"Seribu tahun lalu, aku adalah puncak dari segala ilmu pedang. Kini, aku hanyalah sampah yang dihina oleh keluargaku sendiri."
Ling Chen adalah seorang pemuda dari keluarga cabang yang lemah dan tidak memiliki bakat dalam kultivasi pedang. Di dunia di mana kekuatan pedang adalah segalanya, ia menjadi bulan-bulanan, dikhianati oleh tunangannya, dan hampir tewas di tangan saudara sepupunya sendiri.
Namun, di ambang kematian, segel kuno di dalam jiwanya hancur. Ingatan sebagai Kaisar Pedang Surgawi, penguasa semesta yang pernah ditakuti oleh para dewa dan iblis, bangkit kembali. Dengan teknik "Sembilan Tebasan Langit" yang telah lama hilang dan pedang karatan yang ia temukan di gudang tua, Ling Chen memulai langkahnya untuk menagih hutang darah.
Satu per satu genius yang sombong akan ia tebas. Kerajaan yang dulu mengkhianatinya akan berlutut di bawah kakinya. Langit mungkin melupakannya, tapi dunia akan segera tahu bahwa sang penguasa telah kembali untuk merebut tahtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hajdhts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Api Unggun dan Rahasia Dua Batu
Malam merayap cepat, menelan sisa-sisa cahaya jingga di cakrawala hutan pinus perbatasan. Udara pegunungan yang menusuk tulang mulai terasa menggigit kulit.
Di bawah sebuah pohon tua yang rindang, suara gemertak ranting kering yang terbakar menjadi satu-satunya pelipur lara di tengah kesunyian.
Ling Chen duduk bersila, matanya terpejam dengan ritme napas yang sangat teratur.
Di pangkuannya, pedang hitam legam itu terbaring diam, sesekali memantulkan pendaran merah dari api unggun.
Sementara itu, di seberang api, Mu Rong'er sibuk membolak-balik tusukan ikan bakar hasil tangkapannya dari sungai kecil tak jauh dari tempat mereka berkemah.
"Kyuu~"
Kuro dengan manja menggosokkan kepalanya ke lengan baju Mu Rong'er, seolah meminta bagian terbesar dari ikan yang mulai mengeluarkan aroma gurih tersebut.
"Sabar ya, Kuro. Sebentar lagi matang," ujar Mu Rong'er sambil tersenyum manis. Ia mencubit sedikit daging ikan yang sudah lembut, meniupnya perlahan agar dingin, lalu menyuapkannya ke mulut kecil Kuro.
Makhluk hitam itu mengunyahnya dengan riang, mengepakkan sayap kecilnya hingga membuat riak angin tipis yang menerbangkan beberapa percikan api.
Mu Rong'er kemudian melirik ke arah Ling Chen yang masih mematung seperti patung batu giok.
Sejak mereka meninggalkan kedai teh siang tadi, pemuda itu hampir tidak berbicara sepatah kata pun.
Sikapnya begitu acuh tak acuh, namun entah mengapa, keberadaan Ling Chen di dekatnya membuat rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya merayap di hatinya.
"Tuan Muda Ling," panggil Mu Rong'er pelan, takut mengganggu meditasinya.
"Ikannya sudah matang. Apa kau tidak lapar? Tubuh fana masih butuh energi, bukan?"
Ling Chen membuka matanya perlahan. Pupil biru safirnya berkilat sekilas sebelum kembali meredup menjadi hitam normal yang dalam.
Ia tidak menjawab, melainkan hanya meraih satu tusuk ikan bakar yang disodorkan oleh Mu Rong'er.
Gerakannya saat makan sangat tenang dan elegan, kontras dengan jubahnya yang compang-camping.
"Kenapa kau terus menatap kalungku?"
Pertanyaan tiba-tiba dari Ling Chen membuat Mu Rong'er tersedak ludahnya sendiri. Ia terbatuk kecil sebelum buru-buru menyentuh permata merah darah yang menggantung di lehernya.
"Ah... ini?" Mu Rong'er menggigit bibir bawahnya ragu-ragu.
"Ini adalah peninggalan dari mendiang ibuku. Ayahku bilang, ibu memberikan ini tepat sebelum beliau menghilang dari keluarga. Aku tidak tahu apa fungsinya, tapi batu ini selalu terasa hangat setiap kali aku berada dalam bahaya."
