NovelToon NovelToon
Delusional Revenge

Delusional Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: ashbabyblue

Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.

Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.

Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara.

Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.

Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengungkap Konspirasi — Rio, Andre, Vania

Hari Selasa. Suasana di sekolah berjalan seperti biasa, namun ada satu hal yang terasa berbeda bagiku dan Rasya: kami resmi menjadi sepasang kekasih. Meskipun begitu, kami sepakat untuk tidak mengumumkannya kepada siapa pun terlebih dahulu. Situasi yang sedang kami hadapi terlalu berbahaya untuk menarik perhatian orang lain secara sembarangan.

Tentu saja, Sasha sudah mengetahui hal ini. Sebagai sahabat yang selalu peka, ia langsung curiga begitu melihat kami berjalan beriringan menuju kantin, dengan tangan yang saling bergandengan tersembunyi di balik tas masing-masing.

“GILA! KALIAN BERPACARAN?!” seru Sasha dengan suara yang cukup keras hingga membuat beberapa siswa di sekitar menoleh.

“Sasha, pelan-pelan dong!” desisku sambil segera menutup mulutnya dengan telapak tangan.

“Maaf, maaf!” Sasha menepuk-nepuk dadanya sendiri untuk menenangkan diri. “Tapi aku benar-benar kaget. Awalnya aku kira kamu membenci Rasya.”

“Aku tidak pernah membenci dia,” jelasku. “Aku hanya… butuh waktu untuk memahami perasaanku sendiri.”

“Itu kode halus yang artinya ‘aku sebenarnya suka dia sejak awal, tapi terlalu gengsi untuk mengakuinya’,” kata Sasha sambil menyeringai. “Aku ini hobi mempelajari perilaku manusia, Nay. Aku paham betul.”

Rasya yang duduk di sampingku hanya tersenyum tipis mendengar candaan itu, lalu kembali melanjutkan makannya dengan tenang.

“Tapi kalian harus tetap berhati-hati,” lanjut Sasha, nadanya tiba-tiba berubah menjadi serius. “Soalnya… sepertinya Vania dan Rio sedang mengawasi dan merencanakan sesuatu terhadap kalian berdua.”

“Kami sudah menyadarinya,” jawabku singkat.

“Tadi aku melihat Rio sedang berbicara dengan beberapa siswa kelas tiga di belakang gedung laboratorium. Mereka membicarakan soal sebuah ‘rencana besar’. Aku tidak mendengar seluruh percakapannya dengan jelas, tapi namamu sempat disebut, Nayla.”

Gerakan tangan Rasya yang sedang mengunyah makanan terhenti seketika. Matanya menyipit tajam. “Sasha, apakah kamu bersedia membantu kami?”

“Apa yang bisa aku bantu?”

“Cobalah untuk mengawasi pergerakan Rio secara diam-diam. Tapi pastikan kamu tidak sampai ketahuan.”

Sasha mengangguk dengan tegas. “Bisa saja. Badanku yang mungil ini justru menguntungkan, jadi aku bisa bersembunyi atau menyelinap dengan mudah tanpa dicurigai.”

Aku tertawa mendengar penjelasannya. Memang benar, Sasha bertubuh lebih kecil—hampir sepuluh sentimeter lebih pendek dariku. Dengan postur seperti itu, ia bisa bersembunyi di balik tembok atau rak buku dengan sangat mudah.

“Tapi ingat, kamu harus berhati-hati,” pesanku dengan nada khawatir. “Jangan sampai kamu ikut terlibat dan berada dalam bahaya.”

“Tenang saja, Nayla. Aku juga punya insting untuk menyelamatkan diri sendiri,” balasnya sambil mengedipkan mata. “Lagipula, kalau sampai terjadi sesuatu padaku, siapa lagi yang bisa menjadi saksi di pernikahan kalian nanti?”

“SA-SHA!”

---

Jam Istirahat Kedua — Di Belakang Laboratorium

Sasha memberikan kode yang telah disepakati sebelumnya: dua kali tepukan ringan di pundakku saat kami berpapasan di lorong sekolah. Itu artinya, Rio sedang berada di area belakang laboratorium.

