu muncul begitu jelas dan berbahaya dalam dirinya. Kemuning terasa terlalu pas di pelukannya. Terlalu ingin dijaga.

Beberapa menit kemudian, Kemuning akhirnya sadar apa yang sedang dilakukannya. Tubuhnya langsung menegang malu luar biasa. Ia buru-buru mencoba menjauh dari pelukan Arkana dengan wajah memerah panik.

“A-aku minta...”

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Arkana menahan pergelangan tangannya. Tatapan pria itu gelap dan penuh sesuatu yang mulai sulit dikendalikan. Kemuning langsung membeku lagi di tempat. Jantungnya berdetak sangat keras sekarang.

Arkana menatapnya lama sebelum akhirnya bicara pelan. Suara rendah pria itu terdengar jauh lebih berbahaya dari biasanya. “Kalau terus seperti ini...”

Jari Arkana masih menggenggam pergelangan tangan Kemuning erat. Tatapan matanya turun perlahan ke wajah gadis itu yang memerah gugup.

Lalu pria itu melanjutkan dengan suara dalam dan penuh tekanan. “Kau yang akan membuatku kehilangan kendali.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!