Ling Chen meletakkan sisa tusukan ikannya. Tangannya bergerak ke balik jubah, mengeluarkan kotak kayu kecil berukir beludru merah.
Saat kotak itu dibuka, liontin giok hijau berbentuk bulan sabit milik ibunya tampak berdenyut dengan cahaya hijau samar.
Seketika itu juga, permata merah darah di leher Mu Rong'er ikut berpendar merah terang! Kedua energi dari batu yang berbeda warna itu seolah saling memanggil, menciptakan riak tipis di udara yang membuat api unggun di antara mereka bergoyang liar.
Mu Rong'er terbelalak, tangannya gemetar menahan kalungnya yang mendadak terasa panas.
"Batu... batuku bereaksi? Bagaimana mungkin? Apa yang kau pegang itu, Tuan Muda Ling?"
"Ini giok peninggalan ibuku," jawab Ling Chen, matanya menyipit tajam menganalisis aliran energi yang saling bertautan di antara kedua benda tersebut.
Jiwa kaisarnya segera mengenali polanya. 'Ini adalah Segel Pasangan Jiwa.
Dua batu ini dibuat oleh pengrajin yang sama di Alam Luhur, dan mereka dirancang untuk beresonansi hanya jika pemiliknya memiliki hubungan darah atau ikatan sekte yang sangat erat.'
Kenyataan ini membuat Ling Chen berspekulasi. Apakah ada kemungkinan bahwa ibu Mu Rong'er dan ibunya sendiri berasal dari tempat yang sama di luar kekaisaran fana ini?
Hubungan manusiawi yang tak terduga ini membuatnya merasa bahwa keputusannya membawa gadis berisik ini bersamanya bukanlah sebuah kebetulan belaka.
Namun, sebelum Ling Chen sempat bertanya lebih jauh, Serigala Perak Langit yang sedari tadi tidur tengkurap di balik bayangan pohon mendadak berdiri tegak.
Telinganya menegak tajam ke arah kegelapan hutan pinus.
"Gggrrr..."
Suara geraman rendah keluar dari tenggorokan sang serigala, bulu perak di punggungnya berdiri kaku memancarkan energi tajam bagaikan deretan jarum.
Mu Rong'er seketika menegang, instingnya berteriak bahwa bahaya besar sedang mengintai.
Kuro pun langsung melompat dari pangkuannya, mendarat di atas batu besar di samping api unggun dengan mata emas yang memancarkan kilatan dingin.
"Mereka bergerak sangat cepat," ucap Ling Chen tenang, ia bahkan tidak beranjak dari posisi duduk bersilanya.
Dari kegelapan malam, belasan bayangan hitam melesat keluar dengan kecepatan tinggi, mengepung area perkemahan mereka dari segala arah.
Namun, yang paling menarik perhatian adalah sesosok pria paruh baya yang berjalan paling akhir.
Pria itu mengenakan jubah hitam legam dengan sulaman tengkorak emas di dadanya.
Aura kekuatannya meledak, menekan udara di sekitar hingga ranting-ranting pohon pinus berjatuhan.
Kultivator Alam Fondasi tahap menengah!
"Mu Rong'er! Kau pikir kau bisa bersembunyi di bawah perlindungan seorang bocah ingusan?" pria berjubah hitam itu tertawa mengejek, suaranya serak seperti gesekan dua batu berkarat.
"Aku adalah Penatua Gui dari Sekte Tengkorak Hitam. Serahkan peta makam kuno itu sekarang, atau aku akan menyiksa kalian berdua hingga memohon kematian!"
Mu Rong'er memucat, kakinya terasa lemas melihat intensitas energi sang Penatua.
"Penatua Gui... dia adalah iblis kejam yang terkenal suka menguliti korbannya..."
Ling Chen akhirnya mendongak, menatap Penatua Gui dengan tatapan kosong yang biasa ia tunjukkan pada mangsanya.
"Kalian benar-benar seperti lalat. Di kedai teh siang tadi aku sudah berbaik hati hanya mengambil tangan anak buahmu. Mengapa kau justru datang mengantarkan seluruh nyawamu malam-malam begini?"
Penatua Gui menyipitkan matanya, merasa terhina oleh sikap tenang anak muda di depannya.
"Bocah sombong! Kau hanya mengandalkan teknik gerak tipuan di kedai tadi! Di hadapan kekuatan Alam Fondasiku yang sesungguhnya, kau tidak lebih dari sekadar debu!"