Dengan langkah hati-hati, aku dan Rasya berjalan menuju tempat tersebut. Kami bersembunyi di balik dinding pembatas, tepat di samping dua ruang laboratorium yang saat itu sedang kosong. Dari posisi ini, kami bisa mendengar suara percakapan dengan cukup jelas.

“Jadi, apakah kamu sudah menyampaikan rencana ini kepada Andre?” tanya suara Rio—dingin, tenang, dan terukur.

“Belum. Andre itu orangnya keras kepala. Ia masih mengaku menyayangi Nayla,” jawab suara yang tidak asing lagi, yaitu Vania.

“Menyayangi?” Rio tertawa kecil—suara yang membuat bulu kudukku meremang. “Andre tidak pernah menyayangi siapa pun selain dirinya sendiri. Ia hanya tertarik pada Nayla karena latar belakang keluarganya yang kaya raya.”

“Tapi di kehidupan ini, orang tua Nayla tidak seberhasil dan sekaya di kehidupan sebelumnya.”

“Itu bukan masalah besar. Kita bisa mengatur semuanya kembali. Kita memiliki keunggulan berupa pengalaman dari kehidupan lalu. Kita tahu persis kelemahan setiap orang.”

“Termasuk kelemahan Rasya?” tanya Vania lagi.

“Rasya… ah, Rasya,” Rio mendesah pelan. “Ia adalah hambatan terbesar bagi kita. Di kehidupan sebelumnya, ia hampir berhasil menggagalkan seluruh rencana kita. Beruntung sekali ia ikut tewas bersama Nayla dalam kecelakaan itu.”

“Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?”

“Kali ini kita harus menyingkirkannya selamanya. Sebelum ia sempat bertindak lebih dulu.”

Aku merasakan tangan Rasya menggenggam tanganku dengan erat. Tangannya terasa dingin, namun genggamannya kuat dan menenangkan—seolah ia ingin meyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja, sekaligus menahan amarahnya sendiri.

“Tapi bagaimana caranya?” suara Vania terdengar ragu.

“Aku sudah menyusun rencana yang matang. Minggu depan, sekolah akan mengadakan kunjungan wisata ke daerah Puncak. Kita akan memanfaatkan kesempatan itu.”

“Kunjungan wisata? Tapi pasti akan banyak guru yang mengawasi—”

“Kita tidak perlu melenyapkannya seketika. Cukup buat ia mengalami kecelakaan, misalnya patah kaki atau cedera parah. Kalau ia sampai tidak bisa masuk sekolah selama berbulan-bulan, ia tidak akan bisa mengganggu kita lagi. Selama itu, kita punya banyak waktu untuk menghancurkan masa depan Nayla dengan tenang.”

Aku menggigit bibir menahan emosi. Minggu depan. Di Puncak. Mereka berniat mencelakai Rasya.

“Nayla,” bisik Rasya pelan di telingaku, “kita harus—”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, suara langkah kaki terdengar mendekat dengan cepat.

“Jangan bicara, sembunyi!” aku menarik tangan Rasya masuk ke dalam ruang laboratorium yang kosong, lalu menutup pintu secara perlahan agar tidak menimbulkan suara.

Kami berdua bersembunyi di balik meja laboratorium yang besar, menahan napas sekuat tenaga.

Rio berjalan melewati depan pintu. Kami mendengar suara sepatunya yang teratur di atas lantai keramik. Lalu, langkahnya tiba-tiba berhenti tepat di depan pintu.

“Vania, apakah kamu yakin tidak ada orang lain di sekitar sini?” tanyanya dengan nada curiga.

“Aku yakin. Tadi suasana di sini sepi sekali,” jawab Vania.

“Tapi aku merasa ada seseorang yang sedang mengawasi kita.”

Suasana menjadi hening seketika. Aku dan Rasya sama-sama tidak berani bernapas terlalu keras.