"Bising," gumam Ling Chen pendek. Ia melirik ke arah Kuro.
"Kuro, bersihkan tempat ini. Jangan biarkan darah mereka memadamkan apiku."
Mendengar perintah itu, Kuro mengeluarkan suara "Kyuu!" yang nyaring, namun kali ini suaranya tidak terdengar manja sama sekali, melainkan mengandung getaran kuno yang menggetarkan jiwa.
Dalam sekejap, tubuh kecil Kuro diselimuti oleh kabut hitam pekat yang meluap-luap.
Sayap kecilnya mengepak lebar, dan dari balik kabut itu, sepasang mata emasnya membesar, memancarkan tekanan absolut dari Shadow Void Beast yang sebenarnya.
Syuuuuut!
Tubuh Kuro menghilang secara gaib ke dalam bayangan malam.
Sebelum para pembunuh bertopeng sempat menyadari apa yang terjadi, tiga orang di barisan belakang tiba-tiba menjerit histeris.
Bayangan di bawah kaki mereka mendadak hidup, membentuk cakar-cakar hitam raksasa yang langsung menarik tubuh mereka amblas ke dalam tanah tanpa sisa, hanya menyisakan genangan darah yang merembes ke permukaan.
"Apa?! Teknik macam apa ini?!" Penatua Gui terkejut bukan main, ia segera mengayunkan tongkat tengkoraknya untuk menciptakan perisai energi hitam di sekelilingnya.
Namun, amukan Kuro belum berakhir. Makhluk itu melesat keluar dari bayangan di belakang seorang pembunuh lainnya, cakar kecilnya kini dialiri petir hitam yang mematikan.
Hanya dengan satu cakaran halus di udara, kepala pembunuh itu terlepas dengan rapi dari lehernya.
Mu Rong'er menyaksikan pemandangan mengerikan namun menakjubkan itu dengan tangan menutup mulut.
Kucing kecil bersayap yang tadinya meminta ikan bakar dengan manja padanya, sekarang berubah menjadi mesin pembunuh berdarah dingin yang membantai para ahli sekte hitam seperti memotong sayuran di dapur!
Merasa situasinya berbalik dengan cepat, Penatua Gui panik. Ia tidak lagi peduli pada anak buahnya yang bertumbangan satu per satu dalam hitungan detik.
Dengan raungan frustrasi, ia mengerahkan seluruh Qi-nya ke kaki, mencoba melompat mundur untuk melarikan diri ke dalam kegelapan hutan.
"Mau pergi ke mana?"
Suara dingin Ling Chen tiba-tiba terdengar tepat di samping telinga Penatua Gui.
Pria tua itu menoleh dengan horor dan mendapati Ling Chen sudah berdiri di udara, tepat di jalur pelariannya, dengan tangan kanan yang siap menghantam dadanya.
BUM!
Pukulan telapak tangan kosong Ling Chen yang dialiri energi Tulang Dewa mendarat telak di dada Penatua Gui. Suara remukan tulang dada yang hancur terdengar sangat jelas.
Tubuh sang Penatua terhempas hebat ke tanah, menghantam akar pohon besar hingga memuntahkan organ dalamnya yang hancur.
Hanya dalam waktu kurang dari tiga tarikan napas, seluruh rombongan penyergap dari Sekte Tengkorak Hitam telah musnah sepenuhnya.
Hutan kembali sunyi, menyisakan bau anyir darah yang perlahan tersapu oleh angin malam yang dingin.
Kuro kembali mengecil, kabut hitamnya menghilang, dan ia melompat kembali ke bahu Ling Chen dengan suara "Kyuu~" yang ceria, seolah-olah ia baru saja menyelesaikan permainan yang menyenangkan.
Ling Chen mendarat kembali di dekat api unggun, menatap Mu Rong'er yang masih membeku di tempatnya.
"Bersihkan barang-barangmu. Tempat ini sudah terlalu bau untuk dijadikan tempat tidur."
Mu Rong'er menelan ludah, mengangguk cepat dengan rasa hormat dan kekaguman yang semakin mendalam di matanya.
Perjalanan mereka menuju Ibukota baru saja dimulai, namun ia tahu, bersama pemuda misterius ini, ia sedang berjalan di samping seorang penguasa masa depan yang takkan tergoyahkan oleh badai apa pun.