“Tidak ada siapa-siapa, Rio. Ayo kita pergi saja. Nanti kalau ketahuan, rencana kita bisa gagal.”

Setelah beberapa detik yang terasa sangat lama, akhirnya suara langkah kaki itu menjauh dan menghilang.

Aku baru bisa menghela napas panjang dengan perasaan lega.

“Nayla,” bisik Rasya lagi, “sebaiknya kita laporkan hal ini kepada guru.”

“Mereka tidak akan percaya begitu saja. Kita tidak memiliki bukti yang nyata untuk mendukung tuduhan kita.”

“Kalau begitu, kita harus mencari atau membuat bukti itu sendiri.”

Aku menatap matanya dengan penuh perhatian. “Kamu punya rencana?”

Ia tersenyum tipis—senyum yang penuh makna dan keyakinan. “Kita akan ikut serta dalam kunjungan wisata itu. Tapi bukan sebagai korban yang hanya bisa menunggu bahaya datang. Sebaliknya, kita akan menjadi… pemburu yang menjebak mereka balik.”

---

Malam Itu — Percakapan Grup (Nayla, Rasya, Sasha)

Nayla (21.30): “Baiklah, semuanya. Begini situasinya: minggu depan sekolah akan mengadakan kunjungan wisata ke Puncak. Rio dan Vania berencana mencelakai Rasya di sana. Kita harus mencegah hal itu terjadi, sekaligus menjebak mereka agar tertangkap basah.”

Sasha (21.31): “Wah, ini serius? Rasanya seperti adegan di film aksi saja!”

Rasya (21.31): “Ini bukan film, Sasha. Ini kenyataan yang harus kita hadapi.”

Sasha (21.32): “Aku tahu, aku tahu. Tapi tetap saja menegangkan dan seru.”

Nayla (21.32): “Sasha, tolong fokus pada masalahnya.”

Sasha (21.33): “Baik, baiklah. Jadi rencananya mau seperti apa?”

Nayla (21.33): “Langkah pertama, kita harus merekam percakapan atau mendapatkan bukti yang jelas dari mereka. Setelah itu, kita bisa menyerahkannya kepada guru atau bahkan pihak berwajib jika diperlukan.”

Rasya (21.34): “Aku bisa berusaha mengambil atau menyadap informasi dari ponsel Rio, tapi aku butuh pengalihan perhatian agar ia tidak curiga.”

Sasha (21.34): “Biarkan aku yang menjadi pengalihnya. Beri aku tugas apa saja.”

Nayla (21.35): “Sasha, kamu harus berpura-pura jatuh sakit. Buat suasana menjadi kacau agar perhatian Rio dan Vania teralihkan sepenuhnya.”

Sasha (21.35): “Bisa saja. Aku bisa berpura-pura muntah atau pusing hebat.”

Rasya (21.36): “Jangan hanya berpura-pura. Buatlah seolah-olah benar-benar terjadi, agar terlihat meyakinkan dan tidak dicurigai.”

Sasha (21.36): “…”

Sasha (21.37): “Rasya, kamu ini kejam juga ya.”

Rasya (21.37): “Bukan kejam, tapi harus realistis agar rencana kita berhasil.”

Nayla (21.38): “Baiklah, rencana dasarnya sudah disusun. Kita akan membahas detailnya lebih lanjut besok di sekolah. Sasha, tolong bawa camilan supaya kita bisa berdiskusi sambil makan.”

Sasha (21.38): “Membawa camilan sambil menyusun rencana balas dendam? Aku suka idenya!”

Rasya (21.39): “Selamat malam semuanya.”

Nayla (21.39): “Selamat malam. Semoga semuanya berjalan lancar.”

Sasha (21.40): “Selamat malam juga untuk kalian berdua. Aku tahu kalian pasti akan lanjut mengobrol berdua setelah ini.”

Aku tidak bisa menahan tawa membaca pesan Sasha.

Nayla (21.41): “Sasha, tutup mulutmu!”

Sasha (21.41): “Baiklah, baiklah. Sampai ketemu besok!”